IMG-LOGO
Internasional

Israel Akan Bangun 2500 Rumah Baru di Tepi Barat

Jumat 25 Mei 2018 1:0 WIB
Bagikan:
Israel Akan Bangun 2500 Rumah Baru di Tepi Barat
foto: AP
Tel Aviv, NU Online
Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengatakan bahwa dia akan meminta persetujuan pembangunan 2.500 rumah baru pekan depan di Tepi Barat, sebuah wilayah Palestina yang diduduki Israel. 

Melalui akun Twitternya, Lieberman mengumumkan bahwa badan perencanaan regional akan segera diminta untuk merancang 1.400 rumah. 

“Kami akan mempromosikan pembangunan di seluruh Yudea dan Samaria, dari utara ke selatan, di komunitas kecil dan di komunitas besar,” kata Lieberman, dilansir Reuters, Kamis (24/5).

Sementara itu, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Nabil Abu menegaskan bahwa langkah yang diambil menteri pertahanan Israel itu telah menghambat proses perdamaian kedua negara itu. 

“Keputusan Lieberman adalah sebuah pesan Israel kepada dunia, Pengadilan Pidana Internasional, PBB dan organisasi hak asasi manusia bahwa Israel menggagalkan semua upaya internasional yang dilakukan untuk menyelamatkan proses perdamaian,” kata Nabil.

Memang, pemukiman adalah salah satu persoalan kunci yang menyebabkan proses perundingan damai Israel dan Palestina tidak kunjung terwujud. Pihak Palestina menginginkan wilayah Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza menjadi kota-kota masa depannya ketika mereka merdeka kelak.

Mayoritas negara menilai wilayah-wilayah yang diduduki Israel itu adalah ilegal. Israel membantah tuduhan ini. Menurutnya, masa depan mereka harus dibicarakan dalam perundingan damai dengan pihak Palestina.

Saat ini, ada sekitar 500 ribu warga Israel yang tinggal di Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Lebih dari 2,6 juta warga Palestina juga menetap di wilayah itu. (Red: Muchlishon) 
Bagikan:
Jumat 25 Mei 2018 21:30 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Buka Bersama di KBRI Damaskus dan Harmoni Kebersamaan
Buka Bersama di KBRI Damaskus dan Harmoni Kebersamaan
Damaskus, NU Online
Kamis malam kedua di bulan Ramadhan, kembali Kedutaan besar Republik Indonesia atau KBRI Damaskus menyelenggarakan buka puasa bersama masyakarat Indonesia. Kegiatan berlangsung Jum at (24/5) malam. 

Keharmonisan cara buka bersama yang mengambil tempat di aula KBRI Damaskus ini dihadiri Duta Besar RI dan Ibu Rosa Djoko Harjanto, staf KBRI, mahasiswa, pelajar, dan para TKI yang berada di shelter KBRI setempat.

Usai berbuka (takjil) ala Indonesia, dilakukan shalat Magrib bersama yang dilanjutkan buka puasa dengan santapan hidangan khas Indonesia. Dan menu ala Tanah Air tersaji dari mulai empal, sayur asem  dan aneka makanan Indonesia lainnya. 

Setelah pelaksanaan shalat Isya dan tarawih berjamaah dilanjutkan dengan ceramah Ramadhan oleh Ustadz Ahlidin Jamaludin. Yang bersangkutan mengupas ayat al-Qur’an terkait puasa. 

Menurut Ustadz Ahliddin, bahwa makna keimanan atau kepercayaan merupakan salah satu dasar pegangan hidup. “Puasa adalah merupakan sarana penggemblengan untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela,” katanya di hadapan hadirin. Sedangkan target terakhir dari puasa adalah takwa, lanjutnya. 

“Puasa juga sebagai madrasah yang bertujuan agar para pesertanya lulus dengan nilai setinggi-tingginya,” ungkapnya. Hal tersebut agar mereka mendapat sertifikat orang-orang bertakwa.

Momen kebersamaan yang harmoni ini juga menjadi ajang pelepas rindu antara sesama warga juga kuliner Indonesia di negara Suriah, khususnya kota Damaskus. (Amiruddin Thamrin/Ibnu Nawawi)
Jumat 25 Mei 2018 18:0 WIB
Warga Belanda Hormati Muslim Berpuasa
Warga Belanda Hormati Muslim Berpuasa
Eva Nurlatifah di Belanda
Belanda, NU Online
Eva Nur Latifah mesti tetap berpuasa di tengah kesibukannya membuat tesis untuk studinya pada bidang teknologi informasi di Universitas Twente, Endesche, Belanda. Karenanya, ia menghabiskan waktu ngabuburitnya di perpustakaan.

“Ngabuburitnya ke perpustakaan. Ngerjain tesis karena tuntutan deadline,” ujarnya diiringi tawa kepada NU Online pada Sabtu (19/5).

Terkadang, ia pulang lebih awal guna membantu rekannya di rumah memasak untuk berbuka. “Pulang lebih awal jam 20.30 untuk bantu masak,” katanya.

Ia tinggal bersama keluarga Indonesia. Dengan begitu, ia tak kesulitan untuk menikmati makanan Indonesia. Sebab, orang-orang di rumahnya selalu membuat masakan ala Indonesia.

Menurutnya, masyarakat Belanda tak kaget dengan orang berpuasa. Bahkan, katanya, mereka sudah mengetahui jika pada bulan ini ia mulai menahan lapar dan dahaga sejak pukul tiga pagi hingga 10 malam itu.

“Mereka enggak kaget. Malah sudah tahu kalau bulan ini kami mulai berpuasa. Temen-temenku juga sudah enggak aneh,” kisahnya.

Oleh karena itu, warga Belanda menghormati orang-orang berpuasa. “Orang sini menghargai muslim berpuasa,” lanjutnya.

Penghargaan itu salah satunya diwujudkan dengan menyediakan pojok halal di supermarket, khusus di bulan Ramadhan.

“Bahkan salah satu supermarket menyediakan pojok makanan halal khusus di bulan Ramadhan,” katanya.

Daging, snack, dan beberapa produk Belanda lain adalah di antara makanan halal yang tersedia di pojok halal supermarket tersebut. 

Menurutnya, makanan Indonesia juga tersedia di supermarket. Nasi goreng dan bakmi, misalnya. “Tapi enggak halal kalo masakan Indonesianya,” kata Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) itu.

Sementara itu, Eva menuturkan bahwa tarawih di sana berjumlah 11 rakaat dengan satu juz Al-Qur’an yang dibaca sepanjang shalat itu setiap harinya. Hal itu berlangsung di masjid warga Maroko. 

Ia menjelaskan bahwa di kota Enschede, tempat ia tinggal, ada komunitas muslim Maroko, Turki, dan Indonesia. Komunitas muslim maroko dan turki masing-masing memiliki masjid.

“Kami sering mengikuti kegiatan di masjid Maroko atau Turki, seperti tarawih dan shalat id,” pungkasnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Jumat 25 Mei 2018 12:0 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Suhu Panas dan Panjangnya Waktu Puasa di Lebanon
Suhu Panas dan Panjangnya Waktu Puasa di Lebanon

Beirut, NU Online

Melanjutkan program Ramadhan 2018, KBRI Beirut kembali menyelenggarakan  buka puasa dan tarawih bersama 23 rakaat dengan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin) di Lebanon. Undangan  mayoritas merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Kota Tripoli dan Akkar. 


M Nur Salim yang juga sebagai Pelaksana Fungsi Politik KBRI Beirut menyampaikan  pesan. “Di luar Ramadhan kita makan tiga kali sehari baru merasa kenyang, “ katanya, Rabu (24/5). Sedangkan di bulan Ramadhan, makan dua kali sehari atau bahkan sekali saja sudah cukup. 


“Itu artinya, apa?  Jangan-jangan kita memberi  makan hawa nafsu kita,“ jelas Ustadz Nur Salim. 


Kegiatan mingguan ini selain menjadi sarana silaturahim, juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk dapat mempraktikkan ilmu. Karena sebagian dari mereka bertugas menjadi imam, penceramah dan bilal pada kegiatan tarawih bersama. Hal ini merupakan bagian dari program pembinaan masyarakat KBRI Beirut.


Tentu, sebagai mahasiswa yang sedang merantau sangat senang dengan acara ini. Karena, selain menjaga silaturrahim yang sama-sama berada jauh dari keluarga di Indonesia, mereka ikut menikmati hidangan takjil khas Indonseia yang dihidangkan tim buka bersama KBRI Beirut.


Dubes RI untuk Lebanon, Achmad Chozin Chumaidy selalu mengingatkan bahwa dengan saling silaturrahmi, sesama warga Indonseia bisa mengingatkan dalam kebaikan. “Mahasiswa yang sedang belajar, nanti bisa termotivasi untuk menyelesaikan studinya lebih cepat di kampus,” jelasnya.  


Ramadan di Lebanon tahun ini bertepatan dengan akhir musim semi. Sehingga waktu puasa cukup panjang yakni sekitar 16 jam, dengan suhu berkisar 35' C. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat umat Muslim untuk menjalankan rukun Islam tersebut. (Rahmat I Siregar/Ibnu Nawawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG