::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jaga Generasi Muda NU dari Terpapar Paham Radikal di Kampus

Ahad, 10 Juni 2018 04:00 Daerah

Bagikan

Jaga Generasi Muda NU dari Terpapar Paham Radikal di Kampus
KH Munawir, Katib Syuriyah PCNU Pringsewu
Pringsewu, NU Online
Katib Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung KH Munawir mengingatkan warga NU untuk memberikan perhatian kepada amaliah ibadah putra-putrinya khususnya setelah mereka tinggal jauh dengan orang tua. Perhatian lebih harus diberikan kepada mereka yang sedang melanjutkan pendidikan baik sekolah maupun kuliah ke daerah perkotaan.

"Ingatkan para putra-putri kita untuk tetap istiqomah mengamalkan amaliah Ahlussunnah wal Jama'ah An Nahdliyyah di manapun berada. Jangan sampai sepulang dari sekolah atau kuliah memiliki amaliah berbeda dari orang tuanya," kata Kiai Munawir saat memberi taushiyah pada Safari Ramadhan PCNU Pringsewu di Masjid Baiturrahim Pujodadi, Kecamatan Pardasuka, Sabtu (9/6).

Ia mengingatkan bahwa saat ini berbagai macam paham Islam transnasional yang radikal dari sisi pemikiran maupun amaliah tumbuh subur di perguruan tinggi di daerah perkotaan. Paham tekstualis ini berkembang lebih subur di perguruan tinggi umum dari pada perguruan tinggi agama karena kurang dan sempitnya pemahaman atas ajaran agama Islam.

"Perhatikan anak-anak kita. Jangan sampai pulang kuliah, pakaian, cara dan gaya shalat sudah mulai berubah. Ini bisa jadi tanda-tanda kalau orang tua meninggal tidak akan ditahlili. Karena aliran ini gampang menyalahkan pendapat dan mengkafirkan orang lain biarpun itu orang tua sendiri. Naudzubillah min dzalik," ungkapnya.

Oleh karenanya sebagai organisasi yang menjaga amaliah Aswaja, NU harus terus diwariskan kepada para generasi muda melalui memperkenalkan mereka dengan IPNU, Ansor, KMNU yang merupakan organisasi dan badan otonom NU.

"Minimal saat ditanya kenal IPNU nggak? Kenal Ansor nggak? Mereka tahu bahwa organisasi tersebut adalah badan otonom NU dan menjadi tempat yang tepat bagi mereka untuk berorganisasi. Jangan berkiprah di organisasi yang melakukan kajian secara eksklusif dan tertutup dengan menyebarkan paham radikal," lanjutnya.

Jika kesadaran ini dimiliki oleh para orang tua khususnya warga NU maka ia optimis 20 tahun kedepan dan seterusnya, para generasi penerus NU akan tetap mampu mengawal amaliah Aswaja melalui Jam'iyyah NU.

"Mari jaga anak-anak dan keluarga kita dari terpapar paham dan aliran baru yang tidak sama dengan apa yang kita amalkan saat ini. NU akan tetap eksis jika kita terus mewariskan amaliah Aswaja kepada mereka," pungkasnya. (Muhammad Faizin)