IMG-LOGO
Opini

Babak Baru Peran Perempuan dalam Terorisme

Kamis 31 Mei 2018 6:1 WIB
Bagikan:
Babak Baru Peran Perempuan dalam Terorisme
Dua Siska pelaku terorisme di Mako Brimob
Oleh Any Rufaedah

Pasca bom Surabaya dan Sidoarjo 13 dan 14 Mei 2018 lalu, muncul banyak kajian tentang keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam aksi bom. Majalah Tempo edisi terbaru melansir hasil liputan kepada duo Siska yang datang ke Mako Brimob Kelapa Dua Depok untuk membantu para ikhwan yang terlibat kerusuhan pada 8-10 Mei lalu. Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah memperlihatkan tekat bulat untuk terlibat dalam ‘jihad’.

Saya menilai hanya perlu selangkah lagi mereka siap melakukan aksi bom bunuh diri seperti Puji Kuswati, Tri Ernawati, dan Puspitasari. Apakah ini merupakan babak baru keterlibatan perempuan dalam aksi teror? Jika dulu perempuan berperan di wilayah domestik, pendukung pasif, dan pendidik calon mujahid, sekarang mereka berlaga di ‘medan perang’.

Perempuan jadi teroris sebetulnya bukanlah hal baru di dunia. Tashfeen Malik melakukan aksi teror di California bersama suaminya pada Desember 2015. Kasus itulah yang kemudian membuat Amerika menyorot isu perempuan dalam countering violent extremism (Alexander, 2016). Di Indonesia sendiri kita masih ingat nama Dian Yulia Novi yang akan meledakkan diri di istana negara dan Ika Puspitasari yang akan melakukan aksi di Bali. 

Selain dua perempuan itu terdapat Tini Susantika dan Nurmi yang kini mendekam di penjara Palu karena keterlibatannya dalam camp militer di Poso. Mereka adalah istri Ali Kalora dan Basri yang merupakan penerus kepemimpinan Santoso di Poso. Puji Kuswati dan Tri Ernawati, dua ibu yang meledakkan diri di Surabaya menambah daftar perempuan pelaku teror. Belum lagi jika kita lihat perempuan yang berangkat ke Suriah dengan membawa anak-anaknya. 

Saya menyebut fenomena ini sebagai babak baru peran perempuan. Dulu perempuan berperan mendampingi suami yang sedang berperang dan mendidik anak-anak, sekarang mereka menjadi pelaku aktif. Apakah keputusan itu diambil secara sukarela atau tidak? Saya mengatakan bahwa perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki untuk menjadi teroris aktif. Pemikiran mereka bisa sama radikal dengan laki-laki. 

Banyak fakta yang mendukung argumen ini. Anna Sundberg adalah perempuan asal Swedia yang masuk lingkaran jihadis internasional karena keyakinannya pada jihad perang. Ia dikembalikan ke Swedia setelah bersama suami dan anak-anaknya tertangkap pasukan Bashar al-Assad di Suriah.

Dalam “The Terrorist’s Wife”, sebuah buku yang ditulis bersama seorang jurnalis, Jesper Huor, ia menceritakan betapa dulu ia sangat membanggakan mujahid dan berharap anak-anaknya kelak juga menjadi mujahid. “Mujahidin. The holy warriors. My husband is one of them and my sons will be too one day, I hope,” tulisnya. Kebanggaan adalah reaksi emosi yang dapat mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. 

Contoh lain dapat kita temukan pada Rehima, istri petinggi Jamaat al-Islami Pakistan. Ia menulis: “Kunamai putraku Osama agar kelak ia menjadi mujahid. Meskipun saat ini perang telah berkecamuk, namun ia masih kecil. Ku akan persiapkan ia untuk perang berikutnya. Atas nama Allah, ku akan korbankan dia, tak peduli ia anak kesayanganku. Kuingin keenam anak lelakiku menjadi mujahid.” (Cunningham, 2005 dalam Saputro, 2010). 

Dengan kemauan seperti itu, sesungguhnya perempuan sangat siap untuk mengorbankan dirinya. Hanya izin suami yang menghalangi. Dalam konsep Jamaah Islamiyah misalnya, perempuan diperankan sebagai pendamping dan pendidik anak-anak. Tugas mereka adalah melahirkan dan menyiapkan mujahid-mujahid baru.
 
Contoh seperti Puji Kuswati, Tri Ernawati, dan Puspitasari nyaris mustahil jika tidak didorong oleh pikiran radikal yang telah tertanam kuat. Mereka melakukan aksi bersama suami, jadi tidak ada masalah izin yang menghalangi. Bisa jadi sudah lama mereka siap menjadi martir, hanya saja tidak ada perintah atau ajakan dari suami. Kembali pada contoh Anna dan Rehima, mereka adalah dua perempuan yang sangat siap menjadi martir, hanya saja tidak diperankan untuk itu. 

Peran perempuan dalam terorisme tidak bisa lagi dianggap sepele. Banyak perempuan dalam lingkaran kelompok radikal yang berpandangan ekstrem. Dalam temuan penelitian saya misalnya, seorang istri narapidana teroris memandang tindakan suaminya adalah jihad. Ia sebagai istri yang bersabar menunggu suaminya di penjara pun akan mendapatkan pahala jihad (Rufaedah, Sarwono & Putra, 2017).

Dalam percakapan dengan kami ia mengatakan akan mendukung suaminya kembali berjihad selepas masa tahanan nanti. Jika suaminya kembali ditangkap pun tidak masalah baginya. “Ya nggak apa-apa. Namanya hidup ya begitu. Malah ada perjuangannya. Kalau kaya’ orang-orang yang di luar sana, ya bisa. Semua orang hidup begitu ya bisa. Tapi kan nggak ada perjuangannya,” tuturnya. Dengan pandangan seperti itu, hanya butuh satu tahap lagi baginya untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. 

Selain dia, terdapat banyak perempuan yang bersedia dan dengan bangga menikah dengan narapidana terorisme. Hasil penelitian kami menunjukkan setidaknya ada enam orang perempuan yang menikah dengan narapidana terorisme di sebuah lembaga pemasyarakatan di Nusakambangan. Di lapas-lapas lain juga banyak terjadi hal yang sama. Mereka tak peduli pada stigma istri teroris dan kesulitan-kesulitan lain sebagai istri narapidana karena kebanggaan kepada mujahidin. 

Tahun 2000-an Umm Osama, seorang petinggi perempuan di Al Qaeda menyerukan ajakan jihad kepada perempuan-perempuan di seluruh dunia. Seruan itu disambut oleh aksi-aksi di Rusia, Checnya, dan Palestina yang dilakukan oleh perempuan. Antara tahun 2000 hingga 2007, Speckhard dan Akhmedova mencatat 46 dari 110 pelaku bom bunuh diri adalah perempuan (Saputro, 2010). Tidak mustahil sepuluh tahun setelah kasus-kasus itu seruan Umm Osama sampai ke perempuan-perempuan Indonesia. 

Atas dasar itu semua, perhatian pemerintah, aparat, dan juga masyarakat terhadap terorisme harus lebih ditingkatkan. Peran perempuan sudah mulai memasuki babak baru, dari pendukung menjadi pelaku aktif. Upaya mesti dilakukan di berbagai lini. Empat pilar PBB: prevention, protection, participation, relief and rehabilitation dapat digunakan untuk mengatasi persoalan terorisme.

Di antara bentuk upaya yang bisa dilakukan adalah menguatkan ketahanan keluarga (family resilience) dan ketahanan masyarakat (community resilience). Dengan cara itu diharapkan keluarga dan masyarakat memiliki daya tahan yang kuat atas radikalisme mengarah kekerasan.

Penulis adalah pengajar psikologi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta; Peneliti senior Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) Daya Makara-Universitas Indonesia
Tags:
Bagikan:
Kamis 31 Mei 2018 20:30 WIB
Islam Nusantara Diterima oleh Tokoh Ulama Internasional
Islam Nusantara Diterima oleh Tokoh Ulama Internasional
Oleh Ahmad Ishomuddin

Di bawah ini adalah tulisan terkait tema Islam Nusantara yang saya tulis disela-sela kesibukan mengikuti konferensi internasional yang diikuti para ulama moderat dari berbagai penjuru dunia Islam. Meski ditulis sudah sangat lama (Mei 2016), saya merasa perlu menampilkan kembali sebagai bacaan yang barangkali ada manfaatnya bagi yang berkenan membacanya, meskipun tidak banyak.

Konsep Islam Nusantara yang digulirkan oleh PBNU ternyata disambut baik, disetujui dan siap diterapkan oleh ulama moderat dari seluruh penjuru dunia muslim yang aktif dalam International Summit of The Moderate Islamic Leadership di Jakarta Convention Centre, Jakarta (09-11/05/2016). Meskipun pada awalnya menuai penolakan dari sebagian kecil tokoh muslim di negeri kita yang enggan melakukan klarifikasi kepada PBNU dan sebenarnya sangat tidak tahu menahu atau gagal paham dengan istilah tersebut.

Demikianlah ciri khas sebagian umat Islam di negeri kita yang cenderung lebih suka menerima apa saja yang datang dari luar negeri, seperti HTI misalnya, meskipun tidak tahu apa manfaat dan bahayanya, dari pada apa yang murni digagas oleh tokoh-tokoh muslim nasionalis yang paling berpengaruh di negeri sendiri.

Mereka, para peserta ISOMIL, banyak berharap kepada Nahdlatul Ulama sebagai organisasi umat Islam terbesar di dunia untuk pro aktif bekerja sama dalam mewujudkan perdamaian di seluruh wilayah muslim di Timur Tengah yang tidak henti-hentinya dilanda konflik dan peperangan yang sangat merugikan umat Islam, namun menguntungkan negara-negara Barat seperti Amerika dan sekutu-sekutunya.

Keutuhan NKRI yang terjaga dengan baik tidak terlepas dari peran besar warga NU yang sangat menaati para kyai mereka dalam hal pentingnya mencintai dan membela tanah air (nasionalisme/al-wathaniyyah) dan kepatuhan terhadap ajaran agama. Keutuhan, kedamaian dan persatuan umat Islam dan non-muslim di seluruh penjuru Indonesia yang dibangun atas dār al-salām (bukan dār al-Islām) dengan dasar Pancasila itu sangatlah layak diteladani oleh umat manusia di seluruh dunia, baik di Barat maupun di Timur, terutama negara-negara muslim di Timur Tengah.

Umat Islam wajib membangun kesadaran beragama yang lebih positif, menciptakan solidaritas, mewujudkan persatuan di bawah kepemimpinan setiap ulamanya untuk mencegah terjadinya setiap kekerasan, pertikaian dan pertumpahan darah atas nama agama, karena yang demikian itu justru merusak citra ajaran Islam dan menodai kehormatan umat Islam di hadapan non muslim di seluruh penjuru dunia, serta menciptakan ketegangan, kekerasan dan kecurigaan terhadap umat Islam sendiri.

Saya berharap agar umat Islam Indonesia, terutama para tokohnya, agar tidak tergesa-gesa menolak konsep Islam Nusantara yang tiada lain adalah Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah yang mencita-citakan terwujudnya Islam rahmatan lil-'ālamīn melalui prinsip-prinsip keadilan, moderasi, toleransi dan keseimbangan, sebagaimana selalu diperjuangkan oleh para pendiri dan para kiai NU sepanjang hayatnya.

Islam sebagaimana dimaklumi adalah agama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia sebagai rahmat untuk alam semesta (rahmatan li al-'alamin).

Mula-mula Islam diturunkan di wilayah Arab yang kemudian disebarluaskan oleh para juru dakwah ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke wilayah Nusantara. Oleh karena itu, pada prinsipnya tidak ada perbedaan antara Islam yang diturunkan di wilayah Arab dengan Islam yang sampai ke Nusantara. Artinya, eksistensi konsep Islam Nusantara tidak dimaksudkan untuk merubah Islam yang pernah diturunkan di Arab dan tidak pula anti Arab.

Islam Nusantara mengupayakan terwujudnya ajaran Islam yang rahmatan li al-'alamin. Justru Islam Nusantara lahir karena watak Islam sendiri yang rahmatan li al-'alamin.

Ajaran Islam--sebagaimana juga dimaklumi--secara garis besar terdiri dari tiga bagian besar. Pertama, aqidah yang merupakan fondasi dalam beragama, berisi tentang apa yang wajib diyakini dengan sebenar-benarnya. Kedua, syari'ah dan fikih. Ketiga, akhlak dan tasawuf.

Ajaran Islam dalam kategori pertama yang berkaitan dengan akidah dan kategori ketiga yang berkaitan dengan akhlak/tashawwuf bukanlah ranah garapan Islam Nusantara, karena kesamaannya dengan yang berada di wilayah selain wilayah Nusantara.

Adapun syari'ah dan fikih yang pada hakikatnya terdiri dari dua bagian, yaitu: Pertama, hal-hal yang sifatnya tetap (al-tsawabit) dan tidak boleh mengalami perubahan, seperti tata cara peribadatan yang sama di kalangan muslim Nusantara maupun wilayah lainnya. Kedua, hal-hal berupa ajaran Islam yang bisa berubah (al-mutaghayyirat) karena pertimbangan waktu, tempat, kondisi dan adat istiadat.

Bagian kedua ini merupakan lapangan ijtihadiyyah karena dua sebab, yakni (1) keberadaan teks-teks suci baik berupa ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi SAW yang terbuka bagi penafsiran atau interpretatif (al-muhtamilat) dan (2) keberadaa persoalan kehidupan yang al-maskut'anhu (tidak dijelaskan aturannya dalam teks suci), seperti suatu persoalan yang tidak ditemukan dalilnya, baik yang memerintahkan maupun yang melarangnya. Jadi, wilayah bahasan substantif Islam Nusantara terbatas pada ajaran Islam yang dimungkinkan berubah karena kedua faktor penyebab tersebut.

Dengan demikian, substansi Islam Nusantara diantaranya menyoroti gagasan tentang pentingnya nasionalisme religius yang di dalam terimplementasikan dua tugas pokok negara yakni menjaga eksistensi agama dan mengatur kehidupan dunia agar lebih aman, damai (tidak saling menumpahkan darah), harmonis dan makmur. Selain itu, juga menyoroti ajaran Islam yang secara moderat menghargai dan akomodatif terhadap adat istiadat dan budaya setempat terutama di wilayah Nusantata selama tidak dilarang dalam ajaran Islam, sesuai kaidah fikih yang dikemukakan oleh Ibn 'Uyainah, la yanbaghi al-khuruju min 'adati al-nas illa fi al-haram.

Pendek kata, Islam Nusantara adalah prototype ajaran Islam moderat yang ramah, yang rahmatan li al-'alamin dalam bingkai paham Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah yang berurat berakar di bumi Nusantara lagi patut menjadi teladan bahkan bagi umat Islam di wilayah Arab dan Timur Tengah yang hingga kini terus menerus bertikai dan berpecah belah.

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU, Dosen UIN Raden Intan Lampung
Kamis 31 Mei 2018 15:30 WIB
Menemukan Nilai Kemanusiaan dalam Beragama
Menemukan Nilai Kemanusiaan dalam Beragama
Ilustrasi (shutterstock)
Oleh Aris Adi Leksono 

Fenomena menggelisahkan kehidupan beragama akhir-akhir ini berimbas pada kekhawatiran keretakan sosial berbangsa dan bernegara. Apa itu? Ialah rentetan peristiwa manifestasi nilai-nilai agama yang berujung pada doktrin kebenaran sepihak. Fakta yang masih hangat adalah rentetan peristiwa bom bunuh diri yang diyakini bagian dari perintah agama, yakni jihad fi sabilillah

Pada fenomena lain adalah gencarnya dakwah nilai agama melalui media sosial yang banyak mengandung konten radikalisme dan fundamentalisme. Banyak konten dakwah yang cenderung kepada doktrin kebenaran sepihak, bukan maslahahatul ammah (kemaslahatan bersama), cendrung membenarkan dan memaksakan untuk pendapatnya diakui benar dan diikuti kebenarannya.

Padahal pendapat itu belum teruji secara empiris dalam situasi dan kondisi tertentu. Ini semakin memperkuat salah satu keterangan dalam Al-Qur'an bahwa tanda perpecahan adalah ketika setiap golongan merasa paling benar, kullu hizbin bimaa ladaihim farihuun.

Lantas ada apa dengan cara beragama mereka yang mengatasnamakan jihadis agama? Bukankah semua agama mengajarkan nilai kemanusiaan? Kendala apa yang menghambat pemahaman mereka sampai pada rasa cinta kepada Tuhannya yang dibuktikan dengan cinta kepada sesamanya? Dalam ajaran Islam misalnya, jelas memerintahkan membangun hubungan baik kepada Allah dan manusia sesamanya.

Padahal jika diperhatikan secara etimologis kata agama berasal dari bahasa sanskerta. Kata ini tersusun dari kata A dan Gama. A yang berarti tidak dan sedangkan Gama berarti berjalan atau berubah. Jadi agama berarti tidak berubah. Demikian juga menurut H Muh. Said. Sejalan pendapat itu, Harun Nasution juga mengemukakan bahwa agama berasal dari bahasa Sanskrit. Menurutnya, satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata yaitu A = tidak, dan Gama =  Pergi. Dengan demikian agama berarti tidak pergi atau tetap di tempatnya.

KH Taib Abdul Muin, juga memeberikan pendapat bahwa kata agama berasal dari bahasa sansekerta, yang mana A berarti tidak, dan Gama berarti kocar-kacir. Jadi agama berarti tidak kocar-kacir, dalam artian agama itu teratur. 

Sementara itu, KH Zainal Arifin Abbas dan Sidi Gazalba berpendapat, istilah agama dan religi  serta ad-Din itu berbeda-beda antara satu dan lainnya. Masing-masing mempunyai pengertian sendiri. Lebih jauh lagi, Gazalba menjelaskan bahwa ad-din lebih luas pengertian nya dari pada pengertian agama dan religi. Agama dan religi hanya berisi ajaran yang menyangkut aspek hubungan antara manusia dan tuhan saja. Sedangkan ad-din berisi dan memuat ajaran yang mencakup aspek hubungan antara manusia dan tuhan dan hubungan sesama manusia.

Frazer dalam  buku Agama Muslim di Tanah Batak, 2010, berpendapat bahwa agama adalah sebagai perdamain atu tindakan mendamaikan dari kuasa-kuasa atas kepada manusia yang mana dipercayai mengatur dan mengontrol alam raya dan kehidupan manusia.

Terminologi dasar agama dari pengertian agama, semuanya mengarah pada keteraturan, keharmonisan, perdamaian, serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Lantas mengapa masih ada oknum ingin membunuh saudaranya atas nama agama? Hanya karena berbeda Tuhan, kenapa atas nama jihad ada yang rela melakukan aksi bom bunuh diri untuk mencelakai orang lain atau kelompok agama lain?

Lantas bagaimana terminologi agama Islam melihat esensi beragama? Ini perlu dipahami karena para jihadis selalu mengatasnamakan nilai Islam dalam setiap aksinya. Berdasarkan ilmu bahasa (etimologi) kata Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu kata salima yang berarti selamat, sentosa dan damai. Dari kata itu terbentuk kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti juga menyerahkan diri, tunduk, paruh, dan taat.

Ahmad Abdullah Almasdoosi (1962) bahwa Islam adalah kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia dilahirkan ke muka bumi, dan terbina dalam bentuknya yang yang terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci yang diwahyukan tuhan kepada Nabi-nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad ibn Abdullah, suatu kaidah hidup yang yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia, baik spiritual maupun material.

Dari definisi agama Islam di atas jelas mengarah kepada kesimpulan bahwa Islam menghadirkan keselamatan, kedamaian, dan tuntunan hidup dunia dan akhirat melalui teladan Rasulullah SAW. Jika teladan kita ada Rasulullah SAW, maka dipastikan tidak ada model jihad yang diyakini para jihadis sekarang. Rasullullah mengutamakan kemaslahatan, menolak kemadharatan, beliau mampu mendudukkan Agama dan Negara secara berdampingan, saling menyempurnakan dalam bentuk Piagam Madinah.

Lantas kenapa para jihadis atas nama ajaran Islam, pola implementasi keagamaannya tidak sampai pada filosofi dasar agama dan Islam? Bukankah di Islam terdapat tahapan konsep implementasi ajaran Islam yang mengarahkan kematangan seseorang dalam menjalankan ajaran Islam? Misalnya konsep Islam, Iman, dan Ihsan, atau konsep syariah, hakikat, dan ma'rifat, atau dalam perspektif tasawuf ada tingkatan perjalanan takholli, tahalli dan tajalli.

Nampaknya, memang mungkin mereka para 'jihadis', memilki pemahaman dan pola implementasi ajaran Islamnya berhenti pada tahapan Islam, syari'ah, dan takholli. Sehingga tidak dapat menemukan 'rasa esensial' dalam membangun hubungan dengan Allah SWT dalam praktek ritual ibadah, yang seharusnya menumbuhkan jiwa humanis dan harmonis pada sesamanya (hablun minannas).

Sebagai penguatan bahwa atas nama apapun jihad dengan bunuh diri atau membunuh orang lain yang dalam kekuasaan pemimpin Islam tidak dibenarkan. Diringkas oleh Ari Wahyudi dari penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah dalam kitab beliau bi ayyi ‘aqlin wa diinin yakuunu tafjir wa tadmir jihaadan?! Waihakum, … Afiiquu yaa syabaab!! (artinya: Menurut akal dan agama siapa; tindakan pengeboman dan penghancuran dinilai sebagai jihad?! Sungguh celaka kalian… Sadarlah hai para pemuda!!)

Jika pandangan para jihadis adalah menagakkan ajaran Allah melalui teladan Rasulullah SAW, maka sesungguhnya Rasul mengharamkan pola jihad yang demikian. Membunuh orang kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man (orang-orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslim), adalah perbuatan yang haram. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang membunuh jiwa seorang mu’ahad (orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian dengan pemerintah kaum muslimin) maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya baunya surga bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Bukhari)

Allah dan Rasul-Nya juga memastikan bahwa bunuh diri atas motif apapun bukan jihad. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. An-Nisaa’: 29)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/cara di dunia, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari berbagai uraian mendasar tentang agama, Islam, tuntunan Al-Qur'an, dan teladan Rasulullah SAW jelas sekali bahwa esensi ajaran agama Islam penuh dengan nilai kemanusiaan. Menghindari kemafsadatan diutamakan, dari pada mendapatkan kemaslahatan, dar'ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih.

Pemahaman ajaran agama yang dangkal merimplikasi pada implementasinya yang tidak bisa menyentuh pada ranah Ihsan. Ajaran agama Islam yang seharusnya menjadi pendamai, umat Islam yang seharusnya menjadi ummatan wasathon, karena ulah oknum jihadis berubah menjadi doktrin fundamental yang menyeramkan.

Sangat jelas tercermin dalam pola doktrin mereka yang memutar balikkan esensi ayat Allah "barang siapa tidak menggunakan hukum seperti yang diturunkan Allah, maka sesungguhnya mereka adalah termasuk orang-orang kafir", bagi mereka yang tidak menggunakan hukum Islam, menurut para jihadis adalah thogut

Akhirnya menurut mereka, semua kafir dan thogut harus dibunuh. Padahal jelas Islam memberikan tuntunan dakwah secara bertahap dengan isyarat ayat, ud'u Ilaa sabili rabbika bil hikmati wa mau'idzotil hasanah, pada ayat lain disebutkan wajaadilhum billati hiya ahsan, dan berdakwahlah dengan cara yang bijaksana dan pitutur yang baik. 

Walhasil, melalui narasi kegelisahan atas sikap orang yang beragama, tapi tidak menunjukkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosialnya, mestinya harus muhasabah ulang, apa yang salah dalam memahami ajaran agama? Sudah sampai mana tahapan pemahaman dan amaliyah ajaran agama yang diyakininya? Jika sudah Islam dan Iman, maka menyempurnakan untuk sampai tahap Ihsan menjadi penting. Karena dengan pemahaman ajaran agama Islam yang komprehensif akan berbuah pada manifestasi nilai kemanusiaan dalam beragama. 

Jalur menuju tahapan Ihsan untuk menghadirkan nilai kemanusiaan bisa dilakukan dengan pendalaman ajaran agama Islam tidak sekedar tekstual, tapi juga harus kontekstual. Kebenaran yang diyakini harus diuji secara empiris dan historis, sehingga keberadaannya menjadi sholihun fi kulli zamanin wa makanin, adaptif dalam semua waktu dan tempat.

Referensi keyakinan dan kebenaran harus diteliti orisinalitas matan dan perawinya dari segala perspektif baik dari keilmuan, maupun pola implementasi amaliyah keagamaanya. Akhirnya, yakinlah bahwa memunculkan nilai kemanusiaan dalam beragama adalah bagian dari menjaga kelestarian dan menegakkan ajaran agama.

Penulis adalah Dosen UNU Indonesia, Wakil Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu)
Kamis 31 Mei 2018 5:30 WIB
Smartphone, Rumah Produksi Hipnosis
Smartphone, Rumah Produksi Hipnosis
Oleh Gatot Arifianto

Bangunan bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai rumah bersama sudah final sejak 72 tahun lampau. Tugas selanjutnya dan semestinya, adalah merangkum keberagaman yang ada dan niscaya, made in  Tuhan, sebagai kekuatan untuk mencapai kemajuan kemanusiaan yang merupakan bentuk penghormatan atas pengorbanan kemanusiaan, setiap pejuang bangsa.

Tiga purnama ke depan, NKRI yang memiliki beragam etnis, budaya, agama hingga kepercayaan, bersemboyan Bhineka Tunggal Ika tepat berusia 73 tahun. 

NKRI dengan ideologi Pancasila (Khomsatul Asasiyah) ialah darul ahdi (negara kesepakatan). Dan itulah ijtihad (usaha sungguh-sungguh) dan hasil ijma’ (konsensus) ulama-ulama Indonesia yang lebih mementingkan maqasid (tujuan) negara yang dijiwai oleh ajaran agama, bukan pada formalisasi agama dalam negara.  

Tak seperti waktu penjajahan dan pasca kemerdekaan, cara menjaga Indonesia hari ini tentu tak tunggal, atau dominan mengangkat senjata. Tapi tetap membutuhkan semangat kebersamaan.

Jika pemaknaan menjaga Indonesia sedemikian sempit, angkat senjata sebagaimana hasutan kerdil, ujaran kebencian dan tendensius disebarluaskan melalui media sosial (medsos) dalam bentuk meme, misalnya, membenturkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan gerakan separatis di Papua, Indonesia tak perlu petani, guru hingga Abdi Sipil Negara (ASN).

Fakta akan membantah point of view atau sudut pandang big close up alias BCU (pengambilan gambar obyek tertentu dengan detail satu fokus), bahwa menjaga Indonesia hanya dengan cara-cara militer.

Untuk menjaga NKRI, ASN berperan mewujudkan tujuan pembangunan nasional melalui pelayanan publik yang profesional hingga bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri akan menjaga NKRI dengan tugas pokok dan fungsinya. Guru dengan mendidik generasi bangsa. Dan petani dengan bercocok tanam, peran penting yang membuat Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari menyebutnya sebagai penolong negeri. Begitu pula profesi lain.

Selain itu, untuk menjaga Indonesia yang diacak-acak kelompok takfiri, penyebar kebencian dan fitnah, sehingga nyaris seperti lantunan Nella Kharisma dalam Jaran Goyang: hubungan  semula adem, tapi sekarang kecut bagaikan asem, jelas membutuhkan rumah produksi yang bisa membuat hipnosis atau iklan masif setiap hari.

Selain pada masyarakat, aktivis keberagaman, organisasi Islam seperti Muhammadiyah yang menegaskan Indonesia sebagai darul ahdi wa syahadah, satu harapan terwujudnya rumah produksi itu ada pada Nahdlatul Ulama (NU) berikut badan otonomnya yang berdiam diantara 132,7 juta pengguna medsos menurut survei We Are Social dan Hootsuite, Januari 2018. 

Hipnosis Anti Islam
Selain menerima Pancasila sebagai asas tunggal bernegara yang ditegaskan kembali pada Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo, Jawa Timur. NU juga telah berkomitmen Indonesia adalah bagian dari bumi Allah, sebagai kawasan amal dan dakwah ajaran Islam yang universal, kaffatan linnas dan rahmatan lil’alamin.

Tapi dewasa ini, ada pembelokan atas hal itu. Keributan dan kegaduhan membangun sentimen anti Islam terus diproduksi. Di medsos, sejumlah persoalan yang semestinya tak relevan, belakangan selalu menyertakan tanda pagar (tagar) politik. Melalui medsos pula, benih teroris juga disebar.

Dita Siska Millenia (18) yang ditangkap bersama Siska Nur Azizah (21), di Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua Depok pada Sabtu (12/5/2018) sebagaimana dilansir Tempo, mengaku terobsesi menghabisi orang lain.

Perempuan asal Temanggung, Jawa Tengah itu mengaku mendapatkan informasi jihad ekstrem Islamic State in Iraq and Sham (ISIS) melalui medsos. Penumbuhan bibit radikal bagi Dita selanjutnya berlangsung melalui grup WhatsApp dan Telegram tertutup.

Selain di dunia maya, cuci otak bagi masyarakat adanya kriminalisasi ulama dan anti Islam oleh pemerintah juga dilakukan di ruang-ruang publik, seperti dialami Ketua LP Ma'arif NU Pusat, KH Z Arifin Junaidi dan disampaikan secara gamblang di laman muslimoderat.net, pada Sabtu (10/2/2018).

Kondisi-kondisi tersebut, mengingatkan pernyataan Presiden RI ke IV, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam Ilusi Negara Islam: Jargon memperjuangkan Islam sebenarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan Islam sebagai kemasan dan senjata. Langkah ini sangat ampuh, karena siapapun yang melawan mereka akan dituduh melawan Islam.

Pengulangan membangun sentimen anti-Islam terus dibuat. Mengadopsi keyakinan Adolf Hitler: Jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran.

Hipnosis masif semacam itu terus dibuat sebagaimana iklan, singkat namun berdampak pada ketertarikan. Masyarakat yang kurang paham akhirnya merasa perlu terlibat. Pokoke melu. Dan Indonesia gaduh. Masyarakat kehilangan daya produktif akibat ilusi menyeramkan. 

Yang tumbuh dan mengemuka di medsos dan berdampak pada kehidupan nyata akibat penyesatan adalah geram, benci hingga fitnah berpotensi menganggu kehidupan bernegara.

Tahun 2013, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),  KH Said Aqil Siradj menjelaskan cikal bakal pemahaman radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) dan para sahabat. 

Pada Dialog Ormas-ormas Islam dalam Mempertahankan NKRI, di Sahid Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (11/5/2013), sejatinya Kang Said menyampaikan prediksi Rasulullah.

Dari umatnya, kelak akan muncul orang seperti Dzul Khuwaishirah, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tak melewati tenggorokannya. Artinya tak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. 

Prediksi Rasulullah benar, pada suatu Subuh, Ramadhan 40 H, Sayyidina Ali dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, qaimul lail, shaimun nahar, hafizhul Qur’an. 

“Yang membunuh Sayyidina Ali tiap hari puasa, tiap malam Tahajjud, dan hafal Qur’an,” penuturan Kang Said kala itu kemudian dipelintir oleh media-media radikal. Headline mereka buat, yang rajin beribadah ialah teroris.

Penyesatan yang sejatinya bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu akhirnya dikopi paste, dishare dari akun medsos satu ke akun medsos lain, dari 2013 hingga 2018.

Maka tak heran jika Survei  Wahid Foundation dipresentasikan di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (29/1/2018) menyebut adanya kenaikan angka intoleransi, dari 51,0 persen pada 2016, menjadi 57,1 persen sebagai dampak penyesatan dan kurangnya tabayun.

Smartphone Sebagai Rumah Produksi
Saat Nabi Muhammad SAW ditanya, Siapakah Muslim yang terbaik ya Rasulullah? Beliau menjawab, Seseorang yang selamat dari lidah dan tangannya.

Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Jumlah itu memaparkan Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Adapun Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) di awal 2017 merilis survei tentang informasi palsu (hoax) yang tengah marak di Tanah Air. Survei Mastel itu menyebut, medsos menjadi sumber utama peredaran hoax (berita bohong) hingga fitnah.

Dengan fakta itu, apa iya kita sebagai mayoritas muslim di Indonesia mampu menjadi pengikut Rasullulah SAW yang kafah jika mengikuti satu sabdanya saja masih jauh panggang dari api?

Ketika ide, iklan, hipnosis membangun sentimen anti Islam dan intoleransi terus dibangun di medsos oleh kelompok anti NKRI dengan mengandalkan smartphone sebagai rumah produksi. Saatnya warga NU terutama kaum muda, bangkit untuk benar-benar menyatakan seruan NKRI harga mati melalui smartphone dimilikinya. 

Kader-kader NU harus menjadi rumah produksi yang membuat iklan positif dan toleransi bagi publik secara kontinu sembari mendendangkan Syubanul Wathon atau Deen Assalam, Syaban Gambus.

Tak butuh satu jam dalam sehari untuk share tiga berita dari situs berafiliasi ke NU seperti nu.or.id, islami.co, meme ulama-ulama NU atau kutipan-kutipan Gus Mus hinga video Gus Muwafiq.

Kader-Kader NU bersama dengan kekuatan bangsa yang lain, harus berikhtiar untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan NKRI yang diacak-acak kelompok takfiri, penyebar kebencian dan fitnah melalui medsos.

Jatuh bangunnya negara ini, ujar Bung Hatta, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.

KH Hasyim Asyari yang mendapat gelar Hadratussyekh karena menguasai secara mendalam berbagai disiplin keilmuan Islam, hafal kitab-kitab babon hadits dari Kutubus Sittah yang meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bukhori Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, Ibnu Majah, tentu tidak asal menyatakan Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan.Keduanya saling menguatkan.

Tak lagi layak kader-kader NU berdiam diri, mengedepankan produksi narsis semata. Satu hal mutlak dilakukan ialah memberi perlawanan positif melalui medsos masing-masing. Menjadikannya sebagai sarana dakwah, motivasi, inspirasi, menguatkan toleransi, gerakan kebangsaan, perkembangan kemanusiaan dan negara bukan lagi pilihan, tapi keharusan.

Hasil Bahtsul Masail muktamar-muktamar NU, video, hingga laman berafiliasi pada NU dan Indonesia bisa digunakan sebagai bahan menjawab persoalan bagi publik yang terbukti awam terhadap kostum Al-Muttahidah, Agnes Monica (Agnesmo) hingga sandal yamin dan syimal.

Saatnya singa-singa muda NU bangun, bergandeng tangan, menunjukan bukti cinta pada NKRI tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan (tak dapat dihilangkan begitu saja). Yakinlah jika itu ialah ikhtiar melanjutkan amanat Resolusi Jihad NU, perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya NKRI dan Islam sebagai  agama perdamaian (deen assalam).

Iklankan pada publik berita hingga pesan-pesan positif dengan kontinu. Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan pun juga meninggalkan wasiat: Kasih sayang dan toleransi adalah kartu identitas orang Islam.

Jika Joseph Stalin menyatakan: Ide itu lebih kuat daripada pistol. Kita tak ingin musuh kita punya pistol, mengapa kita harus membiarkannya punya ide. Maka yakinlah, smartphone itu lebih kuat daripada pistol. Kita tak ingin mereka yang melakukan agitasi, provokasi agama dan ingin merusak NKRI punya pistol, mengapa kita harus membiarkannya menguasai medsos dengan smartphone.

Setiap pengorbanan kemanusiaan bukanlah mantan, yang layak dihapus dari ingatan begitu saja. Saatnya menggunakan smartphone sebagai rumah produksi bagi Indonesia biladi dan Islam Rahmatan Lil’alamin. 

Ini bukan persoalan menjawab kekalahan di udara, di medsos semata. Tapi diam ialah ijtihad membiarkan publik terpapar radikalisme seperti Dita dan Siska secara pelan tapi pasti, yang berakhir salah kaprah memaknai Jihad.


Penulis adalah Gusdurian, Asinfokom Satkornas Banser

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG