IMG-LOGO
Puisi

Puisi-puisi Wahyu Noerhadi

Ahad 17 Juni 2018 3:0 WIB
Bagikan:
Puisi-puisi Wahyu Noerhadi
ilustrasi: pinterest.co.uk
Selamat Jalan Ramadhan, Selamat Datang Lebaran
Oleh: Wahyu Noerhadi

Allohu akbar allohu akbar allohu akbar
Laa ilaaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd...

Kau senang bukan kepalang
Esok lebaran
Pakaian anyar
Banyak makanan
Kumpul kawan-kawan
Ngopi dan ngerokok sesuka hati lagi
Mau malam mau awan

Allahu akbar allohu akbar allohu akbar
Laa ilaaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd...

Kau sedih, matamu pedih
Puasamu hanya nahan lapar dan dahaga
Tarawihmu tak utuh
Tadarusmu tak sampai tigapuluh

Allahu akbar allohu akbar allohu akbar
Laa ilaaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd...

Kau berharap
Kau meminta maaf

1 Syawal 1439 H

Lebaran

Allohu akbar allohu akbar allohu akbar
Laa ilaaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd...

Takbiran berkumandang di masjid, surau
mushola atau langgar

Allohu akbar allohu akbar allohu akbar
Laa ilaaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd...

Menggema di dada

Dirasanya tak terasa
seperti baru kemarin berpuasa
Dipikirnya waktu begitu cepat berlalu
seperti baru kemarin Ramadhan tiba

Dan, kini bulan telah berada di atas kuburan

Bulan berganti bulan
Dan apa yang telah kau lelaki bakar
selama Ramadhan?
Laparmu, dahagamu, libidomu, hanya itu?
Bagaimana kabar pembakaran riyamu
ujubmu, takabburmu
hasad-hasudmu, fitnahmu
ingkarmu, dendam dan bencimu?
Apakah sudah jadi abu
ataukah api suci yang kau nyalakan
di Ramadhan itu tak mampu melahapnya?
Dan asap dari sampah yang tak habis
kau bakar itu hanya menyentuh matamu
bukan batinmu.

Matamu pedih
sebab puasamu hanya puasa mulut
dan tenggorokan
Mata dan telingamu
bibir dan hidungmu
pikiran dan hatimu
lengan dan jemarimu
bawah perut dan juga kakimu
apakah puasa?

Dada sesak, katamu, sebab tarawih dan tadarusmu
tak penuh hingga tiga puluh.
Tarawihmu kau pilah-pilih mana imam
yang cepat mana yang lambat;
mana yang 8 rakaat mana yang 20 rakaat.
Tadarusmu kau buru-buru
dicuri rencana-rencana kerja
di dalam kepala.
Tahajud terkantuk-kantuk.
Dan, sedekahmu
pun ditunda-tunda hingga THR tiba:

hingga kau lupa, malam lebaran datang

Allohu akbar allohu akbar allohu akbar
Laa ilaaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd...

Kau sedih
karena terlalu sibuk
hingga Ramadhan pergi begitu saja
dan Lebaran telah tiba

Kau mengucapkannya persis
seperti Ramadhan-Ramadhan yang dulu.

Kau berdoa
memohon agar kembali diperjumpakan
dengan Ramadhan depan
Kau memohon maaf seluas-luas
selebar-lebarnya kepada Ramadhan
kepada orang-orang yang juga berlebaran.

“Maafkan, seikhlas-ikhlasnya,”
pintamu semaunya
dan ke semuanya
entah kepada-Nya.

1 Syawal 1439

Bagikan:
Jumat 15 Juni 2018 4:0 WIB
Pesan Idul Fitri
Pesan Idul Fitri
Ilustrasi maaf-memaafkan (ist)
Pesan Idul Fitri

Esensimu adalah kebahagiaan
Substansimu adalah kemenangan
Pesan moralmu saling memaafkan
Tebarkan kasih sayang dan kedamaian

Kuburlah dalam-dalam
Iri dengki yang terpendam
Benci munafik deru dendam
Dari lubuk yang paling dalam

Rahman Rahim-Mu seakan terkubur
Di bumi Indonesia yang subur makmur
Ujaran kebencian kian menjamur
Jauh dari laku para leluhur

Saatnya merajut benang yang kusut
Kain nusantara yg lupa terajut 
Idul Fitri semua mengaku luput
Dari khilaf salah yang telah akut

Jaga amaliyah dan tradisi
Dari anggitan di kitab suci
Mari kita saling bersilaturahmi
Sucikan hati harapkan ridho ilahi

Dari yang kaya hingga yang miskin
Dari pejabat hingga mustadh'afin
Minal 'aidina wal faizin
Mohon maaf lahir dan batin

Ruchman Basori, Pengurus PP GP Ansor
Kamis 14 Juni 2018 15:20 WIB
Puisi Candra Malik: Merasa Dekat
Puisi Candra Malik: Merasa Dekat
Candra Malik (Dok. Mojok)
Merasa Dekat

Perjalanan Telah Sampai Ujung
Tapi masih jauh aku dari tujuan
Segala yang sudah aku tabung
Ternyata tidak bisa kuandalkan

Sejak berangkat merasa dekat
Belum separuh sudah mengeluh
Padahal entah di mana akhirat
Tak tahu aku alamat berlabuh

Jika belajar tidak sejak huruf
Betapa susah menyusun kata
Padahal ajal membatasi hidup
Masihkah waktuku bermakna?

Candra Malik, Budayawan Lesbumi NU

*) Disunting NU Online dari twitter @CandraMalik
Ahad 3 Juni 2018 9:45 WIB
Tentang Malam Nuzulul Qur’an
Tentang Malam Nuzulul Qur’an
Ilustrasi Al-Qur'an (via ok.ru)
Langit dunia siap dipantuli Cahaya Al-Qur'an karena orang-orang beriman sedang berpuasa di bulan Ramadhan.

Seandainya saja bulan Ramadhan Al-Qur'an turun tanpa disambut dengan puasa, dunia ini bisa hangus terbakar tak mampu menerima Cahaya Al-Qur'an.

Al-Qur'an diturunkan pada Malam Qadar, ibarat tumbu ketemu tutup. Al-Qur'an ibarat matahari, harus memantulkan keindahannya pada bulan.

Malam adalah menyibakkan selimutnya berubah seakan siang semua karena Al-Qur'an. Maka malam itu lebih utama dibanding 1000 bulan.

Al-Qur'an turun total malam itu karena kesempurnaan agama-Nya dilimpahkan pada umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang menjadi pusat gravitasi makhluk dunia akhirat. Dan umatnya juga sempurna. Maka berpestalah jiwa-jiwa suci malam itu.

Bagaimana Lailatul Qadar tidak lebih dahsyat dibanding seribu purnama, sedang ahli maksiat yang beriman saja jika disingkap hatinya, seribu matahari pun akan redup. Bagaimana jika yang disibak adalah hati orang shaleh? Akhirat kan bercahaya.

Bagaimana tidak 70 ribu lapisan Cahaya dan Kegelapan yang menirai-Nya, satu lapis tirai kegelapan tersingkap saja manusia merasa bertemu Tuhannya. Padahal masih puluhan ribu perjalanan Nur yang harus ditempuhnya. Oh, malam itu tiada terbayang.

KH M. Luqman Hakim, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG