IMG-LOGO
Internasional

Menanti Buka Puasa di Pesawat Jakarta-Jedah


Rabu 30 Mei 2018 16:20 WIB
Bagikan:
Menanti Buka Puasa di Pesawat Jakarta-Jedah
ilustrasi: pixbay
Perjalanan panjang Jakarta-Madinah, serta Jeddah-Madinah dan sebaliknya dalam bulan Ramadhan membawa kesan yang mendalam bagi saya dan rombongan umrah. Meskipun dibolehkan bagi mereka yang melakukan perjalanan jauh untuk tidak puasa karena alasan safar, namun kami sangat senang dengan puasa di jalanan. Demikian juga selama sembilan hari di kota Al-Haramain, kami juga berpuasa penuh. Tidak pernah selama di al Haramain, saya dapati orang yang makan di siang hari, kecuali hanya satu kali ketika di Makah.

Sebelum perjalanan Jakarta-Madinah, saya sudah diwanti-wanti oleh Ibu Nyai Ida, pengasuh Pesantren Kota Alif Laam Mim Surabaya, untuk menyiapkan kurma  bagi jamaah. Pengalaman setahun sebelumnya, jamaah umrah 'terlambat' berbuka puasa beberapa jam. Beliau menitipkan pada saya satu kotak kurma segar untuk persiapan takjil jamaah karena takut terulang kejadian setahun yang silam.

Perjalanan Jakarta-Madinah, dimulai jam empat sore. Namun, buka puasa yang semestinya jam enam sore, menjadi jam delapan malam. Ini bisa dimaklumi karena pesawat menuju ke Madinah yang empat jam lebih dulu dari Indonesia. Sebagai antisipasi, saya beberapa kali bertanya pada pramugari tentang waktu buka puasa dan apakah ada persiapan takjil untuk muslim di pesawat Saudi Airlines. Saya melihat, dari kurang lebih 800 penumpang pesawat, 95 persen adalah Muslim dan jamaah umrah. Adalah naif kalau tidak disediakan takjil dan buka puasa oleh pihak maskapai.

(Baca: Al-Haramain yang Ramah Difabel)
Alhamdulillah, buka puasa diumumkan dan takjil dipersiapkan oleh pramugari yang umumnya orang Arab. Setengah jam kemudian, kami diberi makanan berat untuk buka puasa. Berkali-kali saya memuji Allah SWT. Kurma yang saya persiapkan akhirnya tidak jadi dimakan, karena begitu banyaknya ragam takjil dan makanan berat yang disajikan.

Kami juga bersyukur karena empat jam kemudian, tepatnya jam 12 tengah malam, kami diberi makanan untuk sahur. Saya sampaikan kepada rombongan kami yang berjumlah 24 orang untuk memakan sahur dengan lahap. Meski sesampainya di Madinah, jam dua dinihari, kami diberi kesempatan kembali untuk sahur di Hotel Internasional al Mukhtara yang berjarak kurang lebih 400 meter dari Masjid Nabawi.

(Baca: Menikmati Takjil di Masjid Nabawi Madinah)

Pesawat Saudi Airlines sendiri mestinya langsung ke Madinah. Tetapi karena kehabisan bahan bakar, akhirnya singgah di Kota Riyadl.

Perjalanan pulang Jedah-Jakarta tak kalah serunya. Dari Madinah, jamaah umrah dibawa ke Bandara Jedah. Bandara yang dikhususkan untuk haji dan umrah. Kami tiba di Jedah jam dua siang. Sementara perjalanan Jedah-Jakarta dimulai pukul 19.00 waktu setempat. Setelah melalui imigrasi yang cepat serta mengurus bagasi jamaah, kami pun duduk di waiting room Bandara Jedah.

Meski disebut bandara internasional, Bandara Jedah terkesan biasa. Jauh dengan Bandara Internasional Juanda Surabaya dan berada jauh di bawah Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Di Bandara Jedah hanya ada tiga kantin yang berjualan makanan. Sementara, ruang tunggu berada di luar bandara, sangat luas dengan tempat duduk terbuka dan terasa panas. Ini berbeda dengan waiting room di dalam bandara yang biasanya sangat dingin.

Kami pun mulai boarding pass sekitar jam 18.00 waktu Jedah. Sebelumnya, keperluan bagasi dan tak bagasi sudah ditangani oleh bagian handling, yaitu Mumazayun. Meski saya mengkritik bagian handling kursi roda yang meminta tips karena ke sana-ke mari mengantar Pak Razak, salah satu jamaah, dengan kursi roda.

Sebelum masuk pesawat, kami juga sudah membagikan masing-masing satu kardus nasi untuk tiap jamaah. Ketika di dalam pesawat, bukan hanya takjil yang didapat, namun juga nasi kotak kami dengan menu telur asin dan ayam. Kami bisa makan takjil dan langsung makan buka puasa.

Saya lihat, rombongan umrah yang lain, masih menunggu makanan berat dari pihak Saudi Airlines. Makanan itu baru dibagikan  setengah jam kemudian sejak waktu berbuka puasa tiba.

Setelah sekian tahun puasa, saya baru menghayati hadits Nabi, “Ada dua kebahagiaan orang berpuasa. Pertama kebahagian ketik berbuka puasa  dan kedua, kebahagian ketika bertemu Tuhan-Nya.” Di pesawat, saya menemukan betul, kebahagian orang yang berbuka puasa, meski hanya dengan seteguk air dan lima buah kurma.

KH MN Harisudin, Dosen Pascasarjana IAIN Jember, Katib Syuriyah PCNU Jember  dan Pengurus Pondok Pesantren Kota Alif Laam Mim Surabaya.

Bagikan:
IMG
IMG