IMG-LOGO
Nasional

Ini Obyek Penghasilan PNS yang Wajib Dizakati

Rabu 13 Juni 2018 13:30 WIB
Bagikan:
Ini Obyek Penghasilan PNS yang Wajib Dizakati
Jakarta, NU Online
Bulan Ramadhan sebentar lagi usai. Sebelum menuntaskan ibadah di bulan Ramadhan, kita harus memastikan telah melaksanakan kewajiban kita yang lain, yaitu zakat, baik zakat terkait dengan jiwa atau dikenal zakat fitrah; maupun zakat terkait dengan harta atau dikenal zakat maal. Zakat merupakan kewajiban setiap Muslim yang memenuhi ketentuan. 

Penghasilan yang kita peroleh,  jika sudah memenuhi ketentuan, wajib dizakati, termasuk penghasilan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Apa saja komponen penghasilan yang wajib dizakati? Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VI di Banjarbaru Kalimantan Selatan menjawabnya. 

Ketetapan Hukum

Pertama, komponen penghasilan yang dikenakan zakat meliputi setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Kedua, dengan demikian, obyek zakat bagi pejabat dan aparatur negara termasuk tetapi tak terbatas pada gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji pokok, tunjangan kinerja, dan penghasilan bulanan lainnya yang bersifat tetap. 

Ketiga, penghasilan yang wajib dizakati dalam zakat penghasilan adalah penghasilan bersih, sebagaimana diatur dalam fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003. Keempat, penghasilan bersih sebagaimana yang dimaksud pada poin ketiga ialah penghasilan setelah dikeluarkan kebutuhan pokok (al haajah al ashliyah).

Kebutuhan pokok yang dimaksud poin keempat meliputi kebutuhan diri terkait sandang, pangan, dan papan; kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, termasuk kesehatan dan pendidikannya.

Kebutuhan pokok sebagaimana dimaksud pada poin keempat didasarkan pada standaar Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Kebutuhan pokok pokok sebagaimana dimaksud pada nomor empat adalah Penghasilan Tidak Kena Zakat (PTKZ).

Pemerintah menetapkan besaran kebutuhan pokok sebagaimana dimaksud poin keempat yang menjadi dasar dalam menetapkan apakah seseorang itu wajib zakat atau tidak. (Red: Kendi Setiawan)
Tags:
Bagikan:
Rabu 13 Juni 2018 20:30 WIB
KH Ma'ruf Amin: Jauhi Khutbah Idul Fitri Bernuansa Politik Praktis
KH Ma'ruf Amin: Jauhi Khutbah Idul Fitri Bernuansa Politik Praktis
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin menghimbau kepada para khatib shalat Idul Fitri untuk menjaga kerukunan dengan menyampaikan ceramah yang bernuansa peningkatan keimanan, persaudaraan, bahaya terorisme, serta bahaya lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Lebih dari itu, Kiai Ma’ruf meminta kepada para khatib untuk menghindari khutbah-khutbah yang bernuansa politik praktis. Baginya, khutbah-khutbah seperti itu bisa memecah belah umat, terutama mereka yang memiliki pilihan politik beda.

“(kepada para khatib shalat Id untuk) Menjauhi tema-tema khutbah yang bernunsa dan bersuasana politik praktis yang bisa menimbulkan perpecahan umat Islam,” kata Kiai Ma'ruf di Kantor MUI di Jakarta, Selasa (12/6/2018). 

Rais ‘Aam PBNU ini berpendapat, perbedaan politik adalah sesuatu yang wajar. Sehingga hal itu tidak perlu dijadikan sebagai sesuatu yang bisa memecah belah persatuan umat.

“Perbedaan aspirasi politik jangan sampai jadi penyebab permusuhan kita anggap perbedaan sebagai biasa-biasa saja,” sambungnya.

Di tahun-tahun politik seperti saat ini, Kiai Ma’ruf juga berpesan agar masing-masing calon kepala daerah berkampanye secara positif, santun, dan tidak melakukan ‘kampanye hitam’.

“Dalam kampanye itu diharapkan dilakukan dengan santun jangan menjelekkan lawan politiknya,” jelasnya.

Pada 27 Juni nanti, ada 171 daerah yang akan mengikuti pemilihan kepala daerah 2018. Mereka adalah 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. (Muchlishon)
Rabu 13 Juni 2018 13:15 WIB
Gus Mus Sampaikan Pesan Hikmah Idul Fitri
Gus Mus Sampaikan Pesan Hikmah Idul Fitri
KH Ahmad Mustofa Bisri (Dok. NU Online)
Jakarta, NU Online
Menyambut datangnya Idul Fitri 1439 H, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan permohonan maaf sekaligus pesan hikmah yang diambil dari Sabda Nabi Muhammad SAW.

Gus Mus menyitir sebuah hadits, Rasulullah SAW bertanya: "Tahukah kalian yang namanya orang bangkrut?" Para sahabat menjawab: "Orang bangkrut di kita ialah orang yang tak punya harta maupun barang." 

Rasulullah pun bersabda: "Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku ialah yang kelak datang di hari Kiamat dengan membawa amalan-amalan salat, puasa, dan zakat; tapi sebelumnya sudah mencaci ini, menuduh itu, memakan hartanya ini, mengalirkan darahnya itu, dan memukul ini. Maka nanti si ini diberi --diambilkan-- dari amal-amal baiknya, si itu dari amal-amal baiknya. Bila kemudian amal-amal baiknya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan-tanggungannya, maka diambilah dari dosa-dosa mereka yang terzalimi dan ditimpukan kepadanya; kemudian dia pun dicampakkan ke neraka." (HR Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah ra).

“Mengerikan sekali. Jangan-jangan di antara kalian ada yang --tanpa aku sadari-- pernah aku sakiti, pernah hartanya termakan olehku, pernah ucapanku menyinggungnya, dan pernah aku zalimi,” ucap Gus Mus dikutip NU Online, Rabu (13/6) melalui akun instagram pribadinya @s.kakung.

Sebab demikian, di samping mengucapkan selamat Idul Fitri, dengan kerendahan hati Gus Mus juga memohon dibukakan pintu maaf lahir dan batin kepada siapa pun atas segala kesalahannya.

“Maka di hari baik Idul Fitri ini, di samping kuhaturkan tahniah Ied kepada kalian semua, dengan kerendahan hati, aku memohon kalian sudi memaafkan kesalahan-kesalahanku lahir-batin,” tuturnya.

“Semoga Allah menerima amal-amal kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Wakullu 'ãmin waAntum bialfi-alfi khair,” doa Gus Mus. (Fathoni)
Rabu 13 Juni 2018 10:35 WIB
Google Doddle Ikut Rayakan Tradisi Mudik
Google Doddle Ikut Rayakan Tradisi Mudik
Jakarta, NU Online
Tradisi mudik atau pulang kampung saat momen menjelang Lebaran atau Idul Fitri ikut dirayakan mesin pencarian terkemuka Google dengan menampilkan gambaran arus mudik di Doddle. Google Doddle merupakan layanan spesial Google secara temporer untuk memperingati dan merayakan momen-momen tertentu.

Di dalam tampilan search engine tersebut, terlihat Google Doddle menampilkan ilustrasi para pemudik yang menggunakan berbagai macam moda transportasi atau kendaraan untuk melakukan perjalanan dari kota menuju ke kampung halaman. Kendaraan-kendaraan tersebut tampak penuh dengan barang-barang bawaan.

Pembaca akan diarahkan ke informasi-informasi sekitar mudik tahun 2018 ketika meng-klik gambar ilustrasi di Doddle. Tercatat Google, terdapat sebanyak 34.200.000 pengakses per 0.37 detik yang menggunakan kata kunci “Mudik”.

Tradisi pulang kampung menjadi momen istimewa bagi umat Islam di Indonesia saat Lebaran tiba. Mereka berbondong-bondong untuk melakukan silaturahim bersama sanak-saudara dan keluarga di kampung halaman.

Soal tradisi mudik ini, salah seorang Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Muhammad Sulton Fatoni menegaskan, mudik adalah ibadah. Sebab menurutnya, mudik bagi Muslim di Indonesia tak sekadar kembali ke kampung halaman. Ia menjadi bagian penting dari macam-macam ibadah yang terdapat di bulan Ramadhan.

“Mudik bermakna kembali merajut tali persaudaraan. Tidak hanya merajut, tetapi juga memperkuat dan memelihara tautan hati antarmanusia,” ujar Sulton lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (9/6) lalu.

Penulis buku Buku Pintar Islam Nusantara ini menjelaskan, kekuatan mudik sejatinya adalah implementasi atas perintah Allah SWT untuk memelihara silaturahim dan menghindari bermaksiat kepada Allah SWT dalam bentuk terputusnya tali persaudaraan (QS: Ar-Ra’du: 21).

Rasulullah SAW pun mengajarkan urgensi menjaga tali persaudaraan. Seseorang yang mampu memelihara tali persaudaraannya pertanda ia termasuk orang yang mempunyai keimanan. 

“Rasulullah SAW juga mengingatkan terdapat risiko yang sangat dahsyat saat seseorang memutus tali persaudaraan, fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar,” tutur Sulton. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG