::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Logika Pelarangan Bakar Sampah di Kuburan

Kamis, 12 Juli 2018 06:00 Bahtsul Masail

Bagikan

Logika Pelarangan Bakar Sampah di Kuburan
(Foto: twitter.com)
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online yang saya hormati, sedikit cerita waktu saya ke makam keluarga, saya membersihkan makam kemudian sampahnya saya bakar. Lalu ada seseorang peziarah yang menengur saya agar tidak membakar sampai di sekitar makam, dengan alasan bisa membuat panas orang yang sudah di kubur. Yang ingin saya tanyakan bagaimana logika larangan membakar sampah di kuburan? Demikian pertanyaan saya. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Efendi Y)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu diberkati Allah SWT. Pertama-tama yang harus dipahami adalah mengenai apakah orang yang sudah meninggal dunia itu dapat merasakan kesakitan sebagaimana yang dialami orang masih hidup? Pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk diajukan di sini. Karena hemat kami, jawaban atas pertanyaan penanya berkait kelindan dengan hal tersebut.

Dalam Kitab Mir’atul Mafatih yang ditulis oleh Al-Mubarakfuri, terdapat riwayat dari Ibnu Masud yang menyatakan bahwa menyakiti jenazah orang Mukmin itu sebagaimana menyakitinya ketika masih hidup. Riwayat tersebut kemudian dikomentari oleh Ibnu Abdil Barr, salah ulama kenamaan dari kalangan Madzhab Maliki.

Menurut Ibnu Abdil Barr, dari riwayat Ibnu Masud tersebut dapat dipahami bahwa  orang yang sudah meninggal dunia itu bisa merasakan  semua bentuk kesakitan yang dapat dirasakan oleh orang yang masih hidup. Demikian sebagaimana yang kami pahami dari keterangan yang dikemukakan Al-Mubarakfuri berikut ini:

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: أَذَى الْمُؤْمِنِ فِي مَوْتِهِ كَأَذَاهُ فِي حَيَاتِهِ. قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: يُسْتَفَادُ مِنْهُ أَنَّ الَمَيِّتَ يَتَأَلَّمُ بِجَمِيعِ مَا يَتَأَلَّمُ بِهِ الْحَيّ

Artinya, “Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata, ‘Menyakiti jenazah orang Mukmin itu sebagaimana menyakitinya ketika ia masih hidup,’ (HR Ibnu Syaibah). Menurut Ibnu Abdil Barr, dapat dipahami dari hadits ini bahwa orang yang meninggal dunia itu dapat merasakan semua bentuk kesakitan yang dapat dirasakan oleh orang yang hidup,” (Lihat Al-Mubarakfuri, Mir’atul Mafatih, [Benares-Hindia, Al-Jami’atus Salafiyyah: tanpa keterangan tahun], juz V, halaman 449).

Berangkat dari penjelasan singkat ini maka dapat dipahami bahwa pembakaran sampah di area makam memilik efek bagi orang yang ada dalam kuburan. Sebab, orang yang meninggal dunia ternyata dapat merasakan pelbagai jenis kesakitan yang dialami orang yang hidup.

Logikanya sederhananya, jika kita di dekat api merasa kepanasan, maka orang yang meninggal dunia juga akan merasakan kepanasan juga ketika di dekat api. Dari sini kemudian bisa dimengerti kenapa ada orang yang kemudian melarang kita untuk membakar sampai di area pekuburan atau makam.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Mahbub Maafi Ramdlan)