IMG-LOGO
Daerah

Tuntul, Simbol Transformasi Pencerahan

Kamis 14 Juni 2018 18:30 WIB
Bagikan:
Tuntul, Simbol Transformasi Pencerahan
Masyarakat Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara memiliki tradisi monuntul atau malam pasang lampu. Monuntul atau tuntul dilakukan pada tiga malam terakhir Ramadhan, atau 29-30 Ramadhan.

Memeriahkan monuntul warga berbondong-bondong membuat lampu botol. Ada yang berbahan bakar minyak tanah, ada pula yang bahan bakarnya minyak kelapa. Mereka meletakkannya di depan rumah masing-masing sesuai dengan jumlah keluarga yg menempati rumah tersebut. 

Sementara di tingkat pemerintah kelurahan/desa, biasanya mereka menghias lapangan tempat pelaksanaan shalat Id dengan lampu botol (tuntul). Seiring berkembangnya zaman mereka mengkolaborasikannya dengan lampu hias listrik sehingga tradisi monuntul ini dari tahun ke tahun kelihatan lebih cantik dan indah.

Pada tradisi monuntul yang melakukan adalah semua elemen masyarakat, dari anak-anak sampai dengan orang tua. Biasanya remaja dan orang tua bertugas menyiapkan tempat pelaksanaan tuntul yang terbuat dari bambu. Ada yang berbentuk lafaz 'Allah', 'Muhammad', ada pula tulisan-tulisan Ramadhan dan "Selamat Idul Fitri' dan sebagainya.
Sementara anak-anak biasanya bertugas menyalakan lampu (tuntul) yang padam.

Puncak pelaksanaan tradisi ini biasanya selepas shalat tarawih, dan semua warga pun sangat antusias. Bahkan mampu menyedot wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tuntul secara umum terbuat dari botol minuman air mineral (aqua gelas) maupun botol bekas minuman M150, Kratingdeng, dan botol-botol kecil lainya.

Tuntul yang dari gelas aqua biasanya berbahan bakar minyak kelapa, di mana di bawahnya diisi dengan air yang sudah dicampur dengan berbagai macam aneka warna. Kemudian setengah di atasnya diisi bahan bakar minyak kelapa yang mengapung di atas air bersoda tersebut.

Dengan begitu, tuntul kelihatan lebih indah dengan warna-warna dan ramah lingkungan karena minyak kelapa tidak memproduksi banyak asap. Sementara botol kecil minuman penambah tenaga seperti M150 dsb, itu bahan bakarnya minyak tanah.

Tuntul dalam bahasa daerah Bolaang Mongondow, artinya lampu. Sering disebut tradisi monuntul yang artinya malam pasang lampu. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun lalu.

Anak-anak kecil terlihat bahagia sekali menyambut ritual ini. Setelah selesai shalat tarawih, mereka biasanya bermain di jalanan atau di lapangan sambil melihat-lihat tuntul yang padam, kemudian mereka menyalakannya lagi.

Saat ini, setiap pemerintah di Kabupaten/Kota di Bolaang Mongondow Raya menjadikan tuntul sebagai lomba untuk menjaga tradisi tersebut agar tetap terawat. Desa pemenang lomba tersebut yakni dengan dekorasi tuntul terbaik akan mendapat hadiah dan uang pembinaan senilai puluhan juta rupiah.

Bahkan di Provinsi Gorontalo setiap tahunnya menyelenggarakan Festival Tumbilotohe dalam bahasa daerah Gorontalo, yang artinya sama dengan monuntul dalam Bahasa Daerah Bolaang Mongondow.

Jika diselami hakikatnya ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Monuntul atau di Gorontalo dikenal dengan Tumbilotohe pada zaman dahulu merupakan upaya untuk menerangi jalan yang sering dilalui orang-orang saat pergi beribadah. Dengan suasana terang benderang dipersepsikan orang-orang akan semakin giat dan bersuka cita ke masjid atau berzakat fitrah.

Dalam tataran filosofis, monuntul hadir untuk menyingkap jalan kegelapan menjadi terang benderang. Konsep ini sepadan dengan bahasa Al-Quran yakni min al-dhulumat ila al-nur (dari kegelapn menuju cahaya). Kata al-dhulumat oleh para mufassir seringkali dimaknai kekafiran, kedurhakaan atau kesesatan. Sedangkan kata al-nur biasanya dimaknai iman, tauhid, petunjuk, jalan lurus atau ketaatan.

Namun, di dalam kitab Shafwat al-Tafasir ditafsirkan konsep min al-dhulumat ila al-nur yang terdapat pada surat Ibrahim ayat 1, adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, dan kesesatan menuju cahaya ilmu dan iman. Di sini kata al-dhulumat mencakup makna kebodohan sedang kata al-nur juga mencakup makna cahaya ilmu. Sehingga, konsep tersebut bukan hanya berdimensi dan berorientasi dakwah tetapi juga berdimesi dan berorientasi konstruksi intelektual.

Monuntul sejatinya ditradisikan oleh para pendahulu sebagai kearifan lokal untuk mencerahkan. Tradisi tuntul diciptakan justeru sebagai dasar mentransformasikan kegelapan dosa dan kebodohan menuju cahaya ketakwaan dan pencerahan ilmu pengetahuan setelah Ramadhan.

Proses transformasi inilah yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita. Bagaimana mengubah tindakan negatif menjadi positif, destruktif menjadi konstruktif, mengubah kondisi negatif-destruktif menjadi positif-konstruktif.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Lutfi, Bolaang Mongondow, Ustadz Irawan Paputungan mengatakan tuntul atau monuntul sebagai tradisi simbolisasi makna yang sarat hikmah dan  sejarah Islam khususnya di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo. 

Ia pun menyambut baik karena ritual ini masih dipertahankan dan dijaga sampai sekarang. "Monuntul merupakan pengejawantahan hikmah dari kata tuntul, monoga sinba moyodungkul; diterangi agar bertemu," ujarnya Kamis (14/6).

Dalam keyakinan dan ruang batin mayarakat adat Mongondow yang diterangi adalah jalan para leluhur dan keluarga yang telah lama meninggal datang mengunjungi masing-masing keluarganya di setiap rumah.
 
Ketika Islam masuk keyakinan itu tidak ditentang apalagi dihilangkan. Justeru dijaga dan diluruskan pemaknaannya. "Keyakinan dasar bahwa hubungan antara yang hidup dengan yang telah meninggal dijadikan dasar landasan tentang ajaran kehidupan sesudah mati," tambahnya.
 
Selain itu tuntul juga dijadikan media dakwah. Ketika Ramadhan yang identik dengan 'Malam Seribu Cahaya' diselipkanlah seruan untuk banyak beribadah agar cahaya Ketuhanan masuk dalam setiap rumah dan penghuninya. Maka jumlah tuntul disesuaikan dengan jumlah penghuni rumah.

"Selanjutnya sembari menyalakan tuntul penghuni rumah membaca Surat al-Qadr seraya mengharap mendapatkan berkah Malam Lailatul Qadar. Dengan demikian maka para ulama pun dapat dengan mudah mengenal dan mengetahui mana rumah yang dinyalakan tuntul berarti sudah memeluk Islam dan mengetahui jumlah keluarga yang wajib menunaikan fitrah dalam setiap rumah penduduk," papar Ustadz Irawan.

Menurutnya tradisi dan ritual tuntul adalah satu cara yang sungguh santun dan bijaksana dari para ulama dalam mengajak umat kepada Jalan Tuhan (sabili rabb) tanpa mempermasalahkan kebiasaan-kebiasan umat yang lebih mengutamakan maksud, isi dan tujuan. Hal ini sejalan pula dengan konsep Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Semoga tradisi “tuntul” dapat terus dilestarikan tidak hanya dalam tataran perayaan semata melainkan ikut merubah sikap manusia Bolaang Mongondow menjadi manusia-manusia tercerahkan baik dalam iman, ilmu dan ketakwaan. (Murdani Mokodongan/Donal Qomadiansyah/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 14 Juni 2018 23:30 WIB
Haji Ali, Donatur Pembangunan Masjid Empat Pesantren
Haji Ali, Donatur Pembangunan Masjid Empat Pesantren
Cirebon, NU Online
Sekitar dua dasawarsa pertama di abad 20, seorang donatur dari Kanggraksan, Kota Cirebon mendermakan hartanya untuk membangun masjid tiga pesantren Cirebon, yakni Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Benda, dan Pondok Pesantren Gedongan.

Kemudian, atas permintaan KH Said, pimpinan Pesantren Gedongan, donatur itu juga membangun masjid di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

"Ada seorang donatur yang mendermakan hartanya untuk membangun beberapa masjid," cerita KH Ade Nasihul Umam, ketua Dewan Khidmat Masjid (DKM) Masjid Agung Buntet Pesantren, beberapa waktu berselang.
 
Karena donatur yang sama, arsiteknya pun sama. Maka, arsitektur empat masjid tersebut tidak jauh berbeda, terutama pada mihrab dan gentingnya.
 
Bagian atas mihrab berbentuk setengah lingkaran. Sementara samping kanan dan kirinya terdapat lis seperti tiang yang tampak lengkungan setengah lingkaran dan beberapa garis.
 
Sementara itu, gentingnya berbentuk segitiga dengan tiga tingkatan. Hal ini, kata Kiai Ade, sebagai simbol iman, Islam, dan ihsan.
 
"Bagian genting ada tiga susun, iman Islam, ihsan," katanya.
 
Dilansir dari Almunawwir.com, situs resmi Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, seorang dermawan bernama Haji Ali membeli tanah milik Jopanggung untuk dijadikan masjid. Haji Ali ini juga yang membangun keempat masjid pesantren tersebut.
 
Namun demikian, Masjid Agung Pondok Pesantren Gedongan dan Masjid Agung Pondok Pesantren Krapyak telah mengalami renovasi total. Sementara itu, Masjid Agung Pondok Pesantren Benda dan Masjid Agung Buntet Pesantren masih mempertahankan arsitektur lamanya sampai saat ini.
 
Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Benda, dan Pondok Pesantren Gedongan memang memiliki hubungan darah. Kiai Abdul Jamil Buntet, Kiai Soleh Benda, dan istri dari Kiai Said Gedongan, Nyai Maemunah, merupakan kakak adik, putra dari KH Mutaad.
 
Sementara itu, Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, memiliki hubungan erat dengan Kiai Said dan KH Abdul Jamil. Putra Kiai Said, yakni KH Murtadlo yang kelak menjadi menantu KH Abdul Jamil merupakan santri pertama Kiai Munawwir. (Syakir NF/Ibnu Nawawi

Kamis 14 Juni 2018 23:0 WIB
Tiga Pekerti Patut Dilakukan Menyongsong Idul Fitri
Tiga Pekerti Patut Dilakukan Menyongsong Idul Fitri
Ketua MWC NU Kecamatan Banyuwangi KH Akhmad Musollin
Banyuwangi, NU Online
Kehadiran bulan Syawal banyak umat muslim menyambut dengan segala pernak-pernik terbaru. Mulai dari pakaian baru, mobil baru, dan lain sebagainya.

Hal pembuka yang disampaikan oleh Ketua MWC NU Kecamatan Banyuwangi KH Akhmad Musollin saat dimintai keterangan di kediamannya Kabupaten Banyuwangi, Kamis (14/6).

"Hakikinya adalah idul fitri bukan bagi orang yang berpakaian baru, melainkan ketakwaan. Sehingga untuk menapaki jejak ketakwaan tadi, ada tiga pekerti yang penting dilakukan untuk menyambut hari raya idul fitri tahun ini dan seterusnya," terang Gus Musollin sapaan karib KH  Akhmad Musollin.

Pertama adalah orang teraniaya memberikan maaf kepada orang-orang yang telah berbuat aniaya pada dirinya.

"Hal ini meskipun berat dilakukan, tapi Rasulullah sering melakukannya dan memberikan teladan. Meski Nabi Muhammad sering dianiaya oleh orang kafir, namun maaf dan doa selalu ia lakukan. Subhanallah ini sangat luar biasa," terangnya.

Menyambung tali persaudaraan yang telah putus, ini adalah pekerti yang kedua.

"Seringkali diantara kita menjadi umat pendendam, kelapangan hati kita masih sempit. Berbeda dengan Rasulullah yang memiliki kelapangan hati yang luas. Mudah memaafkan dan bersabar. Sebisa mungkin kita harus meneladaninya," terang putra Mahfudz bin Rofi'i.

Sedang pekerti yang terakhir adalah memberi makan bagi orang-orang yang kelaparan. "Mari kita tingkatkan ibadah, untuk menyongsong hari yang fitri dan jangan lupa sambunglah tali persaudaraan," pintanya. (Sholeh/Muiz)
Kamis 14 Juni 2018 22:30 WIB
Badan Gosong tak Mengapa Demi Kelancaran Pemudik
Badan Gosong tak Mengapa Demi Kelancaran Pemudik
Fatser Brebes, Nurul Qomariyah
Brebes, NU Online
Terik panas yang menyengat tubuhnya, tak dipedulikan. Biarpun badan gosong, yang penting lalu lintas lancar dan puasa pun tidak batal. Sekelumit kata tersebut, terlontar dari bibir manis Nurul Qomariyah yang kini dengan gigih menjadi Fatayat Serba Guna (Fatser) saat membantu Posko Peduli Banser di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. 

“Saya ikut Fatser karena dorongan hati nurani,” tutur komandan Fatser Ketanggungan Nurul Qomariyah saat ditemui NU Online disela kegiatan Posko Mudik Lebaran 1439 Hijriyah di Ketanggungan, Kamis (14/6).

Remaja kelahiran Bekasi 17 Agustus 1996 ini ikut Fatser karena terinspirasi seorang tokoh wanita luar biasa yakni Nyai Hj Nihayah Bakri. Nyai Nihayah merupakan wanita pejuang yang tangguh, pekerja keras dan gigih melawan penjajah juga memperjuangkan hak perempuan serta berjiwa sosial. Beliau juga salah satu pendiri Fatayat NU.

“Saya terinspirasi Nyai Nihayah meski tak sepopuler RA Kartini atau Cut Nyak Dien namun beliau merupakan tokoh inspirasi dalam hidupku selain Ibuku dan Sayidatina Fatimah Azzahra,” ujar Nurul yang gemar bakso dan travelling ini.

Sebagai remaja, lanjutnya, terjun ke dunia penjagaan antara lain juga ingin mengawal ulama wanita sehingga bermanfaat bagi sesama. Seperti halnya motto hidup Nurul yakni antara Cinta, Usaha dan Doa adalah sinergisitas menggapai Ridho Ilahi. Tidak ada tendensi apapun, yang penting menggapai ridlo-Nya.

Nurul mengaku sangat terkesan bisa ikut membantu Posko Mudik karena bisa mendalami bagaimana rasa haru terbuncah ketika bisa membantu ibu-ibu tua yang mau menyebrang jalan ditengah hiruk pikuk lalu lalang kendaraan pemudik. Juga bisa membantu memberikan informasi kepada para pemudik seputar daerah atau kota yang ditanyakan.  

“Di Posko lebaran, saya merasa bangga dan bahagia bisa membantu orang lain,” ungkap Nurul yang juga karyawan swasta di sebuah perusahaan nasional. 

Di kediamannya, desa Baros RT 05 RW 01 Kec Ketanggungan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, sepulang kerja selalu rajin mengaji dan membantu orang tua. Gadis saleha ini telah tercermin dari riwayat pendidikannya yang berawal dari TPQ Al-Hikmah Baros, MI  Ta'alimul Huda Baros, MTsN 125 Jakarta dan SMAN 1 Ketanggungan.

Nurul juga mengaku sering di sindir-sindir, dijahili dengan perkataan memuji tetapi sebenarnya mengejek. “Hei, tentara cantik…. apa kabar?” ungkap Nurul menirukan perkataan nada godaan yang sering dia dapatkan mengenakan seragam Fatser doreng.

Namun baginya menyadari bahwa pengabdian tentu banyak aral yang melintang sehingga ketika banyak yang menggoda cuma dibalas dengan senyum manis yang mengembang. 

“Cuek aja, gitu aja kok repot,” ucapnya singkat menirukan perkataan khas Gus Dur. (Wasdiun/Muiz)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG