IMG-LOGO
Nasional

Khutbah Terindikasi Radikal Dapat Tanggapan Kementerian

Kamis 12 Juli 2018 12:30 WIB
Bagikan:
Khutbah Terindikasi Radikal Dapat Tanggapan Kementerian
Jakarta, NU Online
Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Agus Muhammad menyebut sejumlah kementerian menyampaikan terima kasih dengan adanya laporan hasil penelitian terkait materi khutbah radikal di masjid negara.

“Kementerian Agama, Kementerian Ekonomi, Kementerian Kemaritiman, Kementerian Komunikasi dan Informatika, termasuk Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi. Semuanya mengapresiasi penelitian ini, tinggal bagaimana menindaklajuti,” kata Agus dihubungi Rabu (11/7).

Agus menegaskan indikasi khutbah berkonten radikal bukan hanya menjadi urusaan pemerintah, tetapi juga masyarakat. Oleh karena itu masyarakat harus diberikan fasilitas untuk mencegah dan menghentikan penyebaran paham radikal melalui khutbah.

“Memfasilitasi masyarakat untuk memberikan komentar, keluhan, kritik, dan memberi tahu konten radikal di masjid mereka karena peyebaran radikal ini berbahaya,” imbuhnya.

(Baca: 41 Masjid Pemerintah Terindikasi Sebarkan Paham Radikal)


Keluhan atau pemberitahuan masyarakat terkait adanya khutbah radikal tidak bisa dilakukan melalui media sosial, menurut Agus karena hal itu justru menimbulkan kegaduhan.

Penelitian tentang khutbah radikal di masjid negara dilakukan P3M Jakarta dan Rumah Kebangsaan. Terdapat 100 masjid di Jakarta yang terdiri dari 35 masjid kementerian, 28 masjid lembaga, dan 37 masjid BUMN yang diteliti. 

Penelitian dilakukan terhadap khutbah yang disampaikan khatib pada setiap pelaksanaan shalat Jumat, selama empat pekan, yakni 29 September, 6, 13 dan 20 Oktober 2017. Saat penelitian, setiap masjid didatangi oleh seorang relawan untuk merekam khutbah dan mengambil gambar, brosur, buletin dan bahan bacaan lain yang terdapat di masjid. Bahan-bahan tersebut dijadikan acuan untuk menilai apakah masjid tersebut terindikasi radikal atau tidak.

(Baca: Masivitas Khutbah Radikal Tinggi Berdekatan dengan Pelarangan HTI)

Hasil penelitian menunjukkan 41 dari 100 masjid pemerintah terindikasi radikal. Dari 41 masjid terindikasi radikal tersebut sebanyak 17 (41 persen) masjid berada dalam kategori radikal tinggi. Sisanya sebanyak 17 (41 persen) berkategori radikal sedang; dan hanya tujuh masjid atau 18 persen  yang masuk kategori radikal rendah.

Hasil penelitian juga mengindikasikan meskipun masjid-masjid yang diteliti membawa simbol negara, para takmir masjid dan penentuan khatib Jumat ditemukan mempunyai pandangan keagamaan yang cenderung ekstrem.

Agus menyebut terdapat tren penyebaran khutbah terindikasi bermuatan radikal berkategori tinggi dalam empat kali shalat Jumat. Pada pekan penelitian tengah marak pembahasan Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang.

Tren turunnya konten radikal pada Jumat ketiga mungkin karena ketakutan khatib dituduh mendukung ideologi khilafah. Tapi  jumlahnya naik lagi pada Jumat keempat, mungkin sebagai respons dari ditetapkannya Perppu Ormas menjadi UU Ormas. (Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 12 Juli 2018 23:22 WIB
Menpora Minta Doa ke Santri-santri Lembaga Berbaur Sukseskan Asian Games
Menpora Minta Doa ke Santri-santri Lembaga Berbaur Sukseskan Asian Games
Menpora Minta Doa ke Santri-santri Lembaga Berbaur Sukseskan Asian Games
Jakarta, NU Online
Sebanyak 721 lebih siswa-siswi, guru, wali murid dan ulama dari empat sekolah MTs, MA dari Pasuruan, Wonosobo, Bojonegoro dan Pekalongan dari Lembaga Berbaur (Bekerja Berbagi untuk Rakyat) mengikuti Kuliah Lapangan dari Menpora Imam Nahrawi di Masjid Pemuda Al-Muwahiddin Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Rabu (11/7) siang.

Dalam sambutannya Menpora berpesan agar para murid Berbaur bisa menjadi suri tauladan atau contoh yang baik (Uswatun Hassanah) di manapun berada.

"Selain uswatun hassanah juga harus bisa meyayangi kedua orangtua dan guru (birul walidain), taati aturan dimanapun berada dan bercita-cita yang baik setinggi langit, agar menjadi khoirunnas anfauhum linnas juga jaga kerukunan hidup dan hargai perbedaan," pesannya.

Sebelumnya menteri yang juga berlatar belakang santri ini memberikan pertanyaan seputar Asian Games 2018 yang langsung dijawab antusias para siswa-siswi, beberapa pertanyaan diberikan hadiah beberapa bola dan beberapa jaket Asian Games. 

Usai memberikan kuliah lapangan Menpora mengajak para peserta melihat-lihat Kantor Kemenpora mulai dari lobbi utama, ruang media center, lapangan olahraga hingga mengenalkan maskot Asian Games 2018 yang berada didepan pintu masuk Kantor Kemenpora. "Mohon didoakan untuk sukses prestasi, penyelenggaraan dan ekonomi Asian Games 2018 Agustus mendatang," tutur Menpora dilanjutkan berfoto bersama di Halaman Utama Kantor Kemenpora.

Lembaga Berbaur dahulu diciptakan bersama oleh Menpora Imam Nahrawi bersama Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, bertujuan untuk membantu para korban bencana alam (saat ini BPBAD) sebelumnya dinamai Tim Relawan Berbaur. "Atas petunjuk Bapak Menpora saat ini menjadi Lembaga Pendidikan Berbaur yang berada di banyak daerah, mohon doa dan pengarahan lebih lanjut," ujar Muhammad Suadi dari Lembaga Berbaur Pasuruan.

Turut mendampingi Sesdep Bidang Pengembangan Pemuda Amar Ahmad, Kepala Biro Humas dan Hukum Sanusi dan Staf Khusus Olahraga Tommy Kurniawan. 
Kamis 12 Juli 2018 23:19 WIB
TWEET TASAWUF
Enam Prinsip yang Bisa Membuat Manusia Istiqamah Beribadah
Enam Prinsip yang Bisa Membuat Manusia Istiqamah Beribadah
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim menerangkan enam prinsip yang bisa membuat manusia istiqamah beribadah di jalan Allah SWT. 

Direktur Sufi Center Jakarta ini menekankan kepada hal-hal yang bisa memperkuat kehambaan manusia kepada Allah, bukan semata hanya berorientasi tujuan pragmatis.

Enam prinsip yang dimaksud Kiai Luqman merujuk kepada proses penghambaan. Adapun hasil, pahala maupun ganjaran sepenuhnya cukup diserahkan kepada Allah.

“Jika Anda jalani prinsip-prinsip ini, itu tanda-tanda mulai istiqamah,” jelas Kiai Luqman dikutip NU Online, Kamis (12/7) lewat akun twitter pribadinya @KHMLuqman. 

Berikut enam prinsip yang dimaksud Kiai Luqman:

1. Shalat lebih utama dibanding surga
2. Doamu lebih utama dibanding kabul
3. Perjuangan lebih utama dibanding goal-mu
4. Cinta lebih utama dibanding hadiah-hadiah Allah untukmu
5. Taubat lebih utama dibanding ampunan
6. Jangan pernah mengatur Allah

“Apa pun kata-katamu atau kata-katanya, apa pun situasimu atau situasinya, apa pun golonganmu atau golongannya, suka dukamu atau suka dukanya, yang terpenting adalah Istiqamahmu. Jangan menunggu istiqamahnya,” ucap Kiai Luqman. (Fathoni)
Kamis 12 Juli 2018 22:30 WIB
Dibanding Lembaga Pendidikan Lainnya, Inilah Kelebihan Pesantren
Dibanding Lembaga Pendidikan Lainnya, Inilah Kelebihan Pesantren
Tangerang Selatan, NU Online
Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie atau Gus Milal menyebutkan, pesantren memiliki kelebihan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lainnya. Jika di lembaga pendidikan pada umumnya lebih menekankan ilmu pengetahuan, maka di pesantren yang paling ditekankan adalah akhlak. 

“Di pesantren yang penting akhlaknya,” kata Gus Milal saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara (INC) di Tangerang Selatan, Kamis (12/7).

Menyitir sebuah hadist, Gus Milal menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus ke dunia ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ini lah yang menjadi titik pijak pesantren sehingga akhlak menjadi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan.

Di samping itu, lanjutnya, di pesantren hubungan antara guru dan murid begitu kuat dan langgeng. Sekali menjadi santri, dia akan menghormati kiainya dimanapun dan kapanpun. Sementara itu di lembaga pendidikan lainnya, hubungan guru dan murid tidak lah ‘sekental’ seperti yang ada di pesantren. 

“Di pesantren, ada hubungan spiritual antara santri dan guru,” ujarnya. 

Menurut dia, akhlak lah yang menyebabkan murid begitu hormat dan patuh dengan gurunya di pesantren. Seorang santri akan melakukan dan menuruti apa pun yang diminta gurunya. 

Ia menceritakan, dulu  pada saat pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Hasyim Asy’ari nyantri di pesantren asuhan Kiai Kholil Bangkalan, Hadratussyekh diminta untuk melakukan ini dan itu –mengambil cincin yang jatuh ke, menimba air, dan lainnya- dari pada belajar. Menurut Gus Milal, ini adalah upaya Kiai Kholil menempa akhlak Hadratussyekh. (Muchlishon)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG