::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)

Senin, 21 Mei 2018 16:00 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Dalam sebuah hadits yang cukup panjang di mana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya perihal islam, iman, dan ihsan, beliau menuturkan tentang ihsan sebagai berikut:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Imam Nawawi dalam menjelaskan definisi ihsan tersebut menuturkan bahwa bila seseorang di dalam ibadahnya mampu melihat secara nyata Tuhannya maka sebisa mungkin ia tidak akan meninggalkan sedikit pun sikap khusyuk dan khudlu’ (merendah diri) di dalam ibadahnya tersebut (Imam Nawawi, al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibnil Hajjâj, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2007, jilid I, juz 1, halaman 161).

Untuk menggambarkan bagaimana seseorang berlaku ihsan sesuai definisi di atas bisa dibuat satu ilustrasi sebagai berikut.

Anda datang menemui seorang pejabat penting di kota Anda, katakanlah ia seorang walikota. Anda dipersilakan duduk di kursi tamu persis berhadapan dengan tempat duduknya sang walikota. Ketika Anda berbincang dengannya, akankah di hadapan seorang walikota Anda bersikap tak semestinya, seperti mengangkat satu kaki di atas kaki yang lain, mengumbar pandangan mata ke segenap penjuru ruangan atau perilaku tak layak lainnya?

Kiranya kita sepakat untuk tidak melakukan perlaku-perilaku demikian di hadapan seorang walikota. Yang akan kita lakukan adalah duduk dengan tenang, sopan, dan berbicara dengannya penuh penghormatan.

Atau, ketika Anda telah duduk di ruang tamu namun sang walikota belum juga menemui Anda. Hanya saja Anda tahu bahwa di setiap pojok ruangan terdapat seperangkat CCTV di mana dari bagian dalam sang walikota bisa mengetahui gerak gerik Anda melalui layar monitor. Dalam kondisi seperti itu akankah Anda akan berperilaku tak layak di ruang tamu tersebut? 

Pun kiranya kita sepakat untuk tetap berperilaku tenang dan sopan, karena meskipun sang walikota tidak ada di hadapan kita namun ia bisa melihat perilaku kita melalui CCTV yang ada.

Barangkali demikian makna ihsan yang hendak diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Saat kita menyembah Allah kita mesti menghadirkan Allah di depan kita dan merasa bahwa kita sedang berhadap-hadapan dengan-Nya. Dengan demikian maka ketika seseorang sedang melakukan peribadatan kepada-Nya ia tak akan berani melakukan tindakan-tindakan yang tak semestinya dilakukan di hadapan Allah ta’ala. Yang akan dilakukan adalah bagaimana sebisa mungkin ibadah yang sedang dilakukannya terlaksana dengan baik dan sempurna, khusyuk dan khudlu’.

Orang yang berihsan dalam beribadah akan berpenampilan sebaik mungkin karena ia merasa sedang berhadapan langsung dengan Tuhan yang disembahnya. Ia gunakan pakaian terbaiknya, dengan wewangian, rambut tersisir rapi, tanpa ada kotoran yang menempel di badannya, dan sebagainya. Hal ini pula yang akan ia lakukan dalam beribadah meski ia tak benar-benar melihat Tuhannya, karena ia merasa selalu dilihat oleh-Nya.

Lebih jauh dari itu berperilaku ihsan bukan saja ketika seseorang sedang melakukan aktivitas peribadatan kepada Allah. Kalimat an ta’buda (engkau menyembah) pada hadits di atas bisa dipahami secara luas dari makna kata ta’buda. Kata ini berasal dari kata ‘abdun yang berarti budak atau hamba sahaya. Dari arti dasar kata ini maka kalimat an ta’buda Allah pada hadits di atas bisa diartikan sebagai engkau menjadi budak atau hamba sahayanya Allah atau engkau menghambakan diri kepada Allah.

Bila demikian adanya maka ihsan dalam hadits di atas dapat didefinisikan sebagai “engkau menjadi hamba sahayanya Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia selalu melihatmu.”

Satu pertanyaan mendasar, di waktu kapan dan di tempat mana kita menjadi hambanya Allah? Apakah ketika sedang shalat, membaca Al-Qur’an, berpuasa atau ketika sedang melakukan aktivitas ibadah mahdlah lainnya saja? Apakah seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja?

Bila seseorang menjadi hamba Allah ketika melakukan aktifitas ibadah tertentu saja, maka menjadi hambanya siapakah ketika ia sedang tidak beribadah? Bila seseorang menjadi hambanya Allah ketika ia sedang berada di masjid dan mushalla saja, maka menjadi hambanya siapa ketika ia sedang berada di pasar, kantor, jalanan dan tempat lainnya?

Tidak demikian tentunya. Kapanpun dan di manapun, sedang diam atau bergerak, sedang beraktifitas ibadah atau lainnya seseorang selalu menjadi hambanya Allah. Tak sedetikpun waktu berlalu kecuali setiap orang menyandang status sebagai abdullah, hamba Allah.

Dalam kondisi demikian ini perilaku ihsan dituntut untuk dilakukan. 

Dengan berihsan seorang yang sedang mengendarai sepeda motor misalnya, tak akan pernah ugal-ugalan karena ia merasa malu sedang dilihat oleh Allah. Seorang pedagang tak akan berbuat curang pada dagangannya karena merasa selalu diperhatikan oleh Allah. Seorang pegawai tak akan melakukan perilaku curang dan korup karena ia sadar sebagai hamba Allah tak pernah luput dari pengawasan-Nya. Seorang atasan tak akan pernah bertindak sewenang-wenang kepada bawahannya karena ia merasa sedang berada di hadapan Allah. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan berihsan di manapun seorang hamba berada tak akan pernah mampu berlaku menyimpang, curang, zalim, menyalahi aturan dan perilaku negatif lainnya karena ia merasa di manapun selalu dalam pengawasan Allah.

Dengan berihsan seseorang tak akan pernah berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, siapapun itu, mengingat Allah selalu mengawasinya. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)