IMG-LOGO
Risalah Redaksi

PR Besar Pendidikan Islam di Indonesia

Ahad 27 Mei 2018 3:30 WIB
Bagikan:
PR Besar Pendidikan Islam di Indonesia
Ilustrasi. Foto: Romzi Ahmad
Dunia pendidkan pada bulan-bulan ini sibuk dengan kegiatan penting, mulai dari ujian nasional, kelulusan, dan selanjutnya penerimaan siswa baru. Semuanya membutuhkan energi besar karena menyangkut capaian sekolah. Persiapan ujian nasional sudah dilakukan jauh-jauh hari dengan beragam kegiatan. Ujian menjadi prioritas karena menentukan masa depan masing-masing siswa yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hasil ujian juga menetapkan peringkat masing-masing sekolah dibandingkan dengan sekolah lainnya. 

Untuk hasil ujian sekolah menengah atas yang dirilis dinas pendidkan DKI Jakarta beberapa waktu lalu, di wilayah Jakarta sekolah-sekolah non-Muslim mendominasi peringkat lima teratas. Hanya SMA unggulan MH Thamrin untuk bidang IPA di peringkat 1 sedangkan empat sisanya sekolah berbasis keagamaan non-Muslim. Pada bidang IPS, empat urutan teratas diduduki sekolah non-Muslim sedangkan peringkat kelima ditempati oleh SMAN 8. Tidak ada sama sekali sekolah berbasis Islam masuk kategori terbaik. Versi lain peringkat 100 sekolah menengah atas terbaik di Indonesia yang beredar di media sosial juga menunjukkan sekolah swasta non-Muslim dan sekolah negeri masih mendominasi peringkat teratas.

Dari hasil tersebut, sudah seharusnya seluruh pemangku kepentingan pendidikan Islam untuk melakukan evaluasi, sejauh mana sekolah-sekolah Islam mampu mendidik para siswa agar potensi terbaik mereka dapat terasah dengan maksimal. Perbedaan hasil yang ada saat ini tampaknya lebih dikarenakan bagaimana memproses input dari masing-masing siswa secara maksimal, bukan karena perbedaan input karena di sekolah Islam, siswa yang masuk juga memiliki potensi yang bagus.

Sekolah-sekolah swasta Islam favorit dengan nama besar di seputar Jakarta sudah banyak. Mereka mengenakan biaya besar untuk bisa belajar di tempat tersebut. Para orang tua rela merogoh kantongnya dalam-dalam untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Sayangnya, upaya tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal. Kualitas umat Islam pada 20-30 tahun mendatang tergantung bagaimana generasi mudanya saat ini diolah untuk menghasilkan kualitas terbaiknya.

Infrastruktur, sarana, dan prasarana penting dalam menunjang keberhasilan peserta didik. Tetapi ketersediaannya tidak harus mewah yang akhirnya dibebankan kepada orang tua dengan biaya pendidikan yang mahal. Sejauh siswa bisa belajar dengan nyaman di gedung sekolah yang memadai, maka hal tersebut sudah cukup. Demikian pula dengan keberadaan beragam laboratorium untuk menunjang proses belajar siswa, ini juga penting. 

Apakah setiap sekolah harus memiliki beragam lapangan olahraga yang membutuhkan ruang yang luas atau kolam renang dengan standar internasional untuk menunjang kegiatan, tentunya hal ini harus pertimbangkan dengan matang. Sejauh mana efektifitas penggunaannya antara ongkos yang dikeluarkan dan hasil yang diperoleh. Sekolah dapat menggunakan fasilitas publik yang disedikan oleh pemerintah untuk menunjang proses belajar-mengajar. Orang tua saat ingin memasukkan anaknya ke sekolah tertentu yang menyediakan fasilitas wah, harus memikirkan kondisi ini. Banyaknya fasilitas terlihat keren tetapi penggunaan yang kurang maksimal bagi anak didik akan menjadi beban bagi orang tua. 

Kurikulum menduduki posisi strategis dalam keberhasilan pembelajaran. Kurikulum menentukan apa saja yang akan diajarkan kepada para siswa. Pada sekolah Islam, tantangannya besar karena memadukan antara materi pendidikan umum dan materi keislaman. Jika waktu yang dialokasikan dalam satu hari sama antara sekolah pada umumnya dan sekolah Islam, maka akan ada pemadatan materi-materi agar semuanya tercapai. Tentu saja, ini akan berdampak pada penyerapan siswa mengingat mereka harus belajar banyak materi. 

Banyak orang tua dengan sengaja mempercayakan pendidikan anaknya di sekolah Islam karena tambahan kurikulum keislamannya ini. Tetapi hal ini tidak boleh menjadi alasan bahwa tambahan materi ini akan mengurangi prestasinya secara umum. Sekolah non-Muslim yang berprestasi juga sekolah berbasis keagamaan yang tentu saja ada tambahan materi-materi belajar. Jika mereka bisa berhasil, sekolah Islam tentu saja juga memiliki peluang yang sama untuk bisa berhasil.

Guru menjadi faktor penentu keberhasilan. Mereka berada di garda paling depan dalam mengajar dan mendidik para murid. Di sekolah Islam, peran mendidik dengan memberi keteladanan sangat penting. Sekalipun begitu, kompetensi guru harus sesuai dengan standar. Pemerintah telah memberikan sertifikasi pendidikan bagi para guru, baik di sekolah negeri atau swasta agar mereka dapat hidup lebih layak dan mampu mengembangkan kapasitasnya sebagai guru. Tentu saja hal ini cukup membantu sekolah swasta dalam memberikan kehidupan yang layak kepada tenaga pendidiknya.

Manajemen sekolah yang baik akan menentukan sejauh mana sumber daya yang dimiliki sekolah bisa dimanfaatkan secara maksimal. Di sini, peran kepala sekolah sangat menentukan bagaimana sekolah dikelola dengan baik. Sumber daya besar tetapi dengan tata kelola yang buruk akan menyia-nyiakan potensi yang ada. Kualitas kepemimpinan di sebuah sekolah menentukan keberhasilan sekolah tersebut.  

Beberapa hal tersebut harus menjadi perhatian sekolah Islam agar bisa memaksimalkan potensi siswanya. Butuh tahapan panjang untuk benar-benar matang mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi yang terus-menerus sampai akhirnya menjadi pengetahuan bersama seluruh pemangku kepentingan sekolah Islam bagaimana mengelola pendidkan secara baik. Hasilnya akan tercermin dalam kualitas siswanya. Inilah PR besar yang masih harus dihadapi sekolah Islam. Sudah sewajarnya jika kita memberi kontribusi terbaik pada negeri ini dengan mendidik generasi muda menjadi insan terbaik melalui pendidikan terbaik. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Ahad 20 Mei 2018 14:15 WIB
Radikalisme yang Menyebar secara Senyap pada Remaja dan Pemuda
Radikalisme yang Menyebar secara Senyap pada Remaja dan Pemuda
Rakyat Indonesia dikejutkan dengan serangkaian pengeboman di tiga gereja dan kantor kepolisian di Surabaya pada 13-14 Mei 2018. Yang memprihatinkan, aksi bom bunuh diri tersebut dilakukan oleh satu keluarga, termasuk mengorbankan remaja dan anak kecil. Ini merupakan fenomena baru dalam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Tugas berat aparat keamanan dan masyarakatlah untuk mengantipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Dari informasi yang beredar di Facebook yang diunggah teman remajanya, Ahmad Faiz Zainuddin sosok pria pelaku bom bunuh diri bernama Dita Supriyanto yang mengorbankan seluruh keluarganya tersebut sudah sejak remaja terlibat dalam pengajian-pengajian kelompok ekstrem yang menganggap pemerintah itu thaghut dan yang di luar kelompoknya adalah kafir. Dia juga berusaha merekrut para yuniornya yang sedang mencari jati diri untuk masuk dalam kelompok ekstremnya.
 
Setelah era reformasi yang menandai dimulainya kebebasan di Indonesia, kelompok-kelompok Islam transnasional semakin kencang memanfaatkan situasi tersebut untuk mengembangkan ajarannya. Mereka menyasar para pemuda dan remaja di kampus atau sekolah menengah atas sebagai sasaran indoktrinasi ideologi radikalnya. Jika sebelumnya, proses tersebut berjalan secara sembunyi-sembunyi dengan sistem sel, sejak itu, rekrutmen anggota baru menjadi lebih terbuka. Menyasar generasi muda yang memiliki ghirah keislaman tinggi tetapi memiliki bekal pengetahuan agama minim.

Jika dihitung, tentu potensi radikalisme dari bibit-bibit yang ditanam oleh kelompok radikal sejak era 90an sampai sekarang sudah banyak yang matang dan siap beraksi dalam berbagai bentuk. Mereka mencari momentum untuk melaksanakan aksinya. Dalam perspektif ini, sebenarnya kejadian-kajadian terorisme bukanlah sebuah kejutan. Sekalipun kelompok mereka sangat kecil dalam proporsi jumlah penduduk Indonesia, tapi tindakannya bisa menyebabkan keresahan masyarakat. Ketenangan yang ada sifatnya hanya sementara, yang setiap saat bisa terjadi aksi-aksi yang mematikan.

Survei yang dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah pada akhir 2017 menunjukkkan adanya potensi radikalisme di kalangan generasi Z, yaitu generasi yang lahir sejak pertengahan 1990-an sampai pertengahan 2000an. Temuannya adalah sebesar 37.71 persen memandang bahwa jihad atau khital, alias perang, terutama perang melawan non-Muslim. Selanjutnya 23.35 persen setuju bahwa bom bunuh diri itu jihad Islam. Lalu 34.03 persen setuju kalau Muslim yang murtad harus dibunuh. Temuan lain, 33,34 persen berpendapat perbuatan intoleran terhadap kelompok minoritas tidak masalah. Para generasi Z ini mereka mendapatkan banyak materi Islam salah satunya dari internet dan medsos.

Kelompok radikal menggunakan internet dan media sosial dengan serius karena menjangkau warganet secara luas. Dari ratusan ribu atau jutaan yang menonton atau membaca informasi yang diunggah, dalam persentase tertentu ada yang terdoktrinasi. Dari situ, tinggal membina, membangun jejaring dan merawatnya untuk memperkuat posisi dan suatu saat dimanfaatkan bagi kepentingan kelompoknya. 

Persoalan radikalisme kian diperumit dengan adanya kepentingan politik. Parpol tertentu cenderung membiarkan atau mendiamkan kelompok-kelompok radikal berkembang karena kelompok tersebut merupakan basis pemilih saat pemilihan umum atau kepentingan penekan terhadap kelompok lain yang tidak sepakat dengannya. 

Dari binaan-binaan yang dilakukan oleh kelompok garis keras pada remaja dan pemuda di sekolah dan kampus, tentu tidak semuanya akan melakukan tindakan kekerasan dan terorisme. Bahkan potensi yang akan secara langsung melakukan tindakan ini hanya, tetapi ada peran-peran lain yang dijalankan untuk menjalankan agenda Islam radikal. Bisa sebagai politisi yang memberi perlindungan politik, menyandang dana untuk kelanjutan aktivitas mereka, sebagai pengajar yang akan meneruskan bibit-bibit radikalisme ke generasi yang lebih baru atau bahkan sekadar sebagai pendukung pasif yang menyampaikan simpatinya di media sosial saat terjadi aksi terorisme. 

Dalam terorisme di Surabaya, terbukti terdapat sejumah akun yang tidak mengecam atau merasa prihatin terhadap kejadian tersebut, tetapi mengembangkan teori konspirasi bahwa aksi tersebut sengaja dilakukan pihak tertentu sebagai pengalih isu atau kepentingan lain yang tersembunyi. Suara masyarakat yang terpecah sekalipun banyak korban nyawa menunjukkan dalam taraf tertentu, penerimaan atas aksi tersebut yang diekspresikan secara langsung melalui media sosial. 

Para remaja dan pemuda yang kini terindoktrinasi ajaran radikal ibarat bibit-bibit yang baru mau bertumbuh, saat ini mereka yang tidak menimbulkan bahaya apa pun bagi masyarakat, tapi semaian yang terus dipupuk dan dirawat dengan radikalisme akan menjadi sangat berbahaya pada 20-30 tahun mendatang ketika mereka sudah dewasa, memiliki kekuasaan, sumberdaya atau akses tertentu.

Kinilah saatnya kita berpikir secara serius upaya penanganan penanaman ajaran radikal di kalangan generasi muda. Jika tidak, Indonesia bisa menjadi ajang pertempuran tiada habisnya sebagaimana terjadi di Afganistan. Pembinaan Islam di tingkat sekolah menengah atas mungkin lebih mudah dilakukan oleh guru agama atau pihak sekolah. Mahasiswa di kampus perlu pendekatan yang berbeda karena mereka lebih dewasa dan lebih bebas dalam berorganisasi. Organisasi-organisasi mahasiswa Islam moderat harus didorong untuk lebih aktif dalam membimbing mahasiswa baru agar mereka tidak gampang tergiur dengan ajakan Islam radikal yang disampaikan dengan cara menarik. (Achmad Mukafi Niam)

Jumat 11 Mei 2018 14:15 WIB
Para Penghafal Al-Qur’an, Penjaga Otentisitas Kitab Suci
Para Penghafal Al-Qur’an, Penjaga Otentisitas Kitab Suci
Ilustrasi (NU Online)
Gairah untuk menghafal Al-Qur’an atau menghatamkannya secara bersama-sama dalam beberapa tahun belakangan ini meningkat drastis. Pesantren tahfidz marak didirikan di mana-mana dan keinginan untuk masuk ke dalamnya juga kuat. Para remaja dengan penuh semangat dan dorongan penuh dari orang tuanya menghabiskan masa-masa emasnya untuk menghafalkan firman suci ini sementara teman sebayanya hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main. Perlombaan hafalan Al-Qur’an juga digelar di banyak tempat dengan jumlah peserta yang semakin hari semakin meningkat.

Kegiatan membaca dan menghatamkan Al-Qur’an secara bersama-sama populer dengan sebutan one day one juz (ODOJ), yaitu sekelompok orang yang setiap hari menghatamkan 30 juz Al-Qur’an dengan sistem pembagian satu orang membaca satu juz. Biasanya mereka adalah kelompok pengajian, komunitas dalam satu lingkungan, atau anggota sebuah keluarga besar. Media sosial membantu mengoordinasi kegiatan ini agar bisa berjalan dengan baik sekalipun para anggotanya berjauhan. 

Fenomena baru tersebut tentunya harus kita apresiasi, bahwa di tengah-tengah kecenderungan umum menyibukkan diri dengan internet, media sosial dan beragam hiburan yang melenakan, masih ada orang-orang yang dengan tekun menyisihkan sebagian waktu untuk mengaji Al-Qur’an. Yang menemukan oase spiritualitas dengan membaca kalam ilahi. Tidak mudah untuk bisa konsisten dari hari ke hari untuk secara rutin membaca Al-Qur’an, apalagi menghafalkan sebanyak 30 juz. 

Dalam keyakinan banyak orang, bahwa membaca Al-Qur’an merupakan kegiatan berpahala. Tentu itu benar adanya karena banyak sekali dalil yang menjelaskan keutamakan dalam membaca Al-Qur’an. Tradisi yang berjalan selama Ramadhan adalah bertadarus seusai shalat Tarawih, yang selama sebulan penuh menghatamkan Al-Qur’an selama beberapa kali. Tentu ini didasari keyakinan bahwa membaca Al-Qur’an selama Ramadhan mendatangkan banyak pahala. 

Selanjutnya adalah bagaimana agar tradisi yang sudah berjalan dengan baik ini bisa kita tingkatkan kualitasnya. Bagaimana dari sekadar membaca ayat-ayat berbahasa Arab yang tidak dipahami artinya, bisa mulai mengarah dengan mempelajari tafsir dan maknanya. Ini merupakan pekerjaan besar mengingat Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang bukan merupakan bahasa ibu kita. Belum lagi jika ingin mempelajari ilmu-ilmu pendukung lain agar bisa memaknai dan menafsirkan Al-Qur’an dengan baik.

Sama dengan upaya membaca Al-Qur’an, mempelajarinya membutuhkan sikap istiqamah atau konsistensi, bahkan lebih berat lagi karena memerlukan upaya berpikir lebih keras. Tetapi dengan sikap istiqamah ini, hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari akan terakumulasi. Pengetahuan tentang Al-Qur’an yang dipelajari setiap hari akan terus meningkat dengan berjalannya waktu. Sungguh sayang jika kita sudah cukup puas hanya dengan membaca satu juz setiap hari, dari tahun ke tahun seperti itu tetapi tanpa pengetahuan yang bertambah mendalam tentang Al-Qur’an itu sendiri. 

Kini saatnya mulai mengkampanyekan bagaimana agar kualitas kita dalam mempelajari Al-Qur’an semakin meningkat. Tahap pertama tentunya adalah mempelajari bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an sehingga kita memahami arti dari ayat-ayatnya. Selanjutnya bagaimana mempelajari ilmu-ilmu pendukung dalam menafsirkan Al-Qur’an karena kitab suci tidak bisa dibaca secara tekstualis. Ada asbabun nuzul yang menjadi dasar turunnya ayat tersebut, ada hadist terkait sebagai penjelas sebagai ayat mengingat Al-Qur’an sifatnya makro, ada keterkaitan dengan ayat lain, ada aspek terkait ilmu bahasa Arab, dan lainnya. 

Untungnya dukungan yang diberikan oleh institusi pendidikan bagi penghafal Al-Qur’an kini cukup tinggi. Sejumlah perguruan tinggi memberikan beasiswa bagi para penghafal Al-Qur’an. Tentu ini didasari alasan bahwa hanya orang-orang istimewa yang mampu menghafal Al-Qur’an dan karena itu mereka layak untuk terus dikembangkan potensinya. Ada banyak aspek pengetahuan yang bisa digali dalam Al-Qur’an, bukan hanya pengetahuan terkait agama saja, tetapi juga sains secara umum. Dengan demikian, hal tersebut dapat meningkatkan iman kita kepada Allah. 

Selain perguruan tinggi, pesantren-pesantren Al-Qur’an juga membebaskan para santrinya untuk biasa hidup selama di pesantren. Ini menunjukkan komitmen masyarakat akan pentingnya Al-Qur’an dan mendukung orang-orang yang bersedia mengabdikan dirinya untuk mempelajari dan menjaganya. 

Menghafal Al-Qur’an merupakan aktivitas yang berat dan menjaga agar tetap hafal merupakan hal yang lebih berat lagi. Dibutuhkan konsistensi untuk setiap hari mengulang hafalan pada bagian tertentu. Hanya orang-orang dengan kualitas tertentu yang mampu menjaga hafalan dengan baik. Butuh energi besar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai sesuai dengan ketentuan. Para penghafal Al-Qur’an karena itu butuh dukungan keuangan yang memadai agar bisa hidup dengan layak sembari menjaga agar sinar-sinar Al-Qur’ani tetap memancar. 

Umumnya para penghafal Al-Qur’an adalah para ustadz/ustadzah yang dihidupi oleh masyarakat dengan peran-peran keagamaan yang mereka jalankan di lingkungan mereka. Banyak pula yang menjalankan aktivitas pekerjaan normal dan kemudian menyisihkan sebagian waktunya untuk menjaga hafalannya. Semua itu membutuhkan komitmen besar dan sudah selayaknya kita dan masyarakat secara umum memberi dukungan agar mereka dapat tetap menjaga Al-Qur’an dengan baik. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 6 Mei 2018 7:30 WIB
Menyiapkan Guru-guru NU pada Teknologi Pembelajaran Digital
Menyiapkan Guru-guru NU pada Teknologi Pembelajaran Digital
Guru merupakan faktor utama penentu keberhasilan pendidikan. Di bawah bimbingan pendidik yang kompeten dan berdedikasi, potensi-potensi yang terpendam dalam diri para siswa dapat dikembangkan dengan maksimal. Karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidkan di lingkungan NU, upaya peningkatan kualitas para guru menjadi suatu kemestian. Penyiapan para guru NU dengan teknologi pembelajaran digital akan mengakrabkan para guru dengan teknologi pembelajaran terbaru ini. 

Peningkatan kapasitas para guru sangat krusial di era saat ini mengingat terjadinya perubahan yang sangat cepat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi baru yang lahir setelah tahun 2000, yang kini sedang duduk di sekolah memiliki cara berpikir dan bertindak yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka merupakan generasi digital native atau sejak lahir telah bersentuhan dengan dunia digital. Para guru, yang lahir di era sebelumnya, merupakan kelompok digital immigrant atau orang-orang yang mempelajari teknologi digital setelah mereka dewasa. Karena belajar teknologi digital setelah dewasa, banyak di antaranya yang mengalami kegagapan.

Kelompok digital native dan digital immigrant memiliki karakteristik dan perilaku yang berbeda ketika berhadapan dengan teknologi. Para guru, jika ingin berhasil dalam mengajar, harus memahami bagaimana cara berpikir anak-anak masa kini lalu menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar-mengajar. Metode pembelajaran yang banyak menghafal sebagaimana digunakan di masa lalu tampaknya harus dievaluasi mengingat teknologi kini mampu menyimpan materi-materi ke dalam jaringan, lalu kita dapat mengaksesnya dengan mudah kapan saja, di mana saja tanpa perlu kita menghafalnya. Tugas guru adalah bagaimana mendorong rasa keingintahuan siswa agar berkembang dengan baik mengingat internet menjadi sumber pengetahuan yang tak terbatas. 

Kini, kita dapat belajar “apa saja” melalui internet. Video-video pembelajaran yang berserakan di Youtube atau situs lain dapat dengan gampang diakses. Jika belum paham materinya, kita dapat mengulangi materi sampai bisa memahami. Beragam aplikasi yang tersedia di play store atau app store menyediakan wahana pembelajaran yang interaktif, yang menyediakan latihan-latihan pada materi yang kita pelajari. Sejumlah perusahaan telepon genggam dunia juga mengembangkan materi pembelajaran yang efektif sebagai nilai lebih mereka di hadapan konsumen. Peran guru dalam hal ini adalah bagaimana mengarahkan para siswa memanfaatkan kekayaan teknologi ini. Untuk bisa mengarahkannya, maka mereka sendiri harus paham dan akrab teknologi pembelajaran berbasis digital.

Bagaimana kesiapan para guru NU yang tergabung dalam Persatuan Guru NU (Pergunu) untuk memanfaatkan teknologi pembelajaran ini? Beberapa tentu sudah akrab dengan teknologi baru ini, tetapi masih banyak yang menggunakan cara-cara pembelajaran konvensional yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun sebelumnya. Para guru yang baru lulus lebih mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sementara guru yang sudah berumur cenderung menggunakan pola pembelajaran yang selama ini dijalani selama karir mengajarnya. 

Keberadaan telepon cerdas kini sudah menyebar secara merata, termasuk di kalangan para pendidik. Beragam aplikasi pembelajaran juga bisa diunduh dengan gratis. Persoalannya saat ini adalah bagaimana para guru selalu terdorong untuk menggunakan teknologi untuk pembelajaran sehingga siswa dapat mempelajari dan mamahami suatu materi pelajaran dengan cepat. Menciptakan budaya pembelajaran digital akan mempercepat proses digitalisasi pembelajaran.

Tetapi ada peran guru yang tidak dapat digantikan oleh teknologi digital, yaitu peran sebagai pemberi teladan dan mengajarkan karakter kepada siswanya. Di sinilah kekuatan para pendidik di lingkungan NU. Ini harus dijaga bahkan diperkuat. Internet di mana  beragam nilai-nilai moral ditawarkan bisa menjadi jebakan bagi anak didik jika mereka tidak mendapatkan bimbingan yang baik dari para guru. Kelompok-kelompok radikal juga menyasar pengikut baru melalui internet yang merupakan orang-orang yang labil dan belum memiliki pegangan hidup yang mapan.

Peran guru juga sangat krusial dalam membimbing siswa bagaimana menggunakan internet atau teknologi digital dengan bijak. Kekhawatiran para orang tua adalah konten pornografi yang kini dengan mudah diakses melalui internet. Bukan hal yang bijak juga jika menghalangi para siswa untuk mengakses internet karena ketakutan mereka akan terpapar pornografi. Ini merupakan dampak negatif yang harus dicarikan solusinya. Masa depan generasi muda, tergantung pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan internet dengan baik. Karena itu, membimbing mereka berinternet secara sehat menjadi sangat penting.

Hal lain adalah munculnya media sosial sebagai sarana untuk bersosialisasi di dunia maya. Kini banyak orang menghabiskan waktunya selama berjam-jam dalam sehari untuk menelusuri media sosial, dari satu grup ke grup lain, dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Baik sekedar membaca, memberi tanda suka, berkomentar atau menggunggah materi. Banyak waktu produktif hilang karena fenomena media sosial yang sangat melenakan ini. Para siswa, juga memiliki kecenderungan yang sama untuk teradiksi dengan media sosial secara berlebihan. Sekali lagi, di sini peran guru untuk membimbing mereka.

Menjadi guru di era digital merupakan tugas yang lebih menantang dibandingkan dengan era analog pada generasi sebelumnya. Tentu ini merupakan "berkah" dari kemajuan, tetapi menuntut para pendidik untuk lebih proaktif dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Organisasi guru seperti Pergunu harus menyiapkan para guru untuk lebih siap menghadapi perkembangan teknologi baru ini. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG