IMG-LOGO
Pustaka

Waskita Santri dalam Sebuah Kitab

Selasa 10 Juli 2018 15:39 WIB
Bagikan:
Waskita Santri dalam Sebuah Kitab
Penempaan hidup komprehensif yang dihadapi dan dilakukan oleh santri di pondok pesantren turut membentuk karakter, akhlak, kelimuan, bahkan kebudayaan dan peradaban yang mengakar luas dan menyatu dengan pilar-pilar kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peran keagamaan dan peran sosial para kiai, sosok panutan dan samudera ilmu sumber para santri berproses penuh ketekunan di pondok pesantren sehingga berdampak luas dalam diri kehidupan para santri.

Tradisi keilmuan seorang kiai yang diserap oleh santri tidak hanya untuk mengisi aspek eksoteris saja, tetapi aspek esoteris atau batin di mana santri diajarkan untuk peka dan tajam dalam melihat dan memahami realitas kehidupan di tengah masyarakat. Inilah yang disebut kewakitaan. Kewaskitaan nyata terlihat dalam diri seorang santri bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tidak sedikit orang yang menilai, Gus Dur merupakan sosok yang mampu weruh sadurunge winarah (mengetahui sebelum sesuatu terjadi).

Proses belajar tersebut merupakan tempaan lahir dan batin yang didapat santri dari para guru dan kiainya di pesantren. Bahkan, lewat tempaan yang beradab, santri mampu menciptakan dan mengembangkan peradaban lewat keahlian-keahlian di berbagai bidang. Mindset masyarakat yang menilai santri hanya paham ilmu agama terbantahkan dengan kiprah luas di segala lini kehidupan pada era milenial saat ini.

Kewaskitaan ini perlu diperluas melalui literasi sehingga memunculkan inspirasi bagi generasi masa depan melalui pengalaman dan cerita-cerita berharga saat nyantri dulu. Buku Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren yang penyusunannya diinisiasi Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur merupakan salah satu upaya menebar kewaskitaan melalui pojok-pojok kehidupan pesantren. Ada sekitar 57 santri dalam buku ini yang melakukan ‘jihad’ literasi untuk membangun budaya, peradaban, kearifan (wisdom) lewat kisah kehidupan sehari di pesantren.

Buku ini semacam penggalian mutiara-mutiara terpendam di berbagai ruang dan pojok-pojok pesantren, memotret pengalaman pribadi, membaca santri yang telah berkiprah luas di tengah masyarakat, bahkan kontekstualisasi kehidupan santri ketika dihadapkan oleh pesatnya era teknologi digital. Budaya literasi di pesantren menjadi modal dan bekal penting santri menghadapi perkembangan zaman.

Sebab itu, santri tidak pernah gagap ketika ‘tsunami’ informasi memabanjiri jagat dunia maya. Santri tidak mudah termakan hoaks (berita palsu) karena budaya literasi yang kokoh telah terbangun. Benteng santri dalam menghadapi derasnya arus informasi juga terjaga dengan lekatnya budaya tabayun yang didapat di pesantren. Mereka tidak begitu saja terpengaruh polemik, lalu melakukan justifikasi buta terhadap sebuah kontroversi yang muncul.

Ngaji dengan sistem sorogan turut menciptakan budaya tabayun ini. Dalam sistem tersebut, selain mengonfirmasi keterangan-keterangan atau catatan-catatan (ngapsahi) kiainya saat membahas sebuah kitab dengan cara membaca ulang, santri juga mempunyai ruang diskusi dan bertanya kepada kiai soal tema yang dibahas. Bahkan santri melakukan kontekstualisasi mengenai persoalan kehidupan sehari-hari terkait tema yang sedang dibahas.

Pengalaman di Pesantren Sarang

Pemandangan yang sangat arif dan waskita mengenai kehidupan para santri penulis rasakan sendiri ketika sowan ke ndalem sesepuh NU, KH Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah awal tahun 2017 lalu. Sambil menunggu ulama yang dikenal wara’ ini, penulis mencoba menyusuri beberapa pojok pesantren. Di dalam salah satu pesantren tua di Jawa ini, terlihat santri sedang mengisi waktu dengan berbagai cara.

Pemandangan yang cukup unik dan menggelitik saat itu ketika penulis melihat beberapa santri sedang muthola’ah kitab kuning di depan kamarnya di lantai dua layaknya sebuah balkon rumah. Saking khusyunya, mereka sampai tertidur dengan posisi terduduk, ada juga yang dalam posisi berbaring. Mereka tertidur bukan di lantai, tetapi di sebuah kayu yang menjadi pembatas kamar. Mereka tidak khawatir terjatuh seperti ada kekuatan batin yang mengaitkan mereka untuk tetap pada ‘tempat’ tidurnya itu.

Penulis sebelumnya tetap khidmat menunggu Mbah Maimoen karena terlebih dahulu harus mengimami shalat dzuhur berjamaah bersama santri Sarang. Usia Mbah Maimoen yang telah mencapai 90 tahun itu masih tegar setiap hari memimpin shalat berjamaah di pesantrennya.

Kemurnian para santri dalam mengabdi dan menimba ilmu kepada Mbah Maimoen tak pernah surut. Bagi mereka, suatu kebahagiaan dan keberkahan tak ternilai bisa menggandeng kiai sepuh setiap hari menuju masjid tempat shalat.
 
Sementara santri lainnya nampak membetulkan arah sandal Mbah Maimoen agar beliau tidak terlalu sulit memakai sandal ketika keluar masjid. Di sejumlah pesantren, perilaku santri membetulkan sandal agar siap pakai memang bukan hal baru. Bahkan para santri sering melakukan tradisi tersebut ketika kiainya didatangi para tamu. 

Ketika Mbah Maimoen keluar masjid selesai mengimami shalat, salah seorang santri bahkan secepat kilat datang di hadapan Mbah Maimoen untuk memakaikan sandal di kakinya. Dari pemandangan tersebut, nampak jelas pesantren tidak hanya berisi samudera ilmu, tetapi juga penuh dengan gunungan akhlak mulia yang tertanam begitu dalam pada diri para santri.

Tak lama setelah itu, penulis dan rombongan diterima Mbah Maimoen di ruang tamu. Selain rombongan dari Jakarta, ada  juga tamu yang datang dari Tuban. Sebelum Mbah Maimoen berujar, para tamu tidak ada yang berani mendahului untuk membuka dan memulai pembicaraan.

Penulis saat itu memang mempunyai niat menggali khazanah keilmuan Islam Nusantara dan wawasan kebangsaan dari Mbah Maimoen Zubari yang juga salah seorang santri Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut. Niat tersebut tidak lain untuk memperkokoh sanad dan geneologi keilmuan langsung dari Mbah Maimoen.

Setelah sekian menit dalam keheningan, Mbah Maimoen masih terang dalam berujar dan penuh dengan humor dalam sejumlah kalimat dan penuturannya. Para tamu yang tadinya agak sedikit kikuk seketika langsung mencair melihat senyum dan tawa Mbah Maimoen yang khas. 

Dalam persoalan menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, santri yang belajar di pesantren atau siapa pun yang berniat mencari dan memperdalam ilmu merupakan hal yang mulia. Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu nyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

Al-ilmu yu'ta wa la ya'tii. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi dirimu,” tutur Mbah Maimoen Zubair dengan penuh kehikmatan menerangkan kepada para tamu. Kiai kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 silam itu mengumpamakan air di dalam sumur yang harus ditimba. “Sebagaimana kita menginginkan air di dalam sumur, kita harus menimbanya,” ujar Mbah Maimoen.

Tak hanya terkait esensi ilmu yang harus ditimba manusia secara terus menerus, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah meluncur deras dari mulutnya sehingga para tamu nampak makin khidmat dalam menyimak paparan-paparan Mbah Maimoen.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi, Mbah Maimoen berpesan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia. Hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri. 

Mbah Maimoen juga berpesan kepada santri dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menjaga tali silaturahim, utamanya kepada guru-guru dan kiai-kiai sepuh dalam menyikapi setiap persoalan bangsa maupun konflik yang sering terjadi di tubuh organisasi. 

Marwah kiai dan pesantren merupakan ruh di tubuh organisasi seperti NU. Sehingga setiap persoalan yang datang di tubuh NU, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah dan disowankan terlebih dahulu kepada para kiai sepuh yang tentu pandangannya lebih luas, arif, waskita.

Alakullihal, pengalaman di Pesantren Sarang tersebut penulis sampaikan untuk melengkapi riwayat-riwayat para santri dalam buku Kitab Santri yang berisi kisah-kisah penuh waskita dan kebijaksanaan. Dari buku ini, santri didorong untuk terus mengembangkan budaya literasi untuk kehidupan yang lebih baik. Karena santri mempunyai pondasi kelimuan kokoh yang harus disebarkan menjadi sebuah inspirasi. Wallahu’alam bisshowab.

Identitas buku:
Judul: Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren
Penyunting: Ahmad Tohe
Penerbit: Halaqah Literasi, PSP Jawa Timur
Cetakan: I, Mei 2018 
Tebal: xviii + 327 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
Bagikan:
Rabu 13 Juni 2018 17:0 WIB
Penyegar Gersangnya Hati dan Pikiran
Penyegar Gersangnya Hati dan Pikiran
Sampul buku Oase Al-Qur'an
Al-Qur'an merupakan samudera yang tak berdasar. Semakin kita menyelam, semakin kita meyakini kedalamannya. Tak salah jika orang berbeda memahaminya meskipun satu teks sama yang dibacanya. Sebab, beda sudut pandang akan melahirkan beda persepsi yang didapatkannya.

Di masing-masing kedalamannya, ia memiliki keindahan tersendiri. Maka, jika pun seseorang hanya mengerti dalam tataran permukaan, ia akan menikmati keindahan di atas permukannya. Lain halnya jika ia mampu menyelam dengan peralatan keilmuannya yang mumpuni, tentu ia akan mendapatkan keindahan yang berbeda dari sekadar permukaan.

Sebagai samudera, Al-Qur'an tak akan pernah habis dikuras airnya, tak berkurang jika diambil kandungannya. Ia terlalu kaya untuk dimanfaatkan oleh sekelompok manusia.

Bagi segenap masyarakat awam seperti peresensi, KH Ahsin Sakho Muhammad menjadikan bukunya sebagai kacamata yang mampu menembus kedalaman samudera. Kita yang hanya berkemampuan menikmati permukaan, dapat menikmati kedalaman Al-Qur'an melalui bukunya yang berjudul Oase Al-Qur'an: Pencerah Kehidupan.

Sebagaimana pencerah, buku ini mampu menerangi pandangan agar dapat melihat, setidaknya mengintip kandungan Al-Qur'an yang terdapat di dalam samudera tak terhingga itu. Dengan tema-tema tertentu, Kiai Ahsin menghadirkan intisari Al-Qur'an dengan tulisan yang tidak terlalu panjang di setiap babnya. Hal ini tidak membuat pembaca lekas bosan dan langsung mendapatkan pokok paling inti dari tema yang dibahasnya.

Buku ini mengarahkan kepada pemahaman dan penerapan Al-Qur'an dalam keseharian. Tema zikir dan tadabbur mendominasi buku ini. Kiai asal Cirebon itu menguraikan dalam bukunya, bahwa ada dua cara membaca Al-Qur'an, yakni tartil dengan tadabbur, dan tartil dengan cepat. Keduanya memiliki keistimewaan yang berebeda. Pertama, pahalanya tidak terlalu banyak, tetapi berbobot, sedangkan cara membaca kedua menghasilkan pahala banyak meskipun bobotnya tidak lebih baik dari pertama. Pemilihan diksi tadabbur pada buku ini mengindikasikan agar para pembaca lebih meresapi kandungan Al-Qur'an. Hal ini guna diterapkan dalam kesehariannya.

Karena tadabbur mendominasi, maka buku ini juga lebih banyak berisi cerita. Hal ini akan lebih meningkatkan kepekaan dalam menjalani kehidupan. Membaca cerita sama dengan melatih rasa. Dosen saya pernah mengatakan bahwa membaca sastra (baca juga: cerita) memberikan pengalaman tanpa harus mengalaminya sendiri. Artinya, dengan mengetahui kejadian tertentu, kita dapat belajar untuk bersikap atau bertindak seperti apa ketika hal yang sama kita alami sendiri.

Buku ini berisi Oase Qur'ani 101-200. Urutan 1-100 sudah disajikan pada buku sebelumnya, yakni Oase Al-Qur'an: Penyejuk Kehidupan yang terbit pada tahun 2016. Buku tersebut juga menghadirkan catatan-catatan khusus di beberapa halaman tertentu yang berlainan dari isi utamanya. Seolah hal ini menjadi bonus bagi para pembaca.

Di tengah kehidupan yang begitu gerah dan hati yang gersang akibat situasi politik dan problematika kebangsaan dan lingkungan, buku yang lahir dari seorang ahli di bidang Al-Qur'an ini benar-benar menjadi oase. Ia mampu memberikan penyegaran atas dahaga keimanan yang kerap kali terabaikan dan pikiran yang tak sadar mulai kehilangan nalar sehatnya.

Data Buku
Judul               : Oase Al-Qur'an: Pencerah Kehidupan
Penulis             : KH Ahsin Sakho Muhammad
Penerbit           : Qaf
Cetakan           : I, Maret, 2018
ISBN               : 9786025547003
Tebal               : 267 halaman
Peresensi         : Syakir NF, santri Pondok Buntet Pesantren
Ahad 27 Mei 2018 16:0 WIB
Ayyuha al-Walad, Nasihat Penting Imam Al-Ghazali kepada Murid
Ayyuha al-Walad, Nasihat Penting Imam Al-Ghazali kepada Murid
Tugas seorang pencari ilmu adalah menuntut ilmu, bukan menunggu ilmu karena ilmu tidak datang tapi didatangi. Namun siapa yang tahu ilmu mana yang akan bermanfaat kelak. Andaikata ia tahu kelak akan menjadi apa, tentu ia akan mempersiapkan bekal mulai dari sekarang.Apakah salah jika kita mempelajari ilmu yang kelak tidak kita pergunakan? Apakah hidup kita akan sia-sia dalam mencari ilmuyang tak sesuai dengan profesi kita kelak? 

Pemikiran dan kegelisahan semacam ini pernah dirasakan oleh salah seorang murid Imam Al-Ghazālī. “Saya telah membaca bermacam-macam ilmu pengetahuan. Lalu, manakah ilmu yang bermanfaat bagiku esok? Dan menghiburku di alam kubur? Dan manakah yang tidak bermanfaat bagiku sehingga aku dapat meninggalkannya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu berdoa :ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat ”

Kegelisahan inilah yang melatar belakangi seorang murid Al-Ghazālī untuk memberanikan diri menulis surat pada guru sekaligus murabbī-nya (pendidik) dan mengutarakan seluruh kegelisahannya untuk meminta nasihat dan doa dari gurunya dengan permintaan khusus agar gurunya tersebut senantiasa berkenan menuliskan jawaban suratnya meski karangan-karangan Imam Al-Ghazālī seperti ihyā‘ulumiddīn telah mengandung jawaban pertanyaannya. Akhirnya Imam Al-Ghazālī memenuhi permintaan muridnya tersebut dalam kitab mungil ini.

Nama lengkap pengarang kitab ini adalah Muhammad ibn Muhammad Abu Hamid Aṭ-Ṭūsī seorang ahli fikih, ahli tasawuf, filosof sehingga beliau mendapat gelarhujjah al-Islām (Argumentasi Islam). Nama beliau dinisbatkan pada ghazalah sebuah nama desa di kota Ṭūs oleh karenanya beliau lebih dikenal dengan sebutan Al-Ghazālī.

Ayyuhā al-Walad, “Hai anakku”. Nama kitab yang sederhana nan unik ini, mengajak muridnya laksana anak sendiri. Mengindikasikan bahwa hubungan mereka bukan sekadar antara guru dan murid tapi lebih pada kasih sayang bapak pada buah hatinya agar relasi antara keduanya layaknya hubungan kausalitas yang tak mungkin terpisahkan sehingga tak ada alasan untuk menolak petuah-petuah yang mengalir dari lisan agung gurunya. Kitab ini memang ditujukan khusus atas permintaan murid Imam Al-Ghazālī, namun isi kandungan nasihat-nasihatnya bersifat umum pada setiap insan yang sedang menempuh jalan Allah. Kitab ini sangat cocok untuk dijadikan rujukan khususnya bagi para pencari ilmu.

Kitab mungil ini merupakan limpahan kasih sayang seorang guru pada muridnya. Kita bisa mengatakan bahwa Imam Al-Ghazālī tidak hanya mengajarkan ilmu pada muridnya melainkan disertai dengan pendidikan moral, akhlak dan spiritualnya. Bagaimana cara menyampaikan nasihat-nasihatnya beliau sangat bijak tidak hanya memaparkan inti-inti nasihatanya tapi juga disertai dengan contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman orang terdahulu yang dapat dijadikan teladan atau 'ibrah dan dikuatkan dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan al-Hadist.

Imam Al-Ghazālī dalam karya ini juga mengutip perkataan ulama terdahulu seperti As-Syiblī,beliau berkata :”Saya telah berkhidmat kepada empat ratus orang guru, dan saya telah membaca empat ribu hadis nabi, kemudian saya memilih satu buah hadis saja, hadis tersebut saya amalkan sementara yang lainnya saya tinggalkan. Mengapa demikian? Karena setelah saya berfikir, saya menjumpai bahwa keselamatan saya lantaran mengamalkan hadis tersebut. Hadis tersebut adalah sabda nabi sebagai berikut:

اعمل لدنياك بقدر مقامها فيها، واعمل لأخرتك بقدر بقائهك فيها، واعمل لله بقدر حاجتك اليه، واعمل للنار بقدر صبرك عليها

“Beramallah untuk duniamu selama engkau tinggal disitu dan beramallah untuk ahkiratmu sebanyak masa tinggalmu, dan beramallah bagi Allah sekedar kebutuhan pada-Nya, dan beramallah bagi neraka sekedar kesabaranmu menghadapinya.”

Intisari dari penggalan hikayat di atas tidaklah perlu kita mencari ilmu yang banyak tanpa diaplikasikan dalam kehidupan. Yang terpenting adalah apa tujuan kita mencari ilmu, karena yang diperhitungkan adalah niat baik kita. Sementara kita tidak bisa melompati takdir yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa.

Dalam kitab ini Imam Al-Ghazālī memaparkan bahwa untuk menempuh jalan Allah haruslah mempunyai pembimbing dan bagaimana ciri-ciri orang yang patut dijadikan sebagai pembimbing dijelaskan secara detil dalam kitab ini. Beliau juga menjelaskan bahwa tasawwuf itu memiliki dua sifat yakni istiqamah dan bersikap tenang menghadapi manusia. Maka, barangsiapa yang beristiqamah dan berbaik budi terhadap orang-orang dan memperlakukan mereka dengan bijaksana, maka ia adalah seorang sufi.

Kewajiban orang yang akan menempuh jalan yang benar adalah melakukan empat hal berikut: Pertama, i’tikad yang benar yang tidak dicampur dengan bid’ah. Kedua, taubat yang sungguh-sungguh dengan mengunci mati semua kemungkinan kemaksiatan. Ketiga. Meminta keridaan dari semua lawan dan musuh, dan keempat, mempelajari ilmu dunia dengan tujuan haknya untuk memperlancar perintah Allah dan mempelajari ilmu ahkirat yang dapat menyelamatkanmu dari semua macam bahaya dan siksa api neraka.

Hakikat ubudiyah, tawakkal dan ikhlas semuanya dijawab Imam Al-Ghazālī dalam kitab ini, dan bagaimana cara kita agar terhindar dari sifat riya, berikut adalah jawabannya: Obat penangkal riya adalah dengan berasumsi bahwa seluruh makhluk itu berada dibawah kekuasaan-Nya. Sepanjang kamu masih mempunyai perasaan dan pengertian bahwa ada zat yang lebih tinggi di atasmu, maka selama itu kamu dapat terhindar dari sifat riya.

Di antara nasihat Imam Al-Ghazālī kepada muridnya adalah janganlah engkau menjadi juru penasihat dan menjadi seorang juru pengamat kecuali bila engkau telah mengamalkan apa yang engkau katakan itu terlebih dahulu. Di dalam kitab ini dijelaskan bagaimana menjadi penasihat yang baik apabila terpaksa harus menjadi penasihat atau muballigh, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muballigh.

Benar apa yang dikatakan Imam Al-Ghazālī bahwa nasihat itu mudah, yang sulit adalah pengamalannya. Sebab nasihat itu akan terasa pahit bagi orang yang memperturutkan kehendak nafsunya.  Namun hidup tanpa nasihat akan hampa karena nasihat akan mengingatkan hati bagi orang yang berpengetahuan.

Kitab ini sangat cocok bagi mereka yang merasa haus akan nasihat, karena kitab ini berisikan nasihat, wejangan, petuah, bimbingan, dan arahan Hujjatul Islām,  Imam Al-Ghazālī untuk membangkitkan jiwa kita dalam meraih keridaan Allah swt dan Rasul-Nya. Selamat Membaca!


Peresensi adalah Nila Mannan, Santriwati Ma’had Aly Sukorejo Situbondo

Identitas Buku
Nama kitab: Ayyuhā al-Walad
Pengarang: Abū Hāmid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazālī
Penerbit: Dār al-Ihyā
Tebal: 24 hal

Selasa 22 Mei 2018 17:35 WIB
Nasionalisme Kaum Sarungan
Nasionalisme Kaum Sarungan
Buku ini tak ada kaitan langsung dengan peristiwa teror bom Surabaya. Namun kehadirannya menjadi aktual untuk menjelaskan problem-problem kesesatan pikir yang melatarbelakangi aksi teror menyedihkan itu. Ditulis dalam tiga bagian, buku Nasionalisme Kaum Sarungan karya A. Helmy Faishal Zaini sangat direkomendasikan sebagai pegangan bagi para aktivis Kerohanian Islam. 

Sebagian besar kelompok-kelompok ekstrem (termasuk pelaku teror bom Surabaya) hampir bisa dipastikan mempelajari agama dari sumber yang sangat terbatas. Dalam lieratur pendidikan, cara belajar mereka disebut tekstualis. Memahami segala sesuatu hanya dari sumber teks-teks klasik otoritatif tanpa diimbangi dengan upaya-upaya ijtihadiyah berbasis manhajul fikr yang kritis dan kontekstual.

Inilah yang membuat pemahaman agama mereka cenderung dangkal. Ekspresi keberagamaannya kaku. Menganggap apapun masalah aktual yang tidak ada dalam teks suci sebagai melenceng dan bid’ah. Menghukumi para pelakunya sebagai kafir. Dan seterusnya. Sebuah konstruksi beragama yang normatif, yang dangkal ke dalam, sehingga kaku ke luar. Produk-produk hukum agama dipahami ‘all given’ sebagaimana tertuang dalam teks-teks resmi agama saja.
 
Di sinilah penulis menjelaskan bahwa prinsip pengambilan hukum agama bukan hanya bersumber dari teks. Sebab tidak semua problematika manusia dijelaskan problem solving-nya oleh agama secara eksplisit. Ada hal-hal yang hanya disinggung secara implisit. Bahkan makin banyak masalah-masalah kontemporer yang membutuhkan istinbat hukum sebagai mekanisme ijtihad hukum ‘pasca’ teks.

“Idza wujida nash fatsamma maslahah. Idza wujidal maslahah fasyar’ullah." Demikian penulis mengutip sebuah kaidah fiqih. Yang artinya, “Jika ditemukan teks (sumber hukum) maka di sana ada kebaikan. Jika ditemukan kebaikan (meskipun tak ada sumber hukum) maka di sana adalah hukum Allah.

Sesuatu yang baik dan tidak menyimpang dari agama, tidak perlu diributkan dasar hukumnya. Apapaun amalan atau perbuatan, kalau menurut muslim baik, membawa maslahah, maka insya Allah menurut Allah juga baik.

Buku 236 halaman ini mengingatkan, penyakit akibat memahami agama secara tekstual, terbatas, dan dangkal, suatu kelompok cenderung merasa menjadi yang paling benar. Dengan memonopoli kebenaran itu, mereka lalu menyesatkan yang lain. Dari sinilah benih radikalisme berkembang.
 
Pesan penulis, agama jangan jadi sumber kekerasan. Agama jangan jadi sumber permusuhan. Agama harus selalu memberi ruang untuk membicarakan perbedaan-perbedaan. Berupaya mengikatkan persamaan-persamaan. Membangun sikap respek dan toleran terhadap hal-hal yang berseberangan. Sebab agamaku, agamamu, agama kita adalah agama kasih sayang. 

Identitas buku:
Judul: Nasionalisme Kaum Sarungan
Penulis: A. Helmy Faishal Zaini
Tebal: 236 Halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas 
Tahun Terbit: 2018
Peresensi: Didik Suyuthi
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG