Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Sapa Umat dengan Diskusi Keagamaan di Wilayah Perbatasan Kalbar

Sapa Umat dengan Diskusi Keagamaan di Wilayah Perbatasan Kalbar
Kapuas Hulu, NU Online
Dalam kesempatan safari dakwah di wilayah perbatasan di Kapuas Hulu, ketua Pimpinan Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) beserta tim menyempatkan berdiskusi. Pesertanya adalah para tokoh agama dan pimpinan lembaga keagamaan di beberapa tempat di wilayah setempat, salah satunya di Putussibau. 

Diskusi dilaksanakan Senin (28/5) di rumah salah seorang tokoh agama Kabupaten Kapuas Hulu, Ustadz Jalaludin Aziz. Diskusi ini sendiri dilakukan dalam rangka memetakan tentang realitas dan pola keberagamaan umat di kawasan perbatasan, serta paham yang berkembang di tengah kehidupan umat. Juga dibahas program pembinaan keagamaan yang sudah dilakukan dan akan terus dilakukan.

Hadir dalam diakusi tersebut para pemuka agama, pengurus masjid, antara lain H Abdurrahman selaku ketua Masjid Nurul Iman yang juga pejabat di Kementerian Agama Kabupaten. Turut bergabung Ustadz H Suryadi yang juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, dan Iman Shabirin selaku ketua komisi kajian MUI yang anggota DPRD Kapuas Hulu.

"Pada prinsipnya tidak ada masalah yang berarti dalam hal paham keagamaan di Kapuas Hulu,” kata Ketua LTN NU Kalbar, Ibrahim. Umumnya masyarakat menganut paham Aswaja, sehingga jika ada beberapa riak kecil itu hanyalah persoalan furuiyah. Berbagai persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan baik oleh MUI dan Kemenag, lanjutnya. 

Di antara program yang MUI lakukan untuk terus mengawal umat dari pengaruh paham yang aneh-aneh itu adakan pengajian fikih dan tauhid di setiap kecamatan. “Di mana ketua MUI sendiri yang langsung membimbingnya,” kata Ustadz Suryadi selaku Sekretaris MUI Kabupaten Kapuas Hulu. 

Melalui diskusi ini diperoleh informasi mengenai kondisi masyarakat agama di wilayah perbatasan. Termasuk , riak persoalan keagamaan menyangkut munculnya beberapa paham keagamaan baru yang berbeda dengan mainstrem keagamaan islam umumnya. Juga diungkapkan upaya penyelesaian yang dilakukan para tokoh agama dan lembaga keagamaan. 

Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari Iman Shabirin selaku Ketua Komisi Kajian MUI. Menurutnya, MUI dengan semua unsur pimpinan lembaga keagamaan selalu melaukan langkah cepat. “Sehingga Kementerian Agama telah mampu meredam berkembangnya pengaruh paham keagamaan yang aneh-aneh akhir ini,” jelasnya. 

"Alhamdulillah, sampai hari ini kondisi umat kita masih terus terkawal dan terjaga dari pengaruh paham yang menyimpang hingga radikal dan ekstrim," kata pria yang juga anggota DPRD Kapuas Hulu ini.

Sementara Ustadz H Ade Unang, mantan kepala kementerian Agama berpesan bahwa pentingnya kewaspadaan dan pengawasan yang ekstra terhadap kemungkinan muncul dan berkembangnya paham yang menyimpang di tengah masyarakat. 

“Akan tetapi harus berhati-hati. Kita mesti lakukan pengkajian yang baik dan benar untuk menyatakan suatu paham itu sesat atau tidak, sehingga kita tidak terjebak untuk mnghukum orang secara keliru,” harapnya.

Melalui diskusi ini semua tokoh agama dan unsur pimpinan lembaga keagamaan sepakat untuk terus mengawal, memperhatikan, mengawasi dan melakukan pembinaan yang intensif terhadap umat.

Termasuk memperkuat pesan-pesan Islam moderat dalam berdakwah sebagai benteng umat dalam menghadapi kemungkinan masuk dan berkembangnya paham keagamaan baru yang menyimpang dan cendrung radikal serta ekstrim. (Red: Ibnu Nawawi)

BNI Mobile