IMG-LOGO
Nasional

Empat Alasan Kenapa Khilafah Ditolak

Sabtu 14 Juli 2018 22:0 WIB
Bagikan:
Empat Alasan Kenapa Khilafah Ditolak
Tangerang Selatan, NU Online
Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara memaparkan, ada empat alasan mengapa khilafah ditolak dan tidak bisa diterapkan. Pertama, khilafah ditolak di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Bahkan, organisasi pengusung khilafah, Hizbut Tahrir, ditolak di dua puluh negara lebih, termasuk Indonesia. 

“Kedua, sistem khilafah mana yang jadi rujukan,” kata kata Robi dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (14/7).

Pada era khulafaur rasyidin, pergantian khalifah menggunakan sistem yang tidak sama: ada yang menggunakan musyawarah melalui semacam ahlul halli wal aqdi, ada yang ditunjuk khalifah sebelumnya, dan ada yang dipilih khalayak ramai. Sementara, khalifah pada era Umayyah, Abbasiyah, hingga Usmaniyah, diangkat berdasarkan darah keturunan.

Ketiga, siapa yang akan dijadikan khilafah. Dewasa ini, jumlah umat Islam diperkirakan 1,8 miliar dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Perihal siapa yang berhak menjadi khalifah tentu akan menjadi persoalan yang pelik, mengingat umat Islam terdiri dari banyak suku dan bangsa yang berbeda.

Terakhir, sistem khilafah tidak sesuai dengan masa sekarang. Jika para pengusung khilafah merujuk sistem khilafah pada era Umayyah, Abbasiyah, hingga Usmaniyah, maka sistem khilafah yang bersifat otoritarianisme seperti itu tidak cocok untuk diterapkan pada era seperti saat ini. 

Untuk itu, Robi menawarkan beberapa jalan tengahnya karena bagaimanapun juga khilafah adalah bagian sejarah umat Islam dan mereka tidak bisa menghapusnya. Pertama, khilafah adalah produk ijtihad politik para ulama. Jadi pengamalannya juga bersifat opsional atau bukan keharusan.

Kedua, khilafah sebaiknya tidak masuk gerakan politik, tapi masuk pada gerakan spiritual, kemanusiaan, atau juru damai seperti Vatikan. (Muchlishon)
Bagikan:
Sabtu 14 Juli 2018 23:0 WIB
Agar Islam Nusantara Diterima Generasi Milenial, Ini Caranya
Agar Islam Nusantara Diterima Generasi Milenial, Ini Caranya
Tangerang Selatan, NU Online
Ada yang menilai Islam Nusantara sebagai model ekspresi keislaman yang kuno dan jadul. Mengapa? Karena biasanya Islam Nusantara selalu diasosiasikan dengan peci hitam, sarung, orang-orang tua, tidak kekinian, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana agar Islam Nusantara bisa diterima kaum muda atau generasi milenial? 

Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara menyebutkan, setidaknya ada dua hal yang seharusnya dilakukan agar Islam Nusantara bisa diterima di kalangan anak muda atau generasi milenial. Pertama, melalui pendidikan. Robi menjelaskan, Islam Nusantara bisa ‘dipasarkan’ dan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan sehingga generasi muda paham akan esensi dari Islam Nusantara. 

“Kedua, mempengaruhi kelompok menengah atas? Siapa yang bisa mempengaruhi? Artis atau public figure,” kata Robi di Sekretariat Islam Nusantara (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (14/7).

Jika Islam Nusantara ‘dibawakan’ oleh orang yang menjadi role model generasi muda saat ini, maka tidak mustahil Islam Nusantara bisa diterima generasi milenial. Karena apapun yang diusung seorang role model, biasanya diikuti pengikutnya.   

Islam Nusantara, sebuah solusi alternatif

Robi Sugara mengemukakan, Islam Nusantara bisa menjadi solusi alternatif terhadap krisis identitas yang tengah menjangkiti Muslim di seluruh dunia.

“Di tengah krisis ada identitas baru, pasti anginnya kencang,” kata Robi.

Menurutnya, saat ini umat Islam di seluruh dunia sedang mengalami krisis identitas. Mengapa? Dahulu umat Islam pernah menjadi umat yang unggul –dalam berbagai bidang- atas umat-umat lainnya. Namun saat itu, umat Islam menjadi tertinggal dari umat-umat lainnya. 

“Kita terombang-ambing. Ada yang ingin mengembalikan Islam seperti dulu,” tambahnya. 

Salah satunya adalah dengan mengusung ide khilafah. Bagi Robi, mereka yang menginginkan sistem khilafah berpandangan bahwa dulu umat Islam maju dan unggul karena menerapkan khilafah. Padahal, Robi menuturkan, khilafah tidaklah sesederhana sebagaimana yang dibayangkan. 

Sebagian yang lain, lanjut Robi, ada kelompok Islam yang menggunakan kekerasan untuk mengejar ketertinggalan dari umat lainnya. “Mereka tidak mampu bersaing. Mereka melakukan kekerasan dan akhirnya malah mencoreng wajah Islam,” terangnya. (Muchlishon)
Sabtu 14 Juli 2018 22:45 WIB
HAUL SYEKH NAWAWI
Syekh Nawawi Al-Bantani Ulama Besar yang Mendunia
Syekh Nawawi Al-Bantani Ulama Besar yang Mendunia
Kiai Ma'ruf Amin pada haul Syekh Nawawi, Jumat (13/7)
Serang, NU Online
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan Syekh Nawawi al-Bantani adalah seorang ulama besar yang tidak hanya diakui di Indonesia, namun juga harum namanya di seluruh penjuru dunia. Menurutnya ada beberapa hal penting yang dapat dipelajari dari Syekh Nawawi dalam mengamalkan Al-Qur'an dan sunah Rasulullah saw.

"Hal yang utama adalah Syekh Nawawi al-Bantani berupaya memahami Islam dengan sebaik-baiknya melalui pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan hadits," kata Hadi pada haul ke-125 Syekh Nawawi al-Bantani di Tanara, Serang, Banten, Jumat (13/7).

"Beliau katakan, sudah seharusnya kita menjadi contoh bagi pelaksanaan syariat Islam yang kaffah, syariat islam yang yang merupakan rahmatan lil ‘alamin," lanjutnya.

Menurutnya umat Islam Indonesia harus menjadi umat yang maju, berwawasan luas, menjalankan ibadah dengan baik serta cinta tanah air sekaligus menjadi motor persatuan dan kesatuan bangsa.

Bangsa Indonesia, kata Hadi, sangat besar dan majemuk. Kita harus sadar bahwa bangsa ini memiliki keanekaragaman. "Kata bhineka tunggal ika harus menjadi kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia. Bhineka tunggal ika bukan untuk dipertentangkan," paparnya. 

Terakhir beliau sampaikan kepada para hadirn yang ada di acara tersebut agar Allah swt mengampuni segala kekurangan kita. "Serta senantiasa memberi petunjuk, bimbingan, dan kekuatan dalam melanjutkan pengabdian kita kepada bangsa dan negara Indonesia yang sama-sama kita cintai bersama," pungkasnya.

Pada haul tersebut juga dihadiri KH Ma'ruf Amin dan beberapa tokoh termasuk Ustad Solmed. (Lutfy al-Fadhany/Kendi Setiawan)
Sabtu 14 Juli 2018 22:15 WIB
Dampingi Presiden Tinjau Venue di Jakabaring Sport, Menpora: Pelatnas Berjalan Sesuai Progres
Dampingi Presiden Tinjau Venue di Jakabaring Sport, Menpora: Pelatnas Berjalan Sesuai Progres
Palembang, NU Online
Menpora Imam Nahrawi mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau beberapa venue di kompleks Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (14/7). Pada kunjungan tersebut Jokowi berkiling venue dan ikut mencoba bermain beberapa cabang olahraga seperti bowling dan perahu naga. 
 
Mengawali tinjauannya, Presiden menuju Plaza Stadion Gelora Sriwijaya, tempat Presiden mendapat penjelasan mengenai pembangunan stadion dan arena olahraga dari Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Selesai dari Plaza Stadion Gelora Sriwijaya, Presiden beranjak ke Venue Bowling. 

Di venue bowling, Presiden sebelum mencoba bermain  bowling mendengarkan penjelasan terlebih dahulu soal cara bermain bowling. Setelah itu presiden bermain bowling bersama Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar. Dan yang menarik, pada kunjungan presiden kali ini ikut hadir Menpora baru Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman yang ikut bermain bowling bersama Menpora.

Setelah dari venue bowling, peninjauan dilanjutkan ke venue Wisma Atlet, venue shooting range, venue voli pantai, venue skate board dan  berakhir di venue dayung. Usai meninjau beberapa venue, Presiden mengatakan bahwa mulai dari pagi hingga siang hari tadi, saya datang bersama para  menteri ke Jakabaring ini dalam rangka melihat kesiapan Asian Games 2018. 

"Saya datang ke Jakabaring ini untuk melihat persiapan Asian Games 2018 dan melihat venue-venue yang akan dipakai dalam pertandingan nanti. Ada 14 yang ada disini dan saya melihat hampir 99% sudah siap semuanya tinggal hal kecil-kecilan dan saya kira ini bisa dikejar dalam waktu seminggu atau dua minggu ini," ucapnya 

"Pada hari ini ada lomba dayung perahu naga Piala Presiden 2018. Lomba ini bagian dari sebuah pemanasan menuju ke Asian Game 2018. Artinya, Jakarta maupun di Palembang sudah siap. Saya memberikan target kepada Menpora minimal 10 besar, karena di Asian Games yang lalu, kita di urutan ke 17.  Syukur-syukur bisa masuk ke 8 besar dan itu semua sudah ada hitung-hitungannya," jelasnya. 

Sementara itu, Menpora menyampaikan bahwa semua cabang olahraga menjadi unggulan. "Dayung kita targetkan 2 medali emas, demikian pula panjat tebing, skateboard dan beberapa cabor yang lain. Sedangkan untuk bonus, akan menjadi bonus terbesar sepanjang sejarah Asian Games. Bapak Presiden mengarahkan minimal Rp 1,5 miliar bagi peraih medali emas. Kemudian diangkat sebagai PNS dan tentu akan mendapatkan bonus rumah bagi peraih medali emas," ujarnya. 

Terkait pelatnas, masih katanya, sudah berjalan  dengan baik meskipun kurang lebih 45% masih ada di luar negeri mengikuti try out maupun training camp disana tapi sebagian sudah bergerak termasuk cabang olahraga dipertandingkan di Palembang ini sudah mulai memanfaatkan venue yang  ada untuk  pelatnas

"Perintah Pak Presiden, pasca Asian Games 2018, kita akan menyiapkan blue print  pemanfaatkan venue Asian Games yang sangat berstandar internasional ini dan kita akan melakukan pemusatan pelatnas cabang olahraga yang ada di Palembang ini," tutupnya. 

Tampak ikut melakukan peninjauan bersama Presiden, Mensesneg Pratikno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Menhub Budi Karya Sumadi, Menaker Hanif Dhakiri, Wakil Ketua MPR  Muhaimin Iskandar, Gubernur Sumsel Alex Noerdin, Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Mulyana dan Ketua KONI Tono Suratman.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG