IMG-LOGO
Tokoh

KH Abdul Halim Leuwimunding Pelopor Koperasi NU

Sabtu 14 Juli 2018 20:0 WIB
Bagikan:
KH Abdul Halim Leuwimunding Pelopor Koperasi NU
Para kiai pesantren sarungan itu, tidak melulu memikirkan akhirat di atas dunia. Begitu juga sebaliknya. Mereka berpijak kepada doa yang selalu dibaca selepas shalat, selamat dunia dan akhirat. 

Keseimbangan itu bisa misalnya terlihat pada awal abad 20. Mereka tidak hanya tinggal di pesantren dan mengajar kitab-kitab kuning, tapi sebagaimana anak bangsa lain, berupaya untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Karena trend masa itu adalah perjuangan melalui organisasi, para kiai pesantren pun mendirikannya. Mereka menamakannya Nahdlatul Ulama pada 1926. 

Setelah berdiri, organisasi itu mereka atur sesuai dengan ilmu administrasi modern. Berbagai mekanisme organisasi, pencatatan, hingga surat kabar mengiringi organisasi yang mereka jalankan. Pada tiap muktamar, uang masuk dan keluar dicatat dengan rinci dan dilaporkan ke khalayak. 

Tiga tahun berdiri, para ulama di organisasi tersebut memikirkan bagaimaba supaya anggotanya mandiri secara ekonomi. Pada 1929 mereka mendirikan Coperatie Kaoem Moeslimin (CKM).

Pelopor CKM adalah KH Abdul Halim, salah seorang pengurus Hofdbestuur (pengurus besar dalam istilah sekarang) NU asal Majalengka, Jawa Barat. 
Menurut Choirul Anam pada buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, barang-barang yang diperjualbelikan di CKM ketika itu berupa kebutuhan primer (kebutuhan sehari-han) seperti: beras, gula, kopi, rokok, pasta gigi, sabun, kacang, minyak dan sebagainya. 

Namun yang menarik, menurut Anam, dari usaha ini adalah peraturan dasar CKM yang, kala itu, sudah disahkan sebagai model koperasi NU di tempat-tempat lain. Ini pertanda langkah awal menuju sosial ekonomi sudah mulai telihat di tahun 1929 itu. 

Peraturan CKM mengenai pembagian keuntungan, misalnya, dibagi lima bagian: 40 persen untuk pegawai (penjual), 15 persen untuk pemilik modal, 25 persen untuk menambah kapital (berarti pemilik modal mendapat bagian 4O persen), 5 persen untuk juru komisi (iuru tulis) dan 15 persen untuk jam’iyyah Nahdlatul Ulama. 

“Apa yang terurai di atas, baik mengenai pendidikan, masalah sosial maupun dakwah, adalah sekedar contoh bagi usaha-usaha yang ditempuh NU di masa perintisannya. Dengan kata lain, pada awal sejarah pertumbuhannya, NU telah membuktikan pengabdiannya kepada agama dan masyarakat baik di bidang pendidikan, sosial maupun dakwah. Selain juga berhasil mengemban tugas sebagai pemeljhara kelestatian paham Ahlussunah wal jama’ah ‘ala mazhabil arba’ah,” tulis Anam dalam buku itu. 

Siapakah KH Abdul Halim Leuwimunding? 
Ia dilahirkan pada Juni 1898 dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Santamah. Para buyutnya adalah tokoh-tokoh setempat, yaitu Buyut Kreteg, Buyut Liuh, dan Buyut Kedung Kertagam. Setelah itu, Abdul Halim belajar mengaji di Pesantren Trajaya Majalengka, kemudian meneruskan ke Pesantren Kedungwuni, Majalengka, dan dilanjutkan di Pesantren Kempek, Cirebon.

Sebagaimana tokoh-tokoh di masanya yang berkelana sampai Makkah untuk menuntut ilmu, Abdul Halim juga menempuh hal yang sama. Ini dilakukan ketika ia baru berusia 16 tahun, yaitu pada sekitar tahun 1914.

Sebelumnya dua pamannya telah berada di sana, yaitu H. Ali dan H. Jen. Di Makkah Abdul Halim bertemu dan berkawan baik dengan K.H.Abdul Wahab Hasbullah. Ia kemudian pulang ke tanah asalnya pada 1917, dan satu tahun kemudian ia mencari ilmu di pesantren yang ada di Jawa Timur.

Abdul Halim memutuskan berangkat ke Tebuireng, Jombang, yang saat itu diasuh oleh kiai yang sangat dihormati di seluruh Jawa dan Madura yaitu K.H. Hasyim Asy'ari. Dengan demikian, sejak awal Abdul Halim sudah memiliki jaringan dengan pendiri NU, baik dengan K.H. Abdul Wahab maupun K.H. Hasyim Asy'ari. Abdul Halim kemudian menjadi salah satu peserta diskusi-diskusi dalam perbincangan pendirian NU, dan salah seorang yang hadir dalam pendirian NU pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H di Kertopaten, Surabaya. Ia sendiri kemudian mendapat kehormatan untuk menjabat sebagai Katib Tsani dalam kepengurusan NU awal itu.

Selama berguru kepada KH Wahab Hasbullah, Abdul Chalim telah mendarmabhaktikan hidupnya demi perkembangan ilmu di kalangan para santri. Di mana Nahdlatul Wathan merupakan tempat yang sangat baik bagi Abdul Chalim dalam berguru dan menularkan kemampuan ilmiahnya.

Pendekatan ilmiah terhadap masyarakat dengan interaksi sosial keagamaan dalam Nahdlatul Wathan merupakan salah satu sumbangsih KH Abdul halim. Bagi KH Abdul halim pendekatan sosial kepada masyarakat untuk menerapkan kaidah-kaidah keilmuan syariat bagi kehidupan masyarakat menumpakan sebuah terobosan yang sangat urgen dalam menyebarkan konsep-konsep keislaman yang membumi.

Abdul Halim juga memerintah dan mengembangkan NU di Jawa Barat, khususnya sekitar Majalengka, bersama kiai-kiai yang merintis NU di Jawa Barat, seperti K.H. Abbas dan keluarga Pesantren Buntet, K.H. Mas Abdurrahman dan masih banyak lagi yang lain.

Sebagai pendiri NU, Abdul Halim tidak memiliki pesantren, tetapi atas saran K.H. Wahab Hasbullah yang bertemu di Bandung pada 1954, kemudian Abdul Halim mendirikan pusat pendidikan. Baru pada tahu 1963 ia mendirikan dan mengembangkan Madrasah Ibtidaiyyah Nahdlatul Ulama (MI-NU) yang menjadi Madrsah Dinyah pertama di Majalengka. Pada perkembangan selanjutnya, pendidikan ini bertambah dengan Madrasah Tsanawiyah Leuwimunding di bawah payung Yayasan Sabilul Halim. (Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Selasa 10 Juli 2018 21:30 WIB
KH Jawahir Dahlan, Pemilik Suara Nabi Daud
KH Jawahir Dahlan, Pemilik Suara Nabi Daud
KH Jawahir dan Nyai Aisyah
Suatu ketika, Pondok Buntet Pesantren dan pesantren yang diasuh oleh KH Tb Ma'mun Banten mengadakan pertukaran santri. Buntet Pesantren mengirimkan empat utusannya, yakni KH Muhammad Hasyim Manshur, Kiai Amari, Kiai Abdur Rouf, dan KH Jawahir Dahlan. Sementara itu, Banten mengirimkan beberapa utusannya, di antaranya KH Tb Shaleh Ma'mun dan KH Tb Manshur Ma'mun.

Utusan Banten takhassus ilmu tajwid kepada KH Abbas Abdul Jamil dengan mengaji kitab Hirzul Amani wa Wajhut Tahani atau yang dikenal dengan Matan Asy-Syatibiyah. Sementara itu, delegasi Buntet Pesantren memperdalam ilmu tilawatil Qur'an kepada KH Tb Ma'mun. Pasalnya, kiai yang akrab disapa Tubagus Ma'mun itu merupakan seorang yang memiliki suara yang sangat indah. Pernah suatu ketika ia diminta untuk memimpin shalat. Tetapi, suaranya itu membuat makmumnya terbuai sehingga ia dilarang untuk kembali mengimami.

"Beliau cuma satu kali mimpin salat. Setelah itu diharamkan sama raja karena saking indahnya suara beliau, jamaah itu jadi hilang konsentrasi," kata Tubagus Soleh Mahdi, cicit Tubagus Ma'mun, sebagaimana dilansir Radar Banten pada Jumat (25/5).

Tak ayal, sosok Jawahir muda mulai dikenal sebagai seorang qari yang mampu membuat pendengarnya meresapi ayat-ayat Al-Qur'an yang ia baca. Di usianya yang belum genap menginjak tiga puluh tahun, ia diundang oleh KH Abdul Wahid Hasyim yang saat itu menjabat sebagai menteri agama. Bersama para qari dan hafiz dari berbagai daerah, mereka merumuskan pendirian Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH). Jawahir muda tercatat menjadi salah satu anggota pengurus Pengurus Besar JQH periode 1951-1953. Setelah itu, rupanya ia lebih aktif untuk mengembangkan JQH di wilayah Jawa Barat.

Kepiawaiannya dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu mendorong pemerintah melalui Menteri Agama memberinya syahadah syarif bersama 14 qari lainnya. Bahkan, seorang bernama M Khoezai dari Taman, Pemalang, menyebut dirinya sebagai pemilik suara Nabi Daud, dalam pengantar suratnya yang ditulis pada tanggal 5 Shafar 1361 H.

 شَقِيْقُ رُوْحِيْ الْاَخُ الْاَعِزُّ اَحْمَدْ جَوَاهِرْ صَاحِبُ الصَّوْتِ الدَّاوُدِيْ الَّذِيْ سَكَنَتْ لَهُ الرِّيْحُ وَ الْبَوَادِيْ وَ دَافَعَتْ لِسِمَاعِهِ الْمِيَاهُ فِي الْوَادِيْ

Belahan jiwaku, saudara yang mulia, Ahmad Jawahir, pemilih suara Daud yang karenanya, angin dan padang pasir begitu tenang dan air yang di lembah pun melambat alirannya karena mendengarnya.

Pada tahun 1960, ia pernah diundang untuk menjadi pembaca Al-Qur'an di Istana Negara pada peringatan malam Nuzulul Qur'an. Hal ini berdasar surat dari Koordinator Urusan Agama Daerah Karesidenan Tjirebon itu melampirkan sebuah salinan interlocal dari Kementerian Agama Jakarta tertanggal 12 Maret 1960, pukul 10.00 pagi.

Berikut isi interlocal tersebut (telah disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia).

"Menteri Agama minta agar Sdr. K. Djawahir Dahlan di Pesantren Buntet Cirebon, supaya datang ke Jakarta, buat kepentingan membaca Al-Qur'an pada waktu perayaan Nuzulul Qur'an di Istana Negara, yang akan diselenggarakan pada malam Rabu tanggal 15 ke 16 Maret 1960, harus datang di Jakarta lebih dulu tertanggal 14 Maret 1960."

Selain melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, di kemudian hari ia juga diundang untuk berceramah. KH Masrur Ainun Najih, Wakil Ketua PP Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), mengaku kepada penulis (2015) pernah diajak untuk menemaninya ke Lampung. Di samping itu, salah seorang muridnya yang menjadi muazin Masjid Agung Buntet Pesantren, H Mursyid, juga menyatakan kepada penulis pada Jumat (15/6/2018) bahwa dirinya pernah diajak Kiai Jawahir berkeliling dari puncak dataran tinggi hingga ke pinggir laut selatan guna berceramah. H Mursyid tidak hanya menemaninya saja, tetapi diminta untuk melantunkan kasidah-kasidah.

Didi, seorang warga Ciamis, Jawa Barat, pada Senin (18/6/2018) bercerita kepada penulis bahwa ia pernah mendengar Kiai Jawahir berceramah sampai jam dua pagi. Menurutnya, ia tidak bosan mengikuti ceramahnya hingga selesai mengingat selain ceramah, Kiai Jawahir juga mengajak serta grup kasidahnya.

Abah Jawahir, sapaan akrab anak cucunya, juga pernah menolak undangan mengaji pada bulan Ramadhan. Hal ini tercatat pada surat yang ia tujukan kepada H Kosasih di Bandung. Surat yang tertulis pada tanggal 3 Maret 1961 itu berisi beberapa alasan penolakan dan tawaran penggantinya.

Ia menolak karena setiap Ramadhan tiba, ia menerima banyak orang yang sengaja datang untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'annya hanya pada bulan tersebut atau biasa disebut ngaji pasaran. Mayoritas dari mereka adalah ustadz yang mengajarkan Al-Qur'an di desanya masing-masing. Di samping itu, kesehatannya yang sedang menurun juga membuatnya mengurungkan niat untuk dapat memenuhi panggilan tersebut.

Meskipun demikian, ia mengutus putrinya Siti Zainab, muridnya Syihabuddin dari Sumedang, dan kakaknya Nyai Karimah. Kepada tiga orang yang mengundangnya, H Kosasih, H Memen, dan Kanda Yusuf, Kiai Jawahir meminta agar dapat memberi hadiah khusus untuk putrinya sebagai kebahagiaan menyambut Idul Fitri. Kelak, Siti Zainab dipersunting oleh KH Abdullah Abbas sebagai istrinya.

Jadi Juri MTQ

Kiai Jawahir juga pernah menjadi juri Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) yang pertama kali digelar. Hal ini tercatat pada Surat Keputusan bernomor 75/OC/KF/62/1/65. Saat itu, gelaran dilakukan oleh Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) yang dipimpin oleh KH Ahmad Syaichu bekerja sama dengan PP Jamiyyatul Qurra wal Huffazh.

Kiai kelahiran tahun 1921 itu kembali menjadi juri pada MTQ Nasional kedelapan di Palembang tahun 1975. Entah apakah ia tidak menjadi juri pada gelaran MTQN pertama di Sulawesi Selatan hingga MTQN ketujuhnya. Sebab, penulis hanya menemukan dokumentasi MTQN kedelapan tahun 1975 di rumahnya meliputi surat keputusan penetapannya sebagai juri, sertifikat penghargaan dari Menteri Agama Mukti Ali, peraturan, sampai kartu makannya.

Kiai Jawahir meninggal menjelang Subuh di rumahnya di sebelah barat Masjid Agung Buntet Pesantren. Sementara itu, untuk mengenang jasanya, nama KH Jawahir Dahlan dijadikan nama jalan yang menuju rumah peninggalan orang tuanya yang terletak di Desa Buntet di seberang pusat komplek Buntet Pesantren. (Syakir NF)

Jumat 22 Juni 2018 7:0 WIB
Ajengan Abdullah, Santri Hadratussyekh dari Cicukang Bandung
Ajengan Abdullah, Santri Hadratussyekh dari Cicukang Bandung
Masih sedikit catatan yang mengungkap tentang peran ajengan-ajengan di Jawa Barat yang berperan dalam menanamkan NU. Terutama pada tahun 1930-an. Beruntung cabang NU Tasikmalaya memiliki majalah Al-Mawaidz sehingga kegiatan dan pemikiran para tokohnya terdokumentasi dengan baik. Itu pun mulai tahun 1933 hingga 1935. 

Kiai Wahid dalam buku Sedjarah K.H.A. Wachid Hasjim dan Karangan Tersiar, (Abubakar Aceh, 1957) mengatakan, pada muktamar NU keempat di Semarang, ada kiai dari Bandung yang hadir, yaitu Ajengan Dimyathi Sukamisikin, pengasuh Pondok Pesantren Sukamiskin. Pesantren ini didirikan KH Muhammad Alqo pada tahun 1700 dan dianggap sebagai pesantren tertua di Kota Bandung.  

Data Kiai Wahid ini didukung oleh data Choirul Anam dalam Perkembangan dan Pertumbuhan NU. Namun, sepertinya ia salah tulis karena dalam bukunya itu dengan menyebut Kiai Abbas Sukamiskin. Sebab, menurut Kiai Abdul Aziz, pengasuh pesanten Sukamiskin saat ini, tidak ada leluhurnya bernama Kiai Abas. Kemungkinan besar yang dimaksud Kiai Abbas di buku Choirul Anam itu adalah Ajengan Dimyathi.  

Data dari perpus PBNU yang berjudul Catatan Singkat Kongres NU di Semarang 1929-Kongres NU ke-10 di Surakarta (1935) juga menyebutkan kehadiran Ajengan Dimyathi Sukamiskin. 

Nah, di dalam catatan tersebut, ada menyebut Ajengan KH Abdullah Cicukang, salah seorang kiai yang berperan pada muktamar NU Bandung tahun 1932. Siapakah kiai tersebut? 

Dalam buku-buku sejarah NU memang jarang atau hampir tidak ada yang menulis tentang dia. Tapi beruntung ada majalah Al-Mawaidz. Meski majalah itu diterbitkan NU Cabang Tasik, tapi juga memuat berita dari cabang-cabang NU terdekat, di antaranya Bandung. 

Menurut laporan majalah itu, Ajengan Abdullah hadir hadir pada kegiatan Ranting NU Nyengseret. Kegiatannya adalah tabligh di sekolah agama Chaeriyah Gang Afandi Bandung. 

Majalah berbahasa Sunda tersebut melaporkan pada edisi tahun 1935 yang diterjemahkan sebagai berikut:

Hadirin yang terdiri dari kaum bapak dan ibu berdesakan di luar dan di dalam rumah. Pukul 9 malam acara dibuka oleh Marzuki. Sementara yang hadir dari pengerus NU Bandung adalah SWAR Hasan, RH Dahlan dan Kiai H. Abdullah. Lagi-lagi penceramah Ajengan Ambri dari Bayongbong Garut. Sebagaimana biasa, acara dimulai dengan membaca Al-Qur’an. Kali ini oleh KH Abdullah. 

Dari mana ceritanya Ajengan Abdullah bisa terhubung dengan NU? Setelah ditelusuri, ternyata ia merupakan santri langsung dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ia nyantri di Tebuireng sejak 1918 hingga 1926. 

Menurut salah seorang cucunya, KH Asep Jamaluddin, Ajengan Abdullah saat menjadi santri Tebuireng turut serta dalam doa bersama untuk mendirikan NU. Tahun-tahun saat hendak mendirikan NU Hadratussyekh mengajak para santrinya untuk memanjatkan doa untuk kesuksesan mendirikan organisasi NU terebut. 

Sepulang dari Tebuireng, sebagaimana sejawatnya, KH Ahmad Dimyathi Sirnamiskin, Ajengan Abdullah Aktif di NU. 

Ketika pulang ke rumahnya, di kampung Ciheulang, Ciparay (Kabupaten Bandung sekarang), ia memperkenalkan NU kepada orang tuanya sendiri, Ajengan Husein. Mulanya ditolak. Butuh waktu sebulan, Ajengan Abdullah menjelaskan tentang NU hingga akhirnya diterima.

Pada tahun 1935, majalah Al-Mawaidz melaporkan ada kegiatan NU di Ciheulang Ciparay yang dihadiri pengurus-pengurus NU Cabang, di antaranya KH Ahmad Dimyathi Sirnamiskin.

“Ajengan Abdullah pernah ditanya kamu membawa aliran apa oleh Ajengan Husein,” kata KH Asep Jamaluddin yang juga Ketua PCNU Kabupaten Bandung saat ini.

Sementara Ajengan Abdullah sendiri tinggal di kediaman istrinya, daerah Cicukang sehingga ia dikenal Ajengan Abdullah Cicukang (masuk ke kota Bandung). (Abdullah Alawi)
  

Rabu 23 Mei 2018 19:50 WIB
KH Hasyim Asy’ari Orang Terkemuka di Indonesia
KH Hasyim Asy’ari Orang Terkemuka di Indonesia
Penjajah Jepang berdasarkan sumber Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pernah melakukan Pendaftaran Orang Indonesia Jang Terkemoeka Jang Ada di Jawa. Pada pendaftaran itu, Hadratussyekh masuk ke dalam kriteria itu. 

Pada bagian atas kolom ditegaskan, daftar ini sesudah diisi, hendaklah dikirimkan kembali (gratis) dalam bungkusnya yang dilampirkan pada GUNSEIKANBU TJABANG I, Pegangsaan Timur 36, Jakarta. Isilah yang sebenar-benarnya dengan jelas, supaya jangan ada kemudian surat-menyurat lagi tentang itu. Jika tak cukup ruang tempat mengisinya, lampirkan kertas lain pada daftar ini. 

Baca: Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari Wafat 7 Ramadhan
Baca: Panggilan-panggilan Hormat untuk KH Hasyim Asy’ari
Sebagaimana umumnya pencatatan, kolom yang disediakan adalah nama, tempat, tanggal lahir, alamat. Kemudian keluarga serumah, nama dan tanggal lahir anak-anak, dan pendidikan, jabatan. 

Pada kolom jabatan itu diisi dengan kiai (guru agama Islam), sedangkan gaji diisi dengan: tidak tentu, sebab pekerjaan bertani. 

Pendaftaran tersebut kemudian meminta penjelasan tentang, keterangan lain yang mengenai usaha bagi umum dengan pertanyaan: apa jabatan tuan yang ternama? Apa macam perkumpulannya, dimana dan apabila? 

Kolom itu diisi dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bagian Syuriyah (agama), yaitu sejak tahun 1344 hingga 1361 yaitu sampai pada waktu dibubarkannya. 

Pada kolom nomor 16, terakhir, diminta keterangan lain-lain (jika perlu tentang buku-buku apa yang karang, dimana dan apabila? Apakah kepandaian tuan yang spesial?)

Kolom itu terisi dengan buku Nurul Mubin tahun 1346 tentang mencintai Nabi Muhammad SAW, buku At-Tanbihat tentang merayakan hari Maulud Nabi Muhammad SAW, buku Adabul ‘Alim wal-Muta’alim tentang kewajiban guru dan murid, tahun 1357 dan 1344. 

Sementara menurut cucunya, KH Salahuddin Wahid, Kiai Hasyim Asy’ari memiliki karya lebih dari itu. Sebagaimana ditulis di website Tebuireng (tebuireng.online) berdasar penelusuran oleh KH Ishom Hadzik, diperoleh catatan tentang kitab-kitab karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari  yaitu : 1) Adab al A’lim wa al Muata’alim (Etika Guru dan Murid); 2) al Duraar al Muntatsirah fi al Masaa’il al Tis’a Asharah (Taburan Permata dalam Sembilan Belas Persoalan); 3) al Tanbihaat al Waajibaat Liman Yasna’u al Mawlid bi al Munkarat (Peringatan Penting bagi Orang yang Merayakan acara Kelahiran Nabi Muhammad dengan Melakukan Kemungkaran); 4) Risalah ahl al Sunnah wa al Jama’ah; 5) al Nur al Mubiin fi Mahabbati Sayyid al Mursalin (Cahaya Terang dalam Mencintai Rasul); 6) al Tibyan fi al Nahy an Muqaata’at al Arhaam wa al Aqaarib wa al Ikhwaan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Hubungan Kerabat, Teman Dekat dan Saudara); 7) al Risalah al Tauhidiyah; 8) al Qalaaid fi maa Yajibu min al ‘Aqaaid (Syair-syair Menjelaskan Kewajiban Aqidah). 9) Arba’in Haditsan;10) Ar Risalah fil ‘Aqa’I’d; 11) Tamyizul Haqq min al Bathin; 12) Risalah fi Ta’akud al Akhdz bi Madzahib al A’immah al Arba’ah; 13) ar Risalah Jama’ah al Maqashid. 

Pendaftaran itu diakhiri dengan tanda tangan. Seperti biasanya KH Hasyim Asy’ari meyebut dirinya sebagai al-faqir Allah Ta’ala, di bawahnya tertulis Muhammad Hasyim Asy’ari dengan tulisan Arab. 

Data diri Kiai Hasyim memiliki satu lampiran, tapi isinya pendek. Lampiran itu untuk menjelaskan pertanyaan nomor sebelas tentang pertanyaan apa jabatan-jabatan dahulu? Pada siapa atau pada badan mana, dimana dan apabila? 

Penjelasan Kiai Hasyim adalah: pada tahun 1313 Hijriyah mengajar di Makkah sambil belajar. Tahun 1321 H hingga 1324 mengajar di Kemuning, Kediri. Kemudian pada tahun 1324 hingga sekarang ini mengajar di Tebuireng, Jombang. Semuanya ajaran ialah tentang ilmu agama semata-mata. 

***

Pada zaman kolonial Jepang itu, KH Hasyim Asy’ari adalah orang yang menolak seikerei, menghadap ke arah Tokyo. Akibatnya ia ditahan. Atas negosiasi para kiai, akhirnya ia dikeluarkan. Kemudian Jepang menunjuknya sebagai Ketua Kantor Urusan Agama (Shumubu). Sebelumnya lembaga ini dipimpin orang Jepang, tapi karena tidak berjalan, diserahkan kepada Husein Djajadingrat. Dipimpin dia pun tidak berjalan.

Namun, aktivitas harian Shumubu itu diserahkan KH Hasyim kepada putranya, KH Wahid Hasyim.

KH Hasyim Ay’ari juga merupakan pemimpin tertinggi Masyumi yang didirikan 24 Oktober 1943 sebagai pengganti MIAI (Madjlisul Islamil A'laa Indonesia). Masyumi pada waktu itu merupakan wadah dari empat organisasi Islam, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persatuan Umat Islam Indonesia.

Pada waktu yang sama, Kiai Hasyim tentu saja merupakan Rais Akbar Nahdlatul Ulama, dan pengasuh Pesantren Tebuireng. Sebuah pesantren yang hingga tahun 1942, murid yang telah dan berada di pesantren itu diperkirakan 25 ribu orang. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG