IMG-LOGO
Humor

Pemandu Mudik Bareng

Ahad 10 Juni 2018 9:45 WIB
Bagikan:
Pemandu Mudik Bareng
Tahun 2018 adalah tahun kedelapan NU menyelenggarakan program mudik gratis. Kegiatan yang diberi tagline Mudik Berkah Bareng NU ini setidaknya menjaring 3.000 pemudik tiap tahunnya.

Pada momen Mudik Berkah Bareng NU 2018, tepat pukul 14.15 WIB, Pak Dede, sopir asli Leuwimunding, Majalengka itu memacu gasnya. Ia memegang kemudi bus jurusan Bumiayu dan Purwokerto.

Beberapa gelinding roda berputar, Mas Ali, sang navigator, orang Prupuk, Tegal memandu perjalanan sekitar 57 orang dalam bus tersebut. Bahkan dia memimpin berdoa. Doa perjalanan yang dia ucapkan:

"Subhaanal ladzii sakhkhara lanaa haadzaa, wamaa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun”

Kami penumpang mengikuti dan mengamini. Di akhir 'sambutan'-nya Mas Ali berkata, "Bagi bapak dan ibu yang mempunyai penyakit HIP, mohon segera beritahu kami."

"Hah...?" peserta mudik pada mlongo.

"Maksud saya penyakit Hasrat Ingin Pipis (HIP)," seloroh Mas Ali diikuti geerrrr seluruh penumpang. Pak Aceng, kru bus lainnya hanya pringisan. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Kamis 31 Mei 2018 17:15 WIB
Saat Kiai Kampung Bangga Punya ‘Eternit’
Saat Kiai Kampung Bangga Punya ‘Eternit’
Perubahan zaman kadang harus segera mendapat respon cepat, terkadang juga harus tetap disikapi dengan bijak dan tenang. Di dalam NU sendiri, Gus Dur sebagai sosok yang pemikirannya melampui zamannya menilai, kadang orang NU mengingingkan perubahan yang cepat di tubuh organisasi sehingga kadang menimbulkan orang lain bingung.

Gus Dur mengisahkan, pernah didatangi seorang kiai kampung dari Pulau Madura. Konon kiai tersebut merupakan Rais Syuriyah MWCNU yang ingin menginformasikan kemajuan NU di kecamatannya.

“Alhamdulillah Gus, sekarang MWCNU di tempat saya sudah punya kantor sendiri,” kata sang tamu.
“Wah, Alhamdulillah, Yai,” ucap Gus Dur ikut gembira.

“Tapi ini masih ada masalah, Gus,” kata Pak Kiai dengan logat Madura Pedalungan yang kental.
“Loh, masih ada masalah apa lagi, Yai?” tanya Gus Dur.

“Ya itu soal pembayaran ‘eternit’-nya. Mahal Gus. Kalau kantor Cuma nyewa sejuta setahun, lha ini ‘eternit’-nya sampai seratus ribu sebulan,” jelas Pak Kiai.

“Kok bisa Kiai? Eternit kan termasuk rumah, masak pake mbayar sendiri,” kata Gus Dur bingung. (Eternit, bahan bangunan yang terbuat dari campuran asbes halus dan semen)

“Itu lho Gus, yang dipakai cari informasi di komputer itu, kan ‘eternit’ yang sewanya mahal,” ucap kiai.

“Oohh... Masya Allah, maksud panjenengan internet toh...” kata Gus Dur sambil ngakak. (Ahmad)
Rabu 30 Mei 2018 13:30 WIB
Awal Cerita Gus Dur Singgung 3 Polisi Terjujur di Indonesia
Awal Cerita Gus Dur Singgung 3 Polisi Terjujur di Indonesia
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan Presiden RI pertama yang menjadikan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai lembaga independen yang diletakkan di bawah Presiden langsung.

Di era sebelumnya, yaitu Orde Baru (Orba), kewenangan Polri di bawah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal ini menjadikan Polri sebagai aparat keamanan dalam negeri diatur dengan cara tentara sehingga kerap menimbulkan kontradiksi.

Perbincangan terkait institusi Polri berawal dari lontaran Muhammad AS Hikam yang pada 2008 silam sowan ke kediaman Gus Dur. Kala itu ada Pak Rozi Munir juga yang sedang jagongan santai di rumah Gus Dur.

Obrolan diawali kegelisahan tokoh-tokoh bangsa tersebut melihat fenomena maraknya praktik korupsi di lintas institusi negara, perbankan, termasuk Polri. Padahal, institusi-institusi negara bertugas tidak lain melayani seluruh elemen warga negara. Praktik korupsi ini tentu tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menyengsarakan warga negara.


Museum Polri Jakarta. (Dok. Kompasiana)

AS Hikam memberikan gambaran bahwa mega-korupsi BLBI dan Bank Century yang melibatkan pihak-pihak tertentu merupakan kasus yang penangannya tidak jelas hingga kini. Padahal uang rakyat telah raib ratusan triliun (Rp600 triliun untuk kasus BLBI dan RP6,7 triliun untuk kasus Bank Century).

Di hadapan Gus Dur, AS Hikam berucap: “Kasus yang melibatkan Polri ini apakah saking sudah kacaunya lembaga itu atau gimana ya Gus. Kan dulu panjenengan yang mula-mula menjadikan Polri independen dan diletakkan langsung di bawah Presiden?”

“Gini loh, Kang,” Gus Dur mengawali perkataannya.

“Polri kan sebelumnya di bawah TNI dan itu tidak bener. Mosok aparat keamanan dalam negeri dan sipil kok diatur oleh dan dengan cara tentara. Tapi kan memang begitu maunya Pak Harto dan TNI supaya bisa menggunakan Polri untuk mengawasi rakyat. Setelah reformasi ya harus diubah, maka Polri dibuat independen dan untuk sementara supaya proses pemberdayaan terjadi dengan cepat di bawah Presiden langsung. Nantinya ya di bawah salah satu kementerian saja, apakah Kehakiman seperti di AS atau Kementerian Dalam Negeri seperti di Rusia, dan lain-lain. Nah, Polri memang sudah lama menjadi praktik kurang bener itu, sampai guyonan-nya kan hanya ada tiga polisi yang jujur: Pak Hoegeng (Kapolri 1968-1971), patung polisi, dan polisi tidur... hehehe...,” urai Gus Dur panjang lebar. Pak Rozi dan AS Hikam tertawa ngakak. (Fathoni)

*) Disarikan dari buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam (2013)
Senin 28 Mei 2018 16:0 WIB
Orang Tak Berpuasa Terlihat dari Betisnya
Orang Tak Berpuasa Terlihat dari Betisnya
Ilustrasi (via Pinterest)
Selepas buka puasa bersama pada sebuah acara, seorang kiai bertanya kepada Banser yang bernama Jalu. Obrolan itu didengarkan juga oleh teman-temannya Jalu yang juga Banser.

“Jalu, kamu kan sering bertemu dengan banyak orang, dan sering pergi ke pasar...” kata kiai. 

“Iya, Kiai, ada yang bisa dibantu?” 

“Di bulan puasa seperti ini, sebagai seorang Banser yang tajam pencimuannya, bagaimana caranya kamu membedakan orang yang puasa sama orang yang tidak puasa?”

“Dari gaya jalannya, kiai. Biasanya kelihatan lunglai,” katanya. 

“Bukan!  Kamu Banser kalau puasa emang kalau berjalan kelihatan lunglai? ”

Banser terdiam. Tapi dia menjawab dengan pertanyaan berbeda. 

“Dari, perutnya, kiai. Kalau gembrot, berarti tida puasa!”

“Ngawur. Banyak orang gembrot yang puasa.”

“Gimana dong, Kiai?”

“Nyerah?”

“Iya.”

“Dari betisnya.”

“Kok, bisa?”

“Karena, orang yang tidak puasa, kalau makan di warteg cuma kelhiatan betisnya doang. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG