IMG-LOGO
Nasional

Ramadhan Bulan Berbagi

Kamis 24 Mei 2018 20:0 WIB
Bagikan:
Ramadhan Bulan Berbagi
Peluncuran Difabel Berdaya, Kamis (23/5)
Jakarta, NU Online 
Pada Ramadhan 1439 Hijriah ini, NU Care-LAZISNU mengusung tema Ramadhan Berbagi dan Menginsipirasi: Lebih dari Sekadar Berbagi. Penegasan itu kembali dilakukan pada peluncuran Difabel Berdaya di Masjid An-Nahdloh Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (24/5).

Menurut Manajer Fundraising NU Care-LAZISNU, Nur Rahman, tema tersebut diangkat karena pada bulan Ramadhan umat Islam dididik untuk menahan diri dari lapar dan dahaga, serta dianjurkan untuk membantu sesama. "Kita dianjurkan untuk membantu masyarakat dan kaum dhuafa," katanya. 

Senada dengan Rahman, Sekjen PBNU H Helmy Faisal juga menyinggung tentang pentingnya berbagi terhadap sesama. Ia menegaskan Islam mengajarkan umat Islam agar berbagi terhadap masyarakat yang lemah secara ekonomi. Aktivitas berbagai juga sebagai wujud solidaritas dan rasa kemanusiaan terhadap sesama.

"Maka ini mengajarkan kepada kita untuk  senantiasa ta'awanu alal birri wat taqwa (tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa)," ucap pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu. 

Peluncuran program Difabel Berdaya turut dihadiri Direktur NU Care-LAZISNU HM Sulton Fatoni, dan Direktur Filantropi Indonesia Hamid Abidin. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 24 Mei 2018 23:45 WIB
Shinta Nuriyah Bangga, Wonosobo Selalu Damai
Shinta Nuriyah Bangga, Wonosobo Selalu Damai
Nyai Shinta Nuriyah Wahid di Wonosobo
Wonosobo, NU Online 
Istri almarhum Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Hj Shinta Nuriyah Wahid, mengaku bangga dengan warga Wonosobo yang sejak dahulu selalu damai. Hal itu menjadi simbol keberagaman sebagai warga negera yang baik. Terbukti dengan adanya agenda lintas kepercayaan di Wonosobo yang selalu sukses, termasuk acara buka maupun sahur bersama di momen Ramadhan.

Hal itu disampaikan Shinta saat melakukan kunjungan di Masjid Al Mansur Kauman Wonosobo Rabu (23/5) petang. Kunjungan yang telah dilakukan Ke-13 kalinya di Wonosobo itu sengaja dilakukan untuk melakukan buka dan sahur bersama warga kabupaten berslogan Asri ini. Kunjungan juga dilakukan untuk menyalami para pemeluk agama dan kepercayaan di Wonosobo. 

Shinta juga mengingatkan adanya perintah untuk saling mengenal dan rukun di Al-Qur'an dan menyayangkan terjadinya fitnah dan kebohongan akhir-akhir ini. Saat Ramadhan, Shinta memang selalu menggelar sahur bersama di masjid-masjid yang ada di pelosok Wonosobo dan menyapa masyarakat dari berbagai elemen maupun latar belakang agama dan kepercayaan. 

"Kali ini ada semua perwakilan umat beragama di Wonosobo, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dan Ahmadiyah. Semua ikut meramaikan buka bersama di Masjid Al Mansur ini. Pekerjaan saya setiap bulan puasa, mengajak orang sahur. Mengapa, karena yang mengadakan buka bersama sudah banyak sekali. Saya sudah berkeliling ke banyak daerah se-Indonesia," tutur dia. 

Dirilis suaramerdeka.com, Shinta Nuriyah ingin bertemu masyarakat ditemani bupati, gubernur, hingga suster dan monsinyour di banyak tempat. Dia juga pernah di kolong jembatan hingga di pasar bersama buruh dan mbok-mbok bakul untuk menyapa dan menyalami warga. 

"Kemajemukan dan keberagaman masyarakat Indonesia merupakan ciri khasnya sejak lama. Bahkan latar belakang kesukuan hingga agama menjadi dasar dari persatuan itu sendiri," terangnya.

Menurut dia, Indonesia mempunya tujuh agama yang diakui, termasuk konghuchu dan baha’i. Indonesia juga memiliki banyak sekali suku, karena kita memang tinggal di Indonesia, maka kita saudara. 

"Apa yang terjadi selama ini, banyak dari kita yang bertengkar ialah hal yang seharusnya membuat kita malu karena kita saudara,” ungkap dia.

Koordinator Gusdurian Wonosobo, Ahmad Baehaki menyebutkan, sambutan masyarakat dan perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sangat baik. Bahkan, semua perwakilan umat beragama hadir. Dukungan dari Kodim dan Polres juga sangat besar. 

"Semoga adanya agenda ini menjadi salah satu hal yang membuat Wonosobo istimewa dan sebagai kebanggaan bisa hidup rukun di sini," ujarnya. (Red: Muiz)
Kamis 24 Mei 2018 23:33 WIB
Hati-hati, Teroris Telah Berubah Penampilan untuk Mengelabui
Hati-hati, Teroris Telah Berubah Penampilan untuk Mengelabui
foto: merdeka.com
Jakarta, NU Online
Terorisme terus berevolusi. Pelaku tidak berhenti mengembangkan aksinya. Berupaya mengelabui petugas keamanan, teroris mengubah penampilannya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Intelejen Negara Daerah (Kabinda) DKI Jakarta Neno Hamriyano pada pada Focus Group Discussion (FGD) di Kantor PWNU DKI Jakarta, Utan Kayu, Jakarta, Kamis (24/5).

Ia menceritakan bahwa pelaku teror di Thamrin merupakan seorang sopir angkot. Setelah memarkirkan angkotnya, ia tidak balik lagi. Di situlah ia mengubah penampilannya dengan menggunakan celana jeans dan topi dengan membawa ransel seperti petugas.

"Semenjak bom Thamrin, mereka sudah mengubah penampilan. Mereka berupaya mengelabui petugas," ujarnya.

Selain perubahan penampilan, teroris kali ini juga tidak memikirkan dampak peristiwanya. Mereka, katanya, tidak peduli dengan jumlah korban yang disasar. Hal terpenting bagi pelaku teror, menurutnya, adalah pesan terornya. Hal ini terbukti dengan penyerangan di Mapolda Riau yang hanya menggunakan peralatan seadanya. Rangkaian bom di Surabaya juga jangkauan ledakan bomnya tidak sebesar teror pada tahun-tahun sebelumnya.

"Bukan korban, tapi pesan teror yang ingin mereka sampaikan," kata Neno.

Akar Teror
Sementara itu, Wakil Sekretaris PWNU Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta KH Mulawarman Hannase menuturkan bahwa akar radikalisme adalah salafisme. Setidaknya, katanya, salafisme itu ada dua, yakni Wahabi dan Ikhwani.

"Yang paling bertanggung jawab terhadap lahirnya teorrisme adalah salafisme," ujarnya.

Lebih lanjut, dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta itu menguraikan sejak kemunculan pemikiran Hasan Al-Banna (1906-1949) yang memiliki slogan Islam sebagai solusi. Hal itu diperparah dengan kritik Sayyid Qutb (1906-1966) atas ulama-ulama terdahulu yang menegasikan jihad dalam buku-bukunya. Pemikirannya itu melahirkan salafi jihadis.

"Ini akan melahirkan salafi jihadis," tuturnya.

Abdullah Azzam (1941-1989) melengkapi pemikiran tersebut. Jika dua tokoh sebelumnya hanya berhenti pada pemikiran, tokoh terakhir ini bahkan turut melancarkan aksinya.

Lahir di Palestina saat tanah airnya itu mulai dijajah Israel, gelora perjuangannya, kata Kiai Mulawarman, membara. Sebagai doktor usul fiqih lulusan Al-Azhar, ia pernah mengajar di Jordania dan Jeddah. Di kota terakhir itu, ujarnya, ia menempa Ossama bin Laden menjadi seorang jihadis.

Mendengar berita perang Soviet dan Afghanistan, ia pun bertekad terjun ke medan peperangan. Ia masuk melalui negara tetangganya, Pakistan. "Di situlah dia menyerukan jihad," ucapnya.

Belum sempat mencabut fatwanya itu, ia meninggal. Para pengikutnya terus menggelorakan jihad itu ke berbagai negara termasuk di Indonesia.

Diskusi yang dipandu oleh pengajar Institut PTIQ Jakarta Jamaluddin Junaid itu juga menghadirkan Kabag Analis Direktorat Intelkam Polda Metro Jaya Rudi Suryadi dan Danrem Wijayakarta Kol. Inf. Bobby Rinal. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Kamis 24 Mei 2018 23:0 WIB
Rp13 T Dana Haji untuk Biayai Proyek PINA, Mustholih: Harus Transparan
Rp13 T Dana Haji untuk Biayai Proyek PINA, Mustholih: Harus Transparan
Tangerang Selatan, NU Online
Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengalokasikan dana haji sebesar 13 triliun rupiah untuk inveastasi proyek pembangunan di daman negeri. Rencananya, Center for Private Investment (PINA) akan memfasilitasi dan mencarikan proyek-proyek tersebut. 

Saat ini PINA dan BPKH sedang mendalami 23 proyek, mulai dari sektor perkebunan hingga infrastruktur. Tidak tanggung-tanggung, program investasi yang dilakukan BPKH bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Arab Saudi. 

Ketua Komnas Haji dan Umrah Mustholih Siradj mengatakan, pada dasarnya investasi dana haji ke sektor komersial dibolehkan asa berpegang pada prinsip kehati-hatian, manfaat, akubtabel, transaran, dan dijamin UU Nomor 34 tahun 2014. 

“Sektor-sektor yang dimasuki juga harus yang menggunakan sistem syariah,” kata Mustholih saat dihubungi NU Online, Kamis (24/5).

Menurut Mustholih, apa yang dilakukan BPKH harus transparan mengingat dana yang diinvestasikan adalah dana setoran calon jamaah haji. Termasuk dengan model kerjasama dengan pihak PINA, termasuk hak dan kewajiban masing-masing.

Dosen UIN Jakarta ini menyayangkan bahwa selama ini BPKH yang belum transparan kepada calon jamaah haji. Terutama terkait dengan dimana saja penempatan dana haji dan berapa banyak akumulasi keuntungan atau pun imbal (imbal) haji. 

“Padahal BPKH telah menerima transfer seluruh dana haji yang dulu dikelola Kementerian Agama,” jelasnya.

Sesuai dengan Pasal 26 Huruf B UU Nomor 34 Tahun 2014, BPKH wajib memberikan informasi terkait dengan kinerja, kondisi keuangan, kekayaan, dan hasil pengembangannya secara berkala setiap enam bulan melalui media.

“Pimpinan BPKH dilantik 17 Juli 2017, seharusnya sudah ada laporan sejauh mana kinerja mereka kepada publik,” pungkasnya. (Muchlishon) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG