::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tradisi Unik Santri Baru di Pesantren Tremas

Selasa, 10 Juli 2018 13:00 Pesantren

Bagikan

Tradisi Unik Santri Baru di Pesantren Tremas
Masjid Pesantren Tremas (Foto: Zainal Faizin)
Pacitan, NU Online
Sejak dibukanya tahun pelajaran baru pada tanggal 15 Syawal lalu, gelombang santri baru  yang mondok ke Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur terus berdatangan. Mereka datang dari berbagai daerah dan berangkat dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Dalam sepekan ini, ratusan santri baru sudah mulai beradaptasi dengan aktfitas kegiatan dan kultur pesantren. Lalu apa saja kegiatan yang dilakukan santri baru di Pesantren Tremas? NU Online berhasil menghimpun beberapa tradisi unik santri baru di pesantren yang menjadi tempat kelahiran ulama internasional asal Nusantara, Syekh Mahfudz Attarmasi itu.

Tidak Tidur Siang Selama Satu Minggu

Dalam sepekan ini santri baru tengah menjalani sebuah tradisi unik yang sudah mengakar di kalangan santri Pesantren Tremas yaitu tradisi tidak tidur siang selama tujuh hari sejak hari pertama kedatangan mereka di Tremas.

Tidak tidur siang, suatu hal yang kelihatannya sepele dan ringan ini ternyata sangat sulit dilakukan. Dalam praktIknya, biasanya para santri baru selalu mendapat berbagai cobaan dan godaan, seperti merasakan kantuk yang sangat berat.

Untuk itu para santri senior biasanya dengan senang hati akan membantu mereka dengan selalu mengingatkan dan bahkan menunggui atau mengajaknya jalan-jalan keliling perkampungan Desa Tremas agar tidak tertidur.

Pada prinsipnya, tradisi seperti ini tidak terdapat dasar hukumnya sama sekali. Ini merupakan tradisi yang sudah  diwariskan secara turun temurun. Apalagi Pesantren Tremas pun tidak menulisnya dalam sebuah peraturan.

"Dicari dalilnya dalam kitab pun juga tidak ada. Namun bila kita cermati lebih jauh, tradisi ini merupakan suatu tes mental yang amat dalam maknanya untuk menguji sejauh mana kesungguhan dan ketekunan santri baru dalam menuntut ilmu di Tremas," jelas salah seorang pengurus Pesantren Tremas, Ustadz Jahrudin, saat ditemui NU Online, Senin (9/7) malam.

Apabila santri baru berhasil melakukan tradisi ini, maka itu merupakan pertanda baik bagi keberlangsungan belajar mereka di Pesantren Tremas. "Biasanya santri baru akan segera betah dan kerasan tinggal di pesantren kalau sudah lulus ujian mental yang  pertama ini," tambahnya.

Ziarah 41 Hari Tanpa Putus

Di pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo pada tahun 1830 M ini, lahir sebuah tradisi unik yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu setiap santri baru “diusahakan”, bahkan ada yang  "wajib" untuk rutin berziarah ke makam masyayikh (sesepuh) Pesantren selama 41 hari berturut-turut tanpa putus.

Santri baru berusaha mentradisikan ziarah ke makam para sesepuh tiap pagi dan sore hari ke makam Gunung Lembu yang terletak sekitar 350 meter barat daya dari komplek pesantren Tremas dan makam Semanten yang terletak di sebuah bukit desa Semanten (pinggiran kota Pacitan) pada setiap hari Kamis dan Jumat.

Di makam gunung Lembu bersemayam para sesepuh dan pengasuh Pesantren Tremas, seperti KH Dimyathi, KH Abdurrozaq, KH Habib Dimyathi, KH Haris Dimyathi, KH Hasyim Ihsan, KH Toyyib Hasan Ba’bud, KH Mahrus Hasyim, dan para kiai Tremas yang lain.

Sedangkan di makam bukit Semanten, Pacitan, dimakamkan para kiai seperti KH Abdul Manan Dipomenggolo (Wafat 1860) pendiri pertama Pesantren Tremas Pacitan yang merupakan generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Sayyid Hasan Ba'bud dan sesepuh lainya.

Kegiatan berziarah selama 41 hari kelihatannya juga ringan dan gampang dilakukan, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mencapai target sempurna, ada saja kendalanya, seperti hujan, ketiduran, dan halangan-halangan lainya.

Bila para santri berhasil mencapai target 41 hari tanpa putus, maka itu merupakan pertanda yang baik bagi mereka. Artinya mereka benar-benar sabar dalam menghadapi tes mental kedua ini, setelah tidak tidur siang selama satu minggu.

"Lagi-lagi ini merupakan tradisi unik yang sepertinya hanya ditemukan di Pesantren Tremas," kata Ustadz Jahrudin.

Dalam sebuah kesempatan peringatan Haul, Pengasuh Pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi mengatakan, salah satu wujud cinta kepada para ulama, diantaranya dengan sering menziarahi makamnya. Setidaknya, orang yang sering melakukan ziarah akan terlihat berbeda dengan orang yang tidak biasa melakukan ziarah ke makam para ulama.

“Banyak sekali hikmah dan manfaat ziarah kubur itu. saya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupan-nya, ahwaliahnya (tingkah lakunya) dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan ziarah kubur,” ungkap Kiai Fuad.

Ziarah kubur, imbuhnya, merupakan salah satu amaliyah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Apalagi ziarah ke makam para ulama, walaupun sudah wafat, namun sejatinya mereka masih hidup di sisi Allah SWT.

Para santri Pesantren Tremas percaya akan hal itu dan merekapun berusaha mentradisikan ziarah sebagai bentuk ta'dhim (penghormatan) kepada para ulama.

Nahun, Tidak Pulang Selama 3 Tahun 3 Bulan

Tradisi Nahun, disebut juga tirakat atau lelakon. Tradisi ini pertama kali dilakukan oleh santrinya Simbah KH Dimyati (Wafat 1934 M), dimana pada saat itu perkembangan pesantren Tremas sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru nusantara, dan bahkan ada yang datang dari negara tetangga.

Karena letak pesantren yang jauh dari kampung halaman para santri, sementara waktu itu alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah "Nahun" dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari komplek pesantren dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari.

Ustadz Jahrudin menerangkan, mengenai jangka waktu pelaksanaan tradisi Nahun sebenarnya tidak ada ketentuanya, dan hanya istilah yang digunakan para santri kala itu, bahkan pesantren Tremas pun tidak mengatur tentang hal ini.

Dia menjelaskan, ada sebuah kisah unik yang melatarbelakangi tradisi Nahun ini. Suatu ketika, Isteri KH Dimyathi yang bernama Nyai Khotijah yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami kejadian yang sangat aneh. Yaitu saat beliau mencuci beras untuk dimasak, tiba-tiba beras tersebut berubah menjadi emas.

Nyai Khotijah pun merasa kaget, seraya berdo’a: "Ya Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul Ilmi (ahli ilmu) dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu disini menjadi santri yang barokah," seraya membuang emas tersebut ke dalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak santri yang melakukan tradisi Nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pesantren Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya, hingga setelah terjun di masyarakat kelak.

Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi Nahun yang berlaku di kalangan santri Pesantren Tremas ada tiga. Pertama, tidak keluar dari komplek Pesantren Tremas. Kedua, tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan. Ketiga, tidak pulang ke rumahnya.

"Yang berlaku umum di kalangan santri Pesantren Tremas sekarang ini adalah tradisi Nahun sesuai kategori kedua dan ketiga, dengan waktu minimal 3 tahun," jelas Ustadz Jahrudin.

Dia menambahkan, kebanyakan mereka yang melakukan tradisi Nahun adalah santri yang berasal dari luar Jawa, namun pada perkembangannya, santri asal pulau Jawa juga banyak yang melakukan tradisi ini.

"Mereka yang melakukan Nahun berangkat dari keinginan mereka sendiri, didasari niat yang tulus untuk bersungguh-sungguh belajar dan berharap berkah dari para sesepuh Pesantren Tremas," pungkasnya.

Demikianlah tradisi-tradisi unik santri Pesantren yang tidak ditemui di lembaga lain manapun. Tradisi ini merupakan khazanah kekayaan pesantren yang keberadaanya masih terjaga dengan baik sebagai ciri khas pendidikan Islam asli Nusantara. (Zaenal Faizin/Muhammad Faizin)