IMG-LOGO
Nasional

Di Lereng Penanggungan, Shinta Nuriyah Ajak Perkuat Persaudaraan

Selasa 5 Juni 2018 23:10 WIB
Bagikan:
Di Lereng Penanggungan, Shinta Nuriyah Ajak Perkuat Persaudaraan
Pasuruan, NU Online
Ny. Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengajak masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan serta menguatkan tali persaudaraan sesama warga Indonesia.

"Kita memiliki perbedaan. Ada yang suku Jawa, Batak, Dayak, dan lainnya. Ada yang Agamanya Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Baha'i, dan banyak lagi. Tapi kita semua tinggal dimana? di Indonesiakan. Berarti kita Saudara," ungkap Istri almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat berceramah agama dan kebangsaan Sahur Keliling 2018 di Masjid Nurul Huda Dusun Wonosunyo Desa Wonosunyo, lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Pasuruan, Senin (4/6).

"Kalau kita bersaudara, pantaskah kita saling menghina? Pantaskah kita saling memfitnah? Pantaskah kita saling bermusuhan? Harusnya sebagai saudara, kita saling apa? Saling menghormati, saling manyanyangi, dan saling tolong menolong," pungkas perempuan yang tercatat sebagai 100 Tokoh berpengaruh di dunia versi Majalah Time tersebut.

Menurut Jauharul Lutfi, alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan mayoritas masyarakat Wonosunyo tergolong masyarakat bawah, yang menjadi sasaran kepesertaan di kegiatan Rutin Sahur Keliling Keluarga Ciganjur tersebut.

"Masyarakat yang ada di sini mayoritas adalah masyarakat bawah; masyarakat buruh tani dan buruh pabrik. Penting sekali untuk menyapa dan mengajak mereka merefleksikan kembali nilai-nilai persaudaraan dan persatuan bangsa," ujar Sekretaris IKAPMII Pasuruan tersebut.

"Semoga acara ini cukup efektif menjalin tali silaturahmi antar anak bangsa dan menjadi pengingat bahwa negeri ini ada karena persatuan di atas keberagaman", pungkas Pengurus Cabang GP Ansor Bangil tersebut.

Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan lintas agama di Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ditutup dengan pembagian paket bingkisan kepada masyarakat yang secara simbolis diserahkan oleh Ibu Shinta Nuriyah. (Makhfud Syawaludin/Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Selasa 5 Juni 2018 23:22 WIB
'Bangun Indonesia dari Pinggiran' Dapat Kepuasan Tertinggi dari Masyarakat
'Bangun Indonesia dari Pinggiran' Dapat Kepuasan Tertinggi dari Masyarakat
Jakarta, NU Online 
Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla memiliki sembilan program prioritas yang disebut Nawa Cita. Sembilan program ini untuk menunjukkan prioritas perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri salam bidang ekonomi, dan berkeperibadian dalam kebudayaan. 

Menurut Direktur Indo Barometer Muhammad Qodari, program Nawa Cita nomor tiga memiliki tingkat kepuasan paling tinggi dari masyarakat dibanding delapan program Nawa Cita lainnya. 

"Ternyata Nawa Cita nomor 3 lebih tinggi dibandingkan dengan Nawa Cita yang lainnya," kata Mohammad Qodari memaparkan hasil survei di Gedung Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Jakarta, Selasa (5/6).

Program Nawa Cita nomor tiga ialah membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. 

Adapun Kementerian yang menjadi ujung tombak dari Nawa Cita nomor tiga adalah Kementerian Desa dan PDTT. Namun demikian, kata Qodari, keberhasilan Nawa Cita nomor tiga tidak bisa dilepaskan dari peran Kementerian lain, seperti Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Indonesia. 

"Jadi selamat bahwa dalam konteks Nawa Cita, apresiasi yang paling tinggi itu diberikan kepada program nomor tiga," ucapnya. 

Selain Muhammad Qodari, hadir juga lima pembicara lain, yaitu Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, Akademisi UIN Yogyakarta Abdur Rozak, Ketua Komisi V Faris Djemy Francis, Wakil Pimpinan Redaksi Kompas Ninuk Mardiana Pambudy, dan Pengurus Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiah. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Selasa 5 Juni 2018 23:11 WIB
Pusat Studi Pesantren Kembangkan Penanggulangan Radikalisme
Pusat Studi Pesantren Kembangkan Penanggulangan Radikalisme
Jakarta, NU Online
Lembaga pendidikan klasik pesantren masih mempunyai peran strategis untuk menanggulangi paham-paham radikal, terutama kepada para generasi muda yang saat ini mudah terpapar konten-konten radikalisme di sejumlah platform media sosial.

Problem tersebut harus disikapi dengan tepat oleh para stakeholders pesantren dengan memproduksi narasi-narasi positif, baik dalam bentuk tulisan, infografis, maupun video. Bahkan, tahap memproduksi pun tidak cukup, sebab para santri dan pengelola pesantren harus mampu bagaimana menyebarluaskan dan mendistribusikan konten dengan baik.

Hal itu mengemuka ketika Pusat Studi Pesantren (PSP) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk menyiapkan kegiatan Halaqah Kiai dan Nyai, Selasa (5/6) di Jakarta. Halaqah yang akan diadakan untuk ketiga kalinya ini masih fokus membahas radikalisme sebab di Indonesia sendiri ruang-ruang penumbuhan paham radikal masih bergerak masif, terutama di lembaga-lembaga pendidikan.

Founder PSP Achmad Ubaidillah mengatakan, kiai dan nyai sebagai pihak yang mempunyai pengaruh besar atas pesantrennya saat ini harus didorong bukan hanya sekadar memiliki knowledge, tetapi juga harus menguasai keterampilan-keterampilan tertentu sesuai perkembangan zaman, seperti mampu memproduksi video, dan lain-lain.

“Saat ini, yang terpenting bukan hanya memiliki knowledge, tetapi juga skill. Langkah ini yang nanti kita dorong dalam halaqah nanti,” ujar Ubaidillah saat membuka kegiatan FGD.

Dalam pertemuan terbatas dengan menghadirkan beberapa expert ini, Ubaidillah akan memformat halaqah menjadi dua bagian, yaitu kelompok yang fokus memproduksi narasi-narasi dalam bentuk tulisan dan video.

Salah seorang pembicara, Irfan Abu Bakar menuturkan, beberapa survei yang diaksesnya menunjukkan bahwa tren radikalisme kerap menyasar para generasi muda. Meskipun jumlahanya masih 20 persen, angka ini hendaknya jangan dilihat dari sebagian kecilnya, tetapi pengaruhnya terhadap yang sebagian besarnya.

“Survei PPIM UIN Jakarta sendiri menunjukkan angka fifty-fifty antara generasi yang berhaluan moderat dan radikal. Tentu hal ini memunculkan kekhawatiran tersendiri sehingga narasi-narasi kontra radikalisme memerlukan pendekatan baru agar diterima generasi muda,” ujar Irfan.

Paham radikal, sambungnya, muncul dan terpeliharan melalui narasi-narasi keagamaan yang bersifat masif. Ia mengungkapkan bahwa kelompok konservatisme agama tersebut memunculkan sebuah narasi induk atau master of naration yang berasal langsung dari Al-Qur’an dan Hadits untuk melegitimasi narasi-narasi individual yang mereka terus reproduksi.

“Seperti seruan berjihad, berhijrah, khilafah, bom bunuh diri, dan lain-lain. Itu semua menggunakan narasi induk yang ada dalam Al-Qur’an, Hadits, dan sejarah Islam,” ucap Irfan yang juga menatakan, secara retorika, mereka juga telah terlatih agar si penerima informasi tertarik.



Sementara itu, seorang Sutradara Film Nurman Hakim yang juga dihadirkan sebagai expert menuturkan, fenomena sebagian umat Islam yang terinspirasi dari film-film yang cenderung menempilkan Islam secara simbolik, Islam yang dipahami hanya dipermukaan, dan hanya menampilkan Islam secara hitam putih, terlihat masif di tengah masyarakat.

“Film-film tersebut terlihat digemari oleh masyarakat kita saat ini. Dengan kata lain, mereka mengamini pesan-pesan yang ingin diajarkan dalam film-film tersebut,” ujar Nurman Hakim.

Mereka, sambungnya, seolah menemukan cermin diri mereka di dalam film-film semacam itu. Dan saat ini, film maupun video berdurasi pendek yang berisi pesan-pesan positif tentang Islam dibutuhkan agar narasi-narasi Islam tidak didominasi pemahaman-pemahaman Islam yang cenderung hitam putih dan dipahami hanya dipermukaan.

Selain itu, Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Banten KH Nurul Huda Ma’arif yang juga hadir sebagai expert mengatakan, saat ini para kiai, ulama, dan para ustadz harus menguasai "3R" dalam rangka menyampaikan Islam yang sejuk dan ramah.

“Tiga R ini ialah mimbar, lembar, dan layar,” jelasnya.

Mimbar ini penting diisi oleh para ulama yang mempunyai pemikiran dan pola dakwah yang menyejukkan dan menyatukan, tidak memecah belah.

Namun, kemampuan di mimbar ini harus dilengkapi dengan kemampuan seorang kiai atau ustadz untuk menuliskan pemikiran dan gagasan inklusifnya ke dalam bentuk tulisan. Upaya ini untuk mengisi media-media agar muncul narasi-narasi Islam yang ramah.

Begitu juga dengan layar, dalam hal ini pembentukan film dan video. Ia menuturkan bahwa ulama dan kiai di kampung-kampung itu tidak sedikit yang mempunyai kemampuan ceramah yang baik dan memiliki pemikiran yang moderat dan menyejukkan.

“Namun, mereka kurang terekspos layar sehingga skala dakwahnya kurang menyentuh orang banyak,” ucap Kiai Nurul.

Selain ketiga narasumber di atas, sejumlah narasumber atau expert lainnya dari berbagai latar belakang juga dihadirkan oleh PSP untuk melengkapi rancangan Halaqah Kiai dan Nyai ketiga tahun 2018. Kegiatan FGD ini dipandu oleh Founder alif.id Hamzah Sahal. (Fathoni)
Selasa 5 Juni 2018 19:45 WIB
Kemendes Adakan Silaturahim dan Buka Puasa Bersama
Kemendes Adakan Silaturahim dan Buka Puasa Bersama
Buka puasa bersama Kemdendes PDTT, Selasa (5/6),
Jakarta, NU Online 
Upaya mengukuhkan komitmen ikatan silaturahim di antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), tokoh dan penggiat desa untuk bersama-sama membangun desa menjadi perhatian pada acara Silaturahim dan Buka Puasa Bersama di Gedung Makarti Muktilima, Kemendesa PDTT, Jakarta Selatan, Selasa (5/6).

Hadir Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo, dan sejumlah pembicara seperti Direktur Indo Barometer Muhammad Qodari, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, akademisi UIN Yogyakarta Abdul Rozaki, Ketua Komisi V DPR RI Faris Djemy Francis, Ninuk Mardiana P, dan pengurus Lakpesdam PBNU Ulfi Ulfiah.

Sekretaris Jenderal Kementerian Desa PDTT Anwar Sanusi mengatakan bahwa dalam usia memasuki empat dalam mengemban amanat Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 ini, pihaknya mengaku telah melakukan banyak hal untuk meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan desa untuk masa depan. 

Menurutnya, keberhasilan dalam mendorong pembangunan desa tidak lepas dari peran penting para tokoh dan penggiat desa. "Kami tidak jadi apa-apa kalau tidak ada dukungan dari tokoh dan penggiat desa," katanya. 

Selama ini para penggiat desa adalah aktor yang menggerakkan seluruh komponen desa ini berjalan beriringan sehingga seluruh program yang ditawarkan pihaknya selalu mendapatkan sambutan positif dari masyarakat.

Namun demikian, pihaknya mengaku bahwa untuk mencapai keberhasilan yang maksimal, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. "Empat tahun belum seberapa untuk kita melihat desa yang mandiri," ucapnya.

Oleh karena itu, ia berharap diadakannya silaturahim ini bisa semakin meneguhkan komitmen bersama untuk terwujudnya desa yang maju, sejahtera, dan mandiri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG