IMG-LOGO
Esai

Timnas Tunisia dan Shalawat Fatih

Rabu 20 Juni 2018 7:30 WIB
Bagikan:
Timnas Tunisia dan Shalawat Fatih
Para pemain Timnas Tunisia (dok: indosport)
Oleh: Muhammad Syakir Niamillah Fiza

Timnas Tunisia harus menelan pil pahit pada laga perdananya di Piala Dunia 2018 pada Selasa (19/6) dinihari WIB. Perjuangannya selama 90 menit kandas di menit tambahan.

Adalah Harry Kane yang berhasil membuat para pemain dan pendukungnya tertunduk lesu. Pemain bernomor punggung 9 itu berhasil mencetak gol kedua pada debutnya di piala dunia itu setelah mendapat umpan sundulan dari Harry Maguire yang bermula dari sepak pojok.

Pemain Tottenham Hotspurs itu juga yang mencetak gol pertama bagi Inggris di Volgograd Arena. Ia berhasil memasukkan bola ke gawang pada menit kesepuluh usai menerima muntahan dari kiper Mouez Hassen.

Sementara itu, Tunisia sempat berhasil menyamakan kedudukan pada menit 35 melalui kaki Ferjani Sassi. Ia begitu tenang menendang bola dari titik putih setelah Fekhreddin Ben Youssef dilanggar oleh Kyle Walker. Meskipun bola sempat mengenai tangan kiper Jordan Pickford, tetapi ia terlalu deras untuk dapat dimentahkan.

Sebelum berlaga, timnas Tunisia berdoa bersama di kamar ganti. Mereka tampak melantunkan surat al-Fatihah. Setelah itu, para pemain dan official juga membacakan shalawat Fatih ditutup dengan ayat 180-182 surat al-Shaffat sebagai berikut.

سُبْحنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Adapun shalawat Fatih yang dibaca adalah sebagai berikut.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَ الْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَ الْهَادِيْ اِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَ عَلَى اَلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَ مِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ

Shalawat Fatih tersebut di atas merupakan shalawat yang biasa dibaca oleh penganut Tarekat Tijani. Penutup bacaan dengan tiga ayat tersebut juga merupakan ciri khas tarekat itu. Hal ini diutarakan oleh KH Muhadditsir Rifa'i, salah satu putra Muqaddam Tarekat Tijani Buntet Pesantren KH Abdullah Syifa Akyas kepada penulis pada Selasa (19/6) malam. Hal itu juga termaktub dalam kitab Al-Durar al-Saniyyah min al-Adzkar al-Nabawiyah wa Awrad al-Thariqat al-Tijaniyyah.

Pelafalan dua wirid itu (shalawat Fatih dan ayat 180-182 surat al-Shaffat) memberikan indikasi mereka atau sebagiannya menganut tarekat yang didirikan oleh Sayyidina Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad Attijani.

Penulis adalah penggemar sepak bola.
Tags:
Bagikan:
Selasa 19 Juni 2018 3:37 WIB
Kumpulan Lagu Lebaran Idul Fitri dari Masa ke Masa
Kumpulan Lagu Lebaran Idul Fitri dari Masa ke Masa
ilustrasi: play.riffstation.com
Umat Islam, baik perorangan maupun kelompok, memiliki kebiasan terkait hari raya Idul Fitri. Di Indonesia hari raya selepas puasa sebulan penuh itu diwarnai gelombang mudik, ziarah kubur, halal bihalal, ketupat, hingga rekreasi karena liburan panjang dan lain sebagainya. 

Dalam kata-kata, hari raya yang dikenal dengan lebaran tersebut diekspresikan secara lumrah melalui “hari kemenangan” “kembali ke fitri”, “minal ‘idin wal faizin”, “maaf lahir batin”.   

Rupanya hal-hal terkait lebaran menjadi daya tarik bagi para penggubah untuk menuangkannya dalam bentuk lagu yang diiringi musik dengan ragam genre. Saya melakukan riset kecil-kecilan di Google, mencari penyanyi solo atau grup musik yang menyanyikan bertema terkait lebaran. 

Tentu saja apa yang saya paparkan ini tidak lengkap banyak penyanyi atau grup musik yang tidak terabsen. Bukan karena apa-apa, tapi keterbatasan pengetahun. Dan sayang sekali data ini tidak menyertakan tahun karena beberapa lagu yang ditemukan tidak menyertakan tahun rilis.  

Lagu-lagu yang saya temukandi antaranya Idul Fitri (Gita Gutawa), Selamat Hari Lebaran (Gigi), Raihlah Kemenangan (Gigi), Hati yang Fitri (Gigi). 

Lagu lain di antaranya Selamat Idul Fitri (Elizabeth Tan), Selamat Lebaran (Ungu), Tibanya Syawal Bahagia (Liza Hanim), Bila Takbir Bergema (Anis Suraya), Hari Raya Idul Fitri (Rhoma Irama), Selamat Pulang Kampung (KemenPU).

Grup musik asal kota kembang Bandung, Bimbo, mengeluarkan dua lagu yaitu Taqabalallahu Minna Wa Minkum dan Lebaran Sebentara Lagi.  

Pemusik lain di antaranya, P-Project (Mudik), Jefri Al Bukhori (Selamat Hari Lebaran), Elfa Secioria (Railah kemenangan).

Dari negeri jiran Malaysia, situs yang sama mencatat antara lain lagu Anugerah Aidilfitri (Siti Nurhaliza) Sesuci Lebaran (Siti Nurhaliza), Bila Hari Raya Menjelma (Siti Nurhaliza). Tentu saja bukan hanya Siti, beberapa penyanyi asal negara tersebut menyanyikan tema sama. 

Dari pemusik lawas ada A Bachsil dan OM Bluntas Ria (Dahaga dan Bahagia), Babay Suhaemi (Terkenang Ibu), Elvy Sukaesih dan OM el-Huryah (Belenggu Asmara), Muchsin dan OM el-Huryah (Jangan Risau), Djuhana Sattar Om Chandra Ayu (Gembira di Hari Raya). 

Elya Khadam dan OM Senandung (Mustika Hadiah Lebaran), R Sunarsih dan OM Pancaran Muda (Suara Takbiran), Lilis Suryani dan Om el-Jardin (Mata Keranjang), Lilis Suryan dan OM el-Jardin (Malam Takbiran), Zakarya dan OM Pancaran Muda (Mimpi Ketiban Bulan). Oslan Husein (Lebaran)

Penyanyi kasidah tentu saja tidak ketinggalan. Rofiqoh Dharto Wahab menyanyikan lagu Minal ‘Aidin wal Faizin. Grup kasidah Nasida RIa punya lagu Selamat Hari Raya. Qasidah Rosita punya Lebaran. Latif M dengan Orkes Gambus Al-Fata punya lagu berjudul Lebaran. Nanang Qosim yang dikenal seorang qari punya lagu Lebaran. Qasidah Modern Hikmah Dkk punya Idul Fitri.

Penyanyi anak-anak pun turut menyemarakkan lagu-lagu bertema lebaran. Dhea Ananda menyanyikan dua lagu berjudul Baju Baru dan Selamat Lebaran. 

Ada lagu lawas yang legendaris karangan komponis legendaris pula; yang menggubah beberapa lagu kebangsaan, yaitu Ismail Marzuki. Ia menciptakan lagu Selamat Hari Lebaran. Lagu ini dirilis tahun 1950, berarti ketika Indonesia baru lima tahun merdeka. Sedikit banyak, lagu yang bernuansa budaya Betawi ini merekam suasana bangsa Indonesia waktu itu. Yang hingga kini tak jauh beda. 

Lagu ini kemudian diaransemen ulang dengan penyanyi Denny Malik, Yani Libel’s, Betharia Sonata, dan Puput Novel. Lagu ini dicover oleh KacoKampong ft. Laila Assagaf & Irmansyah Tuhepaly. Pemusik lain juga tak sedikit mengaransemen ulang lagu ini. 

Ada lagu Selamat Hari Raya karya Tengku Alibasha yang dinyanyikan Miss Aminah. Lagu yang diapload Pak Belalang di YouTube itu, dinyatakan rilis pertama kali tahun 1936. Jika ini betul, tentu saja lebih tua dari lagu milik Ismail Marzuki.

Dari sekian banyak lagu tersebut, nyaris menarasikan hal yang sama; kemenangan, kebahagian, beramaafan, takbiran. Lagu Ismail Marzuki, Lilis Suryani (Mata Keranjang), Zakarya (Ketiban Bulan) keluar dari itu semua. Lebaran hanya latar dari cerita. Bahkan, Babay Suhaemi dalam lagu Terkenang Ibu, Lebaran dinarasikan penuh kepiluan karena bercerita tentang orang sebatangkara.  

Yang menarik, bisa juga tidak, ternyata Lilis Suryani menynyikan dua lagu bertema lebaran. Dua lagu tentang hari raya umat Islam itu tak cukup menyingkirkan imej tentangnya sebagai penyanyi Genjer-genjer. 

Tentu saja masih ada lagu bertema lebaran belum tercipta dan dinyanyikan. Entah berapa jumlahnya, saya tak sanggup mengabsennya. (Abdullah Alawi)

Senin 18 Juni 2018 4:0 WIB
Lebaran Si Mata Keranjang
Lebaran Si Mata Keranjang
ilustrasi: nyenderogahgeser.blogspot.com
Oleh Abdullah Alawi

Apa hubungannya antara mata keranjang dengan Lebaran? Muskil memang menghubungkan meski sebenarnya bisa saja. Namun, Lilis Suryani mampu menghubungkannya. Bahkan dalam sebuah nyanyian. Judulnya Mata Keranjang. Pencipta lagu itulah, entah siapa,yang mampu menghubungkannya.  Sayangnya, saya sendiri juga tidak tahu kapan dirilis lagu itu dan atau masuk ke album Lilis yang mana. 

Ketika saya mencarinya di Google dengan kata kunci Mata Keranjang Lilis Suryani pada 16 Juni 2018, mesin pencari itu hanya menyajikan dua halaman. Sayangnya, tak satu pun link menautkan dengan informasi yang dimaksud. Saya sendiri mendapatkan lagu itu dari sebuah situs yang lupa. Lagu itu itu dunduh bersama lagu-lagu lain yang bertema sama dari para penyanyi yang seangkatan dengan Lilis. 

Apa mata keranjang dan apa lebaran? 

Menurut KBBI daring, mata keranjang bukan mata yang terbuat dari keranjang, melainkan sifat selalu merasa berahi apabila melihat lawan jenisnya; sangat suka pada perempuan. 

Informasi lain mengatakan, ungkapan mata keranjang dari tulisan Arab pegon. Masalahnya arab pegon itu ditulis tanpa syakal sehingga mudah disalahpahami. Mata keranjang ditulis huruf mim digandeng dengan alif, dan ta (dibaca: mata). Selanjutnya, kaf digandeng dengan ra, kemudian menyusul jim dan ain yang saling berangkai. Karena huruf "kaf" disatukan dengan "ra", maka membacanya "keranjang". 

Pada masa itu, kata depan "ke" sering digabung penulisannya dengan kata yang mengikutinya, yaitu "ranjang". Jadilah "mata keranjang". Padahal kalau ditulis sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan, hasilnya mata ke ranjang. Mata yang mengajak ke ranjang. Begitu kira-kira. 

Dengan cara tulis seperti itu, akan dipahami pengertian mata keranjang  sebagaimana makna yang disajikan KBBI. Mata yang digandeng dengan keranjang berpengertian wadah, akan susah memahaminya. 

Karena mata keranjang sudah menjadi ungkapan jamak, penulisannya pun tidak berubah tetap disambung. 

Sementara lebaran adalah hari raya Idul Fitri setelah umat Islam melaksanakan puasa selama sebulan penuh. Tentang lebaran berpengertian ini telah banyak yang mengupasnya termasuk asal-usul dan ragam maknanya. Yang susah, tetap saja menautkan mata keranjang dengan lebaran. Bahkan, kalau tidak pernah mendengarkannya, siapa pun tak akan pernah menyangkan bahwa itu lagu tentang lebaran.  Namun, Lilis Suryani, lebih tepatnya sang pencipta lagu, mampu melakukannya. 

Begini lirik lagu Mata Keranjang:  

Lihat si kakek naik sepeda motor
Pakaiannya keren kayak anak kemaren
Si kakek bangga menyambut lebaran
Tetapi genitnya tiada ketinggalan 
Ai, si kakek masih genit aje
Enggak boleh melihat rupa yang mendingan
Memang si kakek matanya keranjang
Hingga tak menghiraukan lalu lintas di jalan
Apes lagi datang motornya keserempet masuk ke selokan 
Enggak jadi lebaran

Kemudian selepas kalimat itu, sang penyanyi mengatakan demikian, Maafin ya kek ya, jamak deh, setahun sekali, minal aidin wal faizin ya, Kek. Kemudian lagu itu kembali ke lirik awal. 

Tidak seperti lagu-lagu lain yang bertema lebaran, lagu ini tidak bercerita tentang amal-amal kemulian bulan puasa dan kemenangan saat Idul Fitri. Sila bandingkan dengan lagu bertema sama besutan Ungu: 

Sudah tiba hari kenenangan
Setelah berpuasa dibulan ramadhan
Mari kita saling bermaafan
Di hari yang indah fitri nan bahagia
Sebulan lamanya kita menahan nafsu
Dan cobaan di bulan ramadhan

Namun, jangan salah, setidaknya ini bagi saya, lagu Lilis ini lebih menukik tujuannya, lebih kontekstual untuk hari ini: saat sudah berumur tua, seharusnya tahu diri. Jangan sampai masih mengidap mata keranjang. Akibatnya terbukti, karena mata keranjang, si kakek tak menghiraukan lalu lintas di jalan. Apes lagi datang, motornya keserempet masuk ke selokan.  

Tentu saja perbandingan ini bukan untuk menyatakan lagu yang satu lebih baik dengan yang lain. Setiap penggubah lagu punya kecenderungan dan seleranya masing. Begitu pendengarnya. 


Penulis adalah warga NU penikmat lagu jenis genre apa pun

Ahad 17 Juni 2018 9:15 WIB
Mau Lebaran Apa Liburan?
Mau Lebaran Apa Liburan?
Ilustrasi (ist.)
Oleh Muhammad Faizin

Pertanyaan ini bisa jadi harus ditanyakan kepada kita semua yang merasakan suasana Idul Fitri di era milenial saat ini. Perkembangan teknologi informasi telah membawa masyarakat kepada kondisi di mana semua serba instan dan mudah. Kontak fisik dunia nyata sudah mulai berkurang berganti dengan kontak dunia maya melalui jari jemari memainkan gadget tanpa kenal waktu dan tempat.

Era saat ini, kita bisa mengukur berapa lama orang yang berkumpul mampu menahan diri untuk tidak memegang handphone yang mereka bawa. Sering kita lihat orang berkumpul namun tak terasa bersama. Kebiasaan phubbing (tindakan menyakiti orang lain dalam interaksi sosial karena lebih terfokus pada ponsel) menjangkiti masyarakat dan menjadi pemandangan sehari-hari. Yang dekat dijauhkan dan yang jauh didekatkan. Mereka asyik sendiri terhipnotis kecanggihan teknologi yang sekarang sudah menjadi tren dan bagian hidup di era teknologi informasi. Ke mana pun pergi, jika terlewatkan benda ini, akan terasa seperti berada di tengah hutan belantara, hilang komunikasi tanpa kawan menemani.

Ucapan Idul Fitri pun lebih didominasi dengan ucapan via media sosial baik melalui tulisan puitis hasil "copy paste" dari grup sebelah. Gambar ucapan Idul Fitripun dihiasi foto selfi yang diedit sedemikian rupa untuk “mengelabuhi” dan menunjukkan eksistensi diri. Namun sayangnya, indahnya untaian kata dan berbagai foto ucapan yang dikirimkan jarang mendapat balasan karena memang sudah dianggap biasa saja oleh sang penerima dan tak berasa. Inilah satu sisi “gelap” dunia maya yang lebih banyak berisi konten manipulasi, pamer dari pada simpati. Kualitas dan keberkahan telah tergeserkan dengan kemudahan dan kecepatan.

Belum lagi selesai mengirim ucapan imitasi sebagai usaha meraih jiwa yang suci, sering kita temukan di momen Idul Fitri, warganet masih sibuk menyebar hoak, ujaran kebencian dan fitnah kepada kelompok yang tidak mereka disenangi. Ungkapan kasar, sumpah serapah menghiasi beranda-beranda media sosial di hari raya yang seharusnya menjadi waktu mengubah skor menjadi 0-0. Tak peduli siapa yang diajak berkomunikasi, seolah semua orang salah di matanya dan pantas di bully. Tata krama kepada orang tua hilang, orang yang dalam kehidupan nyata terlihat pendiampun juga ikut liar di media mengeluarkan sumpah serapahnya.

Ramadhan pun seakan cukup di rumah saja, berkutat bersama android kirim ucapan kesana-kemari sambil mengintip aktifitas lebaran di beranda medsos orang lain. Belum lagi kita lihat deretan kueh yang saat ini sudah praktis jarang kita temui hasil olahan dapur sendiri. Berbagai macam jenis kueh dengan lebih banyak pemanis dan pewarna buatan menghiasi ruang tamu. Menarik untuk dimakan namun tak senikmat kueh jipang dan kueh sagon buatan Mbah Minem yang sudah turun menurun ia buat sendiri jelang Idul Fitri.

Warna-warni dan model pakaian barupun seolah ikut saling bersaing. Yang puasa dan yang tidak puasa seakan berhak merayakan Idul Fitri. Ucapan salah kaprah pun sering terdengar saling bersautan. “Mohon Maaf Lahir dan Batin, ya?”. Ungkapan untuk menghilangkan dosa adami ini pun disingkat dengan “Lahir batin ya?”. Padahal kata “Maaf” merupakan inti dari ucapan tersebut sementara “Lahir batin” merupakan keterangan tambahannya. Akhirnya pesan maaf pun tak tersampaikan.

Hari pertama lebaran, masjid dan lapangan penuh dengan lautan umat Islam yang melaksanakan ritual ibadah tahunan ini. Ada yang berangkat dengan niatan suci beribadah kepada Allah, namun ada saja yang datang karena ikut-ikutan memenuhi tuntutan sosial sehingga setelah shalat pun tidak mendengarkan khatib berkhutbah. Malah sibuk mengabadikan ibadahnya untuk disebarkan ke media sosial agar semua orang menganggapnya shaleh dan tekun beribadah.

Coba lihatlah masjid dan mushala yang selama Ramadhan terlihat geliat kehidupannya. Sekarang jamaahnya sudah "eksodus" ke tempat wisata dan pasar. Menghabiskan uang untuk kesenangan dengan membeli barang yang sebenarnya tidak perlu. Kepuasan terasa, saat membeli dengan motif keinginan dari pada kebutuhan.

Fenomena mudikpun ikut dijadikan ajang tahunan dengan perubahan niatan. Jika dulu semangat mudik didasari oleh keinginan bertemu keluarga dan bersilaturahmi menyambung persaudaraan, saat ini mudik “sakral” lebih diniatkan untuk mencari suasana baru “refreshing” lari dari kepenatan pekerjaan di rantau.  Semua ini menjadi renungan kita sambil menikmati kopi hangat ditemani kueh aneka warna dan bentuk dengan bahan baku yang sama, tertata rapi di meja tamu yang tak laku dimakan tamu karena sudah tahu rasanya sambil bertanya: “Mau Lebaran Apa Liburan?”.

Penulis adalah Warga NU Pringsewu
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG