::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kupatan, Momentum untuk Tidak Saling Dendam

Sabtu, 23 Juni 2018 23:00 Daerah

Bagikan

Kupatan, Momentum untuk Tidak Saling Dendam
Acara syawalan di Kudus Jateng
Kudus, NU Online
Memasuki hari kedelapan lebaran, masyarakat Indonesia, khususnya Kudus bisa dipastikan selalu menyediakan ketupat dan lepet di rumahnya. Konon itu tidak sekadar menjadi santapan, akan tetapi menyimpan makna yang lebih luas sebagai pengingat untuk tidak saling dendam dan benar-benar bisa memaafkan.
 
Ketua Ta’mir Masjid Jami’ Nurul Mubin, Gilang, Bae, Kudus, Sa’udi Alie, menyebutkan jika tradisi ini seolah menjadi lebaran kedua setelah idul fitri pada 1 Syawal. Hal itu lazim dilakukan oleh masyarakat jawa mengikuti ajaran Sunan Kalijaga yang bertujuan mengingatkan kembali masyarakat tentang kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya.

“Filosofi jawa kupat adalah akronim dari laku papat yaitu lebaran, luberan, leburan dan laburan,” katanya di Teras Masjid, Jumat (22/6).

Sa’udi melanjutkan, lebaran artinya bahwa kita sudah selesai melaksanakan ibadah puasa untuk melatih hawa nafsu yang lebih terkendali. Sedangkan Luberan maksudnya meluber rizkinya sehingga diwajibkan untuk berzakat, shodaqoh, infaq dan sebagainya.

“Kedua itu sudah kita lakukan kemarin, maka hari ini kita merayakan leburan. Maknanya lebur semua dosa dan kesalahan kita sehingga bersih,” imbuhnya.

Maka yang keempat, imbuh Sa’udi, kita harus memahami makna Labur. Yaitu benda yang biasanya digunakan untuk memutihkan dinding atau menjernihkan air. “Maksudnya supaya kita terus membangun kerukunan dan menjaga kesucian diri, lahir dan batin,” ujarnya kepada ratusan jamaah yang hadir.

Sa’udi juga menjelaskan hal itu sebagai kearifan para wali yang mampu membuat simbol untuk kepentingan kerukunan dan tetap menyampaikan ajaran agama dengan baik. Oleh sebab itu, umat Islam Indonesia sudah seharusnya memuliakan budaya dan tradisi warisan para wali itu. (Farid/Adib/Muiz)