::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Silsilah Nasab Pengurus NU kepada Hadratussyekh Hasyim Asy'ari

Jumat, 22 Juni 2018 13:00 Nasional

Bagikan

Silsilah Nasab Pengurus NU kepada Hadratussyekh Hasyim Asy'ari
Bandung, NU Online 
Ketua PCNU Kabupaten Bandung KH Asep Jamaluddin mengatakan, umumnya, setiap orang yang terlibat aktif di kegiatan organisasi Nahdlatul Ulama, baik sebagai anggota maupun menjadi pengurus kerap memiliki keterikatan nasab kepada pendiri organisasi, KH Hasyim Asy'ari. Keterikatan nasab ini dapat berupa nasab biologis atau keturunan dan nasab keilmuan melalui hubungan guru-murid. 

“Disadari atau tidak, orang yang aktif di NU, kalau diteliti ke atas pasti memiliki leluhur yang sama, bertemu dengan nasab kiai-kiai NU,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husaeniyah ini di kediamannya, Kampung Ciheulang, Ciparay, Kabupaten Bandung, Kamis (21/6).

Hal serupa juga berlaku dalam nasab pesantren NU yang jika ditarik ke atas, nasab keilmuan pesantren di NU akan 'sambung' dengan keilmuan Hadratussyekh. Seperti contoh, nasab kiai Asep sendiri terhubung langsung kepada Hadratussyekh lantaran kakeknya, KH Abdullah Cicukang yang pernah nyantri langsung kepada Hadratussyekh pada 1918 hingga 1926. 

Ia juga menyebutkan bahwa Kiai A. Qulyubi Tasikmalaya yang merupakan salah seorang pendiri NU di Tasikmalaya memiliki keterhubungan nasab baik secara biologis dan keilmuan kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Maka sudah tentu, lanjut dia, seseorang yang secara keilmuan terhubung dengan Rais Akbar NU tersebut, ia juga terhubung dengan Rasulullah Muhammad SAW. 

Hadratussyekh Hasyim Asy'ari sendiri "terhubung" langsung dengan Nabi Muhammad SAW melalui silsilah berikut: 

  1. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
  2. Syaikh Mahfudz at-Termasi.
  3. Syaikh Nawawi al-Bantani
  4. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
  5. Imam Ahmad ad-Dasuqi.
  6. Imam Ibrahim al-Baijuri.
  7. Imam Abdullah as-Sanusi.
  8. Imam ‘Abduddin al-‘Iji.
  9. Imam Muhammad bin Umar Fakhrurrazi.
  10. Imam Abdul Karim asy-Syahrastani.
  11. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali.
  12. Imam Abdul Malik al-Haramain al-Juwaini.
  13. Imam Abubakar al-Baqillani.
  14. Imam Abdullah al-Bahili.
  15. Imam Abu al-Hasan Ali al-Asy’ari.
  16. Abu Ali al-Juba’i.
  17. Abu Hasyim al-Juba’i.
  18. Abu al-Hudzail al-‘Allaf.
  19. Ibrahim an-Nadzdzam.
  20. Amr bin Ubaid.
  21. Washil bin Atha’.
  22. Sayyidina Muhammad bin Ali bin Abi Thalib.
  23. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw.
  24. Sayyidina Rasulullah Muhammad SAW
Dengan demikian, menurut Kiai Said Aqil Siroj, sanad keilmuan yang dikembangkan dan dipertahankan NU terhubung atau mutawatir kepada Rasulullah SAW. (Abdullah Alawi/Rozali)