IMG-LOGO
Daerah

Cara Gusdurian Berantas Diskriminasi dan Ujaran Kebencian

Kamis 5 Juli 2018 20:0 WIB
Bagikan:
Cara Gusdurian Berantas Diskriminasi dan Ujaran Kebencian
Gusdurian
Bandarlampung, NU Online
Koordinator Gusdurian Lampung Gatot Arifianto mengatakan bahwa pada tahun ini, jaringan Gusdurian sedang mengembangkan platform pengaduan tindak diskriminatif untuk masyarakat sipil. Gudurian juga menggiatkan kampanye Counter Violence Extremism (pemberantasan kejahatan dan ekstrimisme) di sosial media.

Langkah ini direalisasikan dengan mengembangkan platform kabarkan.org yang menampung seluruh laporan dari masyarakat terkait adanya perlakuan diskriminasi dan ujaran kebencian yang dialami, dilihat, dan dirasakan oleh masyarakat. Platform ini juga difungsikan untuk membantu pemantauan titik-titik rawan dari segala praktik diskriminasi.

"Melalui platform kabarkan.org kami mendorong masyarakat untuk berani mengabarkan segala sesuatu terkait dengan tindakan diskriminasi dan ujaran kebencian. Baik di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya," katanya, Kamis (5/7) kepada NU Online.

Gatot menambahkan, bagi yang ingin menyampaikan informasi, saran dan keluhan, bisa menghubungi hotline di nomor 082289994500 atau melalui email: kabarkan.org@gmail.com.

Laporan-laporan yang masuk pada platform ini lanjutnya akan disalurkan kepada lembaga-lembaga yang berwenang serta akan digunakan sebagai alat bantu untuk kerja-kerja advokasi yang dilakukan oleh komunitas Gusdurian di berbagai kota di Indonesia.

Untuk pengembangan platform ini di Provinsi Lampung, Gatot mengungkapkan bahwa Gusdurian akan mensosialisasikannya kepada para pengajar, aktivis organisasi kepemudaan dan pegiat media sosial di Lampung.

"Sosialisasi ini akan kami kemas melalui kegiatan Sosialisasi Penggunaan Platform kabarkan.org dan Pelatihan Sosial Media yang akan dilaksanakan pada Kamis, 12 Juli 2018, pukul 07.30 - 22.00 WIB di Kantor PW GP Ansor Lampung Jl. Raden Gunawan 2 Rajabasa Pramuka Bandar Lampung," jelasnya.

Kegiatan yang terbatas untuk 30 orang ini tidak dipungut biaya dan diperuntukkan tidak hanya untuk umat Islam dan ormas tertentu. Pemeluk agama lain dan semua aktifis ormas yang peduli dengan perkembangan media sosial juga bisa ikut aktif dalam kegiatan ini. Berbagai fasilitas sudah disiapkan oleh panitia dan yang berminat lanjutnya, dapat menghubungi WA 0812-7202-2246 (Ali Imron) dan 0821-7711-7582 (Lufthi) dengan menyertakan nama lengkap dan alasan tertarik mengikuti kegiatan dimaksud. (Muhammad Faizin)
Bagikan:
Kamis 5 Juli 2018 15:0 WIB
Lusa NU Jateng Gelar Konferwil
Lusa NU Jateng Gelar Konferwil
Konferwil XV NU Jateng
Semarang, NU Online
Sabtu (7/7) mendatang, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah akan menggelar Konferensi Wilayah (Konferwil) di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Ngroto, Gubug Grobogan, Jawa Tengah.

Acara yang diselenggarakan lima tahun sekali ini akan dihadiri oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), para kiai sepuh, pengasuh pondok pesantren, Gubernur Jawa Tengah, Kapolda Jawa Tengah, Pangdam, Kanwil Kemenag, MUI, dan sejumlah tokoh politik, agama dan masyarakat secara umum.

Ketua panitia pelaksana H Najahan Musyafak menjelaskan, persiapan Konferwil NU memasuki tahap akhir. Persiapan yang meliputi semua fasilitas di lokasi acara, undangan peserta yang terdiri dari semua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se Jawa Tengah hingga acara-acara pelengkap sudah mulai dilaksanakan.

“Persiapan sudah 100 persen, siap dilaksanakan. Kita tinggal menunggu tanggal mainnya saja, kedatangan para peserta dan tamu undangan, bahkan sejumlah acara serangkaian Konferwil sudah mulai dilaksanakan,” jelasnya.
 
Dikatakan, Konferwil NU bukan semata-mata pemilihan rais dan ketua untuk masa jabatan periode selanjutnya, tapi lebih dari itu menjadi media penting untuk silaturahmi, terlebih acara yang akan berlangsung satu hari ini diadakan setelah pemilihan gubernur.

“Dalam Pilgub, Pemilu atau yang lain beda pilihan kan biasa, nah melalui Konferwil ini, saudara-saudara kita yang kemarin berbeda-beda pilihan dapat bertemu, bersilaturahmi, karena NU itu perekat anak bangsa. Jangankan yang sesama NU, dengan ormas atau bahkan agama lain juga NU menjadi pemersatu. Karena itu acara ini terbuka untuk siapa saja,” paparnya.

Najahan yang juga Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo itu berharap kepada semua masyarakat, khususnya warga NU untuk ikut serta berpartisipasi dan berdoa demi kelancaran dan kesuksesan acara yang mengusung tema Meneguhkan Kemandirian NU Jawa Tengah, Menyongsong Se-Abad NU.

Beberapa acara pendukung antara lain Majelis Dzikir & Maulidurrasul Muhammad SAW di Mushalla Pondok Pesantren Assalafi Miftahul Huda Ngroto (30/6), Kirab Santri yang akan diselenggarakan pada Kamis (05/7) pukul 13.00 WIB - selesai dengan start dari Musholla Pondok Pesantren Assalafi Miftahul Huda Ngroto, Apel Kader Penggerak NU di lapangan Desa Ngroto pada Jumat (06/7) dan NU Jateng Bersholawat pada Sabtu (07/7) pukul 07.30 WIB - selesai di lapangan Desa Ngroto. (Samsul/Muiz)
Kamis 5 Juli 2018 14:0 WIB
PCNU Jombang Diamanahi Kelola Hutan Perhutani
PCNU Jombang Diamanahi Kelola Hutan Perhutani
NU Jombang usai gelar rakor pengelolaan hutan Perhutani
Jombang, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur KH Salmanudin Yazid Al-Hafidh memaparkan, PCNU mendapat amanah sekaligus kepercayaan luar biasa, yaitu mengelola hutan Perhutani seluas seratus hektar.

"Kita diamanahi mengelola hutan Perhutani seluas seratus hektar hasil kerja sama PBNU dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," katanya, Kamis (5/7).

Dirinya bersama beberapa pengurus NU yang lain sebelumnya telah membincangkan terkait pengelolaan hutan secara langsung dengan Pihak Perhutani di Pondok Pesantren Babussalam Kalibening, Kecamatan Mojoagung, Jombang yang diasuhnya. Kala itu juga didampingi rombongan Lembaga Pertanian PBNU. 

Ia merinci, bahwa terdapat 50 hektar dengan status Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan 50 hektar dengan status Ijin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS). "Semuanya akan kita kelola dengan prinsip agar memberikan dampak yang positif dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat," tuturnya.

Hutan yang dikelola berada di Desa Kedunglumpang Mojoagung. Di dalamnya terdapat sejumlah situs. Seperti Makam Syekh Palumbon atau Syekh Ami Luhur juga Makam Alit. "Syekh Palumbon ini penyebar Islam dari Baghdad sebelum era Syekh Subakir. Makam Alit ini orang sakti di zaman Majapahit, juga ada gua Anggas Wesi, sumber mata air banyu penguripan alias waduk ubalan serta petilasan Joko Suruh," ujarnya.

Dijelaskan, semua situs nanti akan dimaksimalkan. Budaya, religi, bumi perkemahan, wisata out bound, serta sekolah lapang untuk mendidik masyrakat melestarikan hutan nanti kita kembangkan. 

Sementara Kasi PPB Perum Perhutani Jombang, Ivan N optimistis kerja sama dengan NU bakal bisa mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan, karena masyarakat sekitar hutan mayoritas adalah warga NU. (Syamsul Arifin/Muiz)
Kamis 5 Juli 2018 11:0 WIB
Warga Lebih Percaya Pesantren, Sekolah Negeri Sepi Peminat
Warga Lebih Percaya Pesantren, Sekolah Negeri Sepi Peminat
Banjarmasin, NU Online
Perkembangan teknologi membuat para orang tua resah. Kegandrungan anak menggunakan gawai, membuat para wali murid lebih mempercayakan pendidikan formal di pesantren dan madrasah.

Ini kejadian di Banjarmasin dua tahun terakhir. Adalah salah satu sekolah negeri di kawasan Kemuning, Jalan Kelayan Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengalami kekurangan siswa. Padahal sebelumnya sekolah tingkat pertama tersebut ramai peminat. Bahkan sejumlah ruangan dipastikan tidak terisi siswa.

Salah seorang guru mengemukakan awalnya semua ruangan belajar penuh. “Namun semenjak dua tahun lalu, ada ruangan tidak terisi karena tidak adanya siswa. Terlebih tahun ini pun terancam lima ruang belajar malah mubazir karena tidak berfungsi,” katanya. Hal itu disebabkan kurangnya minat siswa pada sekolah negeri, lanjutnya sebagaimana dilansir sebuah media lokal, Rabu (4/7).

Penyebabnya lantaran masyarakat setempat lebih memilih pendidikan di pesantren. "Kebanyakan warga di sini memilih memasukan anaknya ke pesantren. Para orang tua ingin agar anaknya belajar agama lebih mendalam," jelasnya.

Dirinya menyadari kawasan tersebut memang termasuk zona rawan. Khususnya pada pengaruh negatif obat-obatan. Bahkan termasuk adanya penjualan obat.

"Pokoknya di sini rawan. Jadi banyak dari orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya ke agama terutama tentang penggunaan handphone," ungkapnya.

Mengingat hal tersebut, ia mengatakan cukup berpengaruh pada jumlah siswa. Termasuk adanya pendaftaran sistem Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB daring.

Terlebih pada tiga hari PPDB daring berjalan, hanya 29 calon siswa yang mendaftar di sekolah tersebut. Selain itu awalnya dikatakan pihaknya membuka delapan ruang kelas untuk siswa baru. Namun melihat keadaan yang terjadi, dapat tiga kelas pun pihaknya merasa bersyukur.

Bahkan rencananya, sekolah dimaksud akan membuka pendaftaran hingga kuota tiga kelas terpenuhi. “Meski PPDB daring telah berakhir nantinya,” pungkasnya. (Red: NU Online)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG