IMG-LOGO
Daerah

Ujaran Kebencian untuk NU Pupuk Kualitas Tinggi untuk Nahdliyin


Ahad 1 Juli 2018 22:30 WIB
Bagikan:
Ujaran Kebencian untuk NU Pupuk Kualitas Tinggi untuk Nahdliyin
Jakarta, NU Online
Ketua PCNU Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi mengatakan bahwa organisasi NU bukan sekali dua menerima caci maki, ujaran kebencian, atau hujatan. Seiring perkembangannya, organisasi sosial dan keagamaan ini menerima label buruk yang lazim di zamannya dari kelompok-kelompok yang kepentingannya terganjal oleh NU.

Demikian disampaikan Kiai Abdurrazak kepada rombongan kunjungan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kebayoran Lama di Pesanggarahan, Jakarta Selatan, Jumat (29/6) malam.

Ia berpesan bahwa warga NU tidak perlu terkejut dengan ujaran kebencian yang dilontarkan kepada NU karena sepanjang perjalanannya NU tidak sunyi dari hujatan-hujatan oleh kelompok lain.

Menurutnya, fitnah dan hujatan yang sekarang ini lebih dikenal sebagai ujaran kebencian justru membuat warga NU semakin solid.

“Caci maki itu pupuk berkualitas tinggi yang menyuburkan organisasi besar bernama NU. Mereka itu tidak pernah melihat kebaikan NU. Yang dilihat, hanya kejelekan menurut tafsiran mereka,” kata Kiai Razak.

Sering kali, kata Kiai Razak, sikap sosial keagamaan NU menuai caci maki saat gagasan dan sikap itu dikeluarkan di zamannya. Tetapi pemikiran kebangsaan tersebut di kemudian hari terbukti kebenarannya dan orang menerima akal sehat yang dikeluarkan NU pada beberapa tahun silam.

Kiai Razak menyebut sikap politik NU di era Sukarno, Suharto, hingga era sekarang ini. Sering kali NU

“Tahun 1983 ketika NU memutuskan menerima asas tunggal Pancasila, bukan main hujatan kelompok di luar NU. Tetapi pelan-pelan semua orang menganggap penting sikap kebangsaan tersebut,” kata Kiai Razak.

NU selalu berkorban untuk Pancasila, kebinekaan, NKRI. Ia hadir di depan saat ancaman perpecahan semakin genting. NU juga bukan tipikal penggila kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Gus Dur, kata Kiai Razak, rela meninggalkan kursi kepresidenan untuk menghindari benturan antara warga NU dan elemen bangsa lainnya.

“Dari dulu banyak kelompok yang menginginkan NU bubar, tetapi ternyata awet. Kenapa demikian? Karena NU didirikan oleh bukan sembarang orang, apalagi orang sembarangan. NU didirikan oleh para kiai yang luar biasa, yang memahami agama dan memahami situasi tanah airnya,” kata Kiai Razak. (Alhafiz K)
Bagikan:
IMG
IMG