IMG-LOGO
Nasional

Materi Khilafah Khutbah Masjid Pemerintah Merongrong Bangsa

Kamis 12 Juli 2018 5:0 WIB
Bagikan:
Materi Khilafah Khutbah Masjid Pemerintah Merongrong Bangsa
Demonstrasi menolak paham khilafah
Jakarta, NU Online
Adanya hasil penelitian yang menyebutkan terdapat 41 masjid pemerintah yang terindikasi menyebarkan paham  radikal melalui khutbah Jumat, bisa saja ditanggapi apatis sebagian pihak. Akan tetapi, munculnya indikasi radikal di masjid-masjid pemerintah tersebut, menjadi hal yang amat perlu diwaspadai.

“Bagaimana dengan di luar masjid pemerintah, kalau di masjid pemerintah saja sudah terindikasi radikal?” kata Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Agus Muhammad, Rabu (11/7).

Agus mengatakan adanya indikasi radikal pada khutbah Jumat di masjid-masjid pemerintah, bukan berarti bahwa pemerintah tersebut menyebarkan paham radikal. Pasalnya yang mengundang khatib yang menyebarkan materi radikal pada khutbahnya adalah takmir atau pengurus masjid.

(Baca: 41 Masjid Pemerintah Terindikasi Sebarkan Raham Radikal)

“Kita tidak tahu apakah takmir masjid tersebut juga berpaham radikal. Jangan-jangan takmir tahu bahwa khatib yang diundang menyebar paham radikal, tetapi karena sudah dikenalnya dianggap biasa saja,” lanjut Agus.

Khutbah bermuatan radikal, khususnya pada dukungan atas paham khilafah juga menjadi keprihatinan Agus. “Dari 122 khutbah ada 18 khutbah yang setuju adanya pemahaman khilafah. Ini berarti 15 persen setuju dengan khilafah,” paparnya lagi.

Terlebih dari 18 khutbah bermuatan kesetujuan terhadap khilafah tersebut, terdapat tiga khutbah termasuk radikal kategori tinggi; sepuluh khutbah masuk kategori sedang, dan hanya lima khutbah yang masuk kategori rendah.

(Baca: PBNU Sayangkan Khutbah Radikal di Masjid Pemerintah)

Radikal yang dimaksud adalah pandangan, sikap dan perilaku yang cenderung menganggap kelompoknya yang paling benar dan kelompok lain salah; mudah mengkafirkan kelompok lain; tidak bisa menerima perbedaan, baik perbedaan yang berbasis etnis, agama maupun budaya.

Selain itu radikal juga cenderung memaksakan keyakinannya pada orang lain; menganggap demokrasi termasuk demokrasi Pancasila sebagai produk kafir; dan  membolehkan cara-cara kekerasan atas nama agama.

Radikal kategori tinggi adalah level teratas di mana khatib bukan sekadar setuju, tetapi juga memprovokasi umat agar melakukan tindakan intoleran. Kategori sedang artinya tingkat radikalismenya cenderung sedang. Adapun radikal tergolong rendah, artinya secara umum cukup moderat tetapi berpotensi radikal. Misalnya, dalam konteks intoleransi, khatib tidak setuju tindakan intoleran, tetapi memaklumi jika terjadi intoleransi.

Agus menyebut, dari 18 khutbah bermuatan kesetujuan atau dukungan terhadap paham khilafah, 12 ditemukan di masjid BUMN, dan 6 khutbah di masjid kementerian. Dari 12 khutbah bermuatan kesetujuan terhadap paham khilafah di masjid BUMN, Agus menyebut 1 khutbah masuk kategori radikal tinggi, 10 khutbah masuk kategori sedang dan hanya 1 yang berkategori rendah.

(Baca: Enam Topik Radikal Terpopuler pada Khutbah Jumat Masjid Pemerintah)

Masuknya kategori radikal sedang menurut Agus sangat mengkhawatirkan karena sudah dekat untuk masuk ke kategori tinggi, dan justru hampir tidak mungkin berubah ke kategori rendah.

Oleh karena itu, menurut Agus perlu upaya serius untuk mengatasi masalah ini. “Data ini harus ditindaklanjuti, karena jelas-jelas mengancam. Adanya penyebaran ideologi khilafah, pemerintah harus turun tangan,” harap Agus.

Agus menekanan perlunya pengawasan khusus sehingga masjid BUMN bebas dari paham radikal dan dukungan kepada khilafah. “Bisa-bisanya masjid BUMN tapi merongrong ideologi negara,” sesal Agus.

Diberitakan sebelumnya Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dan Rumah Kebangsaan pada tahun 2017 melakukan penelitian terkait materi khutbah radikal di masjid negara. Penelitian dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat, selama empat minggu, dari tanggal 29 September hingga 21 Oktober 2017. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN yang diteliti. 

Hasil penelitian tersebut juga telah dipresentasikan melalui konferensi pers di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Ahad (8/7). (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Kamis 12 Juli 2018 23:22 WIB
Menpora Minta Doa ke Santri-santri Lembaga Berbaur Sukseskan Asian Games
Menpora Minta Doa ke Santri-santri Lembaga Berbaur Sukseskan Asian Games
Menpora Minta Doa ke Santri-santri Lembaga Berbaur Sukseskan Asian Games
Jakarta, NU Online
Sebanyak 721 lebih siswa-siswi, guru, wali murid dan ulama dari empat sekolah MTs, MA dari Pasuruan, Wonosobo, Bojonegoro dan Pekalongan dari Lembaga Berbaur (Bekerja Berbagi untuk Rakyat) mengikuti Kuliah Lapangan dari Menpora Imam Nahrawi di Masjid Pemuda Al-Muwahiddin Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Rabu (11/7) siang.

Dalam sambutannya Menpora berpesan agar para murid Berbaur bisa menjadi suri tauladan atau contoh yang baik (Uswatun Hassanah) di manapun berada.

"Selain uswatun hassanah juga harus bisa meyayangi kedua orangtua dan guru (birul walidain), taati aturan dimanapun berada dan bercita-cita yang baik setinggi langit, agar menjadi khoirunnas anfauhum linnas juga jaga kerukunan hidup dan hargai perbedaan," pesannya.

Sebelumnya menteri yang juga berlatar belakang santri ini memberikan pertanyaan seputar Asian Games 2018 yang langsung dijawab antusias para siswa-siswi, beberapa pertanyaan diberikan hadiah beberapa bola dan beberapa jaket Asian Games. 

Usai memberikan kuliah lapangan Menpora mengajak para peserta melihat-lihat Kantor Kemenpora mulai dari lobbi utama, ruang media center, lapangan olahraga hingga mengenalkan maskot Asian Games 2018 yang berada didepan pintu masuk Kantor Kemenpora. "Mohon didoakan untuk sukses prestasi, penyelenggaraan dan ekonomi Asian Games 2018 Agustus mendatang," tutur Menpora dilanjutkan berfoto bersama di Halaman Utama Kantor Kemenpora.

Lembaga Berbaur dahulu diciptakan bersama oleh Menpora Imam Nahrawi bersama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, bertujuan untuk membantu para korban bencana alam (saat ini BPBAD) sebelumnya dinamai Tim Relawan Berbaur. "Atas petunjuk Bapak Menpora saat ini menjadi Lembaga Pendidikan Berbaur yang berada di banyak daerah, mohon doa dan pengarahan lebih lanjut," ujar Muhammad Suadi dari Lembaga Berbaur Pasuruan.

Turut mendampingi Sesdep Bidang Pengembangan Pemuda Amar Ahmad, Kepala Biro Humas dan Hukum Sanusi dan Staf Khusus Olahraga Tommy Kurniawan. 
Kamis 12 Juli 2018 23:19 WIB
TWEET TASAWUF
Enam Prinsip yang Bisa Membuat Manusia Istiqamah Beribadah
Enam Prinsip yang Bisa Membuat Manusia Istiqamah Beribadah
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim menerangkan enam prinsip yang bisa membuat manusia istiqamah beribadah di jalan Allah SWT. 

Direktur Sufi Center Jakarta ini menekankan kepada hal-hal yang bisa memperkuat kehambaan manusia kepada Allah, bukan semata hanya berorientasi tujuan pragmatis.

Enam prinsip yang dimaksud Kiai Luqman merujuk kepada proses penghambaan. Adapun hasil, pahala maupun ganjaran sepenuhnya cukup diserahkan kepada Allah.

“Jika Anda jalani prinsip-prinsip ini, itu tanda-tanda mulai istiqamah,” jelas Kiai Luqman dikutip NU Online, Kamis (12/7) lewat akun twitter pribadinya @KHMLuqman. 

Berikut enam prinsip yang dimaksud Kiai Luqman:

1. Shalat lebih utama dibanding surga
2. Doamu lebih utama dibanding kabul
3. Perjuangan lebih utama dibanding goal-mu
4. Cinta lebih utama dibanding hadiah-hadiah Allah untukmu
5. Taubat lebih utama dibanding ampunan
6. Jangan pernah mengatur Allah

“Apa pun kata-katamu atau kata-katanya, apa pun situasimu atau situasinya, apa pun golonganmu atau golongannya, suka dukamu atau suka dukanya, yang terpenting adalah Istiqamahmu. Jangan menunggu istiqamahnya,” ucap Kiai Luqman. (Fathoni)
Kamis 12 Juli 2018 22:30 WIB
Dibanding Lembaga Pendidikan Lainnya, Inilah Kelebihan Pesantren
Dibanding Lembaga Pendidikan Lainnya, Inilah Kelebihan Pesantren
Tangerang Selatan, NU Online
Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie atau Gus Milal menyebutkan, pesantren memiliki kelebihan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lainnya. Jika di lembaga pendidikan pada umumnya lebih menekankan ilmu pengetahuan, maka di pesantren yang paling ditekankan adalah akhlak. 

“Di pesantren yang penting akhlaknya,” kata Gus Milal saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara (INC) di Tangerang Selatan, Kamis (12/7).

Menyitir sebuah hadist, Gus Milal menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus ke dunia ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ini lah yang menjadi titik pijak pesantren sehingga akhlak menjadi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan.

Di samping itu, lanjutnya, di pesantren hubungan antara guru dan murid begitu kuat dan langgeng. Sekali menjadi santri, dia akan menghormati kiainya dimanapun dan kapanpun. Sementara itu di lembaga pendidikan lainnya, hubungan guru dan murid tidak lah ‘sekental’ seperti yang ada di pesantren. 

“Di pesantren, ada hubungan spiritual antara santri dan guru,” ujarnya. 

Menurut dia, akhlak lah yang menyebabkan murid begitu hormat dan patuh dengan gurunya di pesantren. Seorang santri akan melakukan dan menuruti apa pun yang diminta gurunya. 

Ia menceritakan, dulu  pada saat pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Hasyim Asy’ari nyantri di pesantren asuhan Kiai Kholil Bangkalan, Hadratussyekh diminta untuk melakukan ini dan itu –mengambil cincin yang jatuh ke, menimba air, dan lainnya- dari pada belajar. Menurut Gus Milal, ini adalah upaya Kiai Kholil menempa akhlak Hadratussyekh. (Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG