IMG-LOGO
Pustaka

Ayyuha al-Walad, Nasihat Penting Imam Al-Ghazali kepada Murid

Ahad 27 Mei 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Ayyuha al-Walad, Nasihat Penting Imam Al-Ghazali kepada Murid
Tugas seorang pencari ilmu adalah menuntut ilmu, bukan menunggu ilmu karena ilmu tidak datang tapi didatangi. Namun siapa yang tahu ilmu mana yang akan bermanfaat kelak. Andaikata ia tahu kelak akan menjadi apa, tentu ia akan mempersiapkan bekal mulai dari sekarang.Apakah salah jika kita mempelajari ilmu yang kelak tidak kita pergunakan? Apakah hidup kita akan sia-sia dalam mencari ilmuyang tak sesuai dengan profesi kita kelak? 

Pemikiran dan kegelisahan semacam ini pernah dirasakan oleh salah seorang murid Imam Al-Ghazālī. “Saya telah membaca bermacam-macam ilmu pengetahuan. Lalu, manakah ilmu yang bermanfaat bagiku esok? Dan menghiburku di alam kubur? Dan manakah yang tidak bermanfaat bagiku sehingga aku dapat meninggalkannya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu berdoa :ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat ”

Kegelisahan inilah yang melatar belakangi seorang murid Al-Ghazālī untuk memberanikan diri menulis surat pada guru sekaligus murabbī-nya (pendidik) dan mengutarakan seluruh kegelisahannya untuk meminta nasihat dan doa dari gurunya dengan permintaan khusus agar gurunya tersebut senantiasa berkenan menuliskan jawaban suratnya meski karangan-karangan Imam Al-Ghazālī seperti ihyā‘ulumiddīn telah mengandung jawaban pertanyaannya. Akhirnya Imam Al-Ghazālī memenuhi permintaan muridnya tersebut dalam kitab mungil ini.

Nama lengkap pengarang kitab ini adalah Muhammad ibn Muhammad Abu Hamid Aṭ-Ṭūsī seorang ahli fikih, ahli tasawuf, filosof sehingga beliau mendapat gelarhujjah al-Islām (Argumentasi Islam). Nama beliau dinisbatkan pada ghazalah sebuah nama desa di kota Ṭūs oleh karenanya beliau lebih dikenal dengan sebutan Al-Ghazālī.

Ayyuhā al-Walad, “Hai anakku”. Nama kitab yang sederhana nan unik ini, mengajak muridnya laksana anak sendiri. Mengindikasikan bahwa hubungan mereka bukan sekadar antara guru dan murid tapi lebih pada kasih sayang bapak pada buah hatinya agar relasi antara keduanya layaknya hubungan kausalitas yang tak mungkin terpisahkan sehingga tak ada alasan untuk menolak petuah-petuah yang mengalir dari lisan agung gurunya. Kitab ini memang ditujukan khusus atas permintaan murid Imam Al-Ghazālī, namun isi kandungan nasihat-nasihatnya bersifat umum pada setiap insan yang sedang menempuh jalan Allah. Kitab ini sangat cocok untuk dijadikan rujukan khususnya bagi para pencari ilmu.

Kitab mungil ini merupakan limpahan kasih sayang seorang guru pada muridnya. Kita bisa mengatakan bahwa Imam Al-Ghazālī tidak hanya mengajarkan ilmu pada muridnya melainkan disertai dengan pendidikan moral, akhlak dan spiritualnya. Bagaimana cara menyampaikan nasihat-nasihatnya beliau sangat bijak tidak hanya memaparkan inti-inti nasihatanya tapi juga disertai dengan contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman orang terdahulu yang dapat dijadikan teladan atau 'ibrah dan dikuatkan dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan al-Hadist.

Imam Al-Ghazālī dalam karya ini juga mengutip perkataan ulama terdahulu seperti As-Syiblī,beliau berkata :”Saya telah berkhidmat kepada empat ratus orang guru, dan saya telah membaca empat ribu hadis nabi, kemudian saya memilih satu buah hadis saja, hadis tersebut saya amalkan sementara yang lainnya saya tinggalkan. Mengapa demikian? Karena setelah saya berfikir, saya menjumpai bahwa keselamatan saya lantaran mengamalkan hadis tersebut. Hadis tersebut adalah sabda nabi sebagai berikut:

اعمل لدنياك بقدر مقامها فيها، واعمل لأخرتك بقدر بقائهك فيها، واعمل لله بقدر حاجتك اليه، واعمل للنار بقدر صبرك عليها

“Beramallah untuk duniamu selama engkau tinggal disitu dan beramallah untuk ahkiratmu sebanyak masa tinggalmu, dan beramallah bagi Allah sekedar kebutuhan pada-Nya, dan beramallah bagi neraka sekedar kesabaranmu menghadapinya.”

Intisari dari penggalan hikayat di atas tidaklah perlu kita mencari ilmu yang banyak tanpa diaplikasikan dalam kehidupan. Yang terpenting adalah apa tujuan kita mencari ilmu, karena yang diperhitungkan adalah niat baik kita. Sementara kita tidak bisa melompati takdir yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa.

Dalam kitab ini Imam Al-Ghazālī memaparkan bahwa untuk menempuh jalan Allah haruslah mempunyai pembimbing dan bagaimana ciri-ciri orang yang patut dijadikan sebagai pembimbing dijelaskan secara detil dalam kitab ini. Beliau juga menjelaskan bahwa tasawwuf itu memiliki dua sifat yakni istiqamah dan bersikap tenang menghadapi manusia. Maka, barangsiapa yang beristiqamah dan berbaik budi terhadap orang-orang dan memperlakukan mereka dengan bijaksana, maka ia adalah seorang sufi.

Kewajiban orang yang akan menempuh jalan yang benar adalah melakukan empat hal berikut: Pertama, i’tikad yang benar yang tidak dicampur dengan bid’ah. Kedua, taubat yang sungguh-sungguh dengan mengunci mati semua kemungkinan kemaksiatan. Ketiga. Meminta keridaan dari semua lawan dan musuh, dan keempat, mempelajari ilmu dunia dengan tujuan haknya untuk memperlancar perintah Allah dan mempelajari ilmu ahkirat yang dapat menyelamatkanmu dari semua macam bahaya dan siksa api neraka.

Hakikat ubudiyah, tawakkal dan ikhlas semuanya dijawab Imam Al-Ghazālī dalam kitab ini, dan bagaimana cara kita agar terhindar dari sifat riya, berikut adalah jawabannya: Obat penangkal riya adalah dengan berasumsi bahwa seluruh makhluk itu berada dibawah kekuasaan-Nya. Sepanjang kamu masih mempunyai perasaan dan pengertian bahwa ada zat yang lebih tinggi di atasmu, maka selama itu kamu dapat terhindar dari sifat riya.

Di antara nasihat Imam Al-Ghazālī kepada muridnya adalah janganlah engkau menjadi juru penasihat dan menjadi seorang juru pengamat kecuali bila engkau telah mengamalkan apa yang engkau katakan itu terlebih dahulu. Di dalam kitab ini dijelaskan bagaimana menjadi penasihat yang baik apabila terpaksa harus menjadi penasihat atau muballigh, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muballigh.

Benar apa yang dikatakan Imam Al-Ghazālī bahwa nasihat itu mudah, yang sulit adalah pengamalannya. Sebab nasihat itu akan terasa pahit bagi orang yang memperturutkan kehendak nafsunya.  Namun hidup tanpa nasihat akan hampa karena nasihat akan mengingatkan hati bagi orang yang berpengetahuan.

Kitab ini sangat cocok bagi mereka yang merasa haus akan nasihat, karena kitab ini berisikan nasihat, wejangan, petuah, bimbingan, dan arahan Hujjatul Islām,  Imam Al-Ghazālī untuk membangkitkan jiwa kita dalam meraih keridaan Allah swt dan Rasul-Nya. Selamat Membaca!


Peresensi adalah Nila Mannan, Santriwati Ma’had Aly Sukorejo Situbondo

Identitas Buku
Nama kitab: Ayyuhā al-Walad
Pengarang: Abū Hāmid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazālī
Penerbit: Dār al-Ihyā
Tebal: 24 hal

Tags:
Bagikan:
Selasa 22 Mei 2018 17:35 WIB
Nasionalisme Kaum Sarungan
Nasionalisme Kaum Sarungan
Buku ini tak ada kaitan langsung dengan peristiwa teror bom Surabaya. Namun kehadirannya menjadi aktual untuk menjelaskan problem-problem kesesatan pikir yang melatarbelakangi aksi teror menyedihkan itu. Ditulis dalam tiga bagian, buku Nasionalisme Kaum Sarungan karya A. Helmy Faishal Zaini sangat direkomendasikan sebagai pegangan bagi para aktivis Kerohanian Islam. 

Sebagian besar kelompok-kelompok ekstrem (termasuk pelaku teror bom Surabaya) hampir bisa dipastikan mempelajari agama dari sumber yang sangat terbatas. Dalam lieratur pendidikan, cara belajar mereka disebut tekstualis. Memahami segala sesuatu hanya dari sumber teks-teks klasik otoritatif tanpa diimbangi dengan upaya-upaya ijtihadiyah berbasis manhajul fikr yang kritis dan kontekstual.

Inilah yang membuat pemahaman agama mereka cenderung dangkal. Ekspresi keberagamaannya kaku. Menganggap apapun masalah aktual yang tidak ada dalam teks suci sebagai melenceng dan bid’ah. Menghukumi para pelakunya sebagai kafir. Dan seterusnya. Sebuah konstruksi beragama yang normatif, yang dangkal ke dalam, sehingga kaku ke luar. Produk-produk hukum agama dipahami ‘all given’ sebagaimana tertuang dalam teks-teks resmi agama saja.
 
Di sinilah penulis menjelaskan bahwa prinsip pengambilan hukum agama bukan hanya bersumber dari teks. Sebab tidak semua problematika manusia dijelaskan problem solving-nya oleh agama secara eksplisit. Ada hal-hal yang hanya disinggung secara implisit. Bahkan makin banyak masalah-masalah kontemporer yang membutuhkan istinbat hukum sebagai mekanisme ijtihad hukum ‘pasca’ teks.

“Idza wujida nash fatsamma maslahah. Idza wujidal maslahah fasyar’ullah." Demikian penulis mengutip sebuah kaidah fiqih. Yang artinya, “Jika ditemukan teks (sumber hukum) maka di sana ada kebaikan. Jika ditemukan kebaikan (meskipun tak ada sumber hukum) maka di sana adalah hukum Allah.

Sesuatu yang baik dan tidak menyimpang dari agama, tidak perlu diributkan dasar hukumnya. Apapaun amalan atau perbuatan, kalau menurut muslim baik, membawa maslahah, maka insya Allah menurut Allah juga baik.

Buku 236 halaman ini mengingatkan, penyakit akibat memahami agama secara tekstual, terbatas, dan dangkal, suatu kelompok cenderung merasa menjadi yang paling benar. Dengan memonopoli kebenaran itu, mereka lalu menyesatkan yang lain. Dari sinilah benih radikalisme berkembang.
 
Pesan penulis, agama jangan jadi sumber kekerasan. Agama jangan jadi sumber permusuhan. Agama harus selalu memberi ruang untuk membicarakan perbedaan-perbedaan. Berupaya mengikatkan persamaan-persamaan. Membangun sikap respek dan toleran terhadap hal-hal yang berseberangan. Sebab agamaku, agamamu, agama kita adalah agama kasih sayang. 

Identitas buku:
Judul: Nasionalisme Kaum Sarungan
Penulis: A. Helmy Faishal Zaini
Tebal: 236 Halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas 
Tahun Terbit: 2018
Peresensi: Didik Suyuthi
Selasa 22 Mei 2018 11:30 WIB
Risalah Ash-Shiyam, Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal
Risalah Ash-Shiyam, Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal
Puasa di Bulan Ramadhan merupakan salah satu ibadah wajib yang harus dijalankan oleh seorang muslim. Dalam menjalankan ibadah puasa, ada ketentuan-ketentuan khusus yang membedakan antara pelaksanaan ibadah puasa dengan ibadah-ibadah yang lain, dan juga antara ibadah puasa yang dijalankan umat Islam dengan ibadah-ibadah puasa yang dijalankan oleh umat beragama lain.

Bagi orang awam, ilmu tentang ketentuan-ketentuan berpuasa yang bisa menjaga sah-nya sebuah puasa, maupun menjaga keutamaan sebuah puasa sangat lah penting. Sehingga, Simbah Kiai Haji Ahmad Abdul Hamid pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Kendal, yang juga merupakan Imam Masjid Besar Kendal ini, tergerak hatinya untuk menyusun sebuah kitab tentang panduan berpuasa. 

Atas dasar rasa empatinya terhadap keberagamaan orang-orang muslim awam di Nusantara khususnya dalam hal puasa tersebut, Mbah Kiai Hamid Kendal menyusun sebuah kitab bertuliskan Arab Pegon yang membahas tentang persoalan puasa, yaitu Risalah Ash-Shiyam. Kitab ini merupakan panduan praktis berpuasa bagi umat Islam Nusantara.

Tujuan beliau menulis kitab tersebut adalah supaya umat Islam Nusantara semakin giat untuk berpuasa, beribadah dan menjalankan kebaikan di bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersurat dalam mukadimah kitab:

رِسَالَةُ الصِّيَامْ ڤُوْنِيْكَا مِيْنَوڠْكَا كَڠْڮَيْ تُونْتُونَانْ دَاتٓڠْ ڤَارَا سٓدَيْرَيكْ مُسْلِمِيْنْ تُوِينْ مُسْلِمَاتْ إِڠْكَڠْ سَامِي بٓتَاهَاكٓنْ، سُوْڤَادَوْسْ نَمْبَاهْ ڮِيْيَاتْ (سٓرٓڮٓڤْ) اَڠْڮَينْ إِيْڤُونْ تُوْمِينْدَاءْ عِبَادَةْ وَونْتٓنْ وُوْلَنْ إِڠْكَڠْ مُولْيَا (رَمَضَانْ)

Artinya: Kitab Risalatus Shiyam ini merupakan kitab pedoman bagi saudara-saudara muslimin muslimat yang membutuhkan, supaya menambah giat dalam beribadah di bulan yang mulia (Ramadhan).

Di dalam khazanah keilmuan Islam Nusantara, dikenal beberapa kitab panduan beribadah praktis yang ditulis oleh ulama-ulama Nusantara, seperti: kitab pegon panduan shalat yang ditulis oleh Simbah Kiai Haji Asnawi Kudus berjudul Fasholatan, kitab pegon panduan shalat dan haji yang ditulis oleh Simbah Kiai Haji Bisri Mustofa Rembang berjudul Qawa’id Bahiyyah Tuntunan Shalat, Manasik Haji, dan lain sebagainya.

Dan Risalah Ash-Shiyam merupakan kitab praktis panduan ibadah puasa bagi umat Islam Indonesia, yang mudah dipahami oleh orang-orang awam. Menurut Simbah Kiai Bisyri Mustofa Rembang, penulis Tafsir Pegon Al-Ibriz, kitab Risalah Ash-Shiyam ini sangat cocok dijadikan pedoman berpuasa untuk kaum muslimin muslimat Nusantara, karena pembahasan-pembahasannya dilandaskan kepada kitab-kitab Ahlussunnah wal Jama’ah yang mu’tabarah, bahasanya gamblang dan mudah dipahami, serta disusun secara sistematis.

Kitab Risalah Ash-Shiyam ini berisi tentang beberapa pembahasan, antara lain: tentang dalil wajib puasa Ramadhan, kemuliaan bulan Ramadhan, kemuliaan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, tatacara mengetahui awal Ramadhan, syarat-syarat sah berpuasa, syarat-syarat wajib berpuasa, rukun-rukun berpuasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang mewajibkan qadha’ puasa dan membayar kaffarah, hal-hal yang membatalkan puasa yang mewajibkan qadha’ namun masih tetap harus melanjutkan berpuasa, jenis-jenis alasan yang membolehkan untuk membatalkan puasa, hal-hal sunnah dalam berpuasa, derajat orang berpuasa, hikmah berpuasa, tatacara shalat tarawih, keutamaan membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan, penjelasan tentang Nuzulul Qur’an, penjelasan tentang Lailatul Qadar, kewajiban berzakat, zakat fitrah., shalat Id dan persoalan-persoalan penting lainnya. 

Dari sisi bentuknya memang kitab Risalah Ash-Shiyam terbilang kecil. Namun dari sisi kontennya, kitab ini sangat berbobot karena pembahasannya detil dan mendalam.Pada setiap pembahasan, Simbah Kiai Hamid Kendal selalu menyertakan landasan dari ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabawi.

Selain itu, kitab ini juga dilengkapi dengan doa-doa dan dzikir praktis yang dibutuhkan oleh orang-orang awam dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, seperti bacaan niat berpuasa, doa ketika berbuka, dzikir dan doa setelah menjalankan shalat tarawih dan lain-lain.

Kitab Risalah Ash-Shiyam ini menunjukkan, betapa Simbah Kiai Hamid Kendal, yang konon mencetuskan kalimat penutup yang populer di kalangan Nahdliyin wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq itu, sangat peduli kepada umat.

Beliau benar-benar kiai yang al-ladzina yandhuruna ilal ummah bi ‘ainir rahmah, memandang umat dengan pandangan kasih sayang. Simbah Kiai Ahmad Abdul Hamid dilahirkan di Kendal pada tahun 1915 M, dan wafat pada 14 Februari 1998 M bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H. (lahul fatihah)

Kitab Risalah Ash-Shiyam ini selesai ditulis di Kendal pada 5 Oktober 1956 M yang bertepatan dengan 1 Rabi’ul Awal 1376 H. Diterbitkan oleh percetakan Thoha Putra Semarang dengan ketebalan 76 halaman. Wallahu a’lam bisshawab

Sahal Japara, pemerhati aksara Arab Pegon, khadim di Yanbu’ul Qur’an 1 Pati
Senin 21 Mei 2018 16:30 WIB
Gus Dur dan Kelakar Madura
Gus Dur dan Kelakar Madura
Masyarakat sudah mafhum bahwa yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ialah joke-joke cerdasnya. Bukan hanya menggelitik, tetapi juga satir dan penuh kritik. Perkumpulan masyarakat yang sering menjadi objek humor oleh Gus Dur adalah orang-orang Madura. Karakter khas orang Madura bagi Gus Dur mengajarkan, realitas sosial masyarakat harus dimengerti bahkan dipahami untuk menyelesaikan problem sosial itu sendiri.

Gus Dur bagi orang-orang Madura adalah sosok yang tidak tergantikan dalam hal memahami, mengayomi, memberikan pengertian mendalam bagi karakter dan kultur masyarakat Madura ke dunia luar. Sebab itu, ketika Gus Dur hendak dilengserkan dari kursi Presiden RI, masyarakat yang menyatakan berani mati ialah orang-orang Madura. Bahkan, mereka ‘mengultimatum’ ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Mengetahui hal itu, Gus Dur sendiri yang langsung memberikan pemahaman kepada orang-orang Madura agar tetap tenang menyikapi situasi tersebut. Setelah mereka berhasil menenangkan diri, Gus Dur masuk pada persoalan pembentukan negara baru. Gus Dur memberikan uraian kepada orang-orang Madura bahwa ongkos pembentukan negara baru sangat mahal. Apalagi orang-orang Madura bakal bersusah payah harus membuat paspor untuk bepergian.

Penjelasan sederhana dari Gus Dur tersebut langsung bisa diterima oleh orang-orang Madura sehingga mereka mengurungkan niat kuatnya ingin memisahkan diri dari Indonesia. Inayah Wahid (putri Gus Dur) menjelaskan bahwa ke-ngeyelan-an dan kepolosan orang-orang Madura dan jawaban-jawaban nyeleneh mereka adalah karakter kuat masyarakat Madura dan muncul dari bentuk ketulusan dan kejujuran masyarakat Madura.

Hal itu dijelaskan oleh Inayah Wahid dalam kata sambutannya di buku anggitan Sujiwo Tejo berjudul Kelakar Madura buat Gus Dur. Buku ini berisi cerita-cerita pendek (tetapi bukan cerpen) yang mengisahkan kehidupan sosial masyarakat Madura yang dilekatkan dengan sosok Gus Dur. Ini menunjukkan, buku ini berupaya menggambarkan bahwa kelakar, Gus Dur, dan orang Madura merupakan satu kesatuan unsur membentuk kehidupan yang renyah dengan tawa.

Bahkan, salah satu ke-ngeyel-an orang Madura sudah terbentuk dari sejak dini atau anak-anak. Hal ini diceritakan sendiri oleh Sujiwo Tejo. Pria asal Jember berdarah Madura itu menceritakan ada seorang anak kecil bernama Tolak yang memainkan celurit dari kembang turi. Anak kecil Tolak memahaminya kembang turi itulah celurit.

Awalnya ketika ia diajak ibunya makan pecel Ponorogo. Tolak tacengak atau tercengang melihat kembang turi sebagai salah satu sayurnya. (Halaman 25)

“Itu celurit ya, Mak?”

“Kembang Turi.”

“Celurit.”

“Kembang Turi, Cong.”

“Celurit, Mak.”

“Ya sudah, celurit. Sana untuk main. Jangan Dimakan.”

Karakter khas orang Madura yang ada pada diri Tolak terus bersemayam hingga dia sudah beranjak dewasa. Tolak dewasa diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seorang anggota Dewan dan bercita-cita menjadi Presiden. 

Sujiwo Tejo bercerita, saat itu diadakanlah rapat besar menjelang kedatangan Presiden Gus Dur. Semua politisi membicarakan cara paling ampuh menasihati Gus Dur sebab Gus Dur dikenal sebagai manusia keras kepala.

“Gimana caranya?”

“Gampang, kasih saya waktu tiga bulan?”

“Caranya?”

“Gampang. Sor mejo keh uuuulane jo gelo wis caaarane. Masa sih Gus Dur nggak mau mendengar nasihat seorang Presiden?”

Identitas buku
Judul: Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penulis: H Sujiwo Tejo
Penerbit: Imania
Cetakan: I, Januari 2018
Tebal: 200 halaman
ISBN: 978-602-8648-25-7
Peresensi: Fathoni Ahmad
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG