::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Rektor IAIN Jember Sebut 3 Komponen Tangkal Radikalisme

Selasa, 29 Mei 2018 16:00 Daerah

Bagikan

Rektor IAIN Jember Sebut 3 Komponen Tangkal Radikalisme
Rektor IAIN Jember di acara bukber di Situbondo
Situbondo, NU Online 
Aksi teror bom yang kian marak belakangan, mendapat perhatian serius  dari Rektor IAIN Jember, H. Babun Suharto. Menurutnya, aksi biadab  tersebut tak bisa dibiarkan berlama-lama menjadi hantu maut bagi masyarkat. Sebab, semakin lama eksis, sel-sel teroris akan semakin subur berkembang biak, dan pada saat yang sama masyarakat akan semakin diliputi rasa galau.

“Oleh karenanya, segenap elemen masyarakat harus menjalin sinergi untuk membasmi terorisme,” ujarnya saat menyampaikan pengantar dalam Dialog Interaktif dan Buka Bersama di Pondok Pesantren Nurul Wafa, Besuki, Situbodno, Jawa Timur, Senin (28/5).

Ketua Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (PW LPTNU) Jawa Timur itu memaparkan bahwa setidaknya ada 3 kemponen yang  perlu diefektifkan untuk menghadang gerakan radikalisme. Yaitu  keluarga, guru, dan masyarakat.

Gerakan radikal wajib diwaspadai. Sebab, gerakan inilah yang menjadi sumbu pendek bagi merebaknya aksi teror. Orang tua kata Babun,  harus memperhatikan perkembangan anaknya. Tidak hanya memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi juga harus tahu dengan siapa dia bergaul, bahkan buku-buku bacannya perlu dikontrol.

“Setiap hari kita perlu berdialog dan memantau perkembangan anak, meski hanya 5 menit,” lanjut mantan Ketua Ansor Cabang Jember itu.

Sedangkan guru, juga mempunyai peran yang tak kalah penting untuk menekan terorisme melalui murid-muridnya. Tugas guru zaman now, tak hanya mengajar tapi juga memantau perkembangan anak didiknya. Mereka sebagai komunitas yang masih mencari-cari identitas diri, dan tak jarang mencari sesuatu yang baru dan instan. Tawaran-tawaran kelompok radikal yang menjanjikan surga secara instan, boleh jadi akan menarik perhatian murid yang imannya masih labil.

“Jadi guru harus bisa mengantisipasi itu, lebih-lebih guru agama. Masyarakat juga begitu, mempunyai peran besar, yaitu memantau perkembangan remaja di lapangan, dan melaporkan kepada  pihak yang berwajib jika ditemukan hal-hal yang mencurigakan,” pungkasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Muiz)