::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tradisi Syawalan Tutup Kemeriahan Hari Lebaran

Sabtu, 23 Juni 2018 08:00 Daerah

Bagikan

Tradisi Syawalan Tutup Kemeriahan Hari Lebaran
Tradisi Syawalan
Batang, NU Online
Sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah pantai utara Jawa atau Pantura, menutup kemeriahan hari raya Idul Fitri 1439 H dengan tradisi Syawalan. Syawalan yang digelar tiap tanggal 8 Syawal menjadi penanda dimulainya kembali aktifitas masyarakat.

Di daerah Batang, Jawa Tengah, masyakarat mengisi tradisi syawalan dengan menggelar doa bersama di masjid dan mushalla. Momen ini juga menjadi ajang silaturahmi antar warga dengan agenda berdoa dan makan bersama.

Jum'at (22/6) pagi, terlihat masyarakat berduyun-duyun mendatangi masjid dan mushalla. Sejumlah warga juga membawa makanan, seperti ketupat, lontong, ayam, dan jajanan lebaran.

Tradisi Syawalan dengan doa bersama merupakan salah satu bentuk kebiasaan masyarakat Jawa yang hendak melakukan kembali rutinitas sehari-hari setelah sepekan merayakan hari raya Idul Fitri.

"Jadi dengan Syawalan kita berdoa dan berharap yang mau berangkat kerja, yang mau bertani, berdagang, belajar semoga diberikan kemudahan dan kelancaran," kata Kiai Abu Amar, sesepuh masyarakat Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang.

Pada momen Syawalan ini, masyakarat juga berbondong-bondong mendatangi sejumlah tempat keramaian seperti tempat wisata.

Masyarakat mentradisikan Syawalan sebagai bagian dari kearifan lokal. Dimana syawalan menjadi bagian penting dari kemeriahan lebaran seperti halnya mudik dan arus balik. (Zaenal Faizin/Muhammad Faizin)