IMG-LOGO
Humor

Awal Cerita Gus Dur Singgung 3 Polisi Terjujur di Indonesia

Rabu 30 Mei 2018 13:30 WIB
Bagikan:
Awal Cerita Gus Dur Singgung 3 Polisi Terjujur di Indonesia
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan Presiden RI pertama yang menjadikan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai lembaga independen yang diletakkan di bawah Presiden langsung.

Di era sebelumnya, yaitu Orde Baru (Orba), kewenangan Polri di bawah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal ini menjadikan Polri sebagai aparat keamanan dalam negeri diatur dengan cara tentara sehingga kerap menimbulkan kontradiksi.

Perbincangan terkait institusi Polri berawal dari lontaran Muhammad AS Hikam yang pada 2008 silam sowan ke kediaman Gus Dur. Kala itu ada Pak Rozi Munir juga yang sedang jagongan santai di rumah Gus Dur.

Obrolan diawali kegelisahan tokoh-tokoh bangsa tersebut melihat fenomena maraknya praktik korupsi di lintas institusi negara, perbankan, termasuk Polri. Padahal, institusi-institusi negara bertugas tidak lain melayani seluruh elemen warga negara. Praktik korupsi ini tentu tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menyengsarakan warga negara.


Museum Polri Jakarta. (Dok. Kompasiana)

AS Hikam memberikan gambaran bahwa mega-korupsi BLBI dan Bank Century yang melibatkan pihak-pihak tertentu merupakan kasus yang penangannya tidak jelas hingga kini. Padahal uang rakyat telah raib ratusan triliun (Rp600 triliun untuk kasus BLBI dan RP6,7 triliun untuk kasus Bank Century).

Di hadapan Gus Dur, AS Hikam berucap: “Kasus yang melibatkan Polri ini apakah saking sudah kacaunya lembaga itu atau gimana ya Gus. Kan dulu panjenengan yang mula-mula menjadikan Polri independen dan diletakkan langsung di bawah Presiden?”

“Gini loh, Kang,” Gus Dur mengawali perkataannya.

“Polri kan sebelumnya di bawah TNI dan itu tidak bener. Mosok aparat keamanan dalam negeri dan sipil kok diatur oleh dan dengan cara tentara. Tapi kan memang begitu maunya Pak Harto dan TNI supaya bisa menggunakan Polri untuk mengawasi rakyat. Setelah reformasi ya harus diubah, maka Polri dibuat independen dan untuk sementara supaya proses pemberdayaan terjadi dengan cepat di bawah Presiden langsung. Nantinya ya di bawah salah satu kementerian saja, apakah Kehakiman seperti di AS atau Kementerian Dalam Negeri seperti di Rusia, dan lain-lain. Nah, Polri memang sudah lama menjadi praktik kurang bener itu, sampai guyonan-nya kan hanya ada tiga polisi yang jujur: Pak Hoegeng (Kapolri 1968-1971), patung polisi, dan polisi tidur... hehehe...,” urai Gus Dur panjang lebar. Pak Rozi dan AS Hikam tertawa ngakak. (Fathoni)

*) Disarikan dari buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam (2013)
Tags:
Bagikan:
Senin 28 Mei 2018 16:0 WIB
Orang Tak Berpuasa Terlihat dari Betisnya
Orang Tak Berpuasa Terlihat dari Betisnya
Ilustrasi (via Pinterest)
Selepas buka puasa bersama pada sebuah acara, seorang kiai bertanya kepada Banser yang bernama Jalu. Obrolan itu didengarkan juga oleh teman-temannya Jalu yang juga Banser.

“Jalu, kamu kan sering bertemu dengan banyak orang, dan sering pergi ke pasar...” kata kiai. 

“Iya, Kiai, ada yang bisa dibantu?” 

“Di bulan puasa seperti ini, sebagai seorang Banser yang tajam pencimuannya, bagaimana caranya kamu membedakan orang yang puasa sama orang yang tidak puasa?”

“Dari gaya jalannya, kiai. Biasanya kelihatan lunglai,” katanya. 

“Bukan!  Kamu Banser kalau puasa emang kalau berjalan kelihatan lunglai? ”

Banser terdiam. Tapi dia menjawab dengan pertanyaan berbeda. 

“Dari, perutnya, kiai. Kalau gembrot, berarti tida puasa!”

“Ngawur. Banyak orang gembrot yang puasa.”

“Gimana dong, Kiai?”

“Nyerah?”

“Iya.”

“Dari betisnya.”

“Kok, bisa?”

“Karena, orang yang tidak puasa, kalau makan di warteg cuma kelhiatan betisnya doang. (Abdullah Alawi)

Sabtu 26 Mei 2018 15:15 WIB
Teh yang Paling Terkenal di Bulan Puasa
Teh yang Paling Terkenal di Bulan Puasa
Ilustrasi (ropso.sk)
Sholeh nyeletuk ke temannya saat mereka bersama-sama sedang nyeruput kopi di sebuah warung selepas tarawih.

"Kopi akhir-akhir ini kalah pamor sama teh."

"Masak?" tanya Sakimin heran.

"Beneran. Mungkin karena jenis teh ini sangat langka. Adanya setahun sekali."

Kening Sakimin makin mengkerut, "Teh apa sih?"

"Teh Ha Er!" 

Sakimin pun keselek. (Alif)
Sabtu 26 Mei 2018 12:0 WIB
Santri Kampung Mengajak Ayahnya ke Dokter
Santri Kampung Mengajak Ayahnya ke Dokter
Ilustrasi humor.
Imron, santri kalong di sebuah kampung yang setiap hari ngaji bolak-balik tanpa menginap di pondok suatu ketika mengantarkan ayahnya ke klinik terdekat karena kena diare.

Bagi ayahnya Imron, diare merupakan istilah yang belum diketahuinya. Bahkan gejala mual dan muntah-muntah tersebut jarang didapatkannya.

“Nanti kalau sudah tiba di klinik dan ketemu dokter, sebutkan saja apa yang bapak rasakan ya,” ucap Imron memandu ayahnya.

“Kirain dokter langsung saja memeriksa, Mron dan dia tahu penyakitnya. Tanpa kita harus menjelaskan kepadanya,” ujarnya polos.

“Udah pak, ikuti kata Imron saja ya,” kata Imron diikuti anggukan ayahnya.

Tibalah mereka ke klinik. Tanpa harus mengantre lama, ayahnya Imron mendapat giliran untuk diperiksa sang dokter.

“Sakit apa pak?” tanya dokter yang terlihat bertubuh tambun itu.

Anu dok, mual-mual dan muntah-muntah,” jawab ayah Imron.

“Terus, buang air besarnya bagaimana?” dokter bertanya lagi.

“Seperti biasa dok, jongkok.” (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG