IMG-LOGO
Pustaka

Menatap Langkah NU di Abad Kedua

Jumat 27 Juli 2018 22:0 WIB
Bagikan:
Menatap Langkah NU di Abad Kedua
Genap 8 tahun lagi, atau tepatnya pada 2026, Nahdlatul Ulama akan berusia satu abad. Sebuah usia yang lebih dari cukup untuk disebut matang. Tetapi bukan satu abad itu yang perlu disongsong. Yang perlu disiapkan adalah bagaimana mewarnai perjalanan abad berikutnya. NU di abad kedua.

Melihat judulnya saja, Peta Jalan NU Abad Kedua, buku ini dari awal sudah berupaya meluruskan cara pandang dalam meneropong dimensi waktu. Dalam dua-tiga tahun terakhir, bahkan sejak Muktamar ke-33 NU di Jombang, semangat menyongsong satu abad NU telah didengungkan.

Buku ini mengingatkan, disongsong atau tidak, satu abad NU pasti datang. Jadi bukan menyongsong miladnya yang selalu seremonial itu. Yang lebih penting adalah bagaimana perkhidmatan NU di abad digital nanti terorganisasi lebih sistemik lagi. 

Buku setebal 194 halaman ini merupakan ringkasan hasil diskusi panjang tokoh-tokoh NU generasi kedua. Yakni mereka yang telah mengikuti perjalanan jamiyah ini sejak 40 atau 50-an tahun yang lalu. Yang hingga saat ini masih konsisten menjaga nafas perkhidmatan NU. Mereka antara lain Ahmad Bagdja, Mustofa Zuhad, Maskuri Abdillah, Masduki Baidlowi, Endin Soefihara, Nasihin Hasan, dan yang lain.

Beberapa gagasan dan elaborasi penting disajikan antara lain; terkait upaya pengembangan organisasi dan reorganisasi yang berorientasi tidak lagi pada pendekatan geografi melainkan pendekatan komunitas. 

Struktur organisasi NU saat ini secara hierarkis-demorafis mengikuti pola pemerintahan negara. Secara pararel dapat dilihat, NU berkantor pusat di Jakarta. Membawahi seluruh wilayah di Indonesia. Pengurus wilayahnya berkantor pusat di ibukota provinsi, dan seterusnya ke bawah. 

Pertanyaannya, apakah NU akan berkhidmat dalam kerangka sistemik yang sama persis dengan pemerintah? Dengan mengikuti model hierarki pemerintahan yang rentang kendalinya sangat panjang ini, sementara SDM dan pendanaan yang dimiliki relatif terbatas. Dengan pola hierarki ini, efektifkah NU selama ini menjalankan tugas pokok dan fungsinya?  

Di sinilah reorganisasi NU dibutuhkan. Pengembangan struktur menurut buku futuristik ini, ke depan perlu mempertimbangkan dinamika stakeholders yang semakin terdiferensiasi seiring perkembangan zaman. Contoh, dinamika masyarakat urban yang tumbuh di perkotaan sudah mengalami diferensiasi yang semakin rumit. Ada masyarakat industri perkotaan seperti kalangan perbankan, kalangan industri kreatif dan jasa, yang pertumbuhannya sangat pesat.

Ini semua sangat memerlukan pendekatan khusus. Dalam arti pengorganisasian tidak cukup hanya dengan pendekatan geografi. Tetapi perlu juga mempertimbangkan pengembangan struktur organisasi di komunitas-komunitas baru sesuai dengan perkembangan masyarakat urban, yang sangat dinamis, yang tak bisa dijangkau oleh eksistensi struktur organisasi yang terlalu administratif seperti pemerintahan negara.             

Terawangan penting lainnya, ke depan NU harus berjejaring dan berinteraksi dengan komponen potensial yang lebih luas lagi, baik di tingkat domestik maupun internasional. Selama lima belas tahun terakhir tidak dapat dipungkiri terjadi interaksi yang semakin meningkat antarorganisasi dari berbagai jenis dan bidang. Berbagai perkumpulan, yayasan, jaringan kerja, perhimpunan, lembaga bantuan, kelompok hobi, bahkan instansi dan perusahaan swasta telah memperluas jangkauan kegiatan mereka ke bidang yang selama ini hanya menjadi trade mark kegiatan klasik organisasi nirlaba.

Dalam perkembangan situasi ini, akan muncul berbagai lembaga, instansi pemerintah maupun swasta yang bakal mengincar kompetensi, expertise dan waktu pengurus NU yang sangat berharga. NU tidak mungkin mengelak dan harus berjejaring dan bekerjasama dengan pihak tersebut. Sebab jika tidak, NU akan merasakan kesulitan menghadapi ragam persoalan kemasyarakatan secara sendirian di zaman yang semakin multidimensional itu.

Jadi pilihannya, NU harus aktif masuk ke wilayah sistem yang lebih besar, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Ketidaksiapan masuk ke wilayah sistem yang lebih besar ini akan membawa NU hanya pada saling ketergantungan dalam berbagai dimensi. Kekurangan di daerah dilimpahkan ke pusat, kelemahan di pusat dilemparkan ke daerah, dan seterusnya. Inilah situasi yang amat sangat tidak boleh terjadi. Situasi yang menempatkan NU menjadi bagian dari suatu kesatuan sistem, dimana NU akhirnya hanya menjadi sub-sistem.


Judul Buku : Peta Jalan NU Abad Kedua
Penulis         : Ahmad Bagdja dkk
Editor : Abdul Aziz
Tebal buku : 194 halaman
Penerbit         : Yayasan Talibuana Nusantara
Tahun Terbit : Mei 2018
Dilaunching : 7 gustus 2018  
Peresensi : Didik Suyuthi 
Tags:
Bagikan:
Rabu 25 Juli 2018 9:0 WIB
Memahami Ideologi Kaum Fundamentalis
Memahami Ideologi Kaum Fundamentalis
Jika ada penganut keagamaan berani bunuh diri dan meledakkan bom maka tesis “atas nama iman, atas nama teks” dan berperang demi Tuhan, berperang demi agama sedang mengalami faktualisasinya, maka inilah potret mutakhir hari-hari kita menyaksikan bom dan ancaman terorisme tak berkesudahan di Indonesia. Sebuah zaman yang menandakan lahirnya kekuatan fundamentalisme agama guna melawan neo-kapitalisme yang digerakan oleh Amerika dan sekutunya.

Tentu saja fundamentalisme-terorisme agama dan hegemoni kapitalisme AS merupakan dua kutub antagonis yang berseberangan. Sebab, fundamentalisme-terorisme agama harus dikecam (ditinggalkan), fundamentalisme - terorisme demokrasi (prosedural) — yang didesain sehingga melahirkan perlawanan dan kekejaman yang sama — juga harus dikutuk ramai-ramai (lihat Bagian Keenam, hlm. 133).

Dari fenomena tersebut pertanyaannya adalah, efektifkah perlawanan atas nama Tuhan dan atas nama agama? Manusiawikah memberangus fundamentalisme - terorisme berbasis agama dengan fundamentalisme-terorisme berbasis demokrasi? Menurut para analis, pakar politik, pers dan dalam pengertian yang paling sederhana, mereka yang berani melawan Amerika adalah para fundamentalis, radikalis, dan teroris. Tetapi, siapakah para begundal penganut fundamentalisme itu?

Fundamentalisme sering dimaknai sebagai perilaku keagamaan berdasarkan normative approach (penghayatan normative) yang skriptural (berdasar teks semata) tanpa melihat persoalan-persoalan substansial lainnya (misal; sejarah, peradaban, iptek). Perilaku normative approach ini kemudian melahirkan sibling rivalry yaitu permusuhan antar saudara kandung (maksudnya, Abrahamic Religions—Yahudi, Kristen, dan Islam) dengan mengedepankan sikap truth claim, merasa paling benar dengan menyalah-menyesatkan agama dan pemeluk lainnya.

Ideologi dan agama (termasuk agama Islam) sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda, karena ideologi pada prinsipnya adalah hasil pemikiran manusia, sedangkan Islam dipercaya sebagai agama yang diturunkan Allah untuk keselamatan umat manusia (lihat Bagian Kesatu & Kedua, hlm. 22 & 17). Dalam agama Islam ternyata selain mengandung ajaran-ajaran yang menata hubungan Tuhan dan manusia, juga mengatur hubungan antarmanusia dalam kaitan hubungan antarindividu dan kemasyarakatan. Karena kenyataan inilah ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits diadopsi/digunakan dalam ideologi, yang kemudian disebut ideologi Islam.

Islam Fundamental sebetulnya merupakan istilah yang digunakan oleh dunia Barat untuk menamai sebuah gerakan Islam (lihat Bagian Ketiga, hlm. 68). Menurut para pengikutnya, gerakan tersebut didasari oleh semangat pemurnian ajaran Islam dan dilaksanakannya ajaran Islam secara kaffah. Dalam perkembangannya, ternyata gerakan ini menampakkan sifat dan sikap radikal dalam perjuangan, terutama untuk menghadapi pihak-pihak atau golongan yang bukan ikhwan atau yang menjadi musuh-musuh Islam. Sifat dan sikap keradikalan tersebut, diantaranya ditunjukkan melalui pemahaman konsep jihad dalam perjuangannya (lihat Bagian Ketiga, hlm. 39), yang diaktualisasikan dalam bentuk terorisme.

Buku yang ditulis oleh A. Dwi Hendro Sunarko Ginting (Pengamat Kajian Global and Strategic) dan Abdul Ghopur (Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa) ini hadir dan berusaha menjawab beragam persoalan di atas, terutama berbicara persoalan pemahaman keagamaan kelompok-kelompok garis keras yang mengusung tema rigiditas dan kemurnian Islam.

Sebut saja soal konsep Jihâd fi Sabilillâh dan mati syahid (lihat Bagian Ketiga, hlm. 39), amar ma’ruf nahi munkar, siapa kafir dan bukan kafir, siapa selamat dan yang tidak selamat, siapa teman (ikhwan) siapa lawan/musuh? (lihat Bagian Ketiga, hlm. 41), tak mau mengakui madzhab-madzhab besar dalam Islam (4 Madzhab), Perjuangan Islam serta Negara Islam (Daulah Islamiyah), dan lain-lain, yang dirasa oleh para penulis perlu diluruskan dan dibenahi agar selaras dengan tujuan akhir Islam, yakni Islam yang rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi semesta alam (lihat Bagian Ketujuh & Kedelapan).

Pertemuan antara kedua penulis ini, seperti pertemuan “tumbu dengan tutup” – sampun klop, istilahnya kalau Guitar itu sudah nyetem, tinggal mereka bermain musik yag seirama dengan segenap jiwa, yaitu Jiwa Islam dan Kebangsaan, Islam Nusantara, Islamnya Indonesia yang menjadi rahmat dan berkah bagi segenap alam semesta raya atau Rahmatan lil 'alamin.

Bung Ghopur sejak lama ingin menulis tentang ideologi kelompok fundamentalis agama (Islam) yang ternyata banyak dalil dalam Al-Qur’an dan Hadits apabila ditelisik dapat menjawab serta mengkonter (menderadikalisasi) nilai-nilai ideologi kelompok fundamentalis, untuk kemudian memberikan gambaran awal bagaimana menjawab “pertentangan” dan kegalauan agama dan negara dalm konteks Indonesia yang seharusnya sinergis dalam nilai-nilai “ideologi tengah” Pancasila dan NKRI (lihat, Bagian Kedelapan).

Buku yang bermula dari sebuah skripsi yang ditulis Mas Anton dan telah diterbitkan oleh Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada tahun 2006 dengan judul Ideologi Teroris Indonesia, yang diambil dari judul Skripsi “Latar Belakang Ideologis Kelompok Tersangka Kasus Bom Bali – Identifikasi Ideologi, Proses Internalissasi dan Kajian Tentang Jaringan Teroris”, sebagai salah satu hasil penelitian terhadap kasus Bom Bali I (lihat Bagian Keempat & Kelima).

Kedua penulis ini yakin dan sadar bahwa berbicara agama (Islam) dan negara (Nasionalisme) tak perlu dipertentangkan dan diperhadap-hadapkan, tetapi sebaliknya, saling membutuhkan, menunjang dan memperkuat satu sama lain (lihat Pengantar Penulis Abdul Ghopur, hlm. xxvi). Sebab, bernegara tanpa landasan nilai-nilai moral “agama”, kehidupan berbangsa akan kering-kerontang, dan beragama tanpa aras dan bingkai-bingkai (batasan) kebangsaan hanya akan menjadi kehidupan yang pincang bahkan “over dosis” agama, mengerikan.

Oleh sebab itu, keduanya sepakat dan berjuang untuk “menegakkan” agama dalam bingkai keindonesiaan, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). insyaAllah melalui buku ini, sumbangsih pemikiran mereka dapat sedikit memberikan penyegaran pemahaman berbangsa dan bernegara sekaligus beragama yang ramah. Meski kita sadar bahwa inti persoalan dan ontran-ontran kebangsaan kita adalah tentang pemenuhan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang belum rampung-rampung dan berwujud juga.

Singkat kata, kemunculan gerakan-gerakan radikal di dalam kalangan Islam terutama dalam penafsiran konsep jihad yang dipahami yang pada umumnya dipahami sebagai perang suci. Jihad yang dipahami dipahamam secara internal (dari dalam sebuah negara) bentuk sebuah kewajiban muslim dalam meneggakan kalimat Allah melalui kekuatan dan peperangan, yang mengakibatkan, banyak kaum muslim rela hanya menjadi mortir melakukan perang dalam konteks teror bom bunuh diri atas nama agama, untuk secara eksternal (dari luar Negara) dalam bentuk aksi modernisasi yang dilakukan dunia barat ke dunia Islam yang berdasal dan didorong dari sosial ekonomi internasional yang dianggap tidak adil bagi kaum muslim yang kalah dengan arus globalisasi.

Oleh sebab itu, penulis buku merasa perlu meluruskan sikap, pandangan dan tindakan para penganut fundamentalisme dan rigiditas dalam beragama dengan pandangan dan sikap yang lebih bijak dan tentunya substantif dalam menerapkan nilai-nilai atau syariat agama yang tentunya memiliki prinsip dan tujuan kemaslahatan di dunia dan akhirat. 

Kiranya, sebagai bahan referensi dan masukan-masukan yangsangat berharga, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan atau pihak terutama pihak pemerintah dan penganut rigiditas nilai-nilai keagamaan secara khusus, serta masyarakat luas pada umumnya.

Identitas buku:
Judul: Ideologi Kaum Fundamentalis: Menjawab Kegalauan Persoalan Agama & Negara
Penulis: A. Dwi Hendro Sunarko Ginting dan Abdul Ghopur
Penerbit: LKSB
Cetakan: I, April 2018
Tebal: xliii + 307 halaman
ISBN: 978-602-50585-1-6
Peresensi: Rizky Afriono, Sekretaris Lembaga Kajian Strategis Bangsa
Kamis 19 Juli 2018 16:1 WIB
70 Tahun Sastrawan Membumi Ahmad Tohari
70 Tahun Sastrawan Membumi Ahmad Tohari
Ahmad Tohari (AT), mendengar nama itu, masyarakat sastra Indonesia bahkan dunia tentu mengenalnya sebagai sastrawan handal yang karya-karyanya begitu membumi. Berangkat dari kegelisahan dirinya untuk menyikapi dan menyelesaikan problem-problem masyarakat bawah, Ahmad Tohari menuangkannya dalam banyak karya sastra, baik cerpen maupun novel.

Empat tahun lalu, tepatnya 28 Maret 2014, Redaksi NU Online pernah menghelat acara Pidato Kebudayaan dengan mengangkat tema Membela dengan Sastra. NU Online mendaulat Ahmad Tohari untuk menyampaikan pidato kebudayaannya. Dasar membela dengan sastra menggambarkan perjuangannya selama ini yang berupaya menyelasaikan problem pelik masyarakat dengan goresan sederhana berupaya karya sastra.

Saat menyampaikan pidato kebudayaan tersebut, usia sastrawan kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini berusia 65 tahun. “Saya memang membela dengan sastra,” ujar Ahmad Tohari dalam salah satu pernyataannya kala itu.

Nama Ahmad Tohari membumbung tinggi berkat karya novelnya berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Mengangkat tema kemanusiaan di tengah dan setelah prahara politik 1965-1965, Ronggeng Dukuh Paruk dinilai orisinil, berani, dan tepat.

Bahkan, novel yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Banyumas, Jerman, Inggris, Cina, Jepang, dan Belanda ini menjadi mayoritas ulasan para tokoh penulis dalam buku 70 tahun Ahmad Tohari berjudul Sastra itu Sederhana. Total ada 56 tokoh dalam buku setebal 214 halaman ini yang berkontribusi memberikan testimoni tentang sosok Ahmad Tohari dalam rangka merayakan usianya yang ke-70 tahun.

Dalam buku tersebut para penulis yang juga sahabat karib Ahmad Tohari sepakat bahwa AT merupakan sosok sederhana, baik dalam bentuk laku dan penampilan. Kebersahajaannya itu terwujud dalam karya-karyanya. Karya sastra yang diketengahkan Ahmad Tohari meluncur dalam bahasa-bahasa sederhana dan membumi. Hal ini tidak terlepas dari basis problem masyarakat yang diangkat oleh AT.

Budayawan Emha Ainun Nadjib dalam testimoninya mengatakan, yang dibangun Ahmad Tohari dalam buku-bukunya adalah jembatan antar-zaman. Ia mengangkut khazanah-khazanah kebudayaan dan peradaban dari masa silam, yang berlaku pada masa kini, dan yang diperlukan oleh masa depan. Ahmad Tohari dalam pandangan Cak Nun adalah kontinyuator, katalisator, bahkan transformator nilai-nilai kehidupan yang ia jembatani antar-zaman demi zaman yang mengaliri waktu.

“Dia betul-betul Njawani!” itulah pernyataan Novelis kenamaan Nh Dini lewat testimoni dalam buku tersebut. Saat itu Nh Dini bertemu Ahmad Tohari di pameran buku internasional di Frankfurt, Jerman tahun 2015. Ketika melihat tampilannya, Nh Dini segera memahami bahwa sosok tersebut ialah Ahmad Tohari.

Solah-tingkah atau perilaku yang wantah kelihatan sederhana tanpa dibuat-buat, lugu, dan apa adanya, santun, tanpa dipaksakan. Kesederhanaan Ahmad Tohari dengan segudang prestasinya tidak terlihat terhadap orang-orang Jawa masa kini. Zaman modern, banyak orang Jawa yang kehilangan Jawa-nya. Begitulah Ahmad Tohari mengekspresikan identitasnya sebagai wujud perjuangan dan pembelaan dalam karya sastranya.

Kesan mendalam dari karya-karya AT juga dirasakan pengarang novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy atau Kang Abik. Ia mengatakan bahwa Ahmad Tohari merupakan gurunya dalam hal menulis karya prosa. “Saya belajar banyak dari karya-karya legendarisnya,” ujar Kang Abik.

Saat kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Kang Abik menjelajahi sejumlah toko buku untuk mendapatkan karya-karya Ahmad Tohari. Ia senang bukan kepalang ketika berhasil mendapatkan novel Kubah karya Ahmad Tohari. Ketika membaca karya tersebut, Kang Abik seperti sedang mengaji kitab kuning mengenai bab taubat dan pemberian maaf.

Perburuan Kang Abik berlanjut ke novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ia tidak mendapatkannnya di Mesir, lalu pulang ke Indonesia. Di tanah air, Kang Abik berhasil mendapatkan novel legendaris itu disamping juga mendapatkan novel karya AT lainnya Lingkar Tanah, Lingkar Air. “Novel-novel menemai saya menghirup kembali udara kampung saya Bangetayu Wetan, Semarang,” ungkapnya.

Testimoni dalam buku terbitan Kepel Press Yogyakarta (Cetakan pertama, Juni 2018) tersebut juga diberikan Al-Zastrouw Ngatawi, Prie GS, KH Masdar Farid Mas’udi, Bre Redana, Mohamad Sobary, Yessi Gusman, Taufik Ismail, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliani, Maman S. Mahayana, Atmo Tan Sidik, Didik Ninik Thowok, Hamzah Sahal, dan tokoh sastrawan serta budayawan lainnya.

Pegiat budaya Al-Zastrouw Ngatawi mengungkapkan bahwa selain sebagai sastrawan masyhur, Ahmad Tohari juga mempunyai perhatian serius terhadap aktivis-aktivis pergerakan mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa AT juga merupakan aktivis yang kritis terhadap dinamika sosial politik.

Dari cerita yang diutarakan Zastruow Ngatawi, di masa Orde Baru, Ahmad Tohari menyembunyikan para aktivis pergerakan mahasiswa dari kejaran aparat keamanan. AT memang tidak punya kekhawatiran dan rasa takut terhadap rezim militer tersebut meski nyawa taruhannya. Keberanian mengungkapkan sisi kemanusiaan dalam dinamika sosial politik ini ia tuangkan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. 

Bagi Ahmad Tohari, perlawanan seberat apa pun terhadap fenomena sosial dan politik, tetap dilakukannya secara sederhana lewat karya sastra dan laku kehidupan nyata. Sebagian karya sastranya memang lebih banyak menggambarkan kehidupan masyarakat desa, masyarakat akar rumput yang hidup serba kekurangan. Nama-nama tokoh dalam cerpen dan novelnya juga sebagian besar menggambarkan identitas nama orang-orang desa seperti Lasipang, Sanwirya, Karyamin, Srintil, Rasus, Santayib, Sakum, dan lain-lain.

Tidak hanya identitas nama berbasis lokalitas, tetapi juga tradisi, budaya, dan bahasa yang begitu kuat dipertahankan Ahmad Tohari dalam karya sastranya. Sehingga Didik Ninik Thowok tidak meragukan komitmen kebudayaan AT dalam meneguhkan dan melestarikan budaya dan kearifan lokal (local wisdom). Bahkan Didik menyebut AT sebagai perpustakaan hidup (living treasure). Wallau’alam bisshawab. 

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, bertemu Ahmad Tohari tahun 2004 dalam lembar novel Ronggeng Dukuh Paruk

Identitas buku:
Judul: Sastra Itu Sederhana: Kesaksian Lintas Profesi dan Generasi
Editor: Hadi Supeno
Penerbit: Kepel Press Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2018
Tebal: xxix + 214 halaman
ISBN: 978-602-356-203-9
Selasa 10 Juli 2018 15:39 WIB
Waskita Santri dalam Sebuah Kitab
Waskita Santri dalam Sebuah Kitab
Penempaan hidup komprehensif yang dihadapi dan dilakukan oleh santri di pondok pesantren turut membentuk karakter, akhlak, kelimuan, bahkan kebudayaan dan peradaban yang mengakar luas dan menyatu dengan pilar-pilar kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peran keagamaan dan peran sosial para kiai, sosok panutan dan samudera ilmu sumber para santri berproses penuh ketekunan di pondok pesantren sehingga berdampak luas dalam diri kehidupan para santri.

Tradisi keilmuan seorang kiai yang diserap oleh santri tidak hanya untuk mengisi aspek eksoteris saja, tetapi aspek esoteris atau batin di mana santri diajarkan untuk peka dan tajam dalam melihat dan memahami realitas kehidupan di tengah masyarakat. Inilah yang disebut kewakitaan. Kewaskitaan nyata terlihat dalam diri seorang santri bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tidak sedikit orang yang menilai, Gus Dur merupakan sosok yang mampu weruh sadurunge winarah (mengetahui sebelum sesuatu terjadi).

Proses belajar tersebut merupakan tempaan lahir dan batin yang didapat santri dari para guru dan kiainya di pesantren. Bahkan, lewat tempaan yang beradab, santri mampu menciptakan dan mengembangkan peradaban lewat keahlian-keahlian di berbagai bidang. Mindset masyarakat yang menilai santri hanya paham ilmu agama terbantahkan dengan kiprah luas di segala lini kehidupan pada era milenial saat ini.

Kewaskitaan ini perlu diperluas melalui literasi sehingga memunculkan inspirasi bagi generasi masa depan melalui pengalaman dan cerita-cerita berharga saat nyantri dulu. Buku Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren yang penyusunannya diinisiasi Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur merupakan salah satu upaya menebar kewaskitaan melalui pojok-pojok kehidupan pesantren. Ada sekitar 57 santri dalam buku ini yang melakukan ‘jihad’ literasi untuk membangun budaya, peradaban, kearifan (wisdom) lewat kisah kehidupan sehari di pesantren.

Buku ini semacam penggalian mutiara-mutiara terpendam di berbagai ruang dan pojok-pojok pesantren, memotret pengalaman pribadi, membaca santri yang telah berkiprah luas di tengah masyarakat, bahkan kontekstualisasi kehidupan santri ketika dihadapkan oleh pesatnya era teknologi digital. Budaya literasi di pesantren menjadi modal dan bekal penting santri menghadapi perkembangan zaman.

Sebab itu, santri tidak pernah gagap ketika ‘tsunami’ informasi memabanjiri jagat dunia maya. Santri tidak mudah termakan hoaks (berita palsu) karena budaya literasi yang kokoh telah terbangun. Benteng santri dalam menghadapi derasnya arus informasi juga terjaga dengan lekatnya budaya tabayun yang didapat di pesantren. Mereka tidak begitu saja terpengaruh polemik, lalu melakukan justifikasi buta terhadap sebuah kontroversi yang muncul.

Ngaji dengan sistem sorogan turut menciptakan budaya tabayun ini. Dalam sistem tersebut, selain mengonfirmasi keterangan-keterangan atau catatan-catatan (ngapsahi) kiainya saat membahas sebuah kitab dengan cara membaca ulang, santri juga mempunyai ruang diskusi dan bertanya kepada kiai soal tema yang dibahas. Bahkan santri melakukan kontekstualisasi mengenai persoalan kehidupan sehari-hari terkait tema yang sedang dibahas.

Pengalaman di Pesantren Sarang

Pemandangan yang sangat arif dan waskita mengenai kehidupan para santri penulis rasakan sendiri ketika sowan ke ndalem sesepuh NU, KH Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah awal tahun 2017 lalu. Sambil menunggu ulama yang dikenal wara’ ini, penulis mencoba menyusuri beberapa pojok pesantren. Di dalam salah satu pesantren tua di Jawa ini, terlihat santri sedang mengisi waktu dengan berbagai cara.

Pemandangan yang cukup unik dan menggelitik saat itu ketika penulis melihat beberapa santri sedang muthola’ah kitab kuning di depan kamarnya di lantai dua layaknya sebuah balkon rumah. Saking khusyunya, mereka sampai tertidur dengan posisi terduduk, ada juga yang dalam posisi berbaring. Mereka tertidur bukan di lantai, tetapi di sebuah kayu yang menjadi pembatas kamar. Mereka tidak khawatir terjatuh seperti ada kekuatan batin yang mengaitkan mereka untuk tetap pada ‘tempat’ tidurnya itu.

Penulis sebelumnya tetap khidmat menunggu Mbah Maimoen karena terlebih dahulu harus mengimami shalat dzuhur berjamaah bersama santri Sarang. Usia Mbah Maimoen yang telah mencapai 90 tahun itu masih tegar setiap hari memimpin shalat berjamaah di pesantrennya.

Kemurnian para santri dalam mengabdi dan menimba ilmu kepada Mbah Maimoen tak pernah surut. Bagi mereka, suatu kebahagiaan dan keberkahan tak ternilai bisa menggandeng kiai sepuh setiap hari menuju masjid tempat shalat.
 
Sementara santri lainnya nampak membetulkan arah sandal Mbah Maimoen agar beliau tidak terlalu sulit memakai sandal ketika keluar masjid. Di sejumlah pesantren, perilaku santri membetulkan sandal agar siap pakai memang bukan hal baru. Bahkan para santri sering melakukan tradisi tersebut ketika kiainya didatangi para tamu. 

Ketika Mbah Maimoen keluar masjid selesai mengimami shalat, salah seorang santri bahkan secepat kilat datang di hadapan Mbah Maimoen untuk memakaikan sandal di kakinya. Dari pemandangan tersebut, nampak jelas pesantren tidak hanya berisi samudera ilmu, tetapi juga penuh dengan gunungan akhlak mulia yang tertanam begitu dalam pada diri para santri.

Tak lama setelah itu, penulis dan rombongan diterima Mbah Maimoen di ruang tamu. Selain rombongan dari Jakarta, ada  juga tamu yang datang dari Tuban. Sebelum Mbah Maimoen berujar, para tamu tidak ada yang berani mendahului untuk membuka dan memulai pembicaraan.

Penulis saat itu memang mempunyai niat menggali khazanah keilmuan Islam Nusantara dan wawasan kebangsaan dari Mbah Maimoen Zubari yang juga salah seorang santri Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut. Niat tersebut tidak lain untuk memperkokoh sanad dan geneologi keilmuan langsung dari Mbah Maimoen.

Setelah sekian menit dalam keheningan, Mbah Maimoen masih terang dalam berujar dan penuh dengan humor dalam sejumlah kalimat dan penuturannya. Para tamu yang tadinya agak sedikit kikuk seketika langsung mencair melihat senyum dan tawa Mbah Maimoen yang khas. 

Dalam persoalan menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, santri yang belajar di pesantren atau siapa pun yang berniat mencari dan memperdalam ilmu merupakan hal yang mulia. Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu nyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

Al-ilmu yu'ta wa la ya'tii. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi dirimu,” tutur Mbah Maimoen Zubair dengan penuh kehikmatan menerangkan kepada para tamu. Kiai kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 silam itu mengumpamakan air di dalam sumur yang harus ditimba. “Sebagaimana kita menginginkan air di dalam sumur, kita harus menimbanya,” ujar Mbah Maimoen.

Tak hanya terkait esensi ilmu yang harus ditimba manusia secara terus menerus, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah meluncur deras dari mulutnya sehingga para tamu nampak makin khidmat dalam menyimak paparan-paparan Mbah Maimoen.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi, Mbah Maimoen berpesan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia. Hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri. 

Mbah Maimoen juga berpesan kepada santri dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menjaga tali silaturahim, utamanya kepada guru-guru dan kiai-kiai sepuh dalam menyikapi setiap persoalan bangsa maupun konflik yang sering terjadi di tubuh organisasi. 

Marwah kiai dan pesantren merupakan ruh di tubuh organisasi seperti NU. Sehingga setiap persoalan yang datang di tubuh NU, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah dan disowankan terlebih dahulu kepada para kiai sepuh yang tentu pandangannya lebih luas, arif, waskita.

Alakullihal, pengalaman di Pesantren Sarang tersebut penulis sampaikan untuk melengkapi riwayat-riwayat para santri dalam buku Kitab Santri yang berisi kisah-kisah penuh waskita dan kebijaksanaan. Dari buku ini, santri didorong untuk terus mengembangkan budaya literasi untuk kehidupan yang lebih baik. Karena santri mempunyai pondasi kelimuan kokoh yang harus disebarkan menjadi sebuah inspirasi. Wallahu’alam bisshowab.

Identitas buku:
Judul: Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren
Penyunting: Ahmad Tohe
Penerbit: Halaqah Literasi, PSP Jawa Timur
Cetakan: I, Mei 2018 
Tebal: xviii + 327 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG