IMG-LOGO
Nasional

Gejala Radikalisme Masjid Pemerintah Masih Tinggi

Senin 9 Juli 2018 0:0 WIB
Bagikan:
Gejala Radikalisme Masjid Pemerintah Masih Tinggi
Konferensi pers temuan khutbah radikal masjid pemerintah
Jakarta, NU Online
Gejala radikalisme dan radikalisasi di masjid-masjid pemerintah (kementerian, lembaga dan BUMN) masih tinggi. Hal itu terlihat dari 41 di antara 100 masjid pemerintah terindikasi paham radikal.

Demikian salah satu kesimpulan hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dan Rumah Kebangsaan pada tahun 2017 tentang materi khutbah radikal di masjid negara. 

Pada hasil penelitian yang dipaparkan kepada wartawan di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Ahad (8/7) juga dinyatakan masjid-masjid BUMN adalah masjid yang paling rentan terhadap penyusupan kelompok radikal. Terbukti, dari 37 masjid yang disurvei, lebih dari separuhnya terindikasi radikal.

(Baca: Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah)
Dari segi prosentase, masjid-masjid lembaga paling kecil (29 persen) terindikasi paham radikal, tetapi intensitasnya cukup tinggi. Dari delapan masjid yang terindikasi radikal, enam di antaranya (75%) masuk kategori radikal tinggi.

Selain itu, masjid-masjid kementerian juga patut diwaspadai. Meski sebagian besar masuk kategori radikal rendah (41 persen) namun yang masuk kategori radikal tinggi juga cukup signifikan yakni mencapai 33 persen. 

Tingginya gejala radikalisasi di masjid-masjid kementerian, lembaga dan BUMN menunjukkan pemerintah sepertinya kurang peduli terhadap masjid-masjid yang secara struktural berada di bawah mereka.

Ketua Dewan Pengawas P3M Jakarta, Agus Muhammad menegaskan hasil penelitian tersebut baru sebatas indikasi, belum sepenuhnya mencerminkan realitas yang sebenarnya. “Bisa jadi masjid-masjid yang terindikasi radikal tersebut sesungguhnya moderat karena yang dianalisis hanyalah khutbah Jumat,” ujarnya.

(Baca: PBNU Sayangkan Khutbah Radikal di Masjid Pemerintah)

Akan tetapi, temuan ini juga bisa dibaca sebaliknya, bahwa fakta yang sesungguhnya lebih radikal dari temuan di lapangan. “Itulah sebabnya penelitian ini perlu didalami untuk mendapatkan fakta yang lebih empiris,” tambahnya.

Penelitian dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN yang diteliti. 

Penelitian dilakukan dengan cara setiap masjid didatangi oleh satu orang relawan untuk merekam khutbah dan mengambil gambar brosur, buletin dan bahan bacaan lain yang terdapat di masjid. Bahan-bahan inilah yang dijadikan acuan untuk menilai apakah masjid tersebut terindikasi radikal atau tidak.

Meskipun masjid-masjid tersebut membawa simbol negara, para takmir masjid dan penentuan khatib Jumat ditemukan mempunyai pandangan keagamaan yang cenderung ekstrem.

Direktur Rumah Kebangsaa, Erika Widyaningsih menegaskan penelitian tersebut untuk menjawab pertanyaan sejauh mana potensi radikalisme di masjid-masjid Kementrian, Lembaga dan BUMN melalui materi khutbah. Materi khutbah mencerminkan sikap/haluan/pandangan keagamaan para pengurus masjidnya (takmir). Para khatib yang dipilih/ditentukan oleh takmir masjid mencerminkan pandangan keagamaan masjid tersebut. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Senin 9 Juli 2018 23:30 WIB
Musim Haji Tahun Ini, Suhu di Saudi Bisa Capai 53 Derajat Celsius
Musim Haji Tahun Ini, Suhu di Saudi Bisa Capai 53 Derajat Celsius
Ilustrasi (Saudi Gazette)
Jakarta, NU Online
Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia Eka Jusuf Singka mengatakan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini bertepatan dengan musim panas di Saudi. Suhu udara di sana nantinya bisa mencapai 53 derajat celsius. 

"Untuk menghadapi risiko gangguan kesehatan, kami telah menyiapkan satu set perlengkapan, terdiri dari kacamata ultraviolet, payung, topi, botol minum, masker, dan semprotan untuk muka," terang Eka di Jakarta, Sabtu (07/07), seperti dilansir situs resmi Kementerian agama.

Kementerian Kesehatan menyiapkan sejumlah perlengkapan yang akan dibagikan kepada jemaah haji reguler Indonesia. Perlengkapan ini disiapkan salah satunya untuk mengantisipasi cuaca panas di Arab Saudi. "Kacamata hitam sebagai pelindung diri dari debu dan cuaca panas, masker alat pelindung diri juga," sambungnya.

Menurut Eka, sebagian perlengkapan akan dibagikan saat jemaah di embarkasi Tanah Air. Misalnya, botol air minum dan semprotan air. "Saat di embarkasi, kami juga akan membagikan cream atau balsem penghilang rasa pegal," tuturnya.

Sedang sebagian perlengkapan lainnya, akan dibagikan di hotel jemaah, Makkah atau Madinah, saat kegiatan penyuluhan kesehatan. "Kami juga siapkan doorprize bagi jemaah saat kegiatan penyuluhan di hotel," terangnya.

Data dari situs resmi Kemenkes menyebutkan, Kementerian Kesehatan menyiapkan 204.000 kacamata, 20.400 pasang sandal, 204.000 payung, 20.400 box masker, 204.000 tas, dan 20.400 penyemprot air (water spray). Penyiapan alat pelindung diri (APD) ini dalam rangka mengurangi risiko kesehatan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Eka menambahkan, tim kesehatan haji 2018 akan menyediakan 70 ton obat-obatan dari berbagai macam jenis penyakit untuk mengantisipasi jika jamaah haji mengalami gangguan kesehatan.

"Obat-obatan saluran pernapasan, flu, batuk, obat jantung ada, hipertensi ada. Pengganti cairan juga ada. Semua yang dibutuhkan oleh jemaah haji, yang diperlukan untuk semua penyakit," tandasnya. 

Ditambahkan Eka, Kemenkes saat ini juga tengag menyiapkan layanan Klinkk Kesehatan Haji Indonesia di Bandara Jeddah. Saat ini, layanan tersebut masih dikoordinasikan dengan Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI di Jeddah. (Red: Mahbib)

Senin 9 Juli 2018 22:0 WIB
Siswa MA NU Nahdlatul Fata Juara Silat Nasional
Siswa MA NU Nahdlatul Fata Juara Silat Nasional
Jepara, NU Online
Muhammad Zawawi, siswa MA NU Nahdlatul Fata desa Petekeyan kecamatan Tahunan kabupaten Jepara berhasil meraih juara 1 kelas E Remaja (BB; 56-58) dalam event USM Pencak Silat Championship yang diselenggarakan di Universitas Semarang (USM), Jumat-Ahad (6-8/7). 

Siswa yang naik ke kelas XII IPA itu tanding 4 kali dan berhasil menjadi juara setelah mengalahkan lawannya dari pulau dewata, Bali.

Untuk meraih target juara di event nasional yang diikuti pesilat se-Indonesia itu, dari pihak madrasah melaksanakan latihan intensif setelah hari raya sebulan lalu. 

Murid yang lahir di Jepara 09 Mei 2001 itu sudah mengantongi beberapa kejuaraan di antaranya Juara I Popda Kabupaten, Juara I Popda Karisidenan, Juara 2 Popda Jateng, Juara 1 Kejurda Pagar Nusa, dan Juara 1 Porsema. 

Kepala MA NU Nahdlatul Fata, Nur Khandir yang diwakili Waka Kesiswaan, Ulil Absor mengatakan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di madrasahnya, selain memberikan ruang bakat, juga untuk mengasah mental para siswa. 

“Saya juga berharap atlet pencak silat Pagar Nusa mampu meningkatkan dan mempertahankan prestasi yang telah diraih sesuai dengan jargon (madrasah berbasis sang juara),” katanya, Senin (9/7). 

Di samping peserta didiknya semakin berprestasi di ajang bergengsi lain guna membanggakan orang tua dan almamater. (Syaiful Mustaqim/Abdulah Alawi)

Senin 9 Juli 2018 20:15 WIB
Mendes Eko Minta Mahasiswa NTB Tumbuhkan Ekonomi Desa
Mendes Eko Minta Mahasiswa NTB Tumbuhkan Ekonomi Desa
Pulau Kenawa NTB (Bisnis Tempo.co)
Mataram, NU Online
Lebih dari dua ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Nusa Tenggara Barat (NTB) padati Convention Hall Lombok Raya Hotel, Mataram, NTB, Sabtu (7/7). Para mahasiswa ini hadir untuk mengikuti Dialog Nasional Indonesia Maju bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo; Menteri Pariwisata, Arief Yahya; dan Menteri Sosial, Idrus Marham. 
 
Tak hanya berdialog, tiga menteri ini juga membagi-bagikan sejumlah laptop dan puluhan tabungan berisi juta rupiah kepada puluhan mahasiswa yang hadir.
 
Dalam dialog tersebut, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengingatkan peran mahasiswa dalam membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di desa. Partisipasi mahasiswa dapat dilakukan melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.

"Nah partisipasi dari mahasiswa ini penting sekali untuk melakukan KKN, benevit-nya apa dari KKN, kalian (mahasiswa) bisa melihat potensi yang sangat besar di Indonesia," ujarnya.
 
Ia berharap, dalam KKN tematik tersebut para mahasiswa dapat menyalurkan pengetahuan kepada masyarakat desa dengan melakukan berbagai pendampingan. Menurutnya, kontribusi tersebut sangat membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa. Ia mengakui, masih banyak masyarakat di desa yang membutuhkan berbagai pendampingan seperti dalam memanajemen Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
 
Program-program di desa hanya akan berhasil kalau kita lakukan pendampingan. Kalau melakukan pelatihan biayanya akan sangat mahal," ujarnya.
 
Menteri Eko mengatakan, pendampingan demi peningkatan sumber daya manusia di desa sangat penting untuk membantu mengatasi kesenjangan. Sebab semakin meningkatnya kesenjangan kaya dan miskin, akan berpotensi besar menimbulkan gejolak sosial.
 
"Pertumbuhan ekonomi yang pesat tanpa dikurangi kemiskinan akan menimbulkan gejolak sosial. Yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan pengurangan gap antara yang kaya dan miskin," ujarnya.
 
Terkait pertimbuhan ekonomi Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan, Indonesia sebagai negara besar harus bergerak cepat demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, persaingan bukan persoalan besar atau kecilnya sebuah negara, namun lebih pada persoalan siapa cepat memakan yang lambat.
 
"Indonesia sekarang tumbuh tiga kali lipat dibandingkan dengan dunia. Pariwisata Indonesia tumbuh 22 persen," ujarnya. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG