IMG-LOGO
Wawancara

Keunggulan Pengangkatan Duta HPN

Senin 4 Juni 2018 22:17 WIB
Bagikan:
Keunggulan Pengangkatan Duta HPN
Ketua PP HPN Dripa Sjabana
Pengangkatan Duta atau Ambassador oleh Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) untuk wilayah Eropa merupakan pendekatan yang sangat dibutuhkan, selain HPN mengangkat langsung seorang Ketua Pengurus Cabang Perwakilan (PCP) HPN di sebuah negara. Karena Duta bisa langsung bergerak cepat tanpa harus memiliki anggota terlebih dahulu.

Keterangan tersebut disampaikan oleh salah seorang Ketua Pengurus Pusat HPN Dripa Sjabana. Dia menegaskan bahwa HPN melakukan dua pendekatan, yakni mengangkat langsung Ketua PCP HPN. Itu sudah dilakukan di Inggris dan Hong Kong, serta mengangkat seorang Duta.

Bagaimana peran, fungsi, dan keunggulang seorang Duta untuk memperluas jaringan pengusaha Nahdliyin di level internasional? Berikut wawancara jurnalis NU Online Fathoni Ahmad bersama Dripa Sjabana, Senin (4/6) di Jakarta:

Bisa diterangkan mengenai pengangkatan seorang Duta HPN yang pertama kali dilakukan HPN untuk wilayah Eropa?

Pengangkatan ini untuk yang pertama kali di Eropa. Ini akan sangat efektif karena Nurul Huda (Duta HPN untuk Eropa) siap sedia di sana. Dia akan ke Jerman selama dua bulan sekali. 

Dari Jerman ke negara-negara lainnya di Eropa relatif tidak terlalu jauh. Misal dari Jerman ke Spanyol hanya 2 jam perjalanan udara. Begitu juga dengan negara lainnya yang juga dapat ditempuh dengan perjalanan udara maupun darat.

Ya relatif lebih dekat ketimbang dari Jakarta ke Papua. Apalagi moda transportasi di Eropa sangat memadai sehingga bisa di-cover sekaligus.

Seperti apakah tugas-tugas seorang Duta HPN?

Pengangkatan seorang Duta ini sebab mempunyai tugas khusus di sebuah region yang terdiri dari beberapa negara. Pembentukan PCP HPN maupun Duta HPN merupakan upaya menyinergikan program-program penghimpunan pengusaha dan pemberdayaan ekonomi. Artinya, sinergi tidak hanya dilakukan di dalam negeri tetapi juga di luar negeri di mana HPN berada.

Pengangkatan Duta HPN ini tidak menutup kemungkinan buka di region-region lain seperti Afrika, Asia, Timur Tengah, dan lain-lain.

Begitu juga di wilayah Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Hong Kong, Korea, dan lain-lain. Ini seiring dengan tujuan bahwa HPN mempunyai misi menjadi Kadinnya warga NU dan Kadinnya umat Islam atau Islamic Chambers atau Nahdliyin Chambers.

Apa keunggulan Duta HPN dalam mewujudkan tujuan organisasi?

Ada keunggulannya Duta HPN, jika di sebuah negara tidak ada warga NU di situ. Tidak ada nahdliyin berarti tidak ada Pengusaha Nahdliyin kan? Lalu kita mau berinteraksi dengan negara itu, tidak bisa PCP HPN kan? Tetapi kalau Duta bisa.

PCP HPN kan harus punya anggota, kalau Duta belum punya anggota tetapi sudah bisa masuk untuk berinteraksi dengan para pengusaha di luar negeri dan para Muslim di sana. Kan kita ingat setelah ukhuwah Nahdliyyah, ada ukhuwah Islamiyah, ukhuwah watahoniyah, dan ukhuwah basyariyah. Dengan konsep tersebut, Nahdliyin lebih mudah berinteraksi dengan siapa pun.

Maksud dibentuknya Duta HPN secara spesifik?

Maksud dibentuknya HPN itu memang untuk menghimpun. Artinya membentuk jaringan, yang lain nanti mengikuti, justru yang nomor satu menghimpun. Dan saat ini kita tidak hanya menghimpun, yang lain contoh HPN telah menghimpun anggotanya ke dalam grup sesuai dengan sektor bisnis masing-masing.

Di situ yang terjadi bukan hanya menjaring, tetapi juga sudah terjadi sebuah transaksi bisnis per sektoral dan saling sinergi. Karena kalau sudah per sektoral dari hulu sampai hilirnya masuk. Seperti sektor pariwisata dan industri kreatif, sektor perdagangan, sektor industri keuangan, sektor kuliner, dan lain sebagainya.

Dua yang sudah kita luncurkan dan langsung ramai, yaitu profesional bisnis dan profesional hukum bisnis. Jadi profesional yang berkaitan dengan bisnis, contohnya accounting, akuntan, sedangkan hukum bisnis contohnya notaris, karena setiap transaksi membutuhkan notaris.

Dari tawaran tersebut, para anggota yang terhimpun dalam HPN sangat antusias sehingga meminta sesi khusus, di mana setiap profesional yang dimiliki HPN bisa mengisi di grup lain. Ini membuktikan bahwa HPN tidak hanya berhasil menghimpun, tetapi juga sudah terjadi interaksi dan fungsi.

Seperti apakah langkah-langkah strategis Duta HPN untuk memperluas jaringan pengusaha NU di dunia internasional?

Pengangkatan Duta HPN untuk Eropa yang bisa membawahi negara-negara di Eropa ini merupakan akselerasi proses.

Tugas pokok dan wewenangnya berbeda dengan Ketua PCP HPN. Kalau Ketua PCP bisa langsung mengoordinir para pengusaha sekaligus merekrut. Sedangkan Duta HPN mewakili HPN Pusat untuk melakukan koordinasi, silaturrahim, dan konsolidasi dengan berbagai elemen pengusaha.

Tidak hanya yang NU, tidak hanya yang Indonesia, tetapi juga asing. Alhamdulillah untuk Eropa sudah ketemu, yaitu Mas Huda.

Koordinasi Duta HPN seperti apa dan dengan siapa saja?

Sebagai Duta HPN, Nurul Huda nantinya berkoordinasi dengan kadin-kadin, kedutaan besar, PCINU, dan dengan duta-duta besar negara-negara Eropa di Indonesia. Tujuannya tidak hanya mengoordinasi pengusaha Indonesia di Eropa untuk berjejaring melakukan ekspor maupun impor, tetapi juga pihak-pihak yang ada di Eropa, baik pengusaha maupun lembaga-lembaga terkait.

Selain berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, tugas seorang Duta HPN juga menginisiasi terbentuknya PCP-PCP HPN di setiap negara di mana Duta itu berada.

Dia mengatakan bahwa peran seorang Duta ini sangat efektif karena geraknya tidak terbatas meski tetap di bawah koordinasi langsung dengan HPN Pusat. Misal ketika Uni Eropa mengadakan pertemuan para pengusaha, HPN bisa mengirimkan Dutanya sebagai perwakilan pengusaha NU untuk Eropa. (*)
Tags:
Bagikan:
Senin 21 Mei 2018 20:30 WIB
Dekan Fakultas Budaya dan Media ISBI: Seni untuk Tangkal Radikalisme
Dekan Fakultas Budaya dan Media ISBI: Seni untuk Tangkal Radikalisme
Dr. Deni Hermawan, MA., Dekan Fakultas Budaya dan Media Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung
Menangkal radikalisme melalui kampus menjadi kerja besar Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Sejumlah riset mutakhir membuktikan bahwa mahasiswa yang terpapar oleh pemahaman radikal semakin meningkat jumlahnya. Upaya deradikalisasi itu tampaknya masih berfokus pada persoalan pendidikan agama, baik yang formal dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) maupun yang non-formal yang berafiliasi pada Ormas atau partai Islam.  

Salah satu aspek yang belum banyak disinggung dalam upaya deradikalisai di kampus adalah medium kesenian. Kelompok radikal secara umum tidak menyukai kesenian, apalagi yang bersifat lokal. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kampus-kampus seni di Indonesia paling minimal terpapar paham radikal. Bagaimana sesungguhnya peluang kesenian dalam menangkal faham radikal?  

Berikut petikan wawancara dengan Dr. Deni Hermawan, MA., Dekan Fakultas Budaya dan Media Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dengan Iip D. Yahya dari NU Online.

Mengapa seni punya konotasi halus dan mendalam berlawanan dengan kasar dan serampangan?

Seni merupakan ungkapan perasaan manusia yang memiliki nilai keindahan. Keindahan di sini sangalah relatif, dan sekaligus subjektif, bergantung pada “siapa” yang menilainya. Dalam menilai suatu karya seni, latar belakang keilmuan dan kualitas pemahaman terhadap estetika (nilai-nilai keindahan) sangat memengaruhi cara penilaian seseorang terhadap karya seni tersebut.  Ada satu karya seni yang dipandang indah karena memang secara visual terlihat indah, tetapi ada juga satu karya seni yang dipandang indah walaupun secara visual tidak terlihat indah, bahkan mungkin menjijikan atau mengerikan. Dengan demikian, kata indah memiliki pengertian yang lebih luas, tidak sekadar indah dalam pengertian cantik atau elok  secara visual, tetapi juga indah dalam arti menyenangkan, memuaskan, mengagumkan, dan menakjubkan.

Sebagai ungkapan perasaan, seni memiliki kaitan yang sangat erat dengan perasaan, bahkan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seni merupakan wujud simbolik dari perasaan. Sementara itu, perasaan memiliki berbagai sifat dikotomis, seperti halus-kasar, suka-duka, gembira-sedih, bahagia-menderita.  

Kata ‘indah’ yang melekat pada seni inilah yang membuat kecenderungan seni memiliki konotasi halus, tidak kasar, dan mendalam, tidak serampangan. Dikatakan mendalam karena suatu karya seni yang memiliki nilai keindahan, misalnya, merupakan hasil renungan dan curahan perasaan yang mendalam, yang bersumber dari lubuk hati, dari perasaan yang paling dalam, bukan perasaan yang biasa-biasa saja atau perasaan “serampangan”. Oleh karena itu, wajarlah apabila seni yang identik dengan hati, perasaan, dan keindahan dianggap memiliki konotasi halus dan mendalam, tidak kasar dan serampangan.              

Mengapa seni bisa memperhalus yang kasar dan mendalamkan yang serampangan itu?

Seni memiliki kemampuan untuk memperhalus yang kasar dan mendalamkan yang serampangan karena seni memiliki nilai keindahan. Kata ‘indah’ memiliki dua pengertian, yaitu pengertian sempit dan pengertian luas. Secara sempit, dalam arti estetis, indah diartikan sebagai cantik atau elok secara visual (bedasarkan pandangan) dan enak secara auditif (berdasarkan pendengaran). Secara luas, indah diartikan sebagai perasaan lebih mendalam yang berhubungan dengan nilai-nilai spiritual, moral, dan agama. Indah dapat diartikan sebagai kebaikan.

Nilai-nilai spiritual, moral, agama, dan kebaikan yang terkandung dalam seni itu sangat dekat atau bahkan identik dengan sifat halus (tidak kasar) dan mendalam (tidak dangkal). Jadi, nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan seni untuk mampu memperhalus yang kasar dan mendalamkan yang serampangan. Sikap dan perilaku yang kasar akan menjadi halus ketika bersentuhan dengan seni karena seni mengandung nilai keindahan sebagai ekspresi dari perasaan yang halus; pemikiran, sikap, dan perilaku yang serampangan akan menjadi mendalam ketika bersentuhan dengan seni karena seni mengandung nilai-nilai spiritual, moral, agama, dan kebaikan yang merupakan ekspresi dari perenungan mendalam.  

Radikalisme identik dengan kekerasan, apakah seni bisa juga memperhalusnya sehingga setidaknya dapat mengurangi radikalisme?

Seni mengandung nilai-nilai spiritual, moral, agama, dan kebaikan. Nilai-nilai spiritual dan agama dalam seni dapat dilihat dari fungsi seni itu sendiri. Dulu, pada awal-awal kemunculannya, bentuk-bentuk seni pada umumnya, khususnya seni musik dan seni tari, difungsikan sebagai media penghubung antara manusia dan Yang Mahakuasa yang dianggap sebagai Tuhan yang memelihara kehidupan manusia. Di kalangan bangsa Yunani, pada 1100 SM, bangsa Yunani menganggap seni berasal dari dewa-dewa. Dewa dan pelindung kesenian adalah Apollo dengan 9 dewi kesenian, antara lain Terpsichore sebagai dewi seni tari dan  Polyhimnia sebagai dewi seni musik. Seni (seni musik) difungsikan sebagai sarana pemujaan terhadap dewa-dewa mereka. 

Di kalangan bangsa India yang beragama Hindu, musik digambarkan sebagai salah satu jalan tercepat menuju persembahan (keimanan) kepada Tuhan.  Mereka beranggapan bahwa memuja nada (musik) identik dengan memuja Dewa Brahma (Pencipta alam semesta), Dewa Wisnu (Pemelihara alam semesta), dan Dewa Siwa (Perusak alam semesta). Orang India tahan berjam-jam lamanya memainkan alat musik karena dalam konsep mereka memainkan alat musik identik dengan beribadat (melakukan persembahan) kepada Tuhan mereka.   Kenyataan seperti ini masih tetap berlaku hingga saat ini, termasuk juga di kalangan bangsa lain. 

Di kalangan kaum Sufi yang beragama Islam, tarian berputar dijadikan media penghubung untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di kalangan masyarakat Sunda sendiri yang beragama Islam dengan sisa-sisa kepercayaan lamanya—Animisme, Dinamisme, dan Hindu, bentuk-bentuk kesenian tertentu seperti dogdog lojor di kalangan masyarakat Baduy Luar di Banten Kidul, tarawangsa di kalangan masyarakat Rancakalong Sumedang, dan kuda renggong di kalangan masyarakat Buahdua dan sekitarnya di Sumedang yang lekat dengan pembakaran kemenyan dan sesajen difungsikan selain sebagai media untuk hiburan, juga sebagai media untuk menyampaikan rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga persembahan kepada leluhur atau para karuhun. Agama yang sarat dengan nilai-nilai spiritual ini tentu saja tidak terlepas dari moral dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Seni, dengan nilai-nilai spiritul, agama, moral, dan kebaikan yang terkandung di dalamnya, yang identik dengan kehalusan, dapat menjadi sumber kekuatan untuk menangkal radikalisme atau kekerasan. Ketika seseorang bersentuhan dengan seni (memainkan alat musik, menyanyi, atau menari), selama proses memainkan alat musik, menyanyi, atau menari tersebut, hanya perasaan halus itulah yang senantiasa melekat menyertainya. Dengan karakter kehalusannyai ini seni akan mampu menangkal, setidaknya, memperhaus atau mengurangi radikalisme.          
               
Kira-kira apa output dari keinginan menolak radikalisme melalui seni?

Output dari keinginan menolak radikalisme melalui seni pada dasarnya sama dengan maksud keinginan menolak radikalisme melalui media lainnya, yaitu terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, tentram, dan damai. Akan tetapi sedikit ada plusnya. Plusnya dari output menolak radikalisme melalui seni adalah bahwa di samping kehidupan masyarkart yang aman, tentram, dan damai, juga terciptanya masyarakat yang islami dan juga mengetahui dan mengharagai hakikat seni yang sarat dengan nilai-nilai positif tadi. Tak dipungkiri bahwa ada juga seni yang dalam penampilannya cenderung menyimpang dari norma masyarakat dan agama (Islam). Oleh karena itulah, seni perlu berdmpingan dengan agama sehingga produk seni yang dihasilkan para seniman tidak menyimpang dari nilai-nilai keislaman, bahkan lekat dengan nilai-nilai keislaman sehingga dapat dijadikan media pembelajaran bagi masyarakat untuk hidup dalam lingkup suasana harmonisasi antara seni dan agama.                

Apakah yang dimaksud dengan totalitas dalam berkesenian?

Secara harfiah, totalitas dapat diartikan sebagai keutuhan atau keseluruhan. Totalitas dalam berkesenian dapat diartikan sebagai sikap dan pemikiran tentang cara hidup dan berjuang melalui seni. Setiap manusia memiliki bakat dan talenta yang berbeda-beda sebagai anugrah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Bakat dan talenta tersebut berkembang sesuai dengan lingkungan tempat ia tinggal dan dibesarkan. 

Saya misalnya, dibesarkan di lingkungan keluarga seniman tradisi. Ayah saya adalah seorang seniman yang mahir memainkan alat-alat musik tradisional seperti gamelan degung, kacapi, suling, dan rebab. Berkat bimbingan dari ayah saya, menginjak usia 10 tahun saya sudah bisa memainkan suling. Menginjak usia 14 tahun, kelas I SMP, saya sudah melatih gamelan degung siswa SD dengan imbalan sekadarnya. Dengan latar belakang seperti itu serta bakat dan talenta yang saya miliki, saya kuliah di beberapa perguruan tinggi seni mempelajari musik tradisional, dan seusai kuliah, selanjutnya diangkat sebagai PNS dosen seni musik (karawitan). Sejak itulah saya berkecimpung di dunia seni dan pendidikan seni. Kesenian menjadi lahan profesi, sumber penghidupan, dan sekaligus sebagai wahana dalam rangka ikut serta membangun masyarakat, bangsa, dan negara. Itulah arti totalitas dalam berkesenian menurut pandangan saya.                         

Apakah toalitas itu sepadan dengan “keimanan”?

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa totalitas itu adalah keutuhan atau keseluruhan. Artinya tanpa ada yang tertinggal atau tersisa, sepenuh hati. Sementara itu, keimanan adalah keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati dalam hal meyakini dan mempercayai akan adanya Allah s.w.t., malaikat,  rasul dan kitab-kitabnya, hari akhir, dsb. (rukun iman). Dalam hal mengimani rukun iman, hendaknya disikapi dan dilakukan dengan sepenuh hati, tanpa keraguan sedikit pun. Itulah totalitas. Dengan demikian, totalitas itu sepadan dengan keimanan.     

Bagaimana kedalaman seni itu dapat bersinergi dengan kedalaman keimanan?

Perasaan seni dan keimanan sama-sama merupkan anugrah dari Allah SWT.  Seni merupakan ekspresi dari kedalaman jiwa, bersentuhan dengan perasaan yang paling dalam. Demikian pula halnya dengan keimanan. Seni dan keimanan berada dalam dalam ranah yang sama, yaitu ranah afektif, perasaan. Keindahan wujud seni sebagai hasil karya manusia sangatlah relatif dan juga subjektif, tidak dapat diukur dengan logika. Suatu karya seni yang dianggap indah oleh seseorang belum tentu dianggap indah oleh orang lain. Suatu karya seni yang secara visual jekek, bisa saja dianggap indah. Demikian pula halnya dengan keimanan. Keimanan adalah urusan jiwa dan perasaan. Keimanan seseorang terhadap adanya surga dan neraka tidak bisa dibuktikan pakai logika. Oleh karena seni dan keimanan berada dalam ranah yang sama, yaitu ranah afektif, kedalaman seni dan kedalaman iman dapat bersinergi.    

Apakah jalan seni yang ditempuh para seniman itu juga merupakan jalan ibadah menuju Tuhan Yang Mahaindah?

Secara khusus, ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari oleh ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Secara umum, ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridoi Allah, baik berupa perkataan maupun berupa perbuatan, yang tersembunyi (batiniah) dan yang tampak (lahiriah). Artinya, ibadah meliputi berbagai hal yang baik yang dicintai dan diridoi Allah s.w.t. Mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dalah salah satu bentuk ibadah yang wajib dilaksanakan. Ada berbagai macam cara mencari nafkah, termasuk salah satunya yaitu memanfaatkan seni sebagai sumber penghidupan. Dalam hal berkecimpung di dunia seni, para seniman bukan sekadar memanfaatkan seni sebagai media hiburan, melainkan juga sebagai media pendidikan, pembelajaran, ibadah, termasuk juga dakwah. Pamanfaatan seni sebagai media dakwah dalam rangka menyebarkan agama Islam sudah dilakukan sejak dulu oleh para wali. Seni, yang merupakan anugrah dari Allah SWT, selain dapat menjadi jalan ibadah, juga identik dengan keindahan. Sementara itu, Allah juga mencintai yang indah-indah. Salah satu hadis meriwayatkan bahwa “Allah itu indah, dan mencintai keindahan” (H.R. Muslim). Dengan demikian, dapatlah dipahami kalau jalan seni yang ditempuh para seniman itu juga merupakan jalan ibadah menuju Tuhan Yang Mahaindah. 
 
Dari pengalaman Anda, kapan kreativitas itu muncul dan kapan mandek bahkan jumud?

Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta atau sebagai perilaku kreatif. Hasil dari kreativitas adalah karya kreatif yang inovatif (baru). Hal baru (unsur kebaruan) inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri dari hasil kreativitas. Oleh karena kreativitas seyogianya senantiasa menghasilkan sesuatu yang baru, kreativitas menjadi kunci pembaharuan. Tidak ada hal baru yang akan dihasilkan tanpa adanya tindakan kreatif atau kreativitas. Dengan demikian, kreativitas akan selalu muncul ketika seseorang berpikir tentang sesuatu yang baru, perkembangan, perubahan, yang identik dengan kemajuan. Sebaliknya, kreativitas akan mandek ketika seseorang tidak berpikir tentang sesuatu yang baru, perkembangan, perubahan yang identik dengan kemajuan, tetapi pasrah pada situasi dan kondisi apa adanya yang dianggapnya sebagai takdir Tuhan Yang Mahakuasa, yang dikenal sebagai jumud. 

Apakah Anda sepakat bahwa para seniman menjaga keutuhan NKRI dengan totalitas mereka berkesenian?

Keutuhan NKRI merupkan hal yang tidak dapat ditawar-tawar. Semua warga negara Indonesia berkewajiban untuk menjaga keutuhan NKRI. Setiap orang berjuang untuk menjaga keutuhan NKRI dengan caranya masing-masing sesuai dengan profesi di bidangnya masing-masing. Para seniman ikut membangun bangsa dan negara yang sekaligus juga menjaga keutuhan NKRI denga cara mareka sendiri, yakni dengan memfungsikan seni sebagai wahananya. Seni merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Di dalam seni (tradisional) terkandung berbagai nilai, seperti nilai-nilai sosial, kultural, religius, pendidikan, ekonomi, dsb. Totalitas para seniman dalam berkesenian dapat diartikan sebagai tindakan memelihara, mengembangkan, dan memanfaatkan daya hidup dan daya guna seni. Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang berbeda bahasa dan budayanya, termasuk keseniannya. Seni merupakan fenomena yang universal, terdapat di mana-mana, tetapi bukan merupakan bahasa yang universal. Setiap kesenian (misalnya seni musik) memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang berbeda bagi setiap suku bangsa. Setiap bentuk kesenian hanya dapat dipahami oleh masyarakat pemiliknya. Etnomusikologi, disiplin ilmu musik bangsa-bangsa, yang mempelajari musik bangsa-bangsa secara kontekstual (ditinjau dari konteks kebudayaannya), mewajibkan setiap suku bangsa untuk mempelajari musik dari bangsa-bangsa lainnya. Dari proses saling mempelajari ini, setiap suku bangsa akan memiliki pemahaman akan bentuk, fungsi, nilai, dan makna musik suku-suku bangsa lannya. Dari saling memahami inilah kemudian akan timbul sikap saling menghargai antarsesama suku bangsa di Indonesia. Dari sinilah akan terwujud kehidupan yang damai, aman, dan tentram di antara suku-suku bangsa di Indonesia, tidak ada pertengkaran atau peperangan, dalam arti terpeliharanya keutuhan NKRI. Jadi, saya sepakat bahwa para seniman menjaga keutuhan NKRI dengan totalitas mereka berkesenian.
 

Jumat 18 Mei 2018 16:0 WIB
Bersihkan Rohis dan Masjid Kampus dari Paham Radikal
Bersihkan Rohis dan Masjid Kampus dari Paham Radikal
Aom Karomani, Wakil Ketua PWNU Lampung
Penelitian Badan Intelijen Negara (BIN) mencatat pada tahun 2017 sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia terpapar radikalisme. Penelitian tersebut juga menunjukkan terjadi peningkatan paham konservatif keagamaan di beberapa kampus perguruan tinggi. Terdapat 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad demi tegaknya negara Islam.

Hal ini juga sesuai dengan temuan baru PP GP Ansor yang menunjukkan sejumlah masjid di lembaga negara hingga BUMN sudah terpapar paham intoleran dan radikal dan menjadi ladang menyemai paham intoleran dan cenderung radikal.

Menyikapi kondisi ini Profesor Ilmu Komunikasi Universitas Lampung yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Aom Karomani mengajak seluruh elemen bangsa sadar hal ini dan mendesak pemerintah untuk menanganinya secara serius. Muhammad Faizin dari NU Online berhasil mewawancarai Wakil Ketua PWNU Lampung ini, Jumat (18/5) dan membahas apa yang harus dilakukan terhadap kampus yang sudah terpapar kondisi ini.

Bagaimana profesor menyikapi fakta data dari BIN dan GP Ansor yang sangat mengkhawatirkan ini?

Data ini menunjukkan bahwa radikalisme sudah begitu akut dan menyebar ke semua lembaga pemerintah. Penemuan BIN dan GP Ansor harus direspon serius karena sejatinya kalau kita melihat sejarah memang sejak kita merdeka, terorisme itu tidak hilang sama sekali dari dulu, dengan berbagai bentuk gerakan radikal. Ideologinya tidak pernah mati dan terus turun temurun. Tanpa kita sadari ideologi itu terus abadi pada sebagian orang.

Jadi jangan dianggap ini semacam rekayasa, karena sebagian orang ada yang menganggap hasil penelitian ini semacam rekayasa BIN dan Polri. Itu sangat naif dan omong kosong kalau ada pihak-pihak yang berbicara seperti itu.

Kalau kita lihat sejarah, paham radikal dan terorisme di Indonesia sendiri itu memang panjang. Gerakan sparatis yang berideologi agama sudah ada sejak negara ini merdeka. Sampai sekarang pun masih ada lembaga pesantren besar yang masih berdiri dan diduga memang terkait DI/TII.

Mengapa paham-paham radikal sampai saat ini terus muncul?

Pertama, karena kita tidak punya aturan safety (keamanan) untuk kepentingan itu seperti negara lain semisal Malaysia. Di Malaysia punya ISA (Internal Security Act) yang melindungi keamanan Malaysia dan menangani hal-hal seperti ini. Gerakan apa bisa langsung dicokok. Di Malaysia juga tidak sembarang orang bisa dakwah di Masjid. Dia diawasi betul. Kalau di Indonesia terlalu lentur atas nama demokrasi sehingga mudah muncul radikalisme. Ada yang teriak : "orang mau menyampaikan satu ayat saja ribet amat".

Sebenarnya ini bukan permasalahan dakwahnya tapi ini menyangkut kepentingan yang lebih besar dan jangka panjang. Jangan sampai orang sembarangan menyampaikan permasalahan agama yang merupakan sebuah keyakinan hidup setiap manusia, sementara ia sendiri tidak paham agama dengan baik. Lalu ia menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan ajaran-ajaran yang radikal.

Sehingga saya setuju dan sering menyampaikan berulang-ulang tentang pentingnya sertifikasi kompetensi para juru dakwah baik di kalangan muslim maupun non muslim. Sertifikasi ini nantinya diharapkan mampu melihat bagaimana pandangan mereka terhadap ideologi negara kita.

Fenomena adanya dai yang tidak memenuhi standar keilmuan agama dan sudah berani tampil di media khususnya televisi bisa juga menjadi dasar sertifikasi ini. Kita berharap sertifikasi ini bisa membendung ajaran radikal dan sesat yang saat ini sudah mulai masuk melalui berbagai media khususnya media sosial dan media pemberitaan.

Menurut professor, apa yang menyebabkan kampus banyak terpapar radikalisme?

Terkait kampus yang terpapar radikalisme, saya seratus persen percaya dengan apa yang di publish (umumkan) oleh BIN karena memang saya orang kampus yang tahu suasana dan perkembangan kampus. Ada beberapa hal yang saya amati penyebab munculnya radikalisme di kampus.

Pertama Masjid. Masjid kampus banyak yang tidak berada di dalam Organisasi dan Tata Kelola (OTK) Kampus dan terpisah memiliki yayasan sendiri. Sehingga kampus tidak bisa mengontrol takmir masjid karena otonom meskipun berada di dalam kampus. Pihak kampus tidak bisa mengontrol mereka terkait siapa yang menjadi dai dan pemateri atau khotib Jumat serta bagaimana pengkaderan yang dilakukan di masjid. Faktanya, semua lepas dari pantauan kampus. Secara struktural tidak ada hak mengontrol itu. Dan ini terjadi secara umum sehingga kondisi ini harus dibenahi segera.

Pemerintah dalam hal ini menteri terkait harus mereposisi posisi masjid terkait dengan kampus. Harus segera dirumuskan relasi antara masjid kampus dengan perguruan tinggi.

Kemudian Lembaga Dakwah Kampus (LDK) atau Rohis juga perlu ditata dengan baik agar tidak ditunggangi pihak luar untuk kepentingan mereka. LDK/Rohis saat ini memiliki keterikatan masif dengan dunia luar yang juga harus dibenahi.

Termasuk rekrutmen para dosen dan guru-guru agama juga tidak boleh sembarangan. Mereka harus memiliki kompetensi. Jangan asal bisa baca Al-Quran dan pintar berbicara kemudian dijadikan dosen agama. Semua harus ditata ulang.

Saat ini ada kecenderungan banyak dosen yang tidak memiliki pemahaman Islam Moderat. Mereka tidak berlatar belakang pesantren atau pendidikan agama tapi mereka dadakan. Sehingga ada mata kuliah diajarkan oleh bukan dosen agama dan mereka ini sudah terpapar paham radikal. Alasannya hanya karena tidak tercukupinya jam mata kuliah.

Intinya diseluruh perguruan tinggi, pertama, masjid harus di bawah kendali dan OTK perguruan tinggi, kedua, dosen agama harus benar-benar memiliki kompetensi dan berpaham moderat karena selama ini banyak dosen agama yang berlatar belakang non agama dan ketiga, lembaga dakwah kemahasiswaan harus dipantau dan diarahkan untuk tidak terjebak pada radikalisme dengan cara melakukan pertemuan rutin dengan mereka.

Jadi penataan serius menjadi sebuah keniscayaan untuk menyikapi hal ini?

Betul. Kalau ini dibiarkan bisa sangat berbahaya. 39 persen mahasiswa terpapar, lalu para pelajar SMA 23.3 persen setuju dengan negara Islam dengan ideologi jihadnya. Ini bahaya. Bukan bibit lagi tapi sudah tumbuh berkembang. Kalau ada pihak mengatakan ini rekayasa, maka ini sebuah kekonyolan pihak tersebut dalam melihat persoalan ini.

Para pengambil kebijakan terkait hal ini harus menata dan menyelamatkan dari lebih terpaparnya kampus-kampus di Indonesia. Kalau ini tidak segera ditata, data angka yang diberikan oleh BIN bisa jadi akan terus naik. Malah sekarang ada informasi penelitian di Jambi sudah 50 persen terpapar karena memang gerakan dari dalam kampus sudah sangat sistemik.

Munculnya fenomena radikalisme di kampus ini sesungguhnya sudah berlangsung lama. Menjadi lebih masif pasca reformasi dimana tata aturan tentang keamanan negara dalam menjaga ideologi negara menjadi longgar. Dulu kalau mau jadi PNS atau tentara harus ada bersih diri dan bersih lingkungan jangan sampai terpapar ekstrim kanan dan ekstrim kiri.

Demikian juga sosialisasi penataran pendidikan Pancasila  pada zaman sebelum reformasi demikian masif. Sekarang sudah 20 tahun negeri ini demikian longgar menjaga ideologi negara. Saya khawatir mereka sudah masuk di jajaran lembaga pemerintahan dan 10 tahun lagi generasi itu akan menjadi top leader (pimpinan utama) di setiap lembaga. Ini berbahaya. Jadi kalau ada dugaan bahwa 2030 Indonesia bubar, jangan-jangan hal itu betul jika kondisi saat ini dibiarkan.

Ahad 13 Mei 2018 22:30 WIB
Wawancara
Pesantren Radikal dan Anti-NKRI Harus Dibubarkan
Pesantren Radikal dan Anti-NKRI Harus Dibubarkan
Aom Karomani, Wakil Ketua PWNU Lampung
Pemerintah melalui Kementerian Agama RI akan membuat peraturan baru terkait perizinan pendirian pesantren. Jika sebelumnya perizinan bisa diurus di tingkat kabupaten, maka kedepan proses pendirian pesantren akan ditangani langsung Kementerian Agama tingkat pusat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berdirinya pesantren-pesantren yang anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain itu pemerintah juga tidak akan memberikan bantuan apapun kepada pesantren yang anti NKRI serta tidak akan mengakui ijazah pesantren tersebut.

Membahas hal ini, Muhammad Faizin dari NU Online melakukan wawancara terkait kebijakan pemerintah ini dengan Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Lampung Aom karomani yang juga Wakil Rektor Universitas Lampung, Ahad (13/5). Profesor Ilmu Komunikasi ini menjelaskan berbagai hal tentang hubungan pondok pesantren yang radikal dengan terorisme di Indonesia.

Bagaimana pendapat profesor terhadap kebijakan pemerintah yang akan menata perizinan dan memberikan sanksi kepada pesantren yang radikal?

Saya menilai pemerintah tidak cukup memberikan sanksi dengan tidak memberikan bantuan ataupun tidak mengakui ijazah yang dikeluarkan oleh pondok pesantren tersebut. Jika hanya sanksi seperti itu, tidak diberi bantuan, tidak diakui ijazahnya dan lain-lain mereka tetap akan bergerak di bawah tanah dan lulusaannya nanti akan memasuki lembaga pendidikan swasta lainnya.

Pemberlakuan kebijakan ini harus berlaku surut kepada seluruh pesantren yang sudah berdiri dan diberi izin. Artinya jika terindikasi dan terbukti ada pesantren yang sudah berdiri mengajarkan radikalisme kepada para santrinya maka pemerintah harus mengambil tindakan dengan tidak mengeluarkan perpanjangan izin operasional atau membubarkannya sesuai mekanisme.

Pemerintah harus tegas dalam menangani pondok pesantren yang anti NKRI. Pondok pesantren anti NKRI dan juga menggugat dasar negara baik secara terang-terangan maupun secara tersembunyi harus diajukan ke pengadilan dan dibubarkan.

Ini (pondok pesantren radikal anti NKRI, red) sungguh amat berbahaya bagi keutuhan negara. Pemerintah harus mengevaluasi konten kurikulumnya. Karena orang awam akan percaya dengan ideologi yang mereka kembangkan yang bertentangan dengan negara melalui kemasan agama.

Jadi apa pandangan profesor terhadap beberapa pesantren-pesantren yang terindikasi radikal sekarang ini?

Pondok pesantren seperti ini lebih menitikberatkan kepada kemampuan keilmuan yang terlihat dan terdengar. Pesantren seperti ini tidak mengedepankan prinsip Islam moderat dan tidak menghormati nilai-nilai keragaman budaya namun mengandalkan retorika berfikir serta kemampuan berbicara untuk mempengaruhi umat dengan pemahaman tekstualnya.

Mereka akan fasih baca Qur'an akan hafal Qur'an dan Hadits dan lain-lain. Piawai bahasa Arab  yang membuat takjub publik dan mengikuti ajarannya. Itu sama berbahayanya dengan teroris dan narkoba yang selama ini mengancam negara. Bahaya!

Pesantren radikal ini sangat mengganggu arah dan tujuan pendidikan negara yang termuat dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 yang berdasarkan Pancasila dan UUD1945. Dan tentunya jika ada satuan pendidikan baik informal maupun non formal yang merongrong Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi bangsa maka harus dibawa ke pengadilan.

Jadi apa langkah pemerintah selanjutnya?

Kalau ada bukti kuat harus dibubarkan. Dan ini salah satu tugas aparat inteligen untuk mencari bukti-bukti dan dokumen-dokumen mereka. Harus dilihat apa latar belakang pendirian dan pendirinya. Semua harus sadar bagaimana efek dan sepak terjang para lulusan ketika sudah keluar dari pesantren tersebut mereka sudah menguasai dasar-dasar ilmu agama dan dibekali dengan pemahaman radikal dan eksklusif.

Begitu mereka keluar dari lembaga pendidikan mereka sudah punya kemampuan dasar agama. Ketika menjadi pembicara ustadz di tengah-tengah publik luas mereka menggunakan bungkus-bungkus agama untuk menyerang ideologi kita.

Sudah saatnya pemerintah lebih fokus menata dan mensinkronkan lembaga pendidikan apa pun dengan undang-undang dan ideologi negara kita. Jika dulu pemerintah banyak memberikan kelonggaran dalam mendirikan pesantren karena memang pesantren merupakan lembaga informal serta tidak memimbulkan efek negatif, namun sekarang pemerintah harus hadir ikut menangani pesantren secara lebih intensif.

Sebenarnya bagaimana kondisi pesantren saat ini? Dan bagaimana masyarakat menyikapi pesantren yang radikal?

Kalau dulu pesantren identik dengan NU. Kalau sekarang nama pesantren dikemas dengan paham mereka dan dijual ke masyarakat. Kelompok ini justru sedang jualan. Identitas pesantren dimanfaatkan oleh mereka. Dengan istilah pesantren, bayangan masyarakat tentang mereka pasti baik. Padahal garis keras.

Fakta ini harusnya menjadi perhatian dan kehati-hatian masyarakat untuk memilih pesantren dengan baik. Tidak hanya melihat fasilitas dan namanya saja namun juga harus paham siapa yang mendirikan dan kurikulum apa yang diajarkan.

Level pesantren yang identik dengan NU dibajak oleh mereka, publik dikelabuhi masuk dalam jebakan mereka. Bahaya banget ini.

Saat ini perlu langkah sistematis dari pemerintah untuk menata kembali pesantren yang ada dengan tidak melanggar HAM dan undang-undang pendidikan nasional tetapi bisa mengembalikan pesantren yang menyejukkan tentunya dengan bukti-bukti kuat.

Apa contoh langkah pemerintah dalam ikut mengembalikan marwah pesantren kepada aslinya?

Pemerintah harus ikut mengarahkan melalui konten kurikulum semisal dengan memasukkan kitab-kitab moderat seperti Hikam, Ihya Ulumiddin. Semacam mata kuliah umum di perguruan tinggi. Jika pesantren tersebut menolak, ini bisa menjadi indikasi pesantren tersebut memiliki visi dan misi lain. Penolakan pesantren terhadap kurikulum moderat akan menjadi irisan terganggunya negara serta ideologinya.

Kita resah dengan radikalisme selama ini. Tenaga, fikiran dan anggaran negara kita habis untuk mengantisipasi kelompok yang selalu menggugat dasar negara ini. Kapan kita akan membangun sektor lain yang lebih bermanfaat?.

Ada benang merah dari penataan pesantren dan pembubaran pesantren radikal yaitu penumpasan terhadap teroris yang sampai dengan saat ini masih saja terjadi di Indonesia. Pesantren radikal sudah jelas  bagian dari masalah munculnya teroris secara sistemik selain hal-hal lain seperti gerakan dan ideologi transnasional yang demikian mudah berkembang akibat kemajuan teknologi informasi.

Ada pro dan kontra dimasyarakat yang menilai jika ada teroris sering dikaitkan dengan Islam. Apa pendapat profesor?

Perlu saya tegaskan yang teroris itu bukan Islamnya. Yang teroris adalah pelaku terornya  yang mungkin kebetulan beragama Islam. Sehingga saya mengajak masyarakat untuk dengan jernih melihat akar permasalahan dari terorisme. Tidak ada agama yang mengajarkan teror. Semua agama mengajarkan humanisme, saling menghormati dan saling mencintai. Tidak saling menyakiti.

Masyarakat harus sadar dan mengutuk sang pelaku teror yang membungkus tindakannya dengan nama agama. Perkembangan media sosial saat ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk mencari simpati dan dukungan atas tindakan terornya. Mereka mengajak masyarakat mendukung mereka dengan memelintir motif mereka.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG