IMG-LOGO
Taushiyah

Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Penutupan Rapat Kerja Nasional Rabithah Maahid Islamiyah

Kamis 31 Mei 2007 17:16 WIB
Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Penutupan Rapat Kerja Nasional Rabithah Maahid Islamiyah

Diselenggarakan pada hari Senin, 21 Mei 2007 di Istana Negera

Bismillahirrahmanirrahiem
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Yang saya hormati Saudara Menteri Agama Republik Indonesia
Yang saya hormati Saudara Sekretaris Kabinet
Yang saya hormati pimpinan PBNU
Yang saya hormati pimpinan RMI dan jajaran pengurus
Yang saya muliakan para pimpinan pondok pesantren, para ulama, para kiai hadir disini,  sahabat-sahaban yang memberikan tausiyah, nasehat, kritik kepada saya, kritik<> yang baik, alhamdulillah saya ucapkan terima kasih.

Para peserta rapat kerja, hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Pada kesempatan yang baik, semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan ridhonya kepada kita semua, masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita pada ummat dan pada bangsa dan negera. Kita juga bersyukur hari ini dapat bersilaturrahmi disini dengan niat yang baik untuk sama-sama meningkatkan apa yang dapat kita lakukan kepada bangsa kita.

Sholawat dan salam marilah sama-sama kita haturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Sholallahu alaihi wassalam besrta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya sampai akhir zaman.

Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini mengucapkan selamat datang pada para pengasuh pondok pesantren, para ulama, dan para kiai yang datang dari seluruh tanah air. Saya pun ingin mengucapkan selamat atas telah dilangsungkannyanya rapat kerja Rabithah Maahid Islamiyah, semoga silaturrahmi dan rapat kerja kali ini dapat membawa manfaat dalam upaya meningkatkan kualitas spendidikan serta membangun kerjasama yang lebih baik di antara pondok-pondok pesantren di negeri kita.

Hadirin yang saya hormati, saya sungguh bergembira, hari ini dapat berada di tengah-tengah para ulama, para kiai, para pimpinan pondok pesantren, dari seluruh tanah air. Bagi saya kehadiran para ulama dan para kiai di istana negara ini membawa makna dan kesejukan tersendiri. Keteladanan, ketawadhuan, keluasan ilmu dan keteguhan diantara para ulama telah menjadi inspirasi yang tidak pernah kering kepada saya dalam menjalankan roda pemerintahan di negeri tercinta ini. Sebagai kepala negara saya sungguh bersyukur karena kita memiliki ribuan pondok pesantren yang tersebar di seluruh tanah air. Ribuan pondok pesantren ini merupakan kekuatan, merupakan pusat kebajikan bagi ummat, bagi bangsa yang tidak ternilai harganya.

Kehadiran pondok pesantren di tanah air telah ada sejak tersebarnya agama Islam di nusantara. Pada awalnya, pondok pesantren sebagai tempat pendidikan para santri yang berkeinginan memperdalam ajaran Islam. Komunitas santri berkumpul di pesantren-pesantren untuk memperdalam kitab suci Al Qur’an dan naskah-naskah klasik. Pesantren menjadi sebuah lembaga atau institusi yang konsisten dalam mengembangkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan berdasarkan nilai-nilai agama. Pesantren menjadi tempat berkumpulnya tradisi intelektual keagamaan yang khas di tanah air.

Di zaman penjajahan pada waktu itu, pesantren tidak hanya berperan sebagai tempat pendidikan agama Islam, tetapi juga berperan untuk membangun wawasan kebangsaan, rasa kebangsaan, semangat kebangsaan kita. Pesantren telah banyak memberikan sumbangan yang berarti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesantren selain berperan penting dan mendidik dan mencerdaskan anak-anak bangsa juga berperan dalam perjuangan menentang penjajahan. Harus kita akui bahwa pesantren dengan para kiai dan santrinya memiliki jasa yang amat besar terhadap bangsa dan negara kita dalam mendorong pergerakan nasional dari masa ke masa untuk menuju kemerdekaan Indonesia. Para kiai dan santri dalam catatan sejarah senantiasa mengobarkan perlawanan pada kaum penjajah.

Seiring dengan berkembangnya metode pendidikan Islam, pola interaksi sosial para santri serta perkembangan budaya, lambat laun pesantren berubah menjadi lembaga pendidikan yang modern. Pesantren yang dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan paling sederhana, dengan kesederhanaan bangunan-bangunan fisik di lingkungan pesantren, kesederhanaan hidup para santri, kepatuhan para santri pada kiainya, serta sistem pengajaran tradisional, kini sebagian telah tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang modern. Namun kesederhanaan, kejuangan, kemandirian, kebersamaan, dan keikhlasan tetap menjadi semangat yang meneguhkan pesantren menjadi lembaga pendidikan yang tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas.

Hadirin yang sama muliakan
Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada berbagai persoalan ummat yang semakin beragam. Kita masih harus berupaya untuk meningkatkan kesejahtaraan rakyat, mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan taraf kehidupan bangsa kita agar semakin sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Tetapi di sisi lain, didunia ini masih ada bangsa-bangsa lain yang ada di belakang kita. Kita wajib menolong saudara-saudara kita dinegara lain itu, disamping mengejar ketertinggalan dengan saudara-saudara kita yang lebih dahulu maju. Kitapun dihadapkan pada tantangan dan permasalahan yang dapat meruntuhkan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, pesantren diharapkan dapat berperan aktif bersama-sama pemerintah untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang kita hadapi itu. Pesantren dengan tradisi keilmuan dan kelembagaan dapat melakukan pencerahan, bimbingan kepada masyarakat melalui kegiatan pendidikan, kegiatan dakwah dan kegiatan sosial lainnya.

Dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan unsur yang paling mendasar, yang tidak dapat melepaskan aspek-aspek teologis, aspek keagamaan. Para santri selain diberi bekal ilmu-ilmu keagamaan juga dididik dengan sikap dan perilaku yang rasional, yang inovatif dan yang kreatif. Hal ini sangatlah penting agar para santri selain menguasai ilmu-ilmu agama, juga memiliki kemandirian dan daya saing yang menjadi tema dalam rapat kerja kali ini. Untuk memiliki daya saing, pesantren di era global harus mampu memberikan pemikiran-pemikiran baru. Fikrah atau pemikiran yang dikembangkan tidak hanya memikirkan keagamaan semata, tetapi juga pemikiran yang bersentuhan dengan ekonomi, sosial, budaya dan teknologi. Sudah saatnya hadirin dan hadirat yang saya muliakan, di era global ini, pesantren mengembangkan science dan teknologi yang digali dari khasanah keislaman. Pesantren dituntut dapat mengaktualkan teks-teks al Qur’an dan sunnah dalam kehidupan modern.

Kita tidak boleh lupa pada sejarah bahwa pada masa awal kebangkitan Islam, pada millennium pertama dulu, berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, ditemukan dan dikembangkan oleh para pemikir Islam. Kita mengenal Ilmu Hayat, atau biologi, ilmu astronomi, Al Jabar atau matematika dan ilmu-ilmu lainnya yang digali oleh para pemikir Islam. Saya melihat akhir-akhir ini telah banyak pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dan bahasa pengantar pendidikan. Melalui kemampuan berbahasa Arab, para santri memiliki dasar-dasar untuk belajar agama Islam langsung dari sumber aslinya yang berbahasa Arab. Sementara penguasaan bahasa Inggris merupakan bagian upaya untuk mempelajari pengetahuan umum dan memungkinkan kita untuk dapat berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Saya sering mengatakan bahwa peradaban Islam pada millennium pertama sangat maju, lebih maju daripada peradaban yang lainnya. Millennium kedua, kita relatif tertinggal. Sekarang kita memasuki millennium ketiga, saya yakin, karena banyak sekali pemikir-pemikir Islam, tehnolog Islam, ahli-ahli dari kalangan Islam yang bisa memberikan solusi pada permasalahan dunia. Ketika saya diminta oleh Universitas Ibnu Saud di Saudi Arabia waktu itu, saya memberikan ceramah dengan judul “Membangun Peradaban Islam di Millennium ke Tiga” karena saya yakin, kita dapat membangun kembali peradaban kita, civilization kita, yang bisa memberikan solusi memecahkan masalah-masalah kemanusiaan, masalah keduniaan. Pemahaman dan pengejawantahan aspek-aspek ideologis tentu saja dapat diselaraskan dengan wawasan ilmu pengetahuan kontemporer.

Para peserta silaturrahim dan rapat kerja yang saya muliakan
Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Yang pertama, selain saya mendengar bahwa pondok pesantren sekarang ini lebih dari sekedar menyelenggarakan pendidikan keagamaan, tetapi lebih dari itu berkontribusi kesejahteraan bagi warga pondok pesantren, bagi ummat, dan akhirnya bagi seluruh bangsa, ini sungguh mulia.

Saya senang, tadi ada rekomendasi kepada saya, kepada pemerintah, harap juga disampaikan kepada para gubernur, para bupati dan para walikota, karena pada hakekatnya tugas pemimpin tiada lain adalah terus menerus berikhtiar untuk meningkatkan kesejahteraan ummat dan rakyatnya.

Alhamdulillah, ekonomi kita sudah mulai tumbuh. Sesungguhnya, kalau ekonomi tumbuh sekitar 5.56 persen dua tahun berturut-turut, artinya sektor riil juga tumbuh. Kalau ekonomi kita tumbuh 6 persen, sektor riil akan tumbuh lebih tinggi, Cuma belum semua sektor riil tumbuh tinggi, masih ada yang rendah, masih ada yang jalan ditempat. Tugas kita terus menerus mengupayakan agar sektor riil tumbuh di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, di daerah pedesaan juga mengalami kemajuan yang berarti. Ini memerlukan tekad kita semua. Pemerintah, sesuai dengan pertumbuhan ekonomi, sesuai dengan peningkatan anggaran pendapatan dan belanja negara, dan APBD, kita terus meningkatkan anggaran untuk pengentasan kemiskinan, termasuk anggaran pendidikan dan kesehatan, termasuk anggaran untuk pendidikan agama.

Tahun 2004, ketika saya mengemban amanah, anggaran untuk mengurangi kemiskinan sekitar 19 trilyun, tahun 2005 kita naikkan 24 trilyun, tahun 2006 naik menjadi 42 trilyun, tahun ini 51 trilyun. Insyaallah, pemerintah akan bersama-sama dengan DPR bisa meningkatkan lagi anggaran kemiskinan untuk tahun depan lebih dari 50 trilyun agar upaya untuk membangun rakyat kecil, rakyat yang masih miskin, usaha kecil dan menengah di lingkungan pondok pesantren, dapat diadakan lebih besar lagi. Syaratnya para pemimpin di seluruh Indonesia betul-betul turun ke lapangan, melihat keadaan secara nyata, menentukan prioritas mana yang harus dibantu lebih dahulu, mana yang kemudian, agar betul-betul dapat dialokasikan kepada yang betul-betul memerlukan sebagai modal untuk usaha kecil dan menengah. Saya telah menyampaikan kepada fihak perbangkan dan Bank Rakyat Indonesia misalnya dan lain-lainnya agar dapat memberikan modal pada usaha kecil dan menengah, termasuk di lingkungan pondok pesantren.

Para pemimpin daerah, para bupati, walikota, juga mencari solusi kalau para pencari modal tidak dapat memberikan agunan, jaminannya apa, bisa dibantu karena uang tidak kemana-mana jika digunakan dengan benar karena tidak ada didalam sejarah, usaha kecil menghilangkan uang negera, dalam jumlah besar, bahkan ketika usaha-usaha besar bangkrut, yang jumlah uang yang hilang begitu besar, yang mestinya bisa menjadi kewajiban moral bagi negara dan bagi rakyatnya. Tetapi usaha kecil itu pada umumnya aman, apalagi dibimbing, dibina, diarahkan. Oleh karena itu, saya jelaskan karena keputusan politik sudah diberikan, kebijakan politik, kebijakan perbankan telah diberikan untuk mengalirkan modal dengan bunga yang tidak terlalu tinggi disertai bimbingan kepada masyarakat luas dan usaha kecil dan menengah agar sektor riil di desa-desa segera bergerak.

Kemarin saya melakukan kunjungan mendadak di sebuah desa, namanya desa Karang Tengah di Kab. Bogor. Saya sengaja melakukan kunjungan secara mendadak sebab kalau dipersiapkan, semuanya dipersiapkan, kadang-kadang diatur pembicaraannya, tempat yang baik dan lain-lain. Kemarin saya datang ke desa apa adanya, betul-betul apa adanya. Saya lihat tempat-tempat yang seharusnya menjadi prioritas pembangunan, masalah pendidikan, masalah kesehatan, masalah usaha kecil, masalah keamanan, masalah tanah longsor, masalah minyak tanah, pupuk dan saya berdialog dengan tiga pimpinan pondok pesantren, saya ingin tahu kehidupan beragama, lepas semua bicaranya. Saya senang sekali karena asli, tidak dipoles-poles, itu suara rakyat, itu harapan rakyat. Kalau dikritik, dikritik, kalau terima kasih, terima kasih. Kejujuran dinegeri ini, kita rindu seperti ini, kalau benar dikatakan benar, kalau salah dikatakan salah, yang baik dikatakan baik, yang jelek dan belum baik ya dikatakan jelek dan belum baik. Dengan demikian, menjadi kita tidak dholim pada diri sendiri, tetapi bersma-sama memperbaiki kekurangan meningkatkan upaya perbaikan.

Dari pengalaman ini, yang insyaallah akan saya lakukan di tempat lain, dapat saya simpulkan bahwa rakyat kita hidup sederhana, kehidupan sehari-hari tidak muluk-muluk, tidak bicara politik yang tinggi-tinggi, tapi benar. Itul kewajiban kita memastikan bahwa program penyaluran anggaran betul-betul sampai pada sasarannya, tidak belok ke sana kemari, dengan demikian hasilnya akan semakin baik.

Saya minta saudara menteri agama mempelajari rekomendasi dari rapat kerja ini, yang baik tolong berikan dukungan, komunikasikan pada fihak lain, apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pondok-pondok pesantren dengan demikiran dapat meningkatkan kehidupan rakyat secara keseluruhan.

Yang kedua saya ingin mengajak, untuk, bahasa kerennya mengkampanyekan, bukan kampanye politik, yaitu mensosialisasikan, mengajak, membumikan, menghidupkan agar kita tidak melakukan tiga jangan. Jangan yang pertama, janganlah kita menggunakan kebebasan tanpa batas. Kebebasan tanpa akhlak berbahaya, masyarakat manapun, negera manapun, bangsa manapun, kalau kebebasan itu menjadi panglima, tidak peduli kebebasan itu mengganggu yang lain, atau tidak disertai dengan akhlak, hampir pasti masyarakat akan runtuh. Mari kita gunakan kebebasan dengan tanggung jawab yang tinggi. Demokrasi harus menjadi panglima, kebebasan harus dimiliki, tapi kebebasan di negera ini haruslah kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan dengan akhlak kebebasan yang bikin nyaman, bikin tenteram. Mari kita dorong kebebasan dan demokrasi tanpa menimbulkan kerusakan bagi kehidupan masyarakat kita. Itu jangan dipertaruhkan.

Yang kedua, janganlah kita biarkan masyarakat kita, mengejar kesenangan duniawai semata, kesenangan duniawai yang berlebihan yang disebut dengan hedonisme. Saya sering berkunjung di kota-kota besar di Indonesia, sekali-kali saya berkunjung ke luar negeri bahwa salah satu bahaya globalisasi, adalah tumbuhnya gaya hidup global yang kadang-kadang hedonistik, mengejar kesenangan duniawi, yang kaya hidupnya bermewah-mewahan, berboros-borosan, ikut-ikutan, dan seterusnya. Ini berbahaya. Mari kita jaga negeri kita untuk menghindari gaya hidup seperti ini. Pertama, Islam mengajarkan harus ada keseimbangan antara dunia dan akhirat, bayangkan kalau semuanya dipuas-puaskan untuk kepetingan dunia, jadi apa kepribadian akhlak dan perilaku kita.

Yang kedua, kita sedang membangun, jangan berlebihan, tolonglah Bantu kau papa, kaum fakir miskin, semuanya memerlukan bantuan, jangan dimewah-mewahkan, jangan dihabis-habiskan, untuk mengejar, sekali lagi, kesenangan duniawi semata. Kita perlukan kesetiakawanan, kita memerlukan kebersamaan dengan saudara-saudara kita yang belum mampu. Mari kita membangun Indonesia.

Dan yang ketiga, jangan mengembangkan budaya fitnah, hati-hati, jangankan pemimpin, jangankan tokoh, orang seorangpun hati-hati dalam bertutur kata. Bayangkan kalau negera kita menjadi lautan fitnah, menuduh orang sembarangan, mereka punya anak punya istri, punya saudara. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, belum lagi yang difitnah karena mencemarkan nama baik, menuntut ke pengadilan, menuntut proses hukum, seperti apa negera kita, yang tentram dan damai, tuntut menuntut, kontrolnya ada dalam diri kita. Mari kita contoh rasulullah, Nabi Muhammad SAW, tutur katanya, perilakunya, sikapnya, cara berkomunikasi dan seterusnya.

Jadi dalam pertemuan yang mulia ini, saya mengajak untuk tidak mengembangkan tiga “jangan”. Mengembangkan kebebasan tanpa batas, tanpa akhlak, jangan hidup berlebihan sampai menimbulkan hedonisme, dan jangan kita mengembangkan budaya fitnah yang menimbulkan keonaran diantara kita.

Hadirin sekalian yang saya muliakan
Akhirnya, saya mengajak sekali lagi, para para pengasuh pondok pesantren di seluruh tanah air, menjadikan pondok pesantren sebagai tempat pendidikan yang konsisten dalam mengembangkan pendidikan agama Islam. Peran pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam harus mempu meningkatkan keualitas pendidikan insani yang memiliki daya saing di era global. Yang jelek-jelek kita lawan, kita tekan, yang baik-baik kita ambil. Kita akan menjadi bangsa yang besar kalau kita cerdas dan arif mensikapi globalisasi. Ingatlah sumberdaya insani yang sangat mulia, professional dan tangguh dalam menghadapi persaingan diantara berbagai bangsa di dunia.

Kepada  para peserta, sekali lagi saya ucapkan selamat atas berhasilnya rapat kerja nasional. Saya turut berdoa semoga rapat kerja yang baru dilaksanakan benar-benar dapat mendukung peran dan fungsi asosiasi pondok pesantren seluruh Indonesia dalam meningkatkan kinerjanya serta dalam membangun kerjasama untuk pondok pesantren kita. Kepada saudara menteri agama dan diteruskan kepada menteri pendidikan nasional, saya minta memberi perhatian secara sungguh-sungguh terhadap keberadaan pondok pesantren di seluruh Indonesia. Berikan bimbingan, pembinaan dan bantuan agar ribuan pondok pesantren yang kita miliki dapat terus berkembang dan membangun ummat.

Akhirnya saya berdoa kehadirat Allah Subhanahuwattala semoga perjuangan, pengabdian para pengasuh pondok pesantren diseluruh tanah air dicatat sebagai amal sholeh dihadapan Allah SWT.

Demikian yang dapat saya sampaikan semoga tuhan yang maha besar memberikan bimbingan, petunjuk dan hidayah kepada kita. Sekian,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

 


 

Bagikan:
IMG
IMG