IMG-LOGO
Internasional
RAMADHAN DI LUAR NEGERI

Tarawih 100 Rakaat di Yaman

Senin 28 Mei 2018 21:45 WIB
Bagikan:
Tarawih 100 Rakaat di Yaman
Ilustrasi: Republika
Tangerang Selatan, NU Online
Umumnya, Muslim di seluruh dunia menjalankan shalat tarawih sebanyak delapan atau 20 rakaat. Akan tetapi, Muslim Yaman menjalankan shalat tarawih sebanyak 100 rakaat.

"Bisa sampai 100 rakaat tarawih," ujar A'wan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman, Taufan Azhari kepada NU Onlinedi Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (23/5).

Hal itu bisa terjadi, kata Taufan, karena masjid-masjid di Kota Tarim, Yaman, menggelar tarawih di waktu yang berbeda. Jadwal tarawih tersedia sejak setelah isya sampai menjelang sahur. Adapun shalat tarawih di masjid-masjid Yaman dilaksanakan 20 rakaat.

Para pelajar Indonesia dengan niatan ngalap (berharap) berkah, melakukan shalat tarawih hingga di lima masjid berbeda. "(Tarawihnya) dari masjid satu ke masjid lain," katanya.

Demikian ini, jelasnya, mengikuti laku Habib Salim Asy-Syathiri. Karena perbedaan jadwal itu juga, masyarakat Yaman bisa memilih untuk tarawih di sana. "Anak Indonesia nggak sedikit yang tabarrukan di masjid-masjid sampai bertarawih 100 rakaat sebagaimana Habib Salim Asy-Syathiri pernah melakoninya," ceritanya.

Tarawih di masjid di sana khataman di tanggal ganjil pada sepuluh akhir Ramadhan. Hal ini, menurutnya, diikuti oleh ribuan orang.

Masakan Indonesia

Di Yaman, Muslim berpuasa sekitar 14 sampai 15 jam. Mereka biasanya membuka ifthar dengan kurma, jajanan ringan, sambosa, bakhomri, baqiyah. Sementara minumannya sirup, air putih, dan air dingin. Makan besarnya selepas isya. Adapun sahur, nasi samin menjadi sajiannya dengan lauk ikan dan ayam.

"Asya-nya itu setelah isya," ujarnya.

Di samping itu, masyarakat Indonesia lebih suka membuat masakan sendiri. Bahkan, kata Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman itu menuturkan bahwa sambel Indonesia sudah terkenal mengingat sowahiq, sambal asli Arab, hanya gilingan tomat atau cabai saja.

"Sejak kedatangan orang Indonesia terutama pelajar yang suka masak, sambel terasi, dan lain-lain jadi dikenal," kisahnya.

Karena itu juga, katanya, orang Indonesia dikenal suka pedas. Pun dengan rekan si sambel, yakni bakwan. Karena kenikmatannya, banyak di antara mereka yang belajar masak.

"Malah orang Arab banyak yang belajar masak sama orang Indonesia," pungkas alumni Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, itu. (Syakir NF/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Senin 28 Mei 2018 22:0 WIB
Enak Tak Enak Puasa di Australia
Enak Tak Enak Puasa di Australia
Mahasiswa Indonesia di Depan Opera House Sydney Australia

Kata orang Jawa, ‘hidup itu sawang sinawang’. Menjalani hidup kadang terlihat lebih berat dari pada yang tampak di mata orang lain yang melihatnya. Hukum sawang sinawang itu juga berlaku bagi mereka yang menjalani Ramadhan di Australia, yang ada enaknya juga tidak enaknya.

Bisa dikata, melaksanakan ibadah puasa di Australia yang bertepatan dengan musim dingin banyak untungnya. Pertama karena waktunya yang relatif lebih pendek dibanding Indonesia. Durasi puasa di sana hanya sekitar 12 jam, di mulai jam 05.00 pagi dan ditutup sekitar jam 05.00 sore. Satu jam lebih pendek dibanding durasi berpuasa di Indonesia.

Lalu keuntungan yang kedua adalah karena puasa dilaksanakan pada musim dingin, yang artinya kita tidak perlu kuatir pada terik matahari yang sering membuat kita semakin haus. Suhu tertinggi Australia apalagi Canberra saat musim sekitar 16 derajat celcius. Berbeda dengan Indonesia yang mencapai 33 derajat celcius.

Namun sebenarnya puasa di sana tidak melulu enak. Sewaktu penulis hidup di Canberra sepanjang tahun 2015 hingga 2016, rasa tidak enak hidup di sana juga banyak rupa dan jenisnya. Yang sederhana misalnya, kangen suara adzan. Saya hampir tidak pernah mendengar suara adzan di sana. Satu-satunya sumber adzan adalah dari Masjid Canberra yang terletak di Yarraramla di Selatan Ibu Kota, yang jaraknya sekitar belasan kilometer dari tempat saya tinggal di kampung O’Connor di bagian utara kota. Karena tak ada adzan, maka warga di sana menyiasatinya dengan mendownload aplikasi adzan.

Kedua, jangan berharap Anda akan menemukan orang menjual gorengan dan kolak pisang di pinggir jalan seperti umum ditemukan di seluruh sudut Jakarta selama bulan puasa. Selain karena ketatnya aturan yang diterapkan pemerintah negara Kangguru ini terhadap hal yang berhubungan dengan makanan, juga karena tak umum bagi mereka untuk jualan di pinggir jalan, apalagi pada musim dingin. Maka cara alternatif untuk menyantap aneka gorengan dan jajanan pasar tanah air adalah dengan memesan pada orang Indoenesia agar membuatkannya untuk Anda.

Ketiga, ini yang paling menyedihkan dari puasa di sana, adalah waktu lebaran. Tidak ada kekhususan bagi hari besar umat islam ini. Jadi jika lebaran jatuh pada hari kerja biasa, maka aktivitas ‘harus’ berjalan masih berjalan seperti hari biasa. Pada titik itu, saya pikir benar bahwa Indonesia lebih toleran dalam urusan hari besar pada seluruh agama yang ‘resmi’.

Jadi menggelar puasa di Canberra atau Australia umumnya tidak mesti lebih bahagia dari pada berpuasa di tanah air. Apalagi pada lebaran kita tidak bisa sungkem sama orang tua dan keluarga besar. Jadi menurut Anda enak mana berpuasa di Australia atau Indonesia?

Ahmad Rozali 
Senin 28 Mei 2018 20:0 WIB
Kebanyakan Makan saat Buka, Puluhan Warga UEA Masuk RS Tiap Hari
Kebanyakan Makan saat Buka, Puluhan Warga UEA Masuk RS Tiap Hari
Abu Dhabi, NU Online
Sejak awal Ramadhan, jumlah pasien di rumah sakit di Uni Emirat Arab (UEA) mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pasien-pasien tersebut terkena radang perut akibat kebanyakan makan saat berbuka puasa. 

Dr Ola Nagi Ibrahim, seorang dokter di rumah sakit Bareen, mengatakan bahwa kebanyakan kasus yang menimpa pasien tersebut adalah gastroenteritis atau radang perut, infeksi usus sehingga menyebabkan sakit perut, diare, dan muntah-muntah.

“Sebagian besar kasus yang kami terima pada siang hari disebabkan oleh dehidrasi dan sengatan matahari,” kata dr Ola, dilansir khaleejtimes, Ahad (27/5).

Setiap hari selama bulan Ramadhan, rumah sakit di sana menerima sekitar 15 orang, dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya.

Sementara itu dr Shafqut Jalal, Asisten Kepala Bagian Gawat Darurat di rumah sakit Universal mengatakan, rumah sakitnya juga menerima banyak pasien akibat terlalu banyak makan. Sekitar 6-10 orang masuk ke rumah sakit Universal terkait kasus iritasi, peradangan, atau pengikisan selaput lendir pada lambung. 

Jalal memperingatkan mereka yang lebih suka makan buka puasa di luar yang dimasak dalam jumlah banyak dan tidak higienis. 

“Makanan pedas juga menyebabkan sakit perut selama Ramadhan,” tegasnya.

Menurut dia, pengidap diabetes yang berpuasa dan tidak berkonsultasi dengan dokter juga mengakibatkan orang tersebut dirawat di rumah sakit. 

Bukan hanya soal makanan, imbuh Jalal, rumah sakit di UEA juga banyak menerima pasien korban kecelakaan selama Ramadhan akibat ngebut pada waktu buka puasa. (Red: Muchlishon)
Senin 28 Mei 2018 11:45 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Berpuasa di Negara-negara Bermusim Ekstrem?
Berpuasa di Negara-negara Bermusim Ekstrem?
Ilustrasi (© NG)
Solo, NU Online
Secara teori, berpuasa di negara-negera bermusim ekstrem, khususnya di wilayah arktika dan negara-negara yang dekat dengan kutub utara berdurasi sangat panjang, atau sebaliknya sangat pendek bergantung pada musim. Di musim panas, puasa di wilayah ini bisa memakan waktu sangat lama. Sedangkan di musim dingin terkadang matahari tidak pernah menampakkan diri.

Contoh negara-negara yang dekat dengan kutub utara adalah Swedia dan Norwegia. Di sana pada musim panas ada kalanya matahari terbit sejak pukul 02.47 dini hari dan baru terbenam pada pukul 23.50 menjelang tengah malam. Ini artinya waktu siang berlangsung kira-kira 21 jam dan waktu malamnya hanya 3 jam. Bahkan di bulan Juli terkadang matahari tidak pernah tenggelam. 

Sebaliknya, di musim dingin seperti di bulan Desember ada saatnya matahari tidak pernah tampak sama sekali. Tentu ini berbeda dengan negara-negara yang berada di garis khatulistiwa dan sekitarnya seperti Indonesia dan Saudi Arabia yang durasi puasanya normal, yakni rata-rata 14-16 jam. 

Apa yang terjadi negara-negera bermusim ekstrem seperti Swedia dan Norwegia tersebut bisa menjadi masalah tersendiri yang pemecahannya dapat diperdebatkan menurut fiqih. Misalnya, apakah orang-orang Islam di sana harus berpuasa selama 21 jam di musim panas atau bahkan tidak boleh berbuka ketika matahari tidak pernah tenggelam? Sebaliknya di musim dingin, apakah mereka boleh tidak berpuasa dengan alasan karena matahari tidak pernah tampak? 

Menurut Dr. Abdul Hadi Adnan, mantan diplomat RI yang terakhir menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Sudan (1999-2002), berpuasa di negara-negera bermusim ekstrem seperti Swedia dan Norwegia sebetulnya tidak seekstrem seperti yang banyak dipikirkan orang karena dalam praktiknya ada solusi yang masuk akal.

Solusi itu, menurut pendapat mantan dubes Sudan tersebut sebagaimana dimuat di Majalah Serambi Al-Muayyad, Edisi 07/TH. III/Rabiul Tsani 1436 H/ Januari 2015 M, adalah mengikuti aturan yang berlaku di negara atau wilayah di dekatnya yang memungkinkan untuk berpuasa secara lebih normal. Misalnya 17-18 jam. Jadi tidak sepenuhnya bergantung pada penampakan matahari. 

“Menurut beberapa ulama, berpuasa di dua tempat yang ekstrem seperti itu dapat mengikuti aturan yang berlaku di negara atau wilayah di dekatnya yang memungkinkan untuk berpuasa secara lebih normal. Jadi bukan mengikuti aturan waktu di Makkah atau di negara asal,” demikian penjelasan santri Mbah Kiai Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta ini berdasarkan pengalamannya sebagai diplomat yang telah bertugas di berbagai negara di dunia. (Muhammad Ishom/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG