IMG-LOGO
Wawancara

Transkrip Lengkap Dialog Gus Yahya di Israel

Selasa 12 Juni 2018 9:15 WIB
Bagikan:
Transkrip Lengkap Dialog Gus Yahya di Israel
Gus Yahya dan David Rosen (AJC Global)
Kehadiran Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam kegiatan yang digelar American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem menuai polemik. Tidak sedikit yang menyayangkan, namun banyak pula yang mendukung sebab bagian dari upaya diplomasi damai untuk meredam konflik Palestina dan Israel.

Pada hari pertama pembukaan kegiatan, Ahad (10/6) waktu setempat, Forum Global Yahudi Amerika tersebut menyelenggarakan dialog dengan Gus Yahya. Forum dialog yang dimoderatori oleh Rabi David Rosen (AJC International Director of Interreligious Affairs) ini dihadiri 2.400 orang.

Berikut transkrip lengkap dialog Forum Global AJC dengan Gus Yahya yang dikirimkan Alma Ashfiya (santri asal Yogyakarta) kepada NU Online. Transkrip ini diterjemahkan oleh Gus Zaim Cholil Mumtaz (Pengurus PP GP Ansor Departemen Hubungan Luar Negeri). Sumber video dari akun Youtube AJC Global berdurasi 14.35:

David Rosen: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, Presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak 3 kali. Lalu Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda?

Gus Yahya: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya dan rekan-rekan saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

David Rosen: Tapi ini bukan sekadar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikasi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

Gus Yahya: Idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut. Dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung. Sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu dimana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

David Rosen: Dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini?

Gus Yahya: Hubungan antara Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri. Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama baik Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Dan kedua menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

David Rosen: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Al-Qur'an dan Hadits sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

Gus Yahya: Bukan hanya “mungkin”, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Al-Qur'an diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Alquran dan hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

David Rosen: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini?

Gus Yahya: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan. Tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam. Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi dimana konflik terjadi di seluruh dunia. Dan di dalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik. Sekarang saatnya kita bertanya, apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?

Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: tidak ada yang bisa bertahan hidup di dalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan. Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, “Apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?”

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora “obat macam apapun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau mengubah gaya hidupnya”. Salah satu ayat dalam Alquran juga menyebutkan “innallaha la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”. Yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula, dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan. Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai Rahmah. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Kita “harus” memilih Rahmah, karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih Rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki Rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain. Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih Rahmah”.

David Rosen: Konsep Rahman dan Rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterima kasih banyak atas seruan Anda untuk memilih Rahmah. Dan kami harap Anda mampu menjadi inspirasi bagi Muslim di seluruh dunia. Dan kita harap kita bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati. (*)
Bagikan:
Selasa 5 Juni 2018 10:15 WIB
Tantangan Para Pengusaha Nahdliyin
Tantangan Para Pengusaha Nahdliyin
Ketum PP HPN Abdul Kholik
Nahdlatul Ulama didirikan salah satu embrionya ialah atas dasar pendirian Nahdlatut Tujjar (kebangkitan perdagangan, ekonomi) oleh KH Abdul Wahab Chasbullah pada 1918. Pendirian perkumpulan para saudagar dari kalangan pesantren ini menunjukkan bahwa para kiai memperhatikan prinsip kemandirian.

Prinsip kemandirian dari sisi ekonomi tersebut menghadapi tantangan yang tidak mudah di era teknologi digital seperti sekarang, khususnya bagi para pengusaha NU yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Nahdliyin dan warga NU secara keseluruhan.

Untuk mengurai dan mengungkapkan sejumlah tantangan ekonomi bagi para pengusaha Nahdliyin dan dinamika ekonomi modern yang dihadapi oleh warga NU, jurnalis NU Online Fathoni Ahmad melakukan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik pada Senin (4/6) di Jakarta. Berikut hasil wawancara tersebut:

Kelemahan sekaligus tantangan seperti apa yang saat ini dihadapi oleh para pengusaha Nahdliyin?

Kelemahan pengusaha NU itu cuma, dan saya pikir bukan cuma pengusaha tetapi Nahdliyin pada umunya yaitu konsolidasi. Arrtinya, kita ini sering dipandang oleh orang luar mempunyai masa yang besar tetapi tidak terkonsolidasi dengan baik. Yang maksud tidak terkonsolidasi dengan baik ialah kalau seandainya Nahdliyin ini dapat dikomando untuk segala urusan, misal ayo kita beli beras dari toko A, dan semua nurut, wah itu akan jadi pasar yang dahsyat itu.

Kalau hal itu bisa kita tunjukkan, maka massa kita sangat powerfull dari sisi ekonomi dan pasar untuk bargain position untuk produsen atau bisnis. Begitu juga dengan pengusahanya. Tidak terkonsolidasi dengan baik, masing-masing bergerak sebdiri. Pernah dalam suatu pertemuan, ada yang tunjuk jari, Pak saya butuh sapi, ternyata dalam forum itu ada juga pengusaha sapi. Itu kan lucu.

Artinya?

Artinya, kalau pengusaha Nahdliyin dan warga NU ini terkonsolidasi dengan baik, kita tidak perlu orang luar. Contoh yang paling riil beras. Beras itu misalnya dari Karawang yang melakukan penanaman atau produsennya adalah petani Nahdliyin. Tetapi kemudian berasnya dijual ke Jakarta. Di Jakarta belum tentu ketemunya orang Nahdliyin, bisa saja pengusaha Tionghoa.

Kita yang di kota belum tentu beli berasnya di Karawang, tetapi belinya di Indomaret, Alfamart atau dari supermarket-supermarket yang lain. Jadi segi tiganya dari petani Nahdliyin lalu ke atas dulu ke non-Nahdliyin baru ke bawah lagi ke Nahdliyin. Dan yang menikmati rantai ekonomi itu yang jadi perantar ini. Petaninya nggak bisa banyak menikmati oleh konsumen yang tidak lain adalah Nahdliyin sendiri.

Coba kalau kita by pass sekarang, tanpa melalui pasar induk misalkan. Dari petani Nahdliyin langsung ke konsumen Nahdliyin. Maka benefit-nya ada dua tuh. Produsen Nahdliyin dapat benefit harga yang lebih baik, konsumen Nahdliyin juga memperoleh harga yang lebih baik. Jadi konektivitas antara pengusaha dan kaum Nahdliyin ini sangat penting.

Agar terkonsolidasi dengan baik, langkah di HPN seperti apa?

Sebab itu, di HPN sendiri sudah melakukan pendataan database para pengusaha NU. Tetapi data base tersebut didasarkan kepada kebutuhan khalayak atau anggota HPN. Sehingga yang ada kesadaran anggota untuk membesarkan organisasi karena telah sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebagai pengusaha, konsep itu penting, tetapi praktik jauh lebih penting sehingga gerakan-gerakan maupun-maupun proyeksi-proyeksi HPN ke depan akan terus berorientasi pada praktik-praktik ekonomi maupun melakukan pemberdayaan langsung kepada masyarakat.

Apa yang seharusnya dilakukan agar para pengusaha Nahdliyin bisa berkiprah di pasar global?

Pada dasarnya membangun jejaring, tidak hanya domestik, tetapi juga internasional. Karena harapan kita tidak hanya misal jadi pemain RT, tetapi juga pemain nasional dan pemain internasional. 

Karena selama ini yang banyak muncul kan pemain domestik, padahal orang NU juga banyak mampu bermain di level internasional. Contoh lain yang sederhana misalnya banyak pengusaha-pengusaha konglomerat itu kan melakukan investasi bekerja sama dengan perbankan internasional maupun pengusaha internasional.

Itu kalau kita paham prinsipnya dan tahu network-nya, itu bukan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh para pengusaha NU, wabil khusus para pengusaha di Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN).

Ini penting, sebab selain membangun jejaring internasional, langkah ini juga dalam rangka membangun confident atau keyakinan dan kepercayaan bahwa, pengausaha NU juga banyak loh yang sudah banyak berkiprah di level global, contohnya Mas Nurul Huda (Duta HPN untuk Eropa).

Bagaimana agar para pengusaha NU bisa mengakses pasar internasional?

Saat ini pengusaha kita yang sudah melakukan ekspor sangat banyak, baik produk sumber daya alam maupun produk manufaktur. Perusahaan manufaktur banyak di Karawang, lalu perusahaan saya di bidang listrik pernah ekspor ke Australia, ke Pacific Island. Perusahaan-perusahaan rotan apalagi, memang pasar mereka kan pasar internasional.

Perusahaan-perusahaan meubelair pada umumnya. Mereka harus sering melakukan exhibition atau pameran internasional. Jadi itu yang punya produk berorientasi ekspor. Kalau produk yang berorientasi impor juga harus kita galang, seperti Hong Kong sangat strategis. Karena Hong Kong dekat dengan Cina daratan. Jadi kalau ke pusat industrinya Cina, seperti daerah Xen Chen, Ghuangzou, itu penting bagi para pengusaha NU yang berkunjung ke sana.

Artinya tidak hanya bertujuan jalan-jalan?

Ya betul. Jadi ketika ke Cina tidak hanya melakukan wisata di tembok raksasa, tetapi juga melihat peluang bisnisnya. Di Xen Chen dan Ghuangzou itu banyak sekali pameran-pameran produk Cina di mana konsumennya di Indonesia itu banyak. Yang sekarang itu banyak diakses oleh pengusaha Tionghoa. Sehingga mereka berjualan barang dengan murah dibanding dengan orang lain.

Jadi kalau pedagang kita, baik grosir maupun distributor dan pedagang NU yang mau ikut bersaing dengan mereka, ya harus bisa mengakses barang yang harganya kompetitif, langsung ke sumbernya. Misal kan nih pengusaha elektronik di Kudus, tapi dia Cuma belanjanya ke Glodok, Jakarta Barat, ya pasti kalah, karena pengusaha yang dari Kudus sudah banyak yang ke Xen Chen, Ghuangzou. Jadi itu penting ya, tidak hanya bagi pengusaha yang berorientasi ekspor, tetapi juga impor atau yang mencari partner, mencari distributor, mencari investor dari luar. Itu dari aspek network ya dan menumbuhkan confident bagi para pengusaha NU.

Menghadapi era perkembangan teknologi digital, bagaimana seharusnya para pengusaha NU menyikapinya?

Dari kacamata sains dan teknologi, di mana sains dan teknologi itu berpengaruh besar terhadap keberhasilan bisnis yang berkarakter Hi Tech, kiblat pada Eropa dan Amerika itu penting. Kita perlu meng-update akses-akses atau progres-progres teknologi yang mereka miliki sehingga kita tidak ketinggalan informasi.

Saya sendiri misalnya di bidang tenaga surya, itu paling tidak mengunjungi pameran di Eropa dua tahun sekali, ke Amerika juga dua tahun sekali. Itu bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk meng-update produk terbaru maupun teknologi terbaru. Dan itu sudah saya jalani selama 10 tahun. Karena kiblat-kiblat industri saya itu ada tiga, Amerika, Eropa, dan Jepang.

Tiga negara itu saya gantian selalu kunjungi, lihat pameran-pameran, perkembangan teknologi kaya gimana, produk-produk solution yang terbaru juga seperti apa. Sehingga ketika kita di sini berkompetisi dengan pemain asing, atau dengan pemain lokal sekalipun, kita tidak kalah. Kita punya wawasan dan punya understanding yang baik tentang teknologi terkini. Jadi itulah pentingnya Mas Nurul Huda sebagai Duta HPN untuk Eropa.

Kita itu di sini banyak yang pegang keagenan produk dari Eropa, dari Cina dan itu berpengaruh terhadap keberhasilan mereka dalam berbisnis. Jadi jaringan ke luar negeri tidak hanya dilihat dari kacamata jalan-jalannya, tetapi juga dilihat dari kiblat teknologi maupun produk-produk terkini, kita perlu mencontoh kepada mereka.

Terkahir, terkait pengangkatan Duta HPN untuk Eropa?

Di Eropa pertumbuhan orang Islamnya bagus, begitu juga dengan Amerika. Seperti di Amerika, yang banyak mengakses itu orang Islam dari India dan Bangladesh. Jadi misalkan Lebaran ke Amerika, kalau nggak ke masjidnya orang India, pasti ke masjidnya orang Bangladesh. Masjidnya orang Indonesia belum ada tuh. Baru ada di New York, itu juga baru imam saja, he he he...

Jadi selain membentuk Duta HPN untuk Eropa, Amerika menjadi next target. Kalau Jepang nanti langsung dibentuk PCP HPN. Kalau yang skupnya masih negara kita bentuk PCP, tetapi kalau skupnya region kita pakai pendekatan Duta. Seperti di Afrika nanti kemungkinan kita Duta dulu. (*)
Senin 4 Juni 2018 22:17 WIB
Keunggulan Pengangkatan Duta HPN
Keunggulan Pengangkatan Duta HPN
Ketua PP HPN Dripa Sjabana
Pengangkatan Duta atau Ambassador oleh Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) untuk wilayah Eropa merupakan pendekatan yang sangat dibutuhkan, selain HPN mengangkat langsung seorang Ketua Pengurus Cabang Perwakilan (PCP) HPN di sebuah negara. Karena Duta bisa langsung bergerak cepat tanpa harus memiliki anggota terlebih dahulu.

Keterangan tersebut disampaikan oleh salah seorang Ketua Pengurus Pusat HPN Dripa Sjabana. Dia menegaskan bahwa HPN melakukan dua pendekatan, yakni mengangkat langsung Ketua PCP HPN. Itu sudah dilakukan di Inggris dan Hong Kong, serta mengangkat seorang Duta.

Bagaimana peran, fungsi, dan keunggulang seorang Duta untuk memperluas jaringan pengusaha Nahdliyin di level internasional? Berikut wawancara jurnalis NU Online Fathoni Ahmad bersama Dripa Sjabana, Senin (4/6) di Jakarta:

Bisa diterangkan mengenai pengangkatan seorang Duta HPN yang pertama kali dilakukan HPN untuk wilayah Eropa?

Pengangkatan ini untuk yang pertama kali di Eropa. Ini akan sangat efektif karena Nurul Huda (Duta HPN untuk Eropa) siap sedia di sana. Dia akan ke Jerman selama dua bulan sekali. 

Dari Jerman ke negara-negara lainnya di Eropa relatif tidak terlalu jauh. Misal dari Jerman ke Spanyol hanya 2 jam perjalanan udara. Begitu juga dengan negara lainnya yang juga dapat ditempuh dengan perjalanan udara maupun darat.

Ya relatif lebih dekat ketimbang dari Jakarta ke Papua. Apalagi moda transportasi di Eropa sangat memadai sehingga bisa di-cover sekaligus.

Seperti apakah tugas-tugas seorang Duta HPN?

Pengangkatan seorang Duta ini sebab mempunyai tugas khusus di sebuah region yang terdiri dari beberapa negara. Pembentukan PCP HPN maupun Duta HPN merupakan upaya menyinergikan program-program penghimpunan pengusaha dan pemberdayaan ekonomi. Artinya, sinergi tidak hanya dilakukan di dalam negeri tetapi juga di luar negeri di mana HPN berada.

Pengangkatan Duta HPN ini tidak menutup kemungkinan buka di region-region lain seperti Afrika, Asia, Timur Tengah, dan lain-lain.

Begitu juga di wilayah Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Hong Kong, Korea, dan lain-lain. Ini seiring dengan tujuan bahwa HPN mempunyai misi menjadi Kadinnya warga NU dan Kadinnya umat Islam atau Islamic Chambers atau Nahdliyin Chambers.

Apa keunggulan Duta HPN dalam mewujudkan tujuan organisasi?

Ada keunggulannya Duta HPN, jika di sebuah negara tidak ada warga NU di situ. Tidak ada nahdliyin berarti tidak ada Pengusaha Nahdliyin kan? Lalu kita mau berinteraksi dengan negara itu, tidak bisa PCP HPN kan? Tetapi kalau Duta bisa.

PCP HPN kan harus punya anggota, kalau Duta belum punya anggota tetapi sudah bisa masuk untuk berinteraksi dengan para pengusaha di luar negeri dan para Muslim di sana. Kan kita ingat setelah ukhuwah Nahdliyyah, ada ukhuwah Islamiyah, ukhuwah watahoniyah, dan ukhuwah basyariyah. Dengan konsep tersebut, Nahdliyin lebih mudah berinteraksi dengan siapa pun.

Maksud dibentuknya Duta HPN secara spesifik?

Maksud dibentuknya HPN itu memang untuk menghimpun. Artinya membentuk jaringan, yang lain nanti mengikuti, justru yang nomor satu menghimpun. Dan saat ini kita tidak hanya menghimpun, yang lain contoh HPN telah menghimpun anggotanya ke dalam grup sesuai dengan sektor bisnis masing-masing.

Di situ yang terjadi bukan hanya menjaring, tetapi juga sudah terjadi sebuah transaksi bisnis per sektoral dan saling sinergi. Karena kalau sudah per sektoral dari hulu sampai hilirnya masuk. Seperti sektor pariwisata dan industri kreatif, sektor perdagangan, sektor industri keuangan, sektor kuliner, dan lain sebagainya.

Dua yang sudah kita luncurkan dan langsung ramai, yaitu profesional bisnis dan profesional hukum bisnis. Jadi profesional yang berkaitan dengan bisnis, contohnya accounting, akuntan, sedangkan hukum bisnis contohnya notaris, karena setiap transaksi membutuhkan notaris.

Dari tawaran tersebut, para anggota yang terhimpun dalam HPN sangat antusias sehingga meminta sesi khusus, di mana setiap profesional yang dimiliki HPN bisa mengisi di grup lain. Ini membuktikan bahwa HPN tidak hanya berhasil menghimpun, tetapi juga sudah terjadi interaksi dan fungsi.

Seperti apakah langkah-langkah strategis Duta HPN untuk memperluas jaringan pengusaha NU di dunia internasional?

Pengangkatan Duta HPN untuk Eropa yang bisa membawahi negara-negara di Eropa ini merupakan akselerasi proses.

Tugas pokok dan wewenangnya berbeda dengan Ketua PCP HPN. Kalau Ketua PCP bisa langsung mengoordinir para pengusaha sekaligus merekrut. Sedangkan Duta HPN mewakili HPN Pusat untuk melakukan koordinasi, silaturrahim, dan konsolidasi dengan berbagai elemen pengusaha.

Tidak hanya yang NU, tidak hanya yang Indonesia, tetapi juga asing. Alhamdulillah untuk Eropa sudah ketemu, yaitu Mas Huda.

Koordinasi Duta HPN seperti apa dan dengan siapa saja?

Sebagai Duta HPN, Nurul Huda nantinya berkoordinasi dengan kadin-kadin, kedutaan besar, PCINU, dan dengan duta-duta besar negara-negara Eropa di Indonesia. Tujuannya tidak hanya mengoordinasi pengusaha Indonesia di Eropa untuk berjejaring melakukan ekspor maupun impor, tetapi juga pihak-pihak yang ada di Eropa, baik pengusaha maupun lembaga-lembaga terkait.

Selain berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, tugas seorang Duta HPN juga menginisiasi terbentuknya PCP-PCP HPN di setiap negara di mana Duta itu berada.

Dia mengatakan bahwa peran seorang Duta ini sangat efektif karena geraknya tidak terbatas meski tetap di bawah koordinasi langsung dengan HPN Pusat. Misal ketika Uni Eropa mengadakan pertemuan para pengusaha, HPN bisa mengirimkan Dutanya sebagai perwakilan pengusaha NU untuk Eropa. (*)
Senin 21 Mei 2018 20:30 WIB
Dekan Fakultas Budaya dan Media ISBI: Seni untuk Tangkal Radikalisme
Dekan Fakultas Budaya dan Media ISBI: Seni untuk Tangkal Radikalisme
Dr. Deni Hermawan, MA., Dekan Fakultas Budaya dan Media Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung
Menangkal radikalisme melalui kampus menjadi kerja besar Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Sejumlah riset mutakhir membuktikan bahwa mahasiswa yang terpapar oleh pemahaman radikal semakin meningkat jumlahnya. Upaya deradikalisasi itu tampaknya masih berfokus pada persoalan pendidikan agama, baik yang formal dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) maupun yang non-formal yang berafiliasi pada Ormas atau partai Islam.  

Salah satu aspek yang belum banyak disinggung dalam upaya deradikalisai di kampus adalah medium kesenian. Kelompok radikal secara umum tidak menyukai kesenian, apalagi yang bersifat lokal. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kampus-kampus seni di Indonesia paling minimal terpapar paham radikal. Bagaimana sesungguhnya peluang kesenian dalam menangkal faham radikal?  

Berikut petikan wawancara dengan Dr. Deni Hermawan, MA., Dekan Fakultas Budaya dan Media Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dengan Iip D. Yahya dari NU Online.

Mengapa seni punya konotasi halus dan mendalam berlawanan dengan kasar dan serampangan?

Seni merupakan ungkapan perasaan manusia yang memiliki nilai keindahan. Keindahan di sini sangalah relatif, dan sekaligus subjektif, bergantung pada “siapa” yang menilainya. Dalam menilai suatu karya seni, latar belakang keilmuan dan kualitas pemahaman terhadap estetika (nilai-nilai keindahan) sangat memengaruhi cara penilaian seseorang terhadap karya seni tersebut.  Ada satu karya seni yang dipandang indah karena memang secara visual terlihat indah, tetapi ada juga satu karya seni yang dipandang indah walaupun secara visual tidak terlihat indah, bahkan mungkin menjijikan atau mengerikan. Dengan demikian, kata indah memiliki pengertian yang lebih luas, tidak sekadar indah dalam pengertian cantik atau elok  secara visual, tetapi juga indah dalam arti menyenangkan, memuaskan, mengagumkan, dan menakjubkan.

Sebagai ungkapan perasaan, seni memiliki kaitan yang sangat erat dengan perasaan, bahkan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seni merupakan wujud simbolik dari perasaan. Sementara itu, perasaan memiliki berbagai sifat dikotomis, seperti halus-kasar, suka-duka, gembira-sedih, bahagia-menderita.  

Kata ‘indah’ yang melekat pada seni inilah yang membuat kecenderungan seni memiliki konotasi halus, tidak kasar, dan mendalam, tidak serampangan. Dikatakan mendalam karena suatu karya seni yang memiliki nilai keindahan, misalnya, merupakan hasil renungan dan curahan perasaan yang mendalam, yang bersumber dari lubuk hati, dari perasaan yang paling dalam, bukan perasaan yang biasa-biasa saja atau perasaan “serampangan”. Oleh karena itu, wajarlah apabila seni yang identik dengan hati, perasaan, dan keindahan dianggap memiliki konotasi halus dan mendalam, tidak kasar dan serampangan.              

Mengapa seni bisa memperhalus yang kasar dan mendalamkan yang serampangan itu?

Seni memiliki kemampuan untuk memperhalus yang kasar dan mendalamkan yang serampangan karena seni memiliki nilai keindahan. Kata ‘indah’ memiliki dua pengertian, yaitu pengertian sempit dan pengertian luas. Secara sempit, dalam arti estetis, indah diartikan sebagai cantik atau elok secara visual (bedasarkan pandangan) dan enak secara auditif (berdasarkan pendengaran). Secara luas, indah diartikan sebagai perasaan lebih mendalam yang berhubungan dengan nilai-nilai spiritual, moral, dan agama. Indah dapat diartikan sebagai kebaikan.

Nilai-nilai spiritual, moral, agama, dan kebaikan yang terkandung dalam seni itu sangat dekat atau bahkan identik dengan sifat halus (tidak kasar) dan mendalam (tidak dangkal). Jadi, nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan seni untuk mampu memperhalus yang kasar dan mendalamkan yang serampangan. Sikap dan perilaku yang kasar akan menjadi halus ketika bersentuhan dengan seni karena seni mengandung nilai keindahan sebagai ekspresi dari perasaan yang halus; pemikiran, sikap, dan perilaku yang serampangan akan menjadi mendalam ketika bersentuhan dengan seni karena seni mengandung nilai-nilai spiritual, moral, agama, dan kebaikan yang merupakan ekspresi dari perenungan mendalam.  

Radikalisme identik dengan kekerasan, apakah seni bisa juga memperhalusnya sehingga setidaknya dapat mengurangi radikalisme?

Seni mengandung nilai-nilai spiritual, moral, agama, dan kebaikan. Nilai-nilai spiritual dan agama dalam seni dapat dilihat dari fungsi seni itu sendiri. Dulu, pada awal-awal kemunculannya, bentuk-bentuk seni pada umumnya, khususnya seni musik dan seni tari, difungsikan sebagai media penghubung antara manusia dan Yang Mahakuasa yang dianggap sebagai Tuhan yang memelihara kehidupan manusia. Di kalangan bangsa Yunani, pada 1100 SM, bangsa Yunani menganggap seni berasal dari dewa-dewa. Dewa dan pelindung kesenian adalah Apollo dengan 9 dewi kesenian, antara lain Terpsichore sebagai dewi seni tari dan  Polyhimnia sebagai dewi seni musik. Seni (seni musik) difungsikan sebagai sarana pemujaan terhadap dewa-dewa mereka. 

Di kalangan bangsa India yang beragama Hindu, musik digambarkan sebagai salah satu jalan tercepat menuju persembahan (keimanan) kepada Tuhan.  Mereka beranggapan bahwa memuja nada (musik) identik dengan memuja Dewa Brahma (Pencipta alam semesta), Dewa Wisnu (Pemelihara alam semesta), dan Dewa Siwa (Perusak alam semesta). Orang India tahan berjam-jam lamanya memainkan alat musik karena dalam konsep mereka memainkan alat musik identik dengan beribadat (melakukan persembahan) kepada Tuhan mereka.   Kenyataan seperti ini masih tetap berlaku hingga saat ini, termasuk juga di kalangan bangsa lain. 

Di kalangan kaum Sufi yang beragama Islam, tarian berputar dijadikan media penghubung untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di kalangan masyarakat Sunda sendiri yang beragama Islam dengan sisa-sisa kepercayaan lamanya—Animisme, Dinamisme, dan Hindu, bentuk-bentuk kesenian tertentu seperti dogdog lojor di kalangan masyarakat Baduy Luar di Banten Kidul, tarawangsa di kalangan masyarakat Rancakalong Sumedang, dan kuda renggong di kalangan masyarakat Buahdua dan sekitarnya di Sumedang yang lekat dengan pembakaran kemenyan dan sesajen difungsikan selain sebagai media untuk hiburan, juga sebagai media untuk menyampaikan rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga persembahan kepada leluhur atau para karuhun. Agama yang sarat dengan nilai-nilai spiritual ini tentu saja tidak terlepas dari moral dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Seni, dengan nilai-nilai spiritul, agama, moral, dan kebaikan yang terkandung di dalamnya, yang identik dengan kehalusan, dapat menjadi sumber kekuatan untuk menangkal radikalisme atau kekerasan. Ketika seseorang bersentuhan dengan seni (memainkan alat musik, menyanyi, atau menari), selama proses memainkan alat musik, menyanyi, atau menari tersebut, hanya perasaan halus itulah yang senantiasa melekat menyertainya. Dengan karakter kehalusannyai ini seni akan mampu menangkal, setidaknya, memperhaus atau mengurangi radikalisme.          
               
Kira-kira apa output dari keinginan menolak radikalisme melalui seni?

Output dari keinginan menolak radikalisme melalui seni pada dasarnya sama dengan maksud keinginan menolak radikalisme melalui media lainnya, yaitu terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, tentram, dan damai. Akan tetapi sedikit ada plusnya. Plusnya dari output menolak radikalisme melalui seni adalah bahwa di samping kehidupan masyarkart yang aman, tentram, dan damai, juga terciptanya masyarakat yang islami dan juga mengetahui dan mengharagai hakikat seni yang sarat dengan nilai-nilai positif tadi. Tak dipungkiri bahwa ada juga seni yang dalam penampilannya cenderung menyimpang dari norma masyarakat dan agama (Islam). Oleh karena itulah, seni perlu berdmpingan dengan agama sehingga produk seni yang dihasilkan para seniman tidak menyimpang dari nilai-nilai keislaman, bahkan lekat dengan nilai-nilai keislaman sehingga dapat dijadikan media pembelajaran bagi masyarakat untuk hidup dalam lingkup suasana harmonisasi antara seni dan agama.                

Apakah yang dimaksud dengan totalitas dalam berkesenian?

Secara harfiah, totalitas dapat diartikan sebagai keutuhan atau keseluruhan. Totalitas dalam berkesenian dapat diartikan sebagai sikap dan pemikiran tentang cara hidup dan berjuang melalui seni. Setiap manusia memiliki bakat dan talenta yang berbeda-beda sebagai anugrah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Bakat dan talenta tersebut berkembang sesuai dengan lingkungan tempat ia tinggal dan dibesarkan. 

Saya misalnya, dibesarkan di lingkungan keluarga seniman tradisi. Ayah saya adalah seorang seniman yang mahir memainkan alat-alat musik tradisional seperti gamelan degung, kacapi, suling, dan rebab. Berkat bimbingan dari ayah saya, menginjak usia 10 tahun saya sudah bisa memainkan suling. Menginjak usia 14 tahun, kelas I SMP, saya sudah melatih gamelan degung siswa SD dengan imbalan sekadarnya. Dengan latar belakang seperti itu serta bakat dan talenta yang saya miliki, saya kuliah di beberapa perguruan tinggi seni mempelajari musik tradisional, dan seusai kuliah, selanjutnya diangkat sebagai PNS dosen seni musik (karawitan). Sejak itulah saya berkecimpung di dunia seni dan pendidikan seni. Kesenian menjadi lahan profesi, sumber penghidupan, dan sekaligus sebagai wahana dalam rangka ikut serta membangun masyarakat, bangsa, dan negara. Itulah arti totalitas dalam berkesenian menurut pandangan saya.                         

Apakah toalitas itu sepadan dengan “keimanan”?

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa totalitas itu adalah keutuhan atau keseluruhan. Artinya tanpa ada yang tertinggal atau tersisa, sepenuh hati. Sementara itu, keimanan adalah keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati dalam hal meyakini dan mempercayai akan adanya Allah s.w.t., malaikat,  rasul dan kitab-kitabnya, hari akhir, dsb. (rukun iman). Dalam hal mengimani rukun iman, hendaknya disikapi dan dilakukan dengan sepenuh hati, tanpa keraguan sedikit pun. Itulah totalitas. Dengan demikian, totalitas itu sepadan dengan keimanan.     

Bagaimana kedalaman seni itu dapat bersinergi dengan kedalaman keimanan?

Perasaan seni dan keimanan sama-sama merupkan anugrah dari Allah SWT.  Seni merupakan ekspresi dari kedalaman jiwa, bersentuhan dengan perasaan yang paling dalam. Demikian pula halnya dengan keimanan. Seni dan keimanan berada dalam dalam ranah yang sama, yaitu ranah afektif, perasaan. Keindahan wujud seni sebagai hasil karya manusia sangatlah relatif dan juga subjektif, tidak dapat diukur dengan logika. Suatu karya seni yang dianggap indah oleh seseorang belum tentu dianggap indah oleh orang lain. Suatu karya seni yang secara visual jekek, bisa saja dianggap indah. Demikian pula halnya dengan keimanan. Keimanan adalah urusan jiwa dan perasaan. Keimanan seseorang terhadap adanya surga dan neraka tidak bisa dibuktikan pakai logika. Oleh karena seni dan keimanan berada dalam ranah yang sama, yaitu ranah afektif, kedalaman seni dan kedalaman iman dapat bersinergi.    

Apakah jalan seni yang ditempuh para seniman itu juga merupakan jalan ibadah menuju Tuhan Yang Mahaindah?

Secara khusus, ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari oleh ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Secara umum, ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridoi Allah, baik berupa perkataan maupun berupa perbuatan, yang tersembunyi (batiniah) dan yang tampak (lahiriah). Artinya, ibadah meliputi berbagai hal yang baik yang dicintai dan diridoi Allah s.w.t. Mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dalah salah satu bentuk ibadah yang wajib dilaksanakan. Ada berbagai macam cara mencari nafkah, termasuk salah satunya yaitu memanfaatkan seni sebagai sumber penghidupan. Dalam hal berkecimpung di dunia seni, para seniman bukan sekadar memanfaatkan seni sebagai media hiburan, melainkan juga sebagai media pendidikan, pembelajaran, ibadah, termasuk juga dakwah. Pamanfaatan seni sebagai media dakwah dalam rangka menyebarkan agama Islam sudah dilakukan sejak dulu oleh para wali. Seni, yang merupakan anugrah dari Allah SWT, selain dapat menjadi jalan ibadah, juga identik dengan keindahan. Sementara itu, Allah juga mencintai yang indah-indah. Salah satu hadis meriwayatkan bahwa “Allah itu indah, dan mencintai keindahan” (H.R. Muslim). Dengan demikian, dapatlah dipahami kalau jalan seni yang ditempuh para seniman itu juga merupakan jalan ibadah menuju Tuhan Yang Mahaindah. 
 
Dari pengalaman Anda, kapan kreativitas itu muncul dan kapan mandek bahkan jumud?

Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta atau sebagai perilaku kreatif. Hasil dari kreativitas adalah karya kreatif yang inovatif (baru). Hal baru (unsur kebaruan) inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri dari hasil kreativitas. Oleh karena kreativitas seyogianya senantiasa menghasilkan sesuatu yang baru, kreativitas menjadi kunci pembaharuan. Tidak ada hal baru yang akan dihasilkan tanpa adanya tindakan kreatif atau kreativitas. Dengan demikian, kreativitas akan selalu muncul ketika seseorang berpikir tentang sesuatu yang baru, perkembangan, perubahan, yang identik dengan kemajuan. Sebaliknya, kreativitas akan mandek ketika seseorang tidak berpikir tentang sesuatu yang baru, perkembangan, perubahan yang identik dengan kemajuan, tetapi pasrah pada situasi dan kondisi apa adanya yang dianggapnya sebagai takdir Tuhan Yang Mahakuasa, yang dikenal sebagai jumud. 

Apakah Anda sepakat bahwa para seniman menjaga keutuhan NKRI dengan totalitas mereka berkesenian?

Keutuhan NKRI merupkan hal yang tidak dapat ditawar-tawar. Semua warga negara Indonesia berkewajiban untuk menjaga keutuhan NKRI. Setiap orang berjuang untuk menjaga keutuhan NKRI dengan caranya masing-masing sesuai dengan profesi di bidangnya masing-masing. Para seniman ikut membangun bangsa dan negara yang sekaligus juga menjaga keutuhan NKRI denga cara mareka sendiri, yakni dengan memfungsikan seni sebagai wahananya. Seni merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Di dalam seni (tradisional) terkandung berbagai nilai, seperti nilai-nilai sosial, kultural, religius, pendidikan, ekonomi, dsb. Totalitas para seniman dalam berkesenian dapat diartikan sebagai tindakan memelihara, mengembangkan, dan memanfaatkan daya hidup dan daya guna seni. Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang berbeda bahasa dan budayanya, termasuk keseniannya. Seni merupakan fenomena yang universal, terdapat di mana-mana, tetapi bukan merupakan bahasa yang universal. Setiap kesenian (misalnya seni musik) memiliki bentuk, fungsi, dan makna yang berbeda bagi setiap suku bangsa. Setiap bentuk kesenian hanya dapat dipahami oleh masyarakat pemiliknya. Etnomusikologi, disiplin ilmu musik bangsa-bangsa, yang mempelajari musik bangsa-bangsa secara kontekstual (ditinjau dari konteks kebudayaannya), mewajibkan setiap suku bangsa untuk mempelajari musik dari bangsa-bangsa lainnya. Dari proses saling mempelajari ini, setiap suku bangsa akan memiliki pemahaman akan bentuk, fungsi, nilai, dan makna musik suku-suku bangsa lannya. Dari saling memahami inilah kemudian akan timbul sikap saling menghargai antarsesama suku bangsa di Indonesia. Dari sinilah akan terwujud kehidupan yang damai, aman, dan tentram di antara suku-suku bangsa di Indonesia, tidak ada pertengkaran atau peperangan, dalam arti terpeliharanya keutuhan NKRI. Jadi, saya sepakat bahwa para seniman menjaga keutuhan NKRI dengan totalitas mereka berkesenian.
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG