IMG-LOGO
Fragmen

Dua Figur Panutan KH Sahal Mahfudh

Senin 28 Mei 2018 5:0 WIB
Bagikan:
Dua Figur Panutan KH Sahal Mahfudh
KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh adalah ulama yang langka. Ia tidak hanya bisa membaca dan memahami teks-teks keagamaan –kitab kuning, tapi juga mampu memproduksi dan menulisnya. Ia juga merupakan ulama yang sangat disegani karena kedalaman ilmu dan keluasan wawasannya. 

Secara keilmuan, Kiai Sahal lebih dikenal sebagai kiai yang memiliki kealiman dan keahlian yang mendalam soal fiqih –utamanya fiqih sosial, sehingga ia dijuluki ‘sang begawan fiqih sosial’. Meski demikian, penguasaannya terhadap ilmu-ilmu keislaman lainnya –seperti ushul fiqih, hadist, balaghah, dan lainnya- juga tidak perlu diragukan lagi.

Kiai Sahal juga seorang organisatoris handal. Terbukti, ia didapuk untuk menjadi pucuk pimpinan dua ormas Islam: Nahdlatul Ulama (Rais ‘Aam 1999-2014) dan Majelis Ulama Indonesia (2000-2014). 

Kiprah dan perannya dalam memajukan bangsa ini amatlah besar. Sebagai seorang pemimpin, Kiai Sahal adil. Sebagai seorang kiai, ia istiqamah. Dan sebagai seorang pengusaha, dia jujur. Maka wajar jika Kiai Sahal menjadi sosok panutan bagi para santri khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. 

Namun tahukah kalian kalau saat masih kecil Kiai Sahal juga memiliki figur panutan, sama seperti anak-anak lainnya. 

Sewaktu Sahal kecil, orang-orang sangat mengidolakan Presiden pertama Indonesia Soekarno. Saat Soekarno pidato, orang-orang berkumpul dan khusu' mendengarkannya dari radio. 

Berbeda dengan Sahal, karena keterbatasan informasi maka ia tidak memiliki pilihan figur panutan seperti yang dilakukan orang-orang itu. Namun demikian, bukan berarti Sahal kecil tidak memiliki tokoh panutan. Sulaiman dan Ma’shum, gurunya saat belajar di bangku shifr awwal Mathali’ul Falah Kajen Pati, adalah dua orang figur panutan Sahal kecil.   

Alasan Sahal kecil memilih keduanya menjadi tokoh panutan adalah karena mereka memiliki karakter yang berbeda dari guru-guru lainnya. Bagi Sahal kecil, Sulaiman adalah guru yang menyenangkan karena sering melucu saat mengajar. Sementara, Ma’shum adalah guru yang tegas dan berwatak keras, tapi juga sayang kepada anak didiknya.

"Seringkali setelah marah di kelas, beliau (Ma’shum) membelikan es untuk semua murid di kelas kami. Jadi kami semua suka kedua guru itu,” kata Kiai Sahal, dikutip dari buku Kiai Sahal: Sebuah Biografi. (Muchlishon) 
Bagikan:
Senin 28 Mei 2018 18:30 WIB
Singgah Sejenak di Masjid Agung Payaman Magelang
Singgah Sejenak di Masjid Agung Payaman Magelang
Masjid Agung Payaman, Magelang
Magelang, NU Online
Sebuah masjid bergaya khas Jawa, ramai dikunjungi jamaah dari berbagai daerah. Selain bentuk arsitekturnya yang unik juga karena nuansa keagamaan yang begitu kental di dalamnya, terlebih saat bulan suci Ramadhan. 

Eksotik, itulah kesan pertama saat NU Online singgah di Masjid Agung Payaman Magelang, Jawa Tengah, Ahad (27/5). Terletak di Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, tepatnya di pinggir jalur jalan raya Magelang-Semarang, masjid ini menjadi jujugan masyarakat yang datang beribadah ataupun digunakan sebagai tempat transit oleh warga dari luar kota.

Ciri yang melekat pada desain arsitekturnya terlihat dari ornamen tiang, langit-langit, mimbar bertingkat yang terbuat dari kayu, mihrab tempat imam memimpin shalat dan kubah yang berada di atasnya. 

Masjid ini memiliki tiga serambi, berada di sisi kanan dan kiri serta serambi utama yang ukuranya 14 kali 10 meter. Terdapat pula tiga pintu kayu untuk masuk ke ruang utama masjid. Sementara tempat wudhu terbagi menjadi dua tempat terpisah, untuk pria dan wanita.

Menurut cacatan sejarah, Masjid Agung Payaman didirikan oleh kiai kharismatik yang kesohor kewalianya, Mbah Kiai Siradj atau Romo Agung. Sejak zaman kolonial, masjid ini sudah menjadi pusat syiar islam di Magelang. 

Mbah Siradj merupakan ulama yang sangat berpengaruh pada masa hidupnya. Mbah Siradj merupakan teman seperguruan pendiri NU, Hadratusyyekh KH Hasyim Asy’ari saat menimba ilmu di Makkah. 

Mbah Siradj juga bersahabat dengan KH Dalhar, Watucongol, Muntilan, Magelang, yang juga kesohor sebagai kiai ahli Thariqah itu. Masjid yang didirikan pada tahun 1937 ini tidak menggunakan istilah arab sebagai namanya. 

Dan tetap menggunakan nama desa, Payaman, sebagai namanya. Itulah kenapa masjid ini terkenal pula dengan dengan nama Masjid Agung Payaman, merujuk pada nama sang pendiri. 

Warna hijau muda yang melekat pada Masjid Agung Payaman ini seakan menjadi simbol bagi masyarakat Magelang yang religius. Saban hari, masjid ini tidak pernah sepi dari aktivitas ibadah. Terlebih saat bulan suci ramadhan, ratusan santri sepuh (lansia) dari berbagai daerah di Indonesia beribadah dan ngaji  di masjid ini. 

Di depan masjid sebelah kanan berdiri sebuah asrama dengan nama Pondok Sepuh. Bangunan dengan beberapa kamar kecil ini menjadi tempat tinggal para santri. 

“Karena itulah kawasan masjid ini juga dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Pondok Sepuh,” kata Ahmad Soleh, santri asal Temanggung saat ditemui NU Online.

Soleh mengatakan, para lansia ini mengikuti pengajian yang diasuh oleh salah satu keturunan Mbah Siradj. Mereka yang datang memang berniat beribadah dan berburu berkah bulan Ramadhan. Sejak awal ramadhan, mereka telah datang dengan diantar oleh sanak keluarganya. 

”Biasanya mereka ngaji sampai tanggal 20 Ramadhan,” imbuhnya.

Saat NU Online masuk ke area masjid, tampak para lansia itu tengah mengikuti pengajian sebelum shalat dhuhur berjamaah. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan pengajian. Setelah itu, mereka membaca Al-Qur’an dan sebagian lagi ada yang memilih berbaring di serambi masjid.

Beberapa dari mereka juga ada yang berdzikir di area makam yang terletak tepat di belakang masjid. Makam tersebut adalah makam Danuningrat I, Bupati kadipaten Magelang yang pertama dan makam sang pendiri masjid, Mbah Siradj. 

Masjid inipun menjadi destinasi wisata religi selama bulan suci Ramadhan. Jika berkunjung ke Magelang tak lengkap rasanya jika tidak mampir ke masjid Agung payaman Magelang. (Zaenal Faizin/Muiz)
Jumat 25 Mei 2018 18:30 WIB
Usir Penjajah Sejak Wali Songo hingga KH Hasyim Asy’ari
Usir Penjajah Sejak Wali Songo hingga KH Hasyim Asy’ari
Berdasarkan data sejarah, Portugis masuk ke Nusantara di bawah pimpinan pelaut terkenal Alfonso de Albuquerque (1453–1515). Pada saat itu beberapa ulama yang dikenal sebagai bagian Wali Songo masih hidup. 

Menurut sejarawan KH Abdul Mun’im DZ, Wali Songo sudah membaca ada gelagat tidak baik atas kedatangan orang-orang asing itu. Meskipun tujuan utamanya berdagang pada mulanya, mereka memiliki gelagat untuk menguasai negeri ini. Tidak hanya itu, mereka juga menyerbarkan agama mereka. Pada tahun 1511 misalnya mereka menguasai pelabuhan Malaka.   

“Masa sunan Kalijaga itu udah datang. Maka dari itu beliau membuat skenaraio besar untuk mengusir dengan memberangkatkan Pati Unus, Kalinyamat, dan raja-raja lain,” katanya di Gedung PBNU, Senin (21/5). 

Dalam catatan sejarah, Pati Unus merupakan sultan kedua Kerajaan Islam Demak menggantikan Sultan Raden Fatah. Ia memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Pada tahun 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Ia gugur dalam pertempuran ini, dan digantikan oleh adik kandungnya, raja Trenggana.

Menurut Abdul Mun’im yang turut mendesain penyerangan Pati Unus itu adalah Sunan Kudus. 

“Dari Pati Unus dilanjutkan Fatahillah itu masa sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah Cirebon). Udah periode kedua itu. Mereka bisa mempertahankan Jayakarta sampai 80 tahun. Baru tahun 1600 datang Belanda,” tambahnya. 

Umat Islam Indonesa, dari tahun ke tahun, secara sporadis terus melakukan perlawanan. Dihancurkan, tumbuh lagi. Dihancurkan tumbuh lagi. Itu terjadi di berbagai daerah dari Aceh sampai Maluku. 

Menurut Abdul Mun’im pada periode selanjutnya, abad 19, perjuangan juga terus dilanjutkan. Strateginya berganti melalui organisasi, misalnya dilakukan para kiai di Jawa dengan mendirikan Nahdlatul Ulama. 

Pada saat itu, lanjutnya, NU melakukan strategi dengna tidak melakukan perlawanan terbuka seperti periode sebelumnya. Namun, juga tidak berkolaborasi atau nonkoperatif. Bahkan dari yang terkcil, misalnya cara berpakaian hingga pendidikan. 

Karena tidak bekerja sama itulah, lembaga pendidikan NU dianggap liar dan tidak mendapatkan sumbangan dari penjajah. 

Sementara dari sisi berpakaian, para kiai mengharamkan berbusana mirip penjajah dengan ungkapan populer: barangsiapa yang meniru suatu kaum, ia menjadi bagian dari kaum itu. 

Pada saat detik-detik kemerdekaan RI, NU merupakan salah satu pendukungnya. Salah seorang tokohnya, KH Wahid Hasyim duduk di PPKI. 

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, NU juga turut berjuang dengan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945. Fatwa itu dikeluarkan karena ada upaya-upaya Belanda yang membonceng Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia. Puncaknya terjadi pertempuran hebat antara rakyat dan Sekutu di Surabaya pada 10 November. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

“Jadi, perlawanan dan perjuangan untuk kemerdakaan terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya. Ulama semua itu. Secara silsilah ketemu itu baik secara pemikiran maupun gen. KH Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang terhubung dengan pemikiran dan gen itu,” kata Mun’im. (Abdullah Alawi)
 

Jumat 25 Mei 2018 16:15 WIB
Jumat 9 Ramadhan, Kemerdekaan Indonesia Diproklamirkan
Jumat 9 Ramadhan, Kemerdekaan Indonesia Diproklamirkan
Dok. Arsip Nasional RI
Sejarah mencatat, seluruh komponen pejuang kemerdekaan Indonesia tidak ingin melepaskan diri dari peran para ulama di pesantren. Hal ini dibuktikan ketika para pejuang nasionalis seperti Bung Karno, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain-lain senantiasa sowan ke KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.

Meminta nasihat, saran, dan masukan para kiai bagi para pejuang merupakan hal penting karena segala sesuatunya tidak terlepas dari Rahmat dan Ridho Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah. Hal ini relevan dilakukan karena para ulama merupakan manusia yang paling dekat dengan Tuhannya.

Meminta nasihat terjadi ketika Bung Karno, dan kawan-kawan hendak memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Tiga bulan sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasyim Asy’ari memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhur (penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia telah melalui proses yang panjang dan berdarah-darah dari seluruh elemen bangsa. Selain pertempuran militer dengan pihak penjajah, para pejuang seperti Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahid Hasyim, KH Wahab Chasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya juga melakukan langkah diplomasi. Diplomasi tersebut tidak hanya berhenti di tataran dalam negeri, tetapi juga luar negeri sehingga kemerdekaan Indonesia kala itu langsung mendapat dukungan banyak negara di dunia.

Diplomasi luar negeri dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari sendiri dengan melakukan korespondensi dengan Syekh Al-Amin Al-Husaini. Saat itu, janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini.

Sampai pada 3 Oktober 1944, Choirul Anam (Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 1985) mencatat, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang ketika itu juga menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.

Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.

Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944.

KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso tersebut.

Catatan sejarah tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari sisi diplomasi internasional. Selain itu, Kiai Hasyim dibantu para kiai lain juga menyiapkan pasukan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mengantisipasi kemungkinan perang pasca kemerdekaan diproklamirkan.

Kemungkinan tersebut terjadi, sebab tentara NICA Belanda yang menumpang sekutu hendak kembali menguasai Indonesia setelah Jepang takluk kepada tentara sekutu. 10 November 1945 di Surabaya merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, di mana para santri dan seluruh rakyat Indonesia berhasil menumpas agresi militer Belanda II sehingga mampu mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan. (Fathoni Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG