::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Oase Al-Qur'an (1): Kenapa Allah Perintahkan Manusia Beribadah?

Jumat, 25 Mei 2018 10:00 Nasional

Bagikan

Oase Al-Qur'an (1): Kenapa Allah Perintahkan Manusia Beribadah?
Jakarta, NU Online 
Kata ibadah lumrah diucapkan, tak hanya oleh kalangan agamawan, tapi juga awam, bahkan ana-anak. Namun, apakah ibadah itu. Apa saja perbuatan yang masuk ke dalam kategori ibadah? 

Menurut Rais Majelis Ilmy Jam'iyyatul Qurra' wal Huffadz Nahdlatul Ulama KH Ahsin Sakho Muhammad, ibadah berarti ketundukan, kepatuhan, merendahkan diri (tadzallul) dan ketaatan  kepada Sang Khalik. 

Semuanya, kata dia, disertai dengan rasa cinta yang mendalam karena sifat Rahman dan Rahim-Nya dan rasa takut karena ancaman-Nya. 

“Pada saat Allah menciptakan jin dan manusia tujuan paling  utama tidak lain hanya agar mereka beribadah kepada-Nya,” katanya kepada NU Online, Kamis (24/5). 

Hal itu bukan karena Allah itu membutuhkan mereka untuk beribadah, justeru sebaliknya. Juga bukan karena lemah, Allah justeru Zat yang memberi rezeki dan Maha Kuat. Tujuan makhluk  beribadah kepada Sang Khalik ada beberapa hal. 

Pertama, terciptanya hubungan yg harmonis antara Allah dan makhluk-Nya. Kedua, sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menciptakan (ijad) dan memelihara (imdad) mereka, mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi dan mengizinkan mereka untuk menggunakan fasilitas yang ada di bumi untuk kebutuhan hidup mereka.

Ketiga, Allah ingin mengetahui sejauh kepatuhan para makhluk-Nya terhadap titah-Nya. Keempat, kepatuhan tidaknya  manusia akan mempengaruhi nasib mereka di akhirat antara sorga dan neraka. 

Kelima, memberikan rasa aman, damai karena merasa ada Zat yg mengurus dan memelihara mereka. Keenam, menghilangkan rasa takabur karena hanya Allah saja yang Maha Besar di alam raya ini. Ketujuh, sebagai bentuk ekspresi kelemahan manusia dan kebutuhan mereka terhadap Sang Khalik. (Abdullah Alawi)