IMG-LOGO
Internasional

Ketika Mahasiswi Berjilbab Tanggapi Kecaman Pemerintah Prancis

Rabu 23 Mei 2018 12:30 WIB
Bagikan:
Ketika Mahasiswi Berjilbab Tanggapi Kecaman Pemerintah Prancis
Maryam Pougetoux, 19 tahun (Foto: AFP)
Jakarta, NU Online
Ada pemandangan berbeda dan cukup menyita perhatian Pemerintah Prancis, ialah Maryam Pougetoux, mahasiswi Universitas Sorbonne Paris berusia 19 tahun mengenakan jilbab atau hijab di ruang publik. Sorotan itu terjadi karena selama ini Prancis adalah negara yang melarang orang atau kelompok untuk mengekspresikan agamanya di ruang publik, termasuk pelarangan penggunaan cadar.

Maryam Pougetoux mengenakan jilbab ketika tampil di acara dokumenter tentang aksi protes mahasiswa menentang reformasi pendidikan Presiden Macron. Maryam sendiri saat ini menduduki jabatan sebagai pemimpin organisasi mahasiswa di Prancis.

Tak pelak, penampilan Maryam mendapat sorotan dan bahkan kecaman dari Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerard Collomb. Ia mengecam Pougetoux sebab jilbab yang ia kenakan. Collomb menyebutnya sebagai upaya provokasi.

Sorotan juga datang dari Menteri Urusan Persamaan Prancis, Marlene Schiappa. Bahkan Schiappa menuduh bahwa jilbab yang dikenakan Pougetoux salah satu bentuk promosi Islam politik.

Padahal, Pougetoux sendiri secara jelas menyatakan bahwa jilbab yang dikenakannya murni karena keyakinan agama yang dianutnya, yakni Islam. Pougetoux, dalam wawancara dengan Buzzfeed News, menegaskan bahwa hijab yang ia pakai tak memiliki fungsi politik.

"Ini semata-mata karena alasan agama," kata Pougetoux dilansir bbc.com, Selasa (22/5).

Mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Sorbonne ini mengatakan, dirinya tidak mengira jilbab yang ia pakai mendapat perhatian para menteri. "Ini seakan-akan seperti menjadi persoalan negara. Menyedihkan ada menteri dalam negeri yang mengeluarkan komentar seperti itu," kata terang Poutegoux.

Selain dikecam dua menteri, Poutegoux juga menerima pesan-pesan kebencian setelah nomor teleponnya diunggah ke media sosial. Organisasi mahasiswa di Prancis mengatakan, dalam hal ini Poutegoux adalah korban ujaran kebencian, korban tindak rasisme, dan Islamofobia.

Maryam Poutegoux merupakan cucu salah satu pejuang pembebasan Prancis. Saat ini ia menjabat sebagai Presiden Organisasi Mahasiswa Universitas Sorbonne sejak Desember 2017.

Jilbab, Dilarang di Sekolah Dibolehkan di Kampus

Pemerintah Prancis melarang pemakaian jilbab di sekolah dan di beberapa kantor publik pada 2004 silam. Namun, pemakaian di lingkungan kampus universitas tetap dibolehkan. Pada 2011, Prancis menjadi negara pertama di Uni Eropa yang melarang pemakaian cadar di tempat umum. Jilbab atau kerudung yang menyisakan seluruh wajah tetap dibolehkan.

Berdasarkan aturan ini, perempuan baik warga Prancis maupun warga asing, yang mengenakan cadar di tempat umum bisa dikenai denda. Mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy yang mengeluarkan peraturan ini mengatakan cadar adalah 'simbol penindasan terhadap perempuan'.

Populasi warga Muslim di Prancis sekitar lima juta jiwa, yang terbesar di antara negara-negara Eropa barat. Diperkirakan hanya sekitar 2.000 perempuan Muslim yang mengenakan cadar di Prancis. (Red: Fathoni)
Bagikan:
Rabu 23 Mei 2018 23:59 WIB
Kedubes China-PBNU Kerjasama Bangun Sarana Air Bersih
Kedubes China-PBNU Kerjasama Bangun Sarana Air Bersih
Jakarta, NU Online
Kedutaan Besar Republik Rakyat China (Kedubes RRC) untuk Indonesia dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerjasama untuk membangun sarana air bersih. Ada lima lokasi yang akan dibangun sarana air bersih, yaitu Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Desa Krangkeng, Desa Dadap (Indramayu), Desa Wanakerta (Karawang), dan Desa Wanasari (Subang). 

Duta Besar Republik Rakyat China (RRC) untuk Indonesia Xiao Qian mengatakan, fasilitas tersebut akan dilengkapi dengan kamar mandi, toilet, penampungan air, dan tangki septik (septic tank).

“Tahun ini kami akan membangun di Cirebon, Indramayu dan Karawang Jawa barat,” kata Qian saat buka puasa bersama dengan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta, Rabu (23/5).  

Qian menjelaskan, pembangunan sarana air bersih pertama kerjasama dengan PBNU ada di Tanara Banten. Saat ini, fasilitas tersebut sudah digunakan oleh masyarakat sekitar.

Dia berharap, pembangunan sarana air bersih tersebut bisa dinikmati dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat yang kesulitan mendapatkan air.  

“Memang anggaran dan tempatnya masih terbatas. Namun kerjasama ini akan kami tindaklanjuti dan skalanya akan diperbesar,” terangnya. 

Senada dengan Qian, KH Said Aqil Siroj juga berharap sarana air bersih yang akan dibangun itu bisa memberikan manfaat dan berkah kepada masyarakat sekitar. 

“Ini namanya hubungan kebudayaan, bukan politik,” ucapnya.

Kerjasama bidang lain

Kiai Said menjelaskan, PBNU dan pemerintah China akan menjalin kerjasama di bidang lainnya, terutama pendidikan. Pemerintah China memberikan beasiswa kepada dosen Unusia Jakarta untuk melanjutkan studi ke negeri tirai bambu.

“Ada beasiswa untuk 13 dosen Unusia Jakarta untuk kuliah di China dari pak dubes. Programnya teknik informatika, sains, teknologi, dan lainnya,” katanya.

Untuk jangka panjang, Kepada Dubes Qian Kiai Said menawarkan beasiswa kepada Muslim China untuk studi di Indonesia apabila mereka ingin belajar Islam. 

“Jangka pendeknya pelatihan imam dan khatib Muslim China di NU. Agar ceramahnya santun, ramah, dan sejuk, tidak radikal,” tegasnya. (Muchlishon)
Rabu 23 Mei 2018 22:45 WIB
Cerita Dubes China Bergaul dengan Muslim Sejak Kecil
Cerita Dubes China Bergaul dengan Muslim Sejak Kecil
Jakarta, NU Online
Duta Besar Republik Rakyat China (RRC) untuk Indonesia Xiao Qian menceritakan kalau dirinya sejak kecil sudah bergaul dengan Muslim karena tepat di samping rumahnya berdiri salah satu masjid tertua di China. 

“Saya juga banyak teman-teman Muslim. Saya waktu kecil juga sering main ke masjid yang berada di dekat rumah saya itu. Saya juga ikuti acara Ramadhan dan Idul Fitri di sana,” kata Qian dalam sambutannya pada acara Santunan Anak Yatim dan Buka Puasa Bersama di Pesantren Al-Tsaqafah di Jakarta, Rabu (23/5).

“Saya merasa bergembira datang ke sini untuk santunan anak yatim dan buka bersama Kiai Said,” tambahnya.

Qian menjelaskan kalau saat ini ada sekitar 23 juta Muslim dan 35 ribu masjid di seluruh wilayah China. Seperti Muslim di Indonesia, mereka diberi kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan baik seperti shalat, haji, dan lainnya.

“Pemerintah RRT juga memberikan fasilitas kepada mereka (Muslim China) untuk menjalankan agamanya,” jelasnya.

Qian menurutkan kalau Islam masuk ke China lebih dari seribu tahun yang lalu, jauh sebelum masuk ke Nusantara. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Islam masuk ke China pada era sahabat, bahkan pada zaman Nabi Muhammad masih hidup.

China dan Indonesia

Qian mengatakan bahwa hubungan China dan Indonesia sudah terjalin lama. Bahkan jauh sebelum Indonesia lahir. Pada abad ke-15 misalnya, Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming datang ke Nusantara. Salah satu misinya adalah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Nusantara. Maka tidak mengherankan jika Cheng Ho banyak membangun masjid di kota-kota yang disinggahinya saat berada di Nusantara.

Pada era sekarang, imbuh Qian, hubungan China dan Indonesia juga erat mengingat Presiden China Xi Jinping dan Presiden Indonesia Joko Widodo saling mengunjungi. 

“Presiden Joko Widodo telah lima kali ke Tiongkok dan sudah enam kali melakukan rapat dengan pemimpin Tiongkok. Kita akan terus menerus melakukan kerjasama,” jelasnya.

Qian menyebutkan, China juga menjalin hubungan baik dengan Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di dunia. Pemerintah China dan NU sudah beberapa kali menjalin kerjasama dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, budaya, sosial, dan lainnya.

“Minggu lalu Kiai Said juga mengujungi Tiongkok untuk mengenal perkembangan umat Islam di sana. Kunjungan tersebut sangat sukses dan saya sangat bersyukur. Semoga itu bisa mempererat hubungan keduanya,” katanya. (Muchlishon)
Rabu 23 Mei 2018 21:30 WIB
Dubes China Buka Puasa Bersama Kiai Said di Pesantren Al-Tsaqafah
Dubes China Buka Puasa Bersama Kiai Said di Pesantren Al-Tsaqafah
Jakarta, NU Online
Duta Besar Republik Rakyat China (RRC) untuk Indonesia Xiao Qian ikut berbuka puasa dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj di Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta, Rabu (23/5).

Xiao Qian mengaku senang bisa buka puasa dengan pengurus PBNU dan para santri Pesantren Al-Tsaqafah. Kedutaan Besar RRC sudah tiga kali berbuka puasa dengan Kiai Said, akan tetapi ini merupakan buka puasa pertama Dubes Xiao Qian dengan pimpinan Nahdlatul Ulama itu. 

“Saya merasa bergembira datang ke sini untuk santunan anak yatim dan buka bersama Kiai Said,” kata Qian dalam sambutannya.   

Dalam sambutannya, Xiao Qian menyampaikan salam dari Pemerintah dan Muslim China untuk masyarakat Muslim Indonesia. Menurutnya, ada 23 juta Muslim dan 35 ribu masjid  di China. 

“Mereka menjalankan puasa Ramadhan dengan tenang dan damai,” katanya.

Sementara itu, KH Said Aqil Siroj menyambut baik tamunya itu. Mengutip Hadist Nabi Muhammad, Kiai Said menyebutkan bahwa seorang yang beriman harus menghormati tamu dan tetangganya.

“Ada tetangga rumah, desa, kota, provinsi, dan negara. China adalah tetangga negara Indonesia, maka kita harus menghormatinya,” tegas Kiai Said.

Turut hadir dalam acara itu beberapa pimpinan PBNU seperti Prof Mochammad Maksum Machfoedz (Wakil Ketua Umum), Bina Suhendra (Bendum), Robikin Emhas (Ketua), Abdul Manan Ghani (Ketua),  Eman Suryaman (Ketua), Ulil Abshar Hadrawi (Wasekjen), Ishfah Abidal Aziz (Wasekjen), Masduki Baidhowi (Wasekjen), Andi Najmi Fuaidi (Wasekjen), dan lainnya. (Muchlishon) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG