IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional
RAMADHAN DI LUAR NEGERI

Nahdliyin Berbagi Takjil untuk Muslim di Korea Selatan

Senin 4 Juni 2018 19:30 WIB
Bagikan:
Nahdliyin Berbagi Takjil untuk Muslim di Korea Selatan
Ansan, NU Online
Waktu menunjukkan pukul 18.30, namun adzan maghrib belum terdengar. Sekarang ini Korea Selatan telah memasuki musim panas, yang artinya matahari akan terbenam lebih lama dan  adzan maghrib baru berkumandang sekitar pukul 20.00. Waktu fajar pun menjadi lebih cepat, sekitar pukul 03.15. Pukul 05.00 matahari sudah terang benderang menyinari seluruh daratan Negeri Gingseng.

Jika dikalkulasikan rentang waktu dari fajar hingga maghrib di Korea Selatan pada bulan Juni 2018 ini mencapai lebih dari 16 jam. Waktu yang cukup panjang dan menantang bagi para Muslim yang sedang menjalankan puasa wajib Bulan Ramadhan.

Namun, kebiasaan berpuasa di Indonesia juga coba dilakukan di Korea Selatan. Salah satunya adalah Takjil on The Road (ToR) pada Ahad (3/6), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan dengan dikoordinatori oleh Ustadz Afandi, selaku ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh (LAZISNU) Korea Selatan.

ToR dalam bentuk pembagian makanan untuk menu berbuka puasa ini diselenggarakan di daerah Ansan yang merupakan salah satu pusat industri di Korea Selatan. Acara ToR merupakan kegiatan pertama kali yang dilakukan Muslim di Korea Selatan, sehingga kegiatan ini menarik banyak perhatian orang. Tiidak hanya para Muslim yang umumnya Warga Negara Asing (WNA), tetapi juga penduduk asli Korea. Para petugas kepolisian Kota Ansan pun tak ketinggalan mendukung dengan memberikan perizinan secara penuh untuk menjalankan kegiatan ini di tempat keramaian.

Ustadz Madi, selaku ketua PCINU Korea Selatan, menuturkan bahwa ide untuk melakukan acara ToR ini selain dikarenakan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW yakni anjuran untuk memberikan makanan pembuka kepada orang yang berpuasa. Selain itu juga sebagai bagian dakwah dari PCINU Korea Selatan kepada sesama Muslim pendatang dari berbagai negara. Lebih khusus lagi dakwah kepada warga Korea asli.

Bagi warga Korea Selatan menarik karena dinilai menunjukkan rasa simpati dan kepedulian yang tinggi yang dilakukan oleh umat Muslim terhadap saudaranya. Selain itu, warga Korea juga mengapresiasi dan merasa takjub kepada panitia pelaksanaan ToR karena mau menyelenggarakan kegiatan ini di jalanan dengan kondisi tetap berpuasa.

Kegiatan ToR kali ini berhasil membagikan lebih dari 100 paket buka puasa yang dikemas dalam kemasan praktis dan sederhana. Paket makanan yang dibagikan dapat terealisasikan berkat bantuan dari para pemuda dan pemudi Muslim, yang tergabung dalam Fatayat NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan Barisan Serbaguna (Banser) Korea Selatan. Badan-badan otom (Banom) NU yang telah berdiri sejak empat tahun lalu ini merupakan kepanjangan tangan dari kegiatan-kegiatan dakwah yang di lakukan oleh PCINU Korea Selatan.

Acara ToR ini diharapkan akan juga bisa dilaksanakan di kota-kota lain terutama di kota-kota industri seperti Daegu, Gimhae dan Gumi. Dengan itu nuansa Ramadhan akan semakin terasa dan dikenal oleh masyrakat Korea.

Ramadhan di Korea Selatan menjadi kesempatan emas bagi umat muslim untuk mendakwahkan Islam dengan pesan- pesan kedamaian. Salah satunya dengan acara buka puasa bersama. Acara berbuka puasa bersama yang dilaksanakan di masjid dan mushala oleh para pengurus PCINU dan umat Muslim di Korea pada umumnya tidak hanya ditunggu oleh para WNA tetapi juga kerap menarik perhatian warga Korea Selatan.

Melalui tradisi buka puasa bersama ini bagi muslim-muslim pendatang menjadikan suasana Ramadhan di Korea Selatan layaknya di kampung halaman. Kebersamaan dalam beribadah hingga hidangan yang disajikan dalam berbuka puasa menjadi obat tersendiri akan rindunya suasana ber-Ramadhan di kampung halaman. 

Sedangkan bagi warga korea sendiri, seperti diketahui makan bersama untuk merayakan sesuatu hal adalah tradisi yang sudah mendarah daging dalam diri warga Korea. Aktivitas Muslim yang melakukan buka puasa secara bersama diniliai sebagai sebuah tradisi yang baik dan sama dengan tradisi yang sudah terbangun dalam kultur orang Korea.

Interaksi secara personal antara Muslim dengan non-Muslim Korea dalam kehidupan sehari-hari sepanjang Ramadhan, secara langsung dan tidak langsung menjadi jalan memperkenalkan Islam kepada warga Korea. Persepsi awal bagi warga non-Muslim Korea, menahan diri untuk tidak makan dan minum hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sedang menjalankan program diet ketat (penurunan berat badan) saja dan dinilai sebuah proses yang sangat sulit dan menyusahkan.

Namun, dengan penjelasan bahwa puasa tidak hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum tetapi juga menjaga emosi, syahwat dan hal lain yang dapat mengurangi dan membatalkan ibadah puasa. Hal itu juga dapat menjelaskan keuntungan yang akan didapat dari menjalankan proses berpuasa ini, mereka menjadi paham dan sangat menghormati sekali proses berpuasa yang dijalani oleh umat Muslim.

Semoga dengan interaksi dan pengetahuan serta suasana semangat beribadah yang dilakukan oleh umat Muslim di Korea sepanjang bulan Ramadhan ini semakin meningkatkan dakwah Islam di Negeri Gingseng ini. Aaamiin.

Rohib, Sekjen PCI NU Korea Selatan, PhD candidate di jurusan Advanced Energy and System Technology-University Science and Technology (UST), Korea.


Bagikan:
Senin 4 Juni 2018 21:15 WIB
Semarak Ramadhan Muslim Indonesia di Korea Selatan
Semarak Ramadhan Muslim Indonesia di Korea Selatan
Ansan, NU Online  
Waktu menunjukkan pukul 18.30, tapi adzan maghrib belum terdengar karena sekarang ini Korea Selatan telah memasuki musim panas. Artinya, matahari akan terbenam lebih lama dan  adzan maghrib baru berkumandang sekitar pukul 20.00. Waktu fajar pun menjadi lebih cepat, sekitar pukul 03.15, karena pukul 05.00 Matahari sudah terang benderang menyinari seluruh daratan Negeri Gingseng. Jika dikalkulasikan rentang waktu dari fajar hingga maghrib di Korea Selatan pada bulan Juni 2018 ini mencapai lebih dari 16 jam. Waktu yang cukup panjang dan menantang bagi para Muslim yang sedang menjalankan puasa wajib Bulan Ramadhan.

Ahad (3/6) lalu, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan dengan dikoordinatori oleh Ust. Afandi, selaku Ketua Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh (LAZISNU) Korea Selatan, melakukan kegiatan Ta’jil On the Road (ToR). Kegiatan pembagian makanan untuk menu berbuka puasa ini diselenggarakan di daerah Ansan yang merupakan salah satu pusat industri di Korea Selatan. Acara ToR yang dilaksanakan oleh Pengurus LAZISNU ini merupakan kegiatan pertama kali yang dilakukan Muslim di Korea sehingga kegiatan ini menarik banyak perhatian orang, tidak hanya para Muslimin yang umumnya Warga Negara Asing (WNA) tetapi juga penduduk asli Korea. Para petugas kepolisian Kota Ansan pun tak ketinggalan mendukung dengan memberikan perizinan secara penuh untuk menjalankan kegiatan ini di tempat keramaian.

Ustadz Madi, selaku Ketua Tanfidziah PCINU Korea Selatan, menuturkan bahwa ide untuk melakukan acara ToR ini selain dikarenakan untuk mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW yakni anjuran untuk memberikan makanan pembuka kepada orang yang berpuasa, juga sebagai bagian dakwah dari PCINU Korea kepada sesama Muslim pendatang dari berbagai negara dan lebih khusus lagi dakwah kepada warga Korea asli.

Acara ToR ini menarik perhatian warga Korea Selatan karena dinilai menunjukkan rasa simpati dan kepedulian yang tinggi yang dilakukan oleh umat Muslim terhadap saudaranya. Selain itu, warga Korea juga mengapresiasi dan merasa takjub kepada panitia pelaksanaan ToR karena mau menyelenggarakan kegiatan ini di jalanan dengan kondisi tetap berpuasa.

Kegiatan ToR kali ini berhasil membagikan lebih dari 100 paket buka puasa yang dikemas dalam kemasan praktis dan sederhana. Paket makanan yang dibagikan dapat terealisasikan berkat bantuan dari para pemuda dan pemudi Muslim, yang tergabung dalam Fatayat NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan Barisan Serbaguna (Banser) NU Korea Selatan. Badan-badan Otom (Banom) NU yang telah berdiri sejak empat tahun lalu ini merupakan kepanjangan tangan dari kegiatan-kegiatan dakwah yang di lakukan oleh PCINU Korea Selatan. Acara ToR ini diharapkan akan juga bisa dilaksanakan di kota-kota lain terutama di kota-kota industri seperti Daegu, Gimhae dan Gumi. Sehinnga nuansa Ramadhan akan semakin terasa dan di kenal oleh masyrakat Korea.

Ramadhan di Korea Selatan menjadi kesempatan emas bagi umat Muslim untuk mendakwahkan Islam dengan pesan-pesan kedamaian. Salah satunya dengan acara buka puasa bersama. Acara berbuka puasa bersama yang dilaksanakan di masjid dan mushala oleh para pengurus PCINU dan umat Muslim di Korea pada umumnya tidak, hanya ditunggu oleh para WNA tetapi juga kerap menarik perhatian warga Korea Selatan. Karena melalui tradisi buka puasa bersama ini bagi Muslim-muslim pendatang menjadikan suasana Ramadhan di Korea Selatan layaknya di kampung halaman. Kebersamaan dalam beribadah hingga hidangan yang disajikan dalam berbuka puasa menjadi obat tersendiri akan rindunya suasana ber-Ramadhan di kampung halaman. 

Sedangkan bagi warga korea sendiri, seperti diketahui makan bersama untuk merayakan sesuatu hal adalah tradisi yang sudah mendarah daging dalam diri warga korea sehingga aktivitas Muslim yang melakukan buka puasa secara bersama diniliai sebagai sebuah tradisi yang baik dan sama dengan tradisi yang sudah terbangun dalam kultur orang korea.

Interaksi secara personal antar-Muslim dengan non-Muslim Korea dalam kehidupan sehari-hari sepanjang Ramadhan, secara langsung dan tidak langsung menjadi jalan memperkenalkan Islam kepada warga Korea. Persepsi awal bagi warga non-Muslim Korea, menahan diri untuk tidak makan dan minum hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sedang menjalankan program diet ketat (penurunan berat badan) saja dan dinilai sebuah proses yang sangat sulit dan menyusahkan. Namun, dengan penjelasan bahwa puasa tidak hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum tetapi juga menjaga emosi, syahwat dan hal lain yang dapat mengurangi dan membatalkan ibadah puasa  serta menjelaskan keuntungan yang akan didapat dari menjalankan proses berpuasa ini, mereka menjadi paham dan sangat menghormati sekali proses berpuasa yang dijalani oleh umat Muslim.

Semoga dengan interaksi dan pengetahuan serta suasana semangat beribadah yang dilakukan oleh umat Muslim di Korea sepanjang bulan Ramadhan ini semakin meningkatkan dakwah islam di negeri gingseng ini. Aaamiin. (Rohib/Abdullah Alawi)


Senin 4 Juni 2018 20:30 WIB
RAMADHAN DI LUAR NEGERI
Wati Tempe Sadarkan BMI Frustrasi di Hong Kong
Wati Tempe Sadarkan BMI Frustrasi di Hong Kong
Oleh: H Khumaini Rosadi

Jika dibandingkan bagaimana suasana berpuasa di Hong Kong dengan berpuasa di tanah air Indonesia amatlah sangat berbeda. Perbedaannya  begitu jauh "Karena jelas-jelas kesempatan untuk berbuat dosa atau maksiat yang menghantarkan pelakunya kepada neraka lebih banyak adanya di Hong kong," ungkap Ibu Purwatiningsih yang biasa dipanggil Bu Wati Tempe. 

Kalau  tidak kuat iman, kata dia, kita akan terpengaruh oleh arus global. “Njenengan sekarang ini berdakwah di hadapkan pada majelis-majelis taklim yang sudah terkondisikan, siap untuk mengaji, penuh dengan ukhti-ukhti yang sudah berhijab, tidak ada tantangan," katanya lagi dengan logat Jawa Timur yang khas. 

Ia pun meneruskan kisahnya kepada saya, "Tapi  lain dengan dakwah saya, cara saya mengajak orang-orang yang tidak terkondisikan itu penuh hujatan, cacian, dan hinaan datang silih berganti. Bahkan ada anggapan bahwa orang-orang yang sudah terjerumus ke lembah hitam seakan tidak ada kemungkinan lagi untuk bertaubat. Mereka selalu dipandang sebelah mata. Kasihan mereka. Terisolir dari orang-orang baik dan agama yang menenteramkan jiwa-jiwa yang resah," urai Bu Wati.
.
Saya terus mendengarkan cerita Bu Wati. "Pelan-pelan," sambung Bu Wati, "saya selalu berbaur dengan mereka, mendekati dan menelusuri apa sebenarnya penyebab kronologis mereka hingga menjadi seperti ini."

Cerita Bu Wati itu sebagai jawaban bagaimana caranya mengumpulkan dan menyadarkan para BMI dalam satu wadah pengajian yang biasa diadakan setiap hari Ahad bakda ashar di lapangan basket dekat Terminal Bus Yuen Long-Hong Kong. 

Inilah Majelis Taklim Nurul Hidayah binaan Ibu Wati. Pada tanggal 20 Mei 2018, saya bertugas dan berkesempatan mengisi pengajiannya. Padahal sebagian besar dari mereka adalah para BMI yang sudah pernah patah arang-putus harapan, merasa dirinya sudah tidak berharga lagi, bahkan cenderung mengakhiri hidupnya dengan caranya sendiri.

Dengan membekali keterampilan kepada jamaah majelis taklim Nurul Hidayah, Ibu wati berhasil menularkan bakat enterpreuner-nya dengan baik. Ia juga menjadi pengusaha kecil-kecilan dengan membuat tempe yang enak khas Indonesia. Tempe dipasarkan secara door to door, karena tidak boleh BMI mencari keuntungan di luar pekerjannya. Semua dilakukan semata-mata untuk membantu sesama BMI yang suka makan tempe. Ia juga pandai memasak dan membuat racikan-racikan minuman segar kemasan berbahan dasar kurma dan air zam-zam. 

Meskipun berstatus sebagai BMI, ia memiliki jiwa solidaritas dan kepekaan sosial yang tinggi terhadap teman-teman senasibnya yang tidak mendapatkan keberuntungan sepertinya. Keuntungan dari hasil usahanya itu digunakan untuk membantu teman-teman yang kesulitan membiayai hidupnya sendiri seperti membeli makanan, obat-obatan, atau ongkos untuk pulang ke Indonesia.

Sosok Wati adalah BMI yang memang beruntung. Beruntung mendapatkan majikan yang baik. Diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah. Disediakan kamar sendiri. Majikan ramah makanan, artinya tidak meminta dimasakkan makanan-makanan yang diharamkan. Pekerjaan sesuai dengan perjanjian dan tidak membebankan pekerjaan berisiko tinggi seperti membersihkan jendela luar kamar yang memungkinkan terjatuh dari flat yang tinggi.

Membersihgkan jendela luar kamar banyak dilakukan BMI. Seperti yang diceritakan oleh Juleha, BMI yang saat ini sedang interminit (menunggu visa dan majikan) dan akan pulang ke Pekalongan, Jawa Tengah. Ia berhenti kerja karena tidak cocok dengan majikannya yang banyak menuntutnya pekerjaan berisiko tinggi. 

Keberuntungan Bu Wati adalah keberuntungan yang didapatkan oleh sebagian BMI. Belum tentu BMI yang lain akan mendapatkan keberuntungan seperti itu. Yang buntung juga ada.

Mengajak serta merangkul anak-anak yang sudah terjerumus ke jalan yang tidak di ridhai oleh Allah itu tidak mudah. Diperlukan kesabaran, ketelatenan, dan pengorbanan. Materi pun tetap harus keluar, karena mereka kebanyakan anak-anak yang tidak punya uang. Uang mereka habiskan untuk pesta dan hura-hura.

"Insyaallah saya pribadi meskipun harus berkorban banyak, saya ikhlas. Asalkan mereka bisa bertaubat dan kembali ke jalan yang benar, saya bersyukur. Saya tidak berharap imbalan apa pun," kata dia.

Demikianlah perjuangan dan pengorbanan dari BMI yang perduli dengan nasib teman-temannya yang tidak seberuntungnya. Semoga masih banyak lagi kepedulian-kepedulian BMI hebat seperti ibu Wati ini. Saya optimis hal itu bisa terwujud karena majelis-majelis taklim semakin berlomba-lomba dalam kebaikan dan istiqamah meningkatkan kualitas iman takwa jamaahnya. Amin.

Penulis adalah Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (Cordofa), Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) LDNU. 

Senin 4 Juni 2018 18:30 WIB
Unwahas Belajar Jamur sampai ke Negeri China
Unwahas Belajar Jamur sampai ke Negeri China
Lutfi Aris Sasongko dan Hilmi Arija Fachriyan (kiri dan kanan) berfoto bersama Ms. Cao Anqi, Liaison Officer penyelenggara training course
Semarang, NU Online 
Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidiknya dengan ilmu dan teknologi terbaru. Sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Jawa Tengah komitmen untuk menjadi perguruan tinggi yang terkenal di tingkat internasional terus dijaga. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan mengirim dosen ke pelatihan teknologi jamur di China.

“Kami terus berupaya untuk mengupdate perkembangan teknologi di luar sana melalui pelatihan dosen. Ini semua dilakukan untuk membekali para alumni Unwahas melalui dosen-dosen yang berpengalaman,” tutur Wakil Rektor Unwahas Bidang Kerja Sama Andi Purwono, Senin (4/6). 

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pelatihan tentang jamur ini diikuti oleh dua orang dosen Fakultas Pertanian, Lutfi Aris Sasongko dan Hilmi Arija Fachriyan setelah sebelumnya mengikuti proses seleksi yang ketat untuk mewakili Indonesia.

Pelatihan yang bertajuk Training Course on Mushroom Technology for Developing Countries berlangsung mulai 9 Mei dan akan berakhir 12 Juni 2018. Kegiatan ini berlangsung di Kota Fuzhou Provinsi Fujian atas dukungan dari Ministry of Commerce of the People's Republic of China. 

Pengiriman delegasi dari Unwahas ini terselenggara atas kerjasama Unwahas dengan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya.

Kegiatan pelatihan selama 5 minggu ini diantaranya diisi dengan pertemuan di kelas oleh dosen, praktisi dan kunjungan langsung ke pusat pengembangan teknologi jamur. 

“Teknologi pembibitan jamur dan pengolahan pascapanen sudah begitu maju di sini,” terang Lutfi Aris Sasongko yang juga Ketua umum Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU Jateng periode 2009-2013 ini. Beraneka ragam jamur telah dikembangkan di China dan memperoleh support yang baik dari pemerintah setempat.

Menurut Chief of Training Department Fujian United Nations TCDC Network Demonstration Base, Liu Hong pelatihan ini bertujuan utama untuk pengembangan teknologi jamur di negara asal peserta pelatihan. 

Kegiatan ini secara rutin dilakukan dalam rangka transfer teknologi kepada negara-negara berkembang, diantaranya Indonesia. Dia merasa senang bisa berbagi ilmu dengan para peserta pelatihan. Tahun 2018 ini sebanyak 17 orang dari 6 negara mengikuti pelatihan ini, yaitu Afrika Selatan, Tanzania, Sri Lanka, Mongolia, Thailand dan Indonesia. (Imam Syafaat/Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG