IMG-LOGO
Humor

Saat Gus Dur Membeli Kepala Ikan di Mesir

Rabu 18 Juli 2018 10:30 WIB
Bagikan:
Saat Gus Dur Membeli Kepala Ikan di Mesir
Di balik pemikiran, kiprah, jasa-jasanya yang luar biasa, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah penggemar kuliner. Tempat-tempat kuliner lezat di dalam negeri tak luput dari penjelajahannya.

Kegemaran Gus Dur itu sejurus dengan kelihaiannya dalam memasak. Konon, Gus Dur pintar memasak saat menjadi mahasiswa di Mesir, Baghdad, dan kala berkelana di Eropa.

Bagi Gus Dur, untuk memperoleh makanan lezat tak harus merogoh kocek dalam-dalam. Apalagi saat menjadi mahasiswa di Mesir. Ia paham bagaimana caranya mengirit tapi tetap bisa makan enak.

Saat itu Gus Dur memasak kepala ikan. Asal giliran dia yang masak di asrama, para mahasiswa yang ikut bareng dengan Gus Dur senang karena makanannya enak dan tidak mengharuskan keluar uang banyak.

Suatu hari, Gus Dur tidak bisa memasak karena ada keperluan mendadak. Seorang sahabat menggantikan posisi Gus Dur untuk membeli kepala ikan dan memasak di asrama. Begitu tiba di tukang ikan, sahabat Gus Dur tersebut ditanya oleh si penjual:

“Mana kawanmu yang biasa ke sini?”

“Dia sedang sibuk dan saya yang mewakili,” jawab sahabat Gus Dur.

“Kawanmu itu hebat ya, punya kucing duapuluh, dia bisa memelihara dengan telaten,” ucap si penjual ikan.

“Kucing? Duapuluh? Nggak keliru Anda siapa kawan saya?” sergah sahabat Gus Dur agak kaget.

“Loh, temanmu si Abdurrahman itu, kalau ke sini selalu beli kepala ikan, katanya untuk kucingnya yang duapuluh ekor itu. Saya kasih murah karena dia mau memelihara hewan telaten seperti itu,” jelas di penjual ikan.

Mendengar itu, sahabat Gus Dur tidak jadi memesan kepala ikan dan ganti yang lain. Risikonya, harga belanjaan hari itu pun meningkat! (Fathoni) 

*) Disarikan dari buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam (2013)
Tags:
Bagikan:
Rabu 27 Juni 2018 9:30 WIB
Salah Nyoblos Paslon
Salah Nyoblos Paslon
Ilustrasi (ivoox.id)
Dalam kondisi masih pagi buta, Deden dengan semangat membara pergi bergegas menuju tempat pemungutan suara (TPS) pemilihan gubernur dan wakil gubernur di sebuah provinsi untuk memberikan hak suaranya atau nyoblos.

Sedari masa-masa kampanye, Deden memang salah satu simpatisan partai tertentu. Saking fanatiknya, ia kerap mengunggulkan pasangan calon (paslon) yang didukungnya dan membenci salah satu paslon. Kebenciannya itu sering dipostingnya di akun media sosial miliknya.

Tiba di lokasi TPS yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, Deden diikuti sang istri menunggu beberapa saat karena TPS belum dibuka. Setelah dibuka, tentu saja ia mendapat giliran paling awal karena sedari pagi buta sudah tiba di TPS.

Kertas suara diberikan panitia pemungutan suara kepada Deden dan istri. Mereka berdua membuka dan melebarkan kertas suara yang berisi daftar paslon kepada para saksi di TPS untuk memastikan kertas suara masih utuh.

Deden dan istri segera menuju bilik suara untuk mencoblos paslon pilihannya. Ternyata, rasa benci Deden terhadap paslon tertentu yang kerap diungkapkannya di media sosial tidak hilang ketika ia masuk ke bilik suara.

Walhasil, paku yang dipegangnya untuk memilih paslon yang ia dukung justru digunakan untuk mencoblos dengan rasa geram terhadap paslon yang ia tidak sukai untuk menunjukkan kebenciannya.

“Syukurlah, Mamah udah nyoblos calon yang kita dukung Pah,” ucap sang istri.

Loh, berarti saya tadi salah nyoblos dong,” ujar Deden dalam hati sambil tersenyum kecut ke istrinya.

Ternyata, pemilu kali ini merupakan pengalaman pertama Deden yang tiap masa pemilu atau pilkada memilih cuek dan tidak berpartisipasi. (Ahmad) 
Ahad 10 Juni 2018 9:45 WIB
Pemandu Mudik Bareng
Pemandu Mudik Bareng
Tahun 2018 adalah tahun kedelapan NU menyelenggarakan program mudik gratis. Kegiatan yang diberi tagline Mudik Berkah Bareng NU ini setidaknya menjaring 3.000 pemudik tiap tahunnya.

Pada momen Mudik Berkah Bareng NU 2018, tepat pukul 14.15 WIB, Pak Dede, sopir asli Leuwimunding, Majalengka itu memacu gasnya. Ia memegang kemudi bus jurusan Bumiayu dan Purwokerto.

Beberapa gelinding roda berputar, Mas Ali, sang navigator, orang Prupuk, Tegal memandu perjalanan sekitar 57 orang dalam bus tersebut. Bahkan dia memimpin berdoa. Doa perjalanan yang dia ucapkan:

"Subhaanal ladzii sakhkhara lanaa haadzaa, wamaa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun”

Kami penumpang mengikuti dan mengamini. Di akhir 'sambutan'-nya Mas Ali berkata, "Bagi bapak dan ibu yang mempunyai penyakit HIP, mohon segera beritahu kami."

"Hah...?" peserta mudik pada mlongo.

"Maksud saya penyakit Hasrat Ingin Pipis (HIP)," seloroh Mas Ali diikuti geerrrr seluruh penumpang. Pak Aceng, kru bus lainnya hanya pringisan. (Fathoni)
Kamis 31 Mei 2018 17:15 WIB
Saat Kiai Kampung Bangga Punya ‘Eternit’
Saat Kiai Kampung Bangga Punya ‘Eternit’
Perubahan zaman kadang harus segera mendapat respon cepat, terkadang juga harus tetap disikapi dengan bijak dan tenang. Di dalam NU sendiri, Gus Dur sebagai sosok yang pemikirannya melampui zamannya menilai, kadang orang NU mengingingkan perubahan yang cepat di tubuh organisasi sehingga kadang menimbulkan orang lain bingung.

Gus Dur mengisahkan, pernah didatangi seorang kiai kampung dari Pulau Madura. Konon kiai tersebut merupakan Rais Syuriyah MWCNU yang ingin menginformasikan kemajuan NU di kecamatannya.

“Alhamdulillah Gus, sekarang MWCNU di tempat saya sudah punya kantor sendiri,” kata sang tamu.
“Wah, Alhamdulillah, Yai,” ucap Gus Dur ikut gembira.

“Tapi ini masih ada masalah, Gus,” kata Pak Kiai dengan logat Madura Pedalungan yang kental.
“Loh, masih ada masalah apa lagi, Yai?” tanya Gus Dur.

“Ya itu soal pembayaran ‘eternit’-nya. Mahal Gus. Kalau kantor Cuma nyewa sejuta setahun, lha ini ‘eternit’-nya sampai seratus ribu sebulan,” jelas Pak Kiai.

“Kok bisa Kiai? Eternit kan termasuk rumah, masak pake mbayar sendiri,” kata Gus Dur bingung. (Eternit, bahan bangunan yang terbuat dari campuran asbes halus dan semen)

“Itu lho Gus, yang dipakai cari informasi di komputer itu, kan ‘eternit’ yang sewanya mahal,” ucap kiai.

“Oohh... Masya Allah, maksud panjenengan internet toh...” kata Gus Dur sambil ngakak. (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG