IMG-LOGO
Nasional

41 Masjid Pemerintah Terindikasi Sebarkan Paham Radikal

Ahad 8 Juli 2018 15:45 WIB
Bagikan:
41 Masjid Pemerintah Terindikasi Sebarkan Paham Radikal
Jakarta, NU Online
Penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dan Rumah Kebangsaan pada tahun 2017, menemukan dari 100 masjid, terdapat 41 masjid yang terindikasi menyebarkan paham radikal. Dari 41 masjid sebanyak 17 (41 persen) masjid berada dalam kategori radikal tinggi. Sisanya sebanyak 17 (41 persen) berkategori radikal sedang; dan hanya tujuh masjid atau 18 persen  yang masuk kategori radikal rendah.

“Radikal yang dimaksudkan adalah pandangan, sikap dan perilaku yang cenderung menganggap kelompoknya yang paling benar dan kelompok lain salah; mudah mengkafirkan kelompok lain; tidak bisa menerima perbedaan, baik perbedaan yang berbasis etnis, agama maupun budaya,” kata Agus Muhammad dari P3M pada konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Ahad (8/7).


(Baca: PBNU Sayangkan Khutbah Radikal di Masjid Pemerintah)
Selain itu radikal juga cenderung memaksakan keyakinannya pada orang lain; menganggap demokrasi termasuk demokrasi Pancasila sebagai produk kafir; dan  membolehkan cara-cara kekerasan atas nama agama.

Radikal kategori tinggi adalah level tertinggi di mana khatib bukan sekadar setuju, tetapi juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran. Kategori sedang artinya tingkat radikalismenya cenderung sedang.

Adapun radikal tergolong rendah, artinya secara umum cukup moderat tetapi berpotensi radikal. “Misalnya, dalam konteks intoleransi, khatib tidak setuju tindakan intoleran, tetapi memaklumi jika terjadi intoleransi,” ujarnya.

Direktur Rumah Kebangsaan, Erika Widiyaningsih mengatakan, penelitian dilakukan untuk memetakan potensi radikalisme di masjid-masjid pemerintah (kementerian, lembaga dan BUMN). Pemetaan ini terutama untuk menjawab sejumlah asumsi yang beredar di masyarakat bahwa masjid-masjid pemerintah disusupi oleh kelompok radikal. 

(Baca: 56 Persen Masjid BUMN Terindikasi Radikal)

“Meskipun masjid-masjid tersebut membawa simbol negara, para takmir masjid dan penentuan khatib Jumat ditemukan mempunyai pandangan keagamaan yang cenderung ekstrem,” ujar Erika.

Materi khutbah mencerminkan sikap/haluan/pandangan keagamaan para pengurus masjidnya (takmir). Para khatib yang dipilih/ditentukan oleh takmir masjid mencerminkan pandangan keagamaan masjid tersebut.

Penelitian dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat, selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid yang terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN yang diteliti.

Setiap masjid didatangi oleh satu orang relawan untuk merekam khutbah dan mengambil gambar brosur, buletin dan bahan bacaan lain yang terdapat di masjid. Bahan-bahan tersebut dijadikan acuan untuk menilai apakah masjid tersebut terindikasi radikal atau tidak. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Ahad 8 Juli 2018 23:45 WIB
Forum Dai Muda Ajak Masyarakat Perangi Radikalisme dan Terorisme
Forum Dai Muda Ajak Masyarakat Perangi Radikalisme dan Terorisme
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI), Moh. Nur Huda mengajak masyarakat bersama para dai untuk berperan dalam memerangi radikalisme dan terorisme. Bahakan diharapkan dapat memutus arus penyebaran paham radikalisme dan aksi terorisme yang selalu mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.  

"Paham radikalisme dan terorisme ini nyata di tengah-tengah kita. Saya mengajak bersama seluruh elemen masyarakat, untuk konsisten menjaga rumah Indonesia.“ Kata Nur Huda saat menyampaikan sambutan pada Halaqoh Kebangsaan Peran Dai Muda dalam Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu, (7/7).

Tindakan tegas dari aparat penegak hukum dan pemerintah harus ditingkatkan. "Aparat harus tegas. Masyarakat membutuhkan kenyamanan dan ketentraman," tegas Huda.

Sementara itu, menurut Ahmad Sugiyono, Sekretaris Jendral FKDMI, kegiatan Halaqoh Kebangsaan tersebut juga dirangkai dengan Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Pusat FKDMI sebagai amanat dari Munas IV FKDMI akhir tahun lalu.

"Penyebaran paham-paham kebangsaan, sebagai counter terhadap paham radikalisme dan terorisme akan menjadi garis besar arah program kepengurusan FKDMI pada periode ini," ujar Sugiyono.

Ia menambahkan, ada empat amanah bagi pengurus FKDMI, 

"Pertama, dakwah berkonten rahmatan lil alamin. Kedua, amanah cinta tanah air. Ketiga, dai muda yang tidak hanya di mimbar tapi juga pendampingan/advokasi masyarakat. Keempat memanfaatkan media sosial untuk menjangkau lintas generasi dan lintas batas teretorial," pungkasnya. (Ogie/Abdullah Alawi)

Ahad 8 Juli 2018 23:0 WIB
Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah
Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah
Konferensi pers temuan khutbah radikal masjid pemerintah
Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Agus Muhammad mengatakan terdapat enam topik radikal yang paling populer atau paling banyak ditemukan pada khutbah Jumat di masjid-masjid pemerintah.

Keenam topik tersebut adalah ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif (penerimaan) terhadap paham khilafah, sikap negatif terhadap kaum minoritas, kebencian kepada minoritas, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan.

Keenam topik juga didasarkan pada tiga level radikalisme, yakni rendah, sedang, dan tinggi. Rendah artinya secara umum cukup moderat tetapi berpotensi radikal. Kategori sedang artinya tingkat radikalismenya cenderung sedang, misalnya dalam konteks intoleransi, khatib setuju tapi tidak sampai memprovokasi jamaah untuk bertindak intoleran. 

(Baca: PBNU Minta Pemerintah Awasi Masjid dari Khutbah Radikal)

Sedangkan kategori tinggi adalah level teratas di mana khatib bukan sekadar setuju, tetapi juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran.

“Pada ujaran kebencian level tinggi seperti melakukan provokasi bahwa kaum kafir menyerang kaum Muslim, provokasi konspirasi bahwa Islam diserang berbagai kekuatan, provokasi bahwa umat Islam dimusuhi dan diperangi, menghina orang kafir, menghina orang yang tidak percaya kepada Allah, menghina orang yang ziarah kubur," kata Agus pada konferensi pers hasil penelitian P3M dan Rumah Kebangsaan di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta Pusat, Ahad (8/7).

(Baca: Peneliti Dorong Ormas Moderat Cegah Radikalisme di Masjid Pemerintah)
Contoh konten radikal tingkat sedang terkait sikap negatif terhadap agama lain di antaranya memusuhi kelompok lain, menerima dengan terpaksa, membuat stigma negatif terhadap agama lain. Tuduhan terhadap Syiah telah memalsukan 400 hadist juga merupakan temuan ujaran kebencian pada konten radikal tingkat sedang. 

Adapun contoh penerimaan terhadap khilafah pada level sedang adalah menerima sistem demokrasi tapi setuju dengan gagasan khilafah. Menyindir agama lain dan sikap negatif terhadap agama lain menjadi contoh sikap negatif terhadap agama lain pada level radikal rendah.

(Baca: Memakmurkan Masjid Tak Sekadar Ramaikan Shalat Berjamaah)

Penelitian tersebut dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang diteliti. Seratus masjid terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN. Dari 100 masjid yang diteliti, 41 di antaranya terindikasi menyebarkan konten radikal melalui khutbah Jumat. (Kendi Setiawan)

Ahad 8 Juli 2018 22:30 WIB
Rais Aam: Halal Bihalal Momentum Perkuat Silaturahim Antarwarga
Rais Aam: Halal Bihalal Momentum Perkuat Silaturahim Antarwarga
Jakarta, NU Online 
Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mengajak kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya Jakarta Utara, untuk menjadikan momentum halal bi halal untuk memperkuat ukhuwah, baik islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah. Hal itu disampaikan Kiai Ma'ruf dalam halal bi halal masyarakat Jakarta Utara di Ballrooom Jakarta Islamic Center, Ahad (8/7). 

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini juga mengajak untuk mengubur kesalapahaman dan menghilangkan kegaduhan.

"Halal bi halal ini hendaknya menjadi momentum untuk mempererat silaturahim kita semua, antarwarga bangsa," ujar Kiai Ma'ruf.

Sebab menurutnya, Idul Fitri merupakan hari kasih sayang, yaumul marhamah. Sehingga jika ada hal-hal yang kurang tersambung, maka halal bi halal ini menjadi penyambung kembali tali silaturahim antarsesama Muslim atau sesama warga bangsa.

"Hendaknya kita menghilangkan dan mengubur kesalahpahaman atau salah pengertian, su'ud tafahum, antarwarga bangsa. Kemudian kita membangun hubungan husnud tafahum, saling pengertian sehingga tidak ada konflik antarsesama," tutur kiai yang berdomisili di wilayah Koja, Jakarta Utara ini.

Kiai Ma'ruf juga menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki landasan bernegara yang kuat, yakni, sebuah titik temu sebagai bangsa yang disebut Pancasila. Kemudian, Indonesia juga punya sebuah kesepakatan yang kuat, yaitu Piagam Jakarta yang setelah dibuang tujuh kata dijadikan sebagai UUD 1945.

"Kita berada di bingkai keindonesiaan, NKRI yang satu. Akan tetapi, karena tingkat kemajemukan yang tinggi, maka potensi konflik jelas tinggi. Karena itu, kita harus jaga, kawal, dan rawat secara lahiriah dan batiniah," pungkasnya. (Khoirul Rizqy At-Tamami/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG