IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Lansia dan Dhuafa Terima Manfaat Gerakan Koin NU Peduli

Kamis 14 Juni 2018 16:0 WIB
Bagikan:
Lansia dan Dhuafa Terima Manfaat Gerakan Koin NU Peduli
Sumenep, NU Online
Program gerakan Koin NU Peduli semakin gencar dilakukan di beberapa daerah di Sumenep, Jawa Timur. Seperti yang dilakukan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ganding yang menyantuni sejumlah dhuafa dan lansia. 

Rais MWCNU Ganding, Kiai Bustami Amin berharap gerakan Koin NU Peduli bisa mewujudkan kemandirian ekonomi warga. 

"Dengan gerakan koin yang mulai masif di beberapa ranting hingga ke kompolan-kompolan warga (kelompok, red) ini kita berharap mampu menjadi penopang kemandirian ekonomi dan kesejahteraan warga yang membutuhkan,” katanya, Rabu (13/6).

Di kawasan Ganding, gerakan koin dimulai sekitar dua bulan terakhir dan terkumpul dana tiga juta lebih. “Melalui kegiatan Ramadhan berbagi, disalurkan santunan kepada dhuafa serta lansia,” jelasnya. 

Kiai Bustami mengemukakan penyaluran kali ini tidak ke anak yatim,  karena santunan di kesempatan sebelumnya sudah sering dilakukan. “Maka untuk saat ini sudah banyak dengan segmen yatim, sehingga diberikan kepada dhuafa,” ungkapnya. 

Dana yang terkumpul tersebut berkat tim khusus yang dibentuk MWCNU bersama Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqah Nahdlatul Ulama atau LAZISNU Sumenep. 

Hal tersebut dibenarkan Abd Hadi selaku Ketua Pimpinan Cabang LAZISNU Sumenep. Meskipun pembentukan tim relatif singkat, namun mampu pengumpulan dana hingga tiga juta lebih. 

“Hal ini terwujud berkat bantuan warga dan kekompakan yang ditunjukkan tim yang telah terbentuk," katanya saat sambutan.

Sedangkan Direktur BMTNU, Qusyairi yang turut hadir pada acara tersebut mengungkapkan rasa bangga atas kebersamaan gerakan yang dilakukan melalui Koin NU Peduli ini. 

"Sinergitas yang ditunjukkan oleh beberapa kalangan di lingkungan NU Ganding semakin kuat,” katanya. Apalagi hal tersebut ditambah dengan gerakan kebangkitan ekomi warga berbasis kebersamaan dengan adanya NUmart Ganding. 

Semuanya dapat terwujud atas kesadaran bersama. “Apalagi ini ditopang semangat kalangan muda yang tergabung dalam Santri NU Ganding yang menaungi beberapa kelembagaan dan komunitas berbasis Aswaja di Kecamatan Ganding,” tandasnya. (Zainullah/Ibnu Nawawi)

Tags:
Bagikan:
Kamis 14 Juni 2018 23:30 WIB
Haji Ali, Donatur Pembangunan Masjid Empat Pesantren
Haji Ali, Donatur Pembangunan Masjid Empat Pesantren
Cirebon, NU Online
Sekitar dua dasawarsa pertama di abad 20, seorang donatur dari Kanggraksan, Kota Cirebon mendermakan hartanya untuk membangun masjid tiga pesantren Cirebon, yakni Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Benda, dan Pondok Pesantren Gedongan.

Kemudian, atas permintaan KH Said, pimpinan Pesantren Gedongan, donatur itu juga membangun masjid di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

"Ada seorang donatur yang mendermakan hartanya untuk membangun beberapa masjid," cerita KH Ade Nasihul Umam, ketua Dewan Khidmat Masjid (DKM) Masjid Agung Buntet Pesantren, beberapa waktu berselang.
 
Karena donatur yang sama, arsiteknya pun sama. Maka, arsitektur empat masjid tersebut tidak jauh berbeda, terutama pada mihrab dan gentingnya.
 
Bagian atas mihrab berbentuk setengah lingkaran. Sementara samping kanan dan kirinya terdapat lis seperti tiang yang tampak lengkungan setengah lingkaran dan beberapa garis.
 
Sementara itu, gentingnya berbentuk segitiga dengan tiga tingkatan. Hal ini, kata Kiai Ade, sebagai simbol iman, Islam, dan ihsan.
 
"Bagian genting ada tiga susun, iman Islam, ihsan," katanya.
 
Dilansir dari Almunawwir.com, situs resmi Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, seorang dermawan bernama Haji Ali membeli tanah milik Jopanggung untuk dijadikan masjid. Haji Ali ini juga yang membangun keempat masjid pesantren tersebut.
 
Namun demikian, Masjid Agung Pondok Pesantren Gedongan dan Masjid Agung Pondok Pesantren Krapyak telah mengalami renovasi total. Sementara itu, Masjid Agung Pondok Pesantren Benda dan Masjid Agung Buntet Pesantren masih mempertahankan arsitektur lamanya sampai saat ini.
 
Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Benda, dan Pondok Pesantren Gedongan memang memiliki hubungan darah. Kiai Abdul Jamil Buntet, Kiai Soleh Benda, dan istri dari Kiai Said Gedongan, Nyai Maemunah, merupakan kakak adik, putra dari KH Mutaad.
 
Sementara itu, Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, memiliki hubungan erat dengan Kiai Said dan KH Abdul Jamil. Putra Kiai Said, yakni KH Murtadlo yang kelak menjadi menantu KH Abdul Jamil merupakan santri pertama Kiai Munawwir. (Syakir NF/Ibnu Nawawi

Kamis 14 Juni 2018 23:0 WIB
Tiga Pekerti Patut Dilakukan Menyongsong Idul Fitri
Tiga Pekerti Patut Dilakukan Menyongsong Idul Fitri
Ketua MWC NU Kecamatan Banyuwangi KH Akhmad Musollin
Banyuwangi, NU Online
Kehadiran bulan Syawal banyak umat muslim menyambut dengan segala pernak-pernik terbaru. Mulai dari pakaian baru, mobil baru, dan lain sebagainya.

Hal pembuka yang disampaikan oleh Ketua MWC NU Kecamatan Banyuwangi KH Akhmad Musollin saat dimintai keterangan di kediamannya Kabupaten Banyuwangi, Kamis (14/6).

"Hakikinya adalah idul fitri bukan bagi orang yang berpakaian baru, melainkan ketakwaan. Sehingga untuk menapaki jejak ketakwaan tadi, ada tiga pekerti yang penting dilakukan untuk menyambut hari raya idul fitri tahun ini dan seterusnya," terang Gus Musollin sapaan karib KH  Akhmad Musollin.

Pertama adalah orang teraniaya memberikan maaf kepada orang-orang yang telah berbuat aniaya pada dirinya.

"Hal ini meskipun berat dilakukan, tapi Rasulullah sering melakukannya dan memberikan teladan. Meski Nabi Muhammad sering dianiaya oleh orang kafir, namun maaf dan doa selalu ia lakukan. Subhanallah ini sangat luar biasa," terangnya.

Menyambung tali persaudaraan yang telah putus, ini adalah pekerti yang kedua.

"Seringkali diantara kita menjadi umat pendendam, kelapangan hati kita masih sempit. Berbeda dengan Rasulullah yang memiliki kelapangan hati yang luas. Mudah memaafkan dan bersabar. Sebisa mungkin kita harus meneladaninya," terang putra Mahfudz bin Rofi'i.

Sedang pekerti yang terakhir adalah memberi makan bagi orang-orang yang kelaparan. "Mari kita tingkatkan ibadah, untuk menyongsong hari yang fitri dan jangan lupa sambunglah tali persaudaraan," pintanya. (Sholeh/Muiz)
Kamis 14 Juni 2018 22:30 WIB
Badan Gosong tak Mengapa Demi Kelancaran Pemudik
Badan Gosong tak Mengapa Demi Kelancaran Pemudik
Fatser Brebes, Nurul Qomariyah
Brebes, NU Online
Terik panas yang menyengat tubuhnya, tak dipedulikan. Biarpun badan gosong, yang penting lalu lintas lancar dan puasa pun tidak batal. Sekelumit kata tersebut, terlontar dari bibir manis Nurul Qomariyah yang kini dengan gigih menjadi Fatayat Serba Guna (Fatser) saat membantu Posko Peduli Banser di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. 

“Saya ikut Fatser karena dorongan hati nurani,” tutur komandan Fatser Ketanggungan Nurul Qomariyah saat ditemui NU Online disela kegiatan Posko Mudik Lebaran 1439 Hijriyah di Ketanggungan, Kamis (14/6).

Remaja kelahiran Bekasi 17 Agustus 1996 ini ikut Fatser karena terinspirasi seorang tokoh wanita luar biasa yakni Nyai Hj Nihayah Bakri. Nyai Nihayah merupakan wanita pejuang yang tangguh, pekerja keras dan gigih melawan penjajah juga memperjuangkan hak perempuan serta berjiwa sosial. Beliau juga salah satu pendiri Fatayat NU.

“Saya terinspirasi Nyai Nihayah meski tak sepopuler RA Kartini atau Cut Nyak Dien namun beliau merupakan tokoh inspirasi dalam hidupku selain Ibuku dan Sayidatina Fatimah Azzahra,” ujar Nurul yang gemar bakso dan travelling ini.

Sebagai remaja, lanjutnya, terjun ke dunia penjagaan antara lain juga ingin mengawal ulama wanita sehingga bermanfaat bagi sesama. Seperti halnya motto hidup Nurul yakni antara Cinta, Usaha dan Doa adalah sinergisitas menggapai Ridho Ilahi. Tidak ada tendensi apapun, yang penting menggapai ridlo-Nya.

Nurul mengaku sangat terkesan bisa ikut membantu Posko Mudik karena bisa mendalami bagaimana rasa haru terbuncah ketika bisa membantu ibu-ibu tua yang mau menyebrang jalan ditengah hiruk pikuk lalu lalang kendaraan pemudik. Juga bisa membantu memberikan informasi kepada para pemudik seputar daerah atau kota yang ditanyakan.  

“Di Posko lebaran, saya merasa bangga dan bahagia bisa membantu orang lain,” ungkap Nurul yang juga karyawan swasta di sebuah perusahaan nasional. 

Di kediamannya, desa Baros RT 05 RW 01 Kec Ketanggungan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, sepulang kerja selalu rajin mengaji dan membantu orang tua. Gadis saleha ini telah tercermin dari riwayat pendidikannya yang berawal dari TPQ Al-Hikmah Baros, MI  Ta'alimul Huda Baros, MTsN 125 Jakarta dan SMAN 1 Ketanggungan.

Nurul juga mengaku sering di sindir-sindir, dijahili dengan perkataan memuji tetapi sebenarnya mengejek. “Hei, tentara cantik…. apa kabar?” ungkap Nurul menirukan perkataan nada godaan yang sering dia dapatkan mengenakan seragam Fatser doreng.

Namun baginya menyadari bahwa pengabdian tentu banyak aral yang melintang sehingga ketika banyak yang menggoda cuma dibalas dengan senyum manis yang mengembang. 

“Cuek aja, gitu aja kok repot,” ucapnya singkat menirukan perkataan khas Gus Dur. (Wasdiun/Muiz)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG