IMG-LOGO
Humor

Orang Tak Berpuasa Terlihat dari Betisnya

Senin 28 Mei 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Orang Tak Berpuasa Terlihat dari Betisnya
Ilustrasi (via Pinterest)
Selepas buka puasa bersama pada sebuah acara, seorang kiai bertanya kepada Banser yang bernama Jalu. Obrolan itu didengarkan juga oleh teman-temannya Jalu yang juga Banser.

“Jalu, kamu kan sering bertemu dengan banyak orang, dan sering pergi ke pasar...” kata kiai. 

“Iya, Kiai, ada yang bisa dibantu?” 

“Di bulan puasa seperti ini, sebagai seorang Banser yang tajam pencimuannya, bagaimana caranya kamu membedakan orang yang puasa sama orang yang tidak puasa?”

“Dari gaya jalannya, kiai. Biasanya kelihatan lunglai,” katanya. 

“Bukan!  Kamu Banser kalau puasa emang kalau berjalan kelihatan lunglai? ”

Banser terdiam. Tapi dia menjawab dengan pertanyaan berbeda. 

“Dari, perutnya, kiai. Kalau gembrot, berarti tida puasa!”

“Ngawur. Banyak orang gembrot yang puasa.”

“Gimana dong, Kiai?”

“Nyerah?”

“Iya.”

“Dari betisnya.”

“Kok, bisa?”

“Karena, orang yang tidak puasa, kalau makan di warteg cuma kelhiatan betisnya doang. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 26 Mei 2018 15:15 WIB
Teh yang Paling Terkenal di Bulan Puasa
Teh yang Paling Terkenal di Bulan Puasa
Ilustrasi (ropso.sk)
Sholeh nyeletuk ke temannya saat mereka bersama-sama sedang nyeruput kopi di sebuah warung selepas tarawih.

"Kopi akhir-akhir ini kalah pamor sama teh."

"Masak?" tanya Sakimin heran.

"Beneran. Mungkin karena jenis teh ini sangat langka. Adanya setahun sekali."

Kening Sakimin makin mengkerut, "Teh apa sih?"

"Teh Ha Er!" 

Sakimin pun keselek. (Alif)
Sabtu 26 Mei 2018 12:0 WIB
Santri Kampung Mengajak Ayahnya ke Dokter
Santri Kampung Mengajak Ayahnya ke Dokter
Ilustrasi humor.
Imron, santri kalong di sebuah kampung yang setiap hari ngaji bolak-balik tanpa menginap di pondok suatu ketika mengantarkan ayahnya ke klinik terdekat karena kena diare.

Bagi ayahnya Imron, diare merupakan istilah yang belum diketahuinya. Bahkan gejala mual dan muntah-muntah tersebut jarang didapatkannya.

“Nanti kalau sudah tiba di klinik dan ketemu dokter, sebutkan saja apa yang bapak rasakan ya,” ucap Imron memandu ayahnya.

“Kirain dokter langsung saja memeriksa, Mron dan dia tahu penyakitnya. Tanpa kita harus menjelaskan kepadanya,” ujarnya polos.

“Udah pak, ikuti kata Imron saja ya,” kata Imron diikuti anggukan ayahnya.

Tibalah mereka ke klinik. Tanpa harus mengantre lama, ayahnya Imron mendapat giliran untuk diperiksa sang dokter.

“Sakit apa pak?” tanya dokter yang terlihat bertubuh tambun itu.

Anu dok, mual-mual dan muntah-muntah,” jawab ayah Imron.

“Terus, buang air besarnya bagaimana?” dokter bertanya lagi.

“Seperti biasa dok, jongkok.” (Ahmad)
Jumat 25 Mei 2018 9:48 WIB
Santri dan Preman Naik Bus AC
Santri dan Preman Naik Bus AC
Ilustrasi humor. (ist)
Bayu Sukoco, santri asal Purworejo yang mondok di sebuah pesantren di Tuban, Jawa Timur hendak pulang ke kampungnya karena libur bulan Ramadhan telah tiba.

Di dalam bus AC yang ia tumpangi, Koco sapaan akrabnya, duduk persis di belakang seorang laki-laki kekar dan berambut gondrong.

Laki-laki yang dikenal sebagai preman kampung tersebut pertama kalinya naik bus AC. Udara yang keluar dari lubang AC berhembus kencang menimpa pundaknya.

Saking kencangnya angin AC, pundak si preman kampung bagaikan tertepuk. Dia refleks mengira pundaknya ada menepuk.

“Hei, siapa yang menepuk pundak gue?!” si preman sedikit berteriak.

Koco yang berada di belakang berkata, “Itu AC mas.”

“Jangankan ASE, si Asyong aja gue ladenin,” ujar si gondrong mengira AC (ASE) nama orang. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG