IMG-LOGO
Wawancara

Ikhtiar Membentuk Generasi Qur'ani

Rabu 18 Juli 2018 21:30 WIB
Bagikan:
Ikhtiar Membentuk Generasi Qur'ani
Karawang, NU Online
Keberadaan teknologi kian hari semakin canggih. Ia tak lagi dapat dibendung. Hal ini banyak memengaruhi masyarakat saat ini, baik itu mengarah ke hal positif atau bahkan, naudzubillah, menjerumuskan ke hal negatif.
 
Kecanggihan teknologi itu dimanfaatkan betul oleh KH Fadhlan Zainuddin untuk membentuk generasi qurani. Enam putra-putrinya itu ia bentuk menjadi anak yang cinta Al-Qur'an. Mereka semua menjadi qari-qariah, termasuk putra bungsunya yang baru berusia 10 tahun.
 
Kontributor NU Online Syakir NF berkesempatan berbincang dengan qari asal Sumatera Utara itu di sela-sela kesibukannya menjadi salah satu dewan hakim pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Internasional kedua yang diselenggarakan oleh Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (18/7).
 

Apa yang Kiai lakukan dalam membentuk putra-putri Kiai menjadi qari?

Pertama sekali dengan niat apa yang ada sama kita. Yang baik itu harus kita tularkan ke dzuriyat (anak cucu/keturunan) kita dalam hal pembinaan quran bagi keluarga dan kanak-kanak yang berada di lingkungan keluarga kita. Ya, berawal dari niat itu dan membiasakan apa yang baik itu di hadapan mereka. Walaupun mereka pada waktu-waktu pertama itu belum bisa mengikuti, namun kita terus membuatkan, menirukan bacaan-bacaan Quran itu, sehingga (ketika) dia besar, kenangan-kenangan kita setiap hari itu dia terikut.
 
Kemudian ketika kita mengajar. Ya mungkin kalau kita mengajar langsung kepada anak-anak di rumah, mereka manja. Mereka mungkin tidak bisa serius dalam belajar. Tapi kita membawanya ke tempat mengajar. Kita mengajar di majelis qiraat di luar rumah di madrasah, di masjid, anak-anak kita bawa untuk melihat orang-orang yang belajar sama kita. Secara tidak disadari, mereka sendiri malah ikut dalam kumpulan-kumpulan para pelajar itu.
 
Jadi akhirnya, kalau dalam situasi mengajar di rumah, mereka segan bermanja-manja sama kita, sehingga mereka serius untuk mengikuti pembinaan-pembinaan di luar rumah. Akhirnya ketika berada di rumah, apa-apa yang tadinya kita setiap hari lakukan dan kita ajarkan di luar rumah, mereka akhirnya mengikut dan menirukan apa yang kita lakukan. Itulah dalam hal tilawah Al-Qur'an yang sebenarnya tidak secara langsung kita aplikasikan kepada mereka. Namun, ada hal-hal perantara yang menjadi sebab seperti yang ada di dunia maya, di Youtube, Instagram.
 
Sejak usia berapa Kiai mengajarkan putra-putri bertilawah?

Sejak dia lepas dari ibunya. Kalau dia sama ibunya biasanya usia-usia masih dipangku, disusui. Artinya, Sejak usia tiga tahun sudah bisa kita bawa, berlepas dari ibunya. Namun ketika mereka dalam pangkuan ibunya, lantunan yang ada dalam rekaman, baik di televisi ataupun di CD (compact disk) ataupun di handphone itu selalu diputar oleh ibunya juga. Jadi, akhirnya kita mengajar via kita sendiri. Ibunya mengajar via (alat) elektronik.
 
Anak-anak gemar bermain. Bagaimana Kiai menghadapi anak agar tetap bertilawah?

Kita memahami bahwa dunia kanak-kanak itu dunia bermain. Yang saya lakukan tidak langsung mencegahnya untuk bermain. Biarkan dia bermain, tapi tetap kita suarakan suara-suara Al-Qur'an di sela-sela permainannya itu, baik diputar melalui elektronik atau kita membaca sendiri. Jadi kita pun tidak bisa mencegah bermain karena memang dunia mereka dunia bermain. Jadi secara tidak langsung dalam permainannya itu suara-suara Al-Qur'an tetap didengar oleh mereka.
 
Apakah Kiai punya waktu khusus untuk melatih mereka?

Biasa kita lakukan itu pagi atau ketika selesai shalat Maghrib. Antara maghrib dengan isya waktunya untuk membaca Al-Qur'an dan mereka ikut dalam bacaan-bacaan Al-Quran.
 
Bagaimana tahapan Kiai mengajari mereka bertilawah?

Pertama, membiasakan dia mengikuti secara murottal. Setelah dia bisa mengikuti secara murattal, baru kita tirukan dengan tilawah yang mempunyai nagham yang lebih baik lagi. Begitu.
 
Apa pesan Kiai untuk masyarakat yang ingin dapat membentuk generasi yang gemar membaca Al-Qur'an?

Apa yang saya lakukan ini adalah salah satu yang mungkin bisa ditiru orang lain. Saya sendiri meniru apa yang dilakukan sahabat-sahabat yang selama ini selalu membagi teknik pembinaan generasi muda kepada saya, seperti dari Iran, Malaysia, dari berbagai macam negara yang membina anak-anak.
 
Marilah kita bersama mengiringi usia anak itu dengan pembinaan-pembinaan AL_Qur'an. Ktia tidak harus terpaku dengan pembinaan secara langsung, tetapi kita bisa membina secara media elektronik, via dunia maya. Akhirnya secara tidak langsung, kehidupan generasi muda yang ke manapun apakah dia bergerak, bermain, bersekolah, kita berhak iringi dia dengan lantunan Al-Qur'an.
Tags:
Bagikan:
Selasa 17 Juli 2018 7:30 WIB
Penting bagi Guru Mempunyai Kompetensi dan Komitmen
Penting bagi Guru Mempunyai Kompetensi dan Komitmen
Ketum Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim
Kompetensi merupakan hal mutlak bagi seorang guru dalam mendidik murid-muridnya. Tanpa kompetensi, tidak mungkin pendidikan menghasilkan lulusan yang kompeten. Untuk mencetak generasi-generasi kompeten, guru harus memiliki jangkauan dalam mengajar sehingga capaiannya jelas.

Tidak hanya kompetensi, tetapi guru harus memiliki komitmen dalam mendidik. Komitmen ini sebagai fondasi untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan secara umum. Komitmen dalam mendidik perlu dibangun yang empunya kebijakan pendidikan untuk mewujudkan kesejahteraan guru.

Kompetensi dan komitmen akan melahirkan tanggung jawab seorang pendidik kepada anak didiknya. Seperti kompetensi, komitmen, dan tanggung jawab guru harus diwujudkan? Berikut perbincangan jurnalis NU Online Fathoni Ahmad dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim:

Bagaimana melihat pendidikan di Indonesia saat ini?

Saat ini ekonomi Indonesia masih terpengaruh dengan pasar global atau internasional. Hal ini menyebabkan ekonomi Indonesia masih terombang-ambing, meskipun dunia mengakui Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil.

Hal ini disebabkan salah satunya karena Indonesia belum kompetitif dalam bidang ekonomi kemudian menghasilkan kekayaan. Kenapa? Karena tidak bisa menyerap tanggung jawab-tanggung jawab pendidikan yang disampaikan gurunya.

Tetapi, bagaimana dengan kondisi guru-gurunya sendiri?

Di satu sisi, mungkin guru-gurunya juga kurang terampil dalam menyampaikan tanggung jawabnya, baik materi pendidikannya maupun materi ajarnya, dan materi kedisiplinannya.

Sehingga anak-anak didik yang dihasilkan atau diluluskan tidak kompetitif. Jika persoalannya seperti ini, mari sama-sama bangkit agar bangsa Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Guru di seluruh Indonesia harus sadar untuk mencetak anak yang pintar, cerdas, sehat, baik akhlaknya. Ini memerlukan kepedulian di samping membutuhkan kompetensi.

Bagaimana guru didorong untuk mewujudkan pendidikan yang baik dan maju?

Ada dua hal besar yang harus diperhatikan oleh guru yaitu kompetensi dan komitmen. Komitmen untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawab guru tetapi juga harus mempunyai komitmen. Sehingga untuk mempunyai komitmen harus mempunyai kompetensi, sesuatu yang harus disampaikan kepada anak didik.

Bagaimana mewujudkan dan mencetak generasi enterpreneurship?

Ya harus memperkuat tanggung jawab keterampilan. Saat ini seolah pemerintah hanya memprioritaskan sekolah-sekolah advokasi atau kejuruan tanpa mandiri memiliki pabrik-pabrik besar sendiri.

Lah, ini anak dididik hanya menjadi pekerja atau buruh. Pabrik yang ada milik asing. Saya sebagai penyelenggara dan pengelola pendidikan tidak akan mendirikan SMK sebelum saya mempunyai pabrik sendiri. Berapa kali saya didorong dan disuruh mendirikan SMK, tetapi tidak ada dalam konsep kepala saya untuk mendirikan SMK.

Jika kita tarik pada tujuan pendidikan nasional, tantangan dunia pendidikan dan pendidikan Islam secara umum seperti apa?

Kekurangpahamannnya untuk mewujudkan sejumlah tanggung jawab pendidikan untuk kemudian merealisasikan kesejahteraan dan menegakkan keadilan. Jika lembaga pendidikan dan lembaganya memahami tanggung jawab dan tujuan pendidikan, maka akan menjadi lembaga pendidikan terbaik.

Apa usaha yang harus dilakukan oleh anak didiknya?

Anak didik tetap harus dimotivasi oleh para guru sehingga muncul motivasi dalam dirinya. Makanya salah satu kelebihan Pesantren Amanatul Ummah setiap hari diberikan motivasi. Misal diterangkan bahwa manusia adalah binatang yang cerdas (al-insanu hayawanun natiqun). Jika tidak cerdas, maka manusia adalah binatang karena natiq-nya tidak ada.

Dampak ketidakcerdasan manusia ialah manusia pada akhirnya akan menjadi objek eksploitasi sehingga menyebabkan suatu bangsa tidak akan pernah maju.

Bagaimana rahasia agar santri atau anak didik tidak hanya pintar ilmu umum, tetapi juga menguasai kitab kuning?

Kalau tuntas jangkauan, pasti akan menguasai semuanya. Jangkauan yang dilaksanakan di Pesantren Amanatul Ummah ialah tuntas dalam mempelajari kitab kuning dan ilmu-ilmu umum. Buktinya, alumni Amanatul Ummah banyak yang diterima di Eropa, Jepang, dan Timur Tengah. Itu bukti bahwa mereka juga memahami kitab kuning, bahasa Arab, dan ilmu umum.

Mereka tidak mungkin diterima di Timur Tengah tanpa menguasai kitab kuning. Setiap tahun, tidak kurang dari 30 siswa diterima sekolah di Timur Tengah.

Terkait kesejahteraan guru, bagaimana Pergunu mendorong terwujudnya kesejahteraan guru?

Saya sudah berkali-kali menyampaikan kepada para guru, tidak perlu merengek-rengek menuntut kesejahteraan. Wujudkan dulu kualitas dirimu dalam mengajar dan mendidik siswa. Kualitas guru akan menentukan kualitas sekolah. Kualitas sekolah tentu akan menjadi daya tarik masyarakat untuk menempatkan siswanya di sekolah-sekolah terbaik.

Jika sekolah sudah menjadi daya tarik masyarakat berbagai level, kesejahteraan guru dengan sendirinya akan mengikuti. Kualitas yang diwujudkan sekolah, bagaimana sekolah mampu menyediakan layanan bagi potensi-potensi yang dimiliki oleh anak didik ketika masuk sekolah.

Sebab itu, kembali pada jangkauan-jangkauan yang harus diwujudkan oleh sekolah dan para guru kepada anak didiknya agar mampu mencetak generasi bangsa yang juga komprehensif ilmu dan pengetahuannya. (*)
Jumat 13 Juli 2018 9:45 WIB
Ironi Negara Agraris, Petani Terus Terkikis
Ironi Negara Agraris, Petani Terus Terkikis
Agus Sunyoto (Foto: NU Online)
“Petani itulah penolong negeri.” Dawuh pendiri NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) tersebut menunjukkan bahwa peran petani di Indonesia sangat penting dalam menyediakan bahan makanan setiap hari.

Namun, peras keringat, banting tulang, dan kerja keras mereka tidak pernah terbayar lunas dengan yang namanya keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Karena mereka lebih sering didera kerugian saat menjual hasil panennya.

Indonesia yang dijuluki negara agraris juga dihadapkan pada fenomena punahnya pertanian yang sesungguhnya mempunyai filosofi dan kearifan lokal yang tinggi. Karena hampir sudah tidak ada generasi muda yang tertarik untuk bertani.

Tradisi lumbung padi yang mempunyai nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat juga saat ini sudah tidak lagi menjadi tradisi.

Dari problem-problem di atas, lalu seperti apa kebijakan pemerintah serta pendidikan di universitas dengan fakultas pertaniannya? Berikut wawancara jurnalis NU Online Fathoni Ahmad dengan Budayawan sekaligus sejarawan Agus Sunyoto beberapa waktu yang lalu:

Bagaimana Anda melihat fenomena petani di Indonesia?

Iya. Di kampung saya itu, orang satu kampung, pekerjaannya tani. Identitas pekerjaan di KTP itu tani, tani, tani. Tapi sudah tidak ada yang punya tanah. Mereka sekarang hanya buruh tani karena tanahnya sudah dibeli real estate, sudah dibeli pabrik, habis.

Jadi dua tiga tahun lagi, sawah di belakang pesantren saya itu bakal dibangun perumahan. Karena lahan di sekelilingnya sudah dibangun perumahan. Tinggal nunggu saja, sawah sudah habis, petaninya gak punya tanah.

Dahulu anak petani mewarisi lahan pertanian, tapi untuk sekarang?

Dahulu anak petani mewarisi lahan pertanian, saat ini tidak ada karena petani di desa sudah tidak mempunyai tanah. Saya itu tahun 1995 rencana mau bangun sekolah, sekolah menengah pertanian. Tanggapan teman-teman saya, loh kalau bisa jangan bikin sekolah pertanian, kita ini anaknya petani, sudah gak terlalu tertarik dengan pertanian.

Kita tahu, orang tua kita itu rugi terus. Saya ingat tahun 1995, Ketua Ansor Kediri Abu Muslih itu orang tuanya petani. Ketika kita bincang tentang pertanian, dia sudah menggunakan pemikiran modern. Dia ngomong ke ibunya: mak, kita punya sawah 500 meter persegi. Dari luas tersebut, diitung sewa tanah setahun berapa.

Kemudian membayar tukang yang nyangkulin tanah, nggarem, beli bibit, setelah itu beli pupuk. Lalu beli insektisida, termasuk membayar orang yang bertanam itu. Nanti setelah panen, membayar yang manen padi, setelah itu dijual, itu tahun 1995.

Dengan luas 500 meter persegi, setelah dihitung, rugi 50.000 rupiah. Itu belum dihitung ongkos tenaga, dan lain-lain. Muslih bicara ke emaknya. Mak, ini kita rugi 50.000. emaknya hanya menjawab enteng, lah iya, dari dulu memang petani itu rugi. Cuma kalau kita ngikutin untung-rugi, nggak bakal ada lagi orang yang bertani. Jadi sekalipun rugi, petani itu harus tetap ada.

Tradisi petani dahulu bertani bukan untuk dijual, bagaimana anda melihat ini?

Iya, sebagian aja dijual. Dan kebanyakan petani dahulu menjual hasil panen karena terpaksa. Dia kan sudah diutangi sama pengijon itu. Jadi ya petani itu tengkulak-tengkulak itu. Nah itu namanya sudah keterlaluan, kalau sampai masyarakat yang tinggal di wilayah yang subur, di mana Indonesia itu tidak ada gurun pasir, semuanya menghasilkan makanan.

Kalau sampai ada yang kelaparan, sudah keterlaluan. Jazirah Arab itu gurun pasir, satu-satunya sumber daya alam mereka minyak, itu juga bisa makmur kok. Lah Indonesia, minyak ada, emas ada, tembaga banyak, uranium, alumunium, timah, semuanya ada di sini. Hasil laut, hasil hutan, dan lain-lain, berlimpah Indonesia itu. Keterlaluan kalau masih ada yang kelaparan.

Bagaimana sistem pendidikan dengan jurusan pertaniannya?

Dunia pendidikan sangat ironi dengan keadaan pertanian dan nasib para petani saat ini. Banyak yang dari jurusan pertanian justru tidak pernah terjun ke sawah. Malah tidak sedikit yang kerja di Bank dan kantor, tidak ada kaitannya dengan pertanian. Tidak jarang pendidikan pertanian malah justru merusak.

Kenapa generasi muda sekarang tidak tertarik dengan profesi pertanian?

Iya, karena mereka jug merasakan bapak-ibunya rugi terus setiap panen hasil tani mereka. Bahkan kadang tidak cukup untuk membayar utang pupuk, dan lain-lain.

Mindset yang harus dibangun seperti apa agar pertanian tetap bertahan?

Kita harus bertani dengan melihat konteks dan potensi lokal. Misalnya di daerah timur Indonesia, itu produk pertanian besar adalah sagu. Tapi sejak zaman orde baru diubah, orang timur harus makan beras.

Akhirnya ketika pasokan beras berkurang, cadangan sagu yang ada di timur terbengkalai, kenapa? Masyarakat sudah tidak bisa mengelola sagu. Sudah tidak biasa makan sagu. Akhirnya muncullah fenomena kelaparan di Papua, dan macam-macam.

Tentang fenomena lumbung padi yang seolah sudah punah?

Fenomena lumbung sudah habis sekarang. Misalnya di pesantren saya itu, ketika anak-anak MI diajari lagu-lagu daerah, judulnya lumbung desa, itu tanya, yang namanya lumbung itu apa? Karena sekarang sudah tidak ada lumbung. Di situlah tragisnya sudah tidak ada lumbung.

Sekarang setiap rumah, orang yang agak kaya itu punya yang namanya rice cooker. Sudah, itu bukan budaya kita.
Dulu, ada lumbung desa, lumbung dusun, setiap orang kaya itu ada lumbung padi di depan rumahnya. Persediaan bahan makanan. Bahkan di pinggir rumah-rumah di kota-kota besar masih menyediakan kendi berisi air minum di depan rumahnya. Itu sampai tahun 1980-an saya masih melihat di jalanan kota Surabaya.

Jadi orang yang lewat tidak perlu meminta minum, orang kehausan langsung minum air di kendi di situ. Orang zaman dulu begitu, sekarang sudah hilang, nggak ada tradisi itu. 

Apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan kearifan lokal berupa pertanian itu?

Ya semuanya sudah berubah. Artinya kalau sudah begitu pendidikan harus diubah. Pendidikan kita kan pendidikan Barat, pendidikan sekuler, menciptakan buruh, bukan menciptakan petani yang mandiri.

Bisa dijelaskan filosofi lumbung padi?

Lumbung merupakan salah satu pertahanan pangan masyarakat. Muncul berawal dari kebersamaan. Jadi misal terjadi paceklik, nggak sampai kekurangan pangan karena ada persediaan.

Fenomena rugi terus-menerus dari seorang petani?

Faktor tersebut yang menjadi sebab generasi penerus pertanian tidak ada. Karena ia tahu keluarganya rugi terus. Ini karena patokan harga bibit, gak jelas, harga pupuk gak jelas, insektisida, dan lain-lain semuanya tidak jelas.

Giliran nanti setelah panen harga ditentukan, harga padi kering giling sekian. Sudah, gak boleh lebih. Itu sudah ketidakadilan. (*)
Ahad 8 Juli 2018 21:30 WIB
‘Jurnal Pegon’ dan Upaya Menggali Khazanah Islam Nusantara
‘Jurnal Pegon’ dan Upaya Menggali Khazanah Islam Nusantara
Dalam beberapa sumber –sebagaimana yang diuraikan sejarawan Agus Sunyoto misalnya- disebutkan bahwa Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ketujuh Masehi atau awal Hijriyah. Para pendakwah mencoba mendakwahkan Islam kepada masyarakat lokal Nusantara yang pada saat itu memeluk Hindu-Budha. 

Tahun berganti tahun, abad berganti abad, selama tujuh abad berselang para pendakwah itu ‘gagal’ menancapkan ajaran Islam di bumi Nusantara. Masyarakat Nusantara tetap memeluk agama lamanya. Selama itu pula Islam tidak ‘digubris’, bahkan ditentang. 

Keadaan berbalik ketika Islam didakwahkan Wali Songo pada abad ke-14. Dengan menerapkan dakwah yang kreatif, inovatif, dan revolusioner, Wali Songo berhasil mengambil hati masyarakat Nusantara hingga akhirnya mereka menerima Islam. Kiprah Wali Songo dalam mengislamkan masyarakat Nusantara sangat lah luar biasa. Bayangkan, hanya dalam kurun waktu setengah abad, masyarakat Nusantara –sepanjang pesisir Jawa- memeluk Islam. Semenjak itu, Islam terus berkembang ke seluruh wilayah Nusantara hingga sampai hari ini. 

Dalam sejarahnya, Islam begitu mewarnai sendi-sendi kehidupan –budaya, adat, tradisi- masyarakat Nusantara. Pun sebaliknya. Terjadi dialektika diantara keduanya sehingga membentuk karakter Islam yang khas Nusantara. 

Dewasa ini karakter Islam yang seperti itu dikenal dengan istilah Islam Nusantara. Nahdlatul Ulama (NU) lah yang mengusung dan menggaungkan istilah tersebut. Islam Nusantara terus digali dan dikembangkan sehingga menjadi sebuah konsepsi yang kukuh. Tidak lain, ini dimaksudkan –salah satunya- sebagai antitesa dari Islam transnasional yang semakin berkembang di wilayah Nusantara, Indonesia.  

Sabtu, (7/7) kemarin, Islam Nusantara Center (INC), menerbitkan sebuah jurnal dengan nama The International Journal of Pegon: Islam Nusantara Civilitation (Jurnal Pegon). Sebuah jurnal yang dimaksudkan –salah satunya- sebagai upaya untuk menggali khazanah peradaban Islam Nusantara. 

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Jurnal Pegon, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat, berkesempatan mewawancarai Managing Editor Jurnal Pegon A. Khoirul Anam. Berikut petikan wawancaranya:

Apa maksud dan tujuan dari penerbitan Jurnal Pegon ini?

Kita ingin mengulas kajian secara lebih mendalam tentang beberapa hal terkait dengan Islam Nusantara. Mulai dari manuskrip, perkembangan Islam di berbagai daerah di Nusantara, dan lainnya. 

Di samping melakukan kajian yang lebih mendalam, melalui jurnal ini kita juga berupaya untuk mengonseptualisasikan Islam Nusantara yang sudah dipraktikkan selama ini. Sehingga menjadi konsep yang baku, bisa dijelaskan secara ilmiah, dan bisa ‘diekspor’ ke luar negeri. 

Ini juga merupakan upaya untuk memagari dan model keislaman yang sudah dibangun selama berabad-abad agar tidak rusak disebabkan masuknya paham keislaman baru dan teknologi. 

Kenapa namanya Jurnal Pegon? 

Kita ingin menggugah kembali kekayaan besar dalam Islam Nusantara, yakni huruf pegon. Kita tahu bahwa huruf pegon adalah perpaduan antara bahasa lokal dengan huruf Arab. Dulu, pegon digunakan para ulama untuk mengelabuhi kolonial karena pada saat itu penjajah sudah mulai belajar bahasa Arab. Hingga hari ini pegon masih digunakan di pesantren-pesantren.  
Di dalam istilah pegon sendiri memuat pesan bahwa Islam Nusantara itu juga terkait dengan wacana keilmuan. Pegon adalah bagian dari khazanah peradaban Islam Nusantara.  

Apakah artikel-artikelnya ditulis dengan huruf pegon mengingat namanya Jurnal Pegon?

Secara bertahap nanti akan ditulis dengan huruf pegon. Kita terus memikirkan akan hal itu, tapi untuk bahasa Inggris sepertinya tidak akan bisa. Yang artikel bahasa Indonesia akan ditulis dengan huruf pegon.

Di cetakan pertama ini, ada delapan artikel. Dua diantaranya ditulis dengan menggunakan huruf pegon; (artikel tentang Syekh Muhammad Mukhtar Atharid Al-Bughuri yang ditulis Ginanjar A Sya’ban dan Syekh Nawawi Al-Bantani yang ditulis Dzulkifli Hadi Imawan). Selain itu, semua abstrak artikel ditulis dengan tiga bahasa; Indonesia, Inggris, dan pegon. 

Apa sih yang khas dari Jurnal Pegon ini?

Yang khas dari jurnal ini adalah seri kajian manuskrip ulama Nusantara yang belum diterbitkan secara masif. Pada intinya, jurnal ini berupaya untuk menuangkan kajian-kajian yang dilakukan oleh teman-teman, baik yang berada di dalam atau di luar lingkungan perguruan tinggi, di dalam atau di luar pesantren, serta di dalam atau di luar negeri, mengenai Islam Nusantara. 

Apa target dari penelitian Islam Nusantara yang dilakukan secara mendalam?

Kita berupaya mengonseptualisasikan Islam Nusantara sehingga menjadi konsep yang baku, bisa dijelaskan secara ilmiah. Target ideal kita adalah kita ingin Islam yang diterapkan di Indonesia ini bisa menjadi prototipe keislaman luar negeri.
Namun yang perlu diingat, ketika bicara Islam Nusantara maka tidak harus disandingkan dengan Arab atau dibanding-bandingkan. Kita ingin menjelaskan bahwa apa yang diajarkan oleh para ulama itu seperti ini. 

Jurnal Pegon ini terbit berapa kali dalam satu tahun?

Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun.

Untuk penulisnnya apakah ada kriteria khusus atau seperti apa?

Kita membuka dan mengundang para peneliti-peneliti dari luar untuk menulis di jurnal ini. Seperti jurnal pada umumnya, mereka bisa mengirimkan karya-karyanya, nanti akan diseleksi oleh tim editor kita. Struktur dan sistematika penulisannya sama seperti standar jurnal internasional lainnya.

Kalau ada yang mengirimkan karya, bisa dikirim langsung ke email: jaringansantri95@gmail.com.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG