IMG-LOGO
Internasional

Cerita Mahasiswa Indonesia Persunting Gadis Palestina di Lebanon

Sabtu 7 Juli 2018 17:0 WIB
Bagikan:
Cerita Mahasiswa Indonesia Persunting Gadis Palestina di Lebanon
Lebanon, NU Online
Lebanon telah menampung pengungsi Suriah dan Palestina lebih dari 1 juta orang. Sebuah kondisi yang berdampak pada perekonomian, keamanan dan pembangunan infrastruktur dalam negeri.

Hasil Penelitian Lembaga InfoPro menyebutkan dampak krisis Suriah terhadap Perekonomian Lebanon, telah mengalami kerugian sebesar USD 9,8 Miliar, baik yang diakibatkan oleh kondisi keamanan Suriah maupun keberadaan pengungsi di Lebanon. Namun, krisis itu tak menghalangi dua insan yang memadu kasih untuk melangsungkan pernikahan di Negeri Penyair Kahlil Gibran.

Acara Pernikahan antara Mahasiswa Indonesia di Lebanon, Muhammad Nur Syahru Tohari dan gadis asal Palestina, Manar Al-Huda Kassem. Keduanya telah resmi menjadi pasangan suami-istri yang sah. Resepsi digelar di Aula Hizbul Walaa, dekat dengan Mesjid Abu Haiydar, Beirut.

Momen bahagia itu berlangsung pada Sabtu (30/6) lalu, dan dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Lebanon HA Chozin Chumaidy, staf KBRI, para mahasiswa, keluarga dari masing-masing kedua mempelai, masyarakat Indonesia, sejumlah warga Lebanon, dan sejumlah warga asing non-Lebanon.

Ketika ditanya bagaimana bisa bertemu dengan gadis berdarah Palestina itu, Syahru menjawab dengan sederhana, “Tidak sengaja ketemu di FB dan disambungkan dengan adik ipar yang kebetulan dulunya tinggal bersama di asrama kampus waktu itu.”

Syahru menambahkan, komunikasinya dengan calon istrinya berjalan lancar tanpa kendala.

“Tapi biasa sewaktu masih di asrama dulu hanya seminggu sekali bisa dihubungi,” kata putra asli Mojokerto tersebut.
Sementara, kata Syahru, keluarga di Indonesia menyambut ceria dan sangat bahagia dengan hubungan kami.”

Syahru yang telah menyelesaikan pendidikan s1-nya di Lebanon ini mengatakan rencana ke depan bahwa ia dan istrinya akan menetap di Indonesia. Hari Kamis (5/7) beserta istri, Syahru berangkat ke kampung halaman, yaitu Mojokerto.

Acara resepsi ditutup dengan pemberian selamat dari seluruh hadirin, hiburan, dan foto bersama kedua mempelai, keluarga, undangan, lalu ramah tamah di aula tersebut. Dalam pernikahan itu, Syahru memberikan mahar berupa emas satu Liraa dan uang sebesar 10 ribu dolar Amerika. (Red; Alhafiz K)
Tags:
Bagikan:
Jumat 6 Juli 2018 20:0 WIB
Qamar Sultan, Penulis Al-Qur’an Terpanjang dan Terkecil di Dunia
Qamar Sultan, Penulis Al-Qur’an Terpanjang dan Terkecil di Dunia
Islamabad, NU Online
Seorang ahli kaligrafi asal Pakistan, Muhammad Qamar Sultan, baru saja menuntaskan pembuatan Al-Qur’an dengan ukuran terpanjang di dunia. Menurutnya, Al-Qur’an tersebut memiliki 10 baris dan setiap barisnya berisi tiga bab.

Dikutip dari Saudi Gazeette, Jumat (6/7), Al-Qur’an terpanjang di dunia tersebut akan dipersembahkan untuk Kerajaan Arab Saudi.

“Keinginan saya adalah mempersembahkan Al-Qur’an terpanjang di dunia, dengan panjang dua ribu meter kepada Kerajaan Arab Saudi,” kata Sultan.

Sebelumnya, Sultan juga pernah menulis Al-Qur’an dengan ukuran 1x1,5x3 cm dan berat 10 gram. Dengan demikian, ini menjadi salah satu Al-Qur’an terkecil di dunia. Meski kecil, Al-Qur’an tersebut bisa dibaca dengan mata telanjang karena kualitasnya sangat baik. 

Keahlian Sultan dalam menulis Al-Qur’an tidak hanya itu. Sejak 2003, Sultan berhasil menulis Al-Qur’an dengan medium bendera negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI). 

Karya Sultan ini mendapatkan banyak apresiasi dari banyak pihak, termasuk Asisten Sekretaris Jenderal OKI pada saat itu, Ezzat Kamil Mufti. Bahkan ia menyebutkan bahwa ide penulisan Al-Qur’an di bendera tersebut sebagai duta perdamaian.

Keahlian Sultan tersebut memang cukup langka dan unik. Hal itu menyebabkannya mendapatkan banyak ‘tawaran’ dari berbagai pihak. Salah satunya Brunei Darussalam. Pada 2010 silam, Kementerian Luar Negeri Brunei meminta Qamar Sultan untuk menulis Al-Qur’an di bendera negara yang beribukotakan Bandar Seri Begawan itu. 

Al-Qur’an itu diserahkan kepada Sultan dan Perdana Menteri Brunei Darussalam tepat pada saat Hari Nasional Brunei, 23 Februari 2010. (Red: Muchlishon)
Jumat 6 Juli 2018 9:0 WIB
Di Depan PM Jepang, Yenny Wahid Bicara Nilai Demokrasi
Di Depan PM Jepang, Yenny Wahid Bicara Nilai Demokrasi
Yenny Wahid dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe
Tokyo, NU Online
Direktur Wahid Foundation Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid, Kamis (5/7) menjadi pembicara dalam simposium internasional bertajuk ”Shared Values and Democracy in Asia” di Tokyo, Jepang.

Forum gelaran Japan Foundation Asia Center (JFAC) dihadiri Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ini merupakan kegiatan tahunan sejak 2015. Mempertemukan kalangan intelektual dan peneliti dari berbagai negara di Asia. Tahun ini adalah penyelenggaraan simposium edisi keempat.

Dalam keterangannya, Yenny mengatakan bahwa dirinya diundang untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran berkaitan dengan topik seputar nilai-nilai kesamaan dan demokrasi yang ia anggap sangat relevan sekaligus kritikal di dunia saat ini. Di samping itu, topik tersebut juga selaras dengan aktivitas yayasan yang ia pimpin di Indonesia.

”JFAC menyelenggarakan simposium ini untuk melakukan dialog yang bertujuan mencapai pemahaman budaya bersama dan membangun landasan yang kuat untuk mengimplementasikan nilai-nilai persamaan dan demokrasi di Asia pada masa depan,” ujarnya sebagaimana dirilis tribunnews.com

Yenny menambahkan, dalam penyelenggaraan tahun ini, JFAC mengundang sejumlah pemimpin politik, pemimpin agama, dan peneliti dari negara-negara Asia. Mereka diundang untuk mendiskusikan nilai-nilai persamaan dan demokrasi dalam perspektif orang Asia, juga bagaimana negara-negara di Asia selama ini berevolusi untuk menjadi negara demokrasi modern.

Selain Yenny Wahid dari Indonesia, pembicara lain berasal dari India, Jepang, Filipina, Korea, Cina, Thailand, Malaysia dan beberapa negara Asia lainnya.

”Dalam simposium ada sesi khusus yang membahas pencapaian dan tantangan terkait aktivitas pertukaran budaya antara Jepang dan Asia menuju kolaborasi masa depan,” kata Yenny

Dalam forum ini, Yenny antara lain memperkenalkan Wahid Foundation sebagai yayasan yang selama ini aktif mempromosikan perdamaian dan keragaman di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan demokrasi terbesar ketiga.

Kata Yenny, Wahid Foundation didirikan untuk memperjuangkan visi kemanusiaan dari almarhum ayahnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sebagai mantan presiden dan cucu pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia yang juga aktif mempromosikan nilai-nilai demokrasi, Gus Dur membayangkan masyarakat multikultural yang tumbuh subur di Indonesia.

”Wahid Foundation didirikan karena kami percaya demokrasi harus melindungi keragaman. Tidak ada contoh yang lebih besar dalam hal perlindungan keanekaragaman ada di negara lain di luar Indonesia, yang merupakan rumah bagi lebih dari 300 kelompok etnis,” ujar Yenny.

Selaku direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid dalam beberapa tahun terakhir memang sering diundang untuk berbicara di berbagai forum internasional.

Terakhir, Maret 2018, ia hadir dan berbicara dalam pertempuan tingkat tinggi di Markas PBB di New York, AS, yang diselenggarakan oleh UN Women bekerjasama dengan UNOCT, United Nations Office of Counter Terrorism (Badan PBB yang bertugas menangkal terorisme di dunia). Yenny, antara lain berbicara tentang pelibatan perempuan di tingkat desa dalam upaya global menanggulangi bahaya radikalisme dan terorisme.

”Mereka tertarik dengan program Kampung Damai yang kami inisiasi di berbagai desa di Pulau Jawa,” tuturnya.

Sebelumnya, Februari 2016, Yenny berbicara dalam forum gelaran Kuwait Council for Cultural and Art, membahas topik seputar Islam dan peran wanita Muslim. Juga menjadi pembicara dalam sebuah konferensi tentang agama dan politik di Western Sidney University - Australia, November 2017. (Red: Muiz)
Kamis 5 Juli 2018 19:0 WIB
Dukung Palestina, Seorang Yahudi Swedia Jalan Kaki 5.000 Km
Dukung Palestina, Seorang Yahudi Swedia Jalan Kaki 5.000 Km
Foto: Instagram @walktopalestine.
Ankara, NU Online
Adalah Benjamin Ladraa, seorang aktivis Swedia, yang memiliki misi jalan kaki sepanjang 5.000 kilometer (dari negaranya ke Palestina) sebagai bentuk kampanye pro-Palestina. Tujuan utama dari misinya tersebut adalah untuk mengungkapkan solidaritas atas penderitaan warga Palestina, meningkatkan kesadaran internasional akan pendudukan Israel, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Orang tua Ladraa adalah seorang Yahudi. Ia memulai tersebut sejak delapan Agustus tahun lalu. Rencananya, pada hari ini, Kamis (5/7), ia akan menyelesaikan misi perjalanannya tersebut. 

“Besok saya akan membuat penyelesaian terakhir dari perjalanan saya dan tiba di wilayah perbatasan Palestina yang diduduki,” tulis Ladraa di akun Instargamnya @walktopalestine. 

Dia mengungkapkan, untuk menyelesaikan misinya tersebut akan tidak lah mudah. Pasalnya, tentara Israel mungkin tidak akan mengizinkannya memasuki wilayah yang diduduki Israel. Namun jika itu benar-benar terjadi, maka ia menilai itu adalah kesempatan yang baik bagi media di seluruh dunia.  Mereka bisa melaporkan bagaimana Israel menghalangi aktivis HAM memasuki Palestina.

“Jadi saya ingin semua orang menghubungi banyak surat kabar, stasiun TV, kantor berita, dan yang lainnya, dan membagikan cerita ini,” sambungnya.

Dikutip dari Daily Sabah, aksi Ladraa itu bukan lah sesuatu yang ‘ujug-ujug’. Sebelumnya, Ladraa pernah mengunjungi Palestina selama tiga pekan. Selama di sana, ia sadar  bahwa Israel telah banyak melakukan pelanggaran HAM terhadap warga Palestina. 

Beberapa waktu setelah itu, dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan studi untuk memulai misinya, yaitu berjalan sepanjang 5.000 kilometer. Selama menjalankan misinya itu, Ladraa selalu membawa bendera, serban, dan kopiah, sebagai simbol kemerdekaan Palestina. Untuk membiayai misinya tersebut, dia menjual apa yang dimilikinya dan menerima donasi dari mereka yang mendukungnya. (Red: Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG