IMG-LOGO
Daerah

Lopis dan Balon, Tradisi Unik Masyarakat Pekalongan

Senin 18 Juni 2018 14:0 WIB
Bagikan:
Lopis dan Balon, Tradisi Unik Masyarakat Pekalongan
Lopis dan balon selalu hadir di syawalan Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Setiap hari kedelapan di bulan Syawal, ada tradisi yang unik yang masih dilakukan hingga sekarang oleh warga Pekalongan. Salah satunya adalah tradisi merayakan Syawalan dengan pesta lopis yang dilakukan di daerah Krapyak.

Bahkan syawalan yang jatuh pada 8 Syawal merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya lopis raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter dengan diameter 1,5 meter dan berat mencapai 225 Kg. Setelah acara doa bersama, Lopis Raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

Dari mana tradisi ini berasal? Menurut sejarahnya, seperti yang dikutip dari akun Twitter @kotabatik, orang yang pertama kali memelopori  syawalan adalah KH Abdullah Sirodj, ulama Krapyak yang masih keturunan Tumenggung Bahurekso (Senopati Mataram).  

Awalnya KH Abdullah Sirodj rutin melaksanakan puasa syawal, puasa ini kemudian diikuti masyarakat sekitar Krapyak dan Pekalongan pada umumnya. Sehingga meski hari raya, mereka tidak bersilaturahmi demi menghormati yang masih melanjutkan ibadah puasa syawal.

Dulu, ceritanya, sehabis salat ied, suasananya masih seperti Ramadhan. Baru pada hari ke-8 Syawal, suasana Lebaran benar-benar terasa.  Yang menjadi khas dalam tradisi syawalan di Krapyak Pekalongan adalah disajikannya makanan berupa lopis.  

KH Abdullah Sirodj memilih lopis sebagai simbol syawalan di Pekalongan karena terbuat dari beras ketan yang memiliki daya rekat yang kuat, yang menyimbolkan persatuan.

Alkisah, Presiden Soekarno datang dalam rapat akbar di lapangan Kebon Rodjo Pekalongan (sekarang Monumen) tahun 1950, beliau berpesan agar rakyat Pekalongan bersatu seperti lopis, sehingga warga Krapyak setiap syawalan selalu memotong lopis.

Meski konon tradisi Syawalan sudah ada sejak tahun 1885, tradisi ini mulai dilakukan secara besar-besaran pada tahun 1950. Dengan memotong lopis berukuran besar oleh kepala daerah setempat.  Adapun, proses memasak lopis raksasa  butuh waktu 4 - 5 hari, dengan meggunakan dandang berukuran besar. Untuk memindahkannya, harus memakai katrol.

Para pengunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antaranggota masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lopis yang lengket.

Menurut tokoh masyarakat Krapyak KH Zainuddin, ketan sebagai bahan dasar lopis memiliki makna persatuan (kraket=erat), karena ketan yang sudah direbus memiliki daya rekat yang kuat dibanding nasi. 

"Kita sebagai sesama Muslim harus memiliki rasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Beras ketan yang putih, bersih memiliki makna kesucian (kembali fitri) dalam nuansa lebaran," ungkapnya kepada NU Online.

Dikatakan, bungkus lopis diambilkan dari daun pisang, yang memiliki arti perlambang Islam dan kemakmuran. Bahwa Islam selalu menumbuhkan kebaikan dan menjaga karunia Tuhan. 

"Daun pisang yang digunakan tidak boleh terlalu tua ataupun terlalu muda, karena akan berpengaruh pada cita rasa lopis tersebut," jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, selain itu ikatan atau tali pembungkus menggunakan serat pelepah pisang, melambangkan kekuatan. Sesuatu yang sudah dicapai (kembali fitri) harus dijaga agar tidak luntur ataupun berkurang. 

"Akan lebih baik jika semakin bertambah atau ditingkatkan. Pengikat ini juga bisa berarti sebagai pengikat kita untuk menjalin silaturahmi antar-Muslim (Hablum minan nas)," pungkasnya.

Dewi Shinta (52) warga Krapyak kepada NU Online mengatakan, tidak hanya lopis raksasa yang khas di syawalan, hal unik lainnya adalah warga Krapyak yang mayoritas warga nahdliyin memberikan makanan ataupun minuman secara gratis bagi siapa saja yang bertamu ke rumah pada hari kedelapan Syawal.

Selain lopis raksasa, warga Pekalongan di beberapa  kawasan lain juga merayakan syawalan dengan menerbangkan balon udara. Tradisi balon udara ini konon merupakan tradisi orang keturunan Indo Eropa zaman dulu yang bermukim di Pekalongan. (Muiz

Bagikan:
Senin 18 Juni 2018 23:0 WIB
Tabarukan dengan Sowan kepada Para Kiai
Tabarukan dengan Sowan kepada Para Kiai
ngalap berkah di lebaran idul fitri, di Kudus
Kudus, NU Online
Umat Islam dari berbagai daerah, mulai dari Kudus, Demak, Pati, Grobogan bahkan Jakarta berbondong-bondong sowan kepada para kiai pada momentum Lebaran Idul Fitri ini.

Tradisi sowan kiai ini sudah berlangsung sejak lama secara turun temurun. Di Kudus, para kiai yang ramai oleh umat yang sowan untuk bersilaturahim dan ‘ngalap berkah’ atau tabarrukan itu, antara lain KHM Sya’roni Ahmadi, KH Ulinnuha Arwani, KHM Ulil Albab Arwani, KHM Arifin Fanani, KH Hasan Fauzi, KH Muhammad Arwan, KH Sanusi Yasin, KH Ahmad Badawi Basyir, KH Saiq, dan Kiai Yasin Bin Muhammad.

Di kediaman KHM Sya’roni Ahmadi, warga yang datang untuk sowan bahkan membeludag dan berdesak-desakan. Sehingga Banser pun turut membantu mengatur jalan masuk menuju kediaman kiai kharismatik yang juga Mustasyar PBNU tersebut.

"Sowan, silaturahim kiai ini untuk ngalap barokah. Alhamdulillah, di sini ada mauidhah dari Mbah Sya’roni," ujar Abdul Rois, warga Dukuh Karangmojo, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog.

Saking membeludagnya tamu yang datang, di teras rumah Kiai Sya’roni pun dipasangi layar, sehingga mereka yang tidak mendapatkan tempat di dalam, bisa menyimak keterangan dari apa yang disampaikan kiai.

Dalam kesempatan itu, Kiai Sya’roni di antaranya menjelaskan apa sebab ulama selalu doa kembali ke alam kesucian, dan apa sebab Kanjeng Nabi Muhammad berdoa supaya orang diberi keluasan rizki.

"Kembali ke alam kesucian, Nabi dawuh, kullu mauluudin yuuladu alal fitrah. (kabeh bayi itu suci). Anak durung baligh meninggal dunia, mesti (masuk) surga, walaupun anaknya orang non muslim, karena kita sudah baligh, makanya doanya adalah supaya kembali kepada kesucian, dengan berdoa semoga husnul khatimah," lanjutnya.

Terkait dawuh Kanjeng Nabi bahwa orang yang mau silaturahim itu akan panjang umur dan menambah rizki, karena silaturahim itu membangun sebuah kerukunan. "Silaturahim itu mempererat tali persaudaraan," tuturnya. (Adib/Muiz)
Senin 18 Juni 2018 21:30 WIB
Ciri Bertakwa Peduli dengan Kesulitan Kerabat
Ciri Bertakwa Peduli dengan Kesulitan Kerabat
Jember, NU Online
Tempaan selama Ramadhan hendaknya bisa membekas pada perjalanan kaum Muslimin di waktu berikutnya. Takwa sebagai puncak hikmah puasa harusnya menjadi garansi dari proses pembentukan pribadi terbaik. Salah satu cirinya adalah peduli dengan kesulitan saudara terdekat.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Hafidz Hasyim saat memberikan mauidlah hasanah terkait hikmah Idul Fitri, Ahad (17/6). Kegiatan berlangsung di Rowo Tengah, Sumberbaru, Jember, Jawa Timur.

Menurut dosen di Institut Agama Islam Negeri Jember tersebut, bahwa banyak indikator bahwa seorang Muslim telah menjadi muttaqin atau orang bertakwa. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni surat al-Baqarah ayat 177.

Bahwa ciri orang yang bertakwa adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, sejumlah kitab, termasuk para nabi. 

“Juga memberikan harta yang dicinta kepada kerabatnya,” kata Ustadz Hafidz. Ayat ini memberikan pesan bahwa memiliki kepedulian kepada penderitaan sesama seharusnya lebih memprioritaskan kerabat terdekat, lanjutnya.

Karenanya, alumnus pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini kurang sependapat dengan penggalangan dana untuk kawasan yang lumayan jauh, bahkan hingga ke luar negeri. “Karena masih banyak kerabat sekitar yang layak dibantu, mengapa harus memikirkan mereka yang jauh?” sergahnya.

Dirinya mengingatkan bahwa mengentaskan kebutuhan saudara dari mulai adik, keponakan dan kerabat yang lain ternyata lebih dianjurkan dari kalangan lain. “Baru setelah itu perhatian diberikan kepada anak yatim, miskin, musafir dan mereka yang meminta-minta,” ungkapnya.

Pada ayat berikutnya disebutkan bahwa ciri mereka yang takwa adalah memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. 

“Juga orang-orang yang menepati janji, dan kalangan yang sabar saat terhimpit persoalan, penderitaan dan kala peperangan,” jelasnya. Mereka disebut memiliki iman yang benar serta kalangan bertakwa yang sesungguhnya. 

Karena itu tidak ada pilihan bagi kaum Muslimin yang telah ditempa selama Ramadhan selain meningkatkan kadar ketakwaannya. “Karena ini menjadi maksud dan tujuan mulia dari puasa yakni agar kita bertakwa,” tandasnya. (Red: Ibnu Nawawi
Senin 18 Juni 2018 21:0 WIB
Malam Takbir, Sejumlah Masjid Bagikan Doorprize
Malam Takbir, Sejumlah Masjid Bagikan Doorprize
Dpat hadiah sepeda usai takbir keliling
Kudus, NU Online
Bagi-bagi doorprize menjadi cara tersendiri bagi sejumlah masjid di Kudus Jawa Tengah meramaikan malam takbir Idul Fitri 1439 H, kemarin. Selain menarik minat warga untuk takbiran bersama cara itu juga bisa merekatkan hubungan masyarakat antar desa di sekitar masjid.

Pengurus Masjid Jami’ Roudlotul Jannah Pranak Lau Dawe, Masykuri mengatakan kegiatan semacam itu biasanya diinisiasi oleh remaja masjid. Mereka yang mengkoordinasikan warga untuk berduyun-duyun hadir ke masjid, melakukan kirab keliling kampung sambil bertakbir.

“Barulah pada puncak acara, doorprize itu dibagikan berdasarkan pada undian kupon yang dibagikan sebelumnya,” katanya.

Demikian itu juga dilakukan oleh Remaja Masjid Jami’ Nurul Mubin Gilang, Desa Bae, Bae Kudus. Masyarakat dibagi menjadi tiga kelompok untuk berkeliling kampung dan finish d satu titik yang sama, yaitu masjid.

Safiq Afandi, salah satu panitia, mengungkapkan jumlah hadiah yang dibagikan mencapai 250 hadiah. Diantaranya ada peralatan rumah tangga, pakaian, alat sholat, perlengkapan sekolah, sepeda gunung, sepeda lipat dan sebagainya.

“Hadiah itu kami dapatkan dari para donatur yang menginginkan kegiatan ini ada untuk memeriahkan lebaran,” paparnya.

Menurut Safiq, masyarakat amat senang dan bisa bersatu dengan adanya kegiatan itu. Kegembiraan terpancar pada seluruh masyarakat yang ikut ambil bagian menyambut idul fitri dengan ini. Bahkan yang biasanya tidak akur m, dalam kegiatan ini semua bisa melebur dan akrab.

“Karena dampak yang positif ini kami akan terus usahakan kegiatan serupa pada hari-hari besar Islam, mungkin nanti pada waktu tahun baru Islam akan ada lagi,” jelasnya.

Tak kurang dari seribuan orang dengan khidmat melantunkan takbir dan berjalan mengelilingi kampung, mereka saling bertegur sapa dan mengajak setiap orang yang ada di jalan untuk bergabung dan membaur tanpa ada sekat.

Tak hanya di Masjid Pranak dan Masjid Gilang, kegiatan serupa juga dilakukan di desa Puyoh, Dawe dan sejumlah desa lainnya.(Farid/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG