IMG-LOGO
Wawancara

Patuh Guru dan Orang Tua, Modal Utama Kembangkan Pesantren

Ahad 29 Juli 2018 19:30 WIB
Bagikan:
Patuh Guru dan Orang Tua, Modal Utama Kembangkan Pesantren
Ada ungkapan yang terkenal di kalangan para santri, menimba ilmu itu susah, sementara mengamalkan ilmu itu lebih susah. Tak sedikit santri cerdas, mudah paham kitab-kitab kuning, tapi ketika pulang ke rumah, ia tak mampu mengamalkannya. 

Ya, ilmu yang bermanfaat atau berkah itu lebih susah mendapatkannya karena terkait beragam faktor. Bagi kalangan pesantren, pertolongan Allah, restu guru dan orang tua merupakan faktor kunci. Jika itu tidak didapat, akan susah melakukannya, kalau tidak dikatakan mustahil.  

KH Hasan Nuri Hidayatullah merupakan salah seorang contoh santri yang berhasil memanfaatkan ilmunya. Ia mengakui, hal itu merupakan pertolongan Allah, doa, dan ridha guru berikut orang tuanya. Semuanya itu adalah modal utama. 

Bagaimana kisah KH Hasan Nuri Hidayatullah yang juga Ketua PWNU Jawa Barat mengamalkan ilmunya melalui Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di Karawang?  Abdullah dari NU Online berhasil mewawancarai kiai kelahiran Banyuwangi itu di kediamannya, Kompleks Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, 14 Juli lalu. 

Berikut petikannya: 

Bisa cerita bagaimana seorang kiai memulai mengembangakan pesantren di kampung orang?

Modal utamanya doa dari orang tua dan guru. Kalau itu sudah didapat, pintu-pintu yang akan kita lalui itu akan dimudahkan keterbukaan oleh Allah karena kadang-kadang dihitung dengan logika, di sini, saya 2001. Kalau sampai hari ini 17 tahun, kalau dibilang relatif singkat, ya singkat, kadang-kadang saya melihat hal yang ada sekarang ini, saya berpikir, apa iya, gitu. 

Ketika pertama datang ke sini, apa saja yang ada? Kondisinya bagaimana? 

Abah menyuruh saya ke sini, kalau dibilang perusahaan, ya perusahaan yang sudah collaps. Keppercayaan masyarakat drop. Santri ketika itu hanya ada kurang lebih, tak jauh dari 30 atau 40 mungkin. Bangunan-bangunan semuanya tripleks-tripleks. Bangun permanen hanya ada satu yang di putri, di putra hanya ada dua kobong kecil dengan satu masjid. Alhamdulillah sekarang, kalau ditotal, sekarang santri ada 1200 santri. 

Itu hanya Asshiddiqiyah 3? 

Semuanya, saya diamanati yang di sini. Saya kembangkan menjadi ada Asshiddiqiyah 4 untuk sekolah tinggi. Setahun ke belakang saya mengembangkan di Jonggol

Perguruan tinggi tahun berapa berdiri? 

Tahun 2010 . Asshiddiqiyah 3 ada dua, putri dan putra, Asshidiqiyah 4 hanya putra saja dan mahasiswa. Mahasiswanya 170 sampai 200. 

Oh ya, tadi menyebut ridha guru dan orang tua. Bagaimana cara mendapatkannya? 

Pada dasarnya manut. Mohon maaf, pesantren ini ada sejak 1992. Itu sudah orang yang diamanati abah di sini ini  yang kelima. Banyak enggak betah. Karena kondisina di kampuung. Secara lahir, tidak menariklah. Orang berkarir di organisais di sini, tidak mendukung, bisnis juga tidak menarik, jauh di mana-mana, repot jangkauannya. Makanya banyak tak kuat di sini. Belum lagi dinamika kehidupan di pedasaan dan di kota kan berbeda. Kalau di kota mungkkin hdupnya individualis ya sehingga apa yang dilakukan oleh orang itu cuek. Nah, kalau di kampung itu, kiai dinilai. Harus agak ekstra hati-hati karena masyarakat kampung ini masih mempunyai kepeduliaan sehingga apa yang terjadi pada tokohnya itu selalu diperhatikan. Kadang-kadang seseorang yang dikatakan kiai atau haji atau ustadz, Shalat Jumat tidak di depan aja menjadi bahan, kok pak haji tidak di depan. Ini di kampung itu jadi hati-hati. 

Apa pesan yang paling dipegang dari guru dan orang tua? 

Saya cuma manut saja. Guru nyuruh wiridan ini, ya dikerjain. Kalau tidak disuruh berhenti, ya terus.  Gitu saja. Kalau orang tua ya, pesan mereka kan sederhana, jadi wong sing jujur, amanah. Normatif sebenarnya. Hanya mungkin saya menerima pesan orang tua itu sebagai hal istimewa buat saya. Psan orang tua dan guru normatif sebenarnya. 

Tadi disebutkan sebagai kiai yang kelima. bagaimana supaya tidak mengulang kegagalan kiai sebelumnya? 

Saya dengan sederhana saja. Saya dulu dengar katanya kalau kita dekat dengan masayarakat A, manyarakat B ini tidak senang. Saya dengar berita itu, justru saya jadikan bahan. Keduanya saya datangi. Saya ajak diskusi, saya mintai saran. 

Justru yang pertama itu bersama masayarakat dulu?

Saya rangkul semunya. Saya kadang-kadang, bawa apa, bawa ke kampung makan bareng-bareng di  sana. Sama orang-orang sehingga menghilangkan sungkan dululah.

Awal-awal, saya tidak masuk PCNU. Waktu itu belum masuk PCNU. Waktu itu saya hanya dekat dengan teman-teman NU karena sering saya silaturahim. Jadi, masyarakat dikunjungi, tokoh-tokoh, termasuk di NU. Lalu menyapa masyarakat dengan pengajian umum.

Pengajiian untuk masyarakat umum mulai kapan? 

Pada 2002 saya langsung mengadakan pengajian. Sambil silaturahim ya sambil mengaji. 

Mula-mula ada berapa orang?

Dua, tiga, awal-awal di teras rumah ngajiinya. 

Tapi terus berjalan?

Tetap jalan. 

Sekarang per minggu berapa orang yang ngaji? 

Ya kalau cuacanya bagus, orang-orang banyak yang kosong kegiatan, tidak ada hajatan, kadang sampai seribu. Di depan itu full itu. Apalagi pas maulid. Semuanya allah. Kita ini, tanpa pertolongan allah tidak apa-apa. 

Kembali ke masalah pesantren, bagaimana meningkatkan santri? 

Ya, mulai tahun itu juga menambah sedikit, itu mulai banyak agak membludak, itu ketika saya mau mempunya anak kedua, sekitar tahun 2007. Santri yang ada sekarang 1200. 

Karena kita pesantren ini. sama saja, sekolah formal, sore ngaji, malam ngaji, berjamaah wajib, anak-anak diajak baca Ratib. Sama saja. Karena saja tidak punya hal yang istimewa, jadi tak ada yang istimewa yang bisa saya ceritakan. Jadi, paling tidak, mengurangi membebani pikiran, punyanya SDM ya itu, punya teman-teman mampunya ya itu. Kira-kira teman mampu, kita perjuangkan. 

Lembaga pendidikannya apa saja? 

Tsanwiyah ada, Aliyah ada, SMK ada, SMA ada, MI ada. 1200 semuanya. Yang tidak ngobong hanya MI saja. semuanya tinggal di sini.

Santri kalong? 

Santri kalong yang ngaji malam kamisi itu saja. orang tua. Saya tingkatkan kemudian karena semakin sedikit waktu bersama teman-teman, bersama masyarakat, saya bikin kegiatan yang bersifat massal. Pesantren melakukan kegiatan bedah mushala. Jadi saya kirim orang, cari mushala yang kira-kira doyong, kita perbaiki. Pas peresmian kira ngumpul bersama masyarakat. Kita biayai mushalanya sampai selesai. Itu alhamdulillah sudah berjalan, kurang lebih 18 mushala. 

Sejak kapan? 

Dua tahun belakang ini.  dulu bedah rumah, tapi karena hanya mmanfaatkan satu orang, kalau banyak kan berat, kalau mushala kan satu, tapi dimanfaatkan banyak orang. 

Biayanya? 

Bareng-bareng saja. para jamaah iuran, ditambahin dari kita, teman-teman dari donatur, punya toko matrial, yang punya semen, tukangnya yang bekerja orang kampung. Mushala-mushala sekitar sini. Yang jauh-jauh ada di Subang ada, satu. 

Ohya, melakukan itu mulai pada usia berapa? 

Saya 2001 berusia 23 tahun dan saya belum menikah. Saya diambil mantu oleh Kiai Nur setelah saya setahun setengah di sini. Saya ditaroh di sini, yang penting iya, karena yang nyuruh guru. Saya juga tak pernah mikir diambil mantu apa enggak, yang penting ngikuti guru saja. 

Dulu saya saya sekolah Tsnawiyah dan Aliyah di sana, mesantren di Jakarta, tahun lulus 1992. Tamatan 1999. Setelah itu saya ke Madinah 4 tahun. Mesantren tidak kuliah, Habib Zen bin Smith, ia ipar-iparan dengan Habib Umar Al-hafidz. Istrinya Habib Zen dengan istrinya Habib Umar itu kakak beradik. Banyak orang Indonesia ada 60-an satu angkatan. Banyaknya para habaib. 

Tags:
Bagikan:
Kamis 26 Juli 2018 20:0 WIB
Sebagai Ahli Waris Nabi, Ulama Harus Uswatun Hasanah
Sebagai Ahli Waris Nabi, Ulama Harus Uswatun Hasanah
Belakangan ini, kata ulama sering muncul dalam pemberitaan di media. Hadits Nabi yang berbunyi "Al-ulma'u waratsatul anbiya" demikian populer. Ulama adalah ahli waris nabi. Dengan ungkapan itu, demikian kokoh status dan kedudukan ulama.Lalu, ungkapan "bela ulama" juga mengikuti pemberitaan-pemberitaan tersebut.

Namun, yang muncul adalah ulama dalam konteks dukungan calon yang diusung partai politik atau fatwa agama yang terhubung dengan politik pilkada.    

Sebenarnya bagaimana pengertian, sosok, watak ulama dalam Al-Qur'an? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Rais Majelis Ilmi Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama KH Ahsin Sakho Muhammad di Pondok Pesantren Ashiddiqiyah, Karawang, Jawa barat 15 Juni lalu. Ia merupakan pakar Al-Qur'an yang memiliki raputasi internasional di bidang qiraah sab'ah

Berikut petikannya.

Apakah pengertian ulama itu? 

Di dalam Al-Qur’an ulama adalah jamak dari kata alim, ada (huruf)Ya -nya ya. Aliiim. Artinya, orang yang pinter banget di dalam bidang apa saja? 

Tidak hanya dalam bidang agama? 

Ya. Bagi mereka yang ahli dalam bidang apa pun. Jadi, nanti ada yang bersifat umum ada yang khusus. Ulama itu cendekiawan. Orang Indonesia sekarang membagi, orang yang menguasai ilmu yang mendalam dalam bidang keagamaan, disebut ulama. Kalau dalam ilmu umum, namanya cendekiawan. Tapi semuanya itu ulama. Di dalam Al-Qur’an “Innama yakhsallaha min ibadihil ulama". Itu konteksnya 

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28)

"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."

Itu kontesknya adalah mereka-mereka yang tahu tentang hukum-hukum umum. Itu konteksnya ulama adalah pengetahuan umum. Itu surat Fathir. Misalnya Einstein, itu ulama ya dari segi lughat (bahasa). Orang pintar sekali. Sekarang di Indonesia, baru bisa tabligh saja, disebut ulama. Siapa yang memberikan label ulama itu. Kalau Ali bin Abi Thalib, orang yang dikatakan ‘alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Kalau tidak mengamalkan berarti bukan ulama. 

Kalau ulama Bani  Israil, di dalam Al-Qur’an menggunakan ulil ilmi. Dalam kalangan Bani Israil, orang Yahudi, orang yang ulama, al-ahbar, artinya para cendekiawan. Itu dari kata alhibr, artinya tinta. Orang alim dan mereka itu sering menulis, menulis, menulis, jadi alhibr. Ada ulil ilmi, ada ulin nuha, orang yang mempunyai akal, ulil abshar, itu masuk dalam jaringan ulama. Di kalangan, orang Islam, ulama adalah orang alim di dalam agama. 

Di dalam hadits juga ada, kata Nabi, al-ulama waratsatul anbiya. Itu adalah ulama yang ahli dalam ilmu agama. Ulama itu yang mewarisi (menjadi ahli waris, red) para Nabi. Sementara Nabi tidak mewariskan dirham (uang), tapi al-ilm. Orang yang bisa menguasai apa peninggalan Nabi berupa Al-Qur’an dan sunnah maka dia sebenarnya dia mendapatkan bagian yang sempurna. Ulama di situ adalah ulamaud din (ahli agama). Tapi sekarang orang gampang-gampang saja menyebut ulama. 

Bisa dijelaskan lagi kriteria ulama? 

Orang yang memahami seluk-beluk ajaran agama Islam dengan mempelajari sumber-sumber ajaran Islam dan cara pemahamannya menggunakan metode-metode yang disepakati para ulama, ya itu melalui Al-Qur’an, hadits, ijma’, qiyas, itu sebenarnya ijtihadnya para ulama dahulu dalam memahami, melalui Al-Qur’an, dengan hadits, qiyas, ijma sahabat, qiyas mengqiyaskan satu persoalan satu dengan persoalan yang lain, antara yang asli dengan yang far’i. Jadi itu, jangan seenaknya saja.

Apa lagi kriteria ulama itu? 

Begini, bagi orang yang mengamati, misalnya ibil (unta). 

أَفَلَا يَنْظُرُوْنَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

Hebat banget yang namanya ibil (unta) itu, teracaknya besar, menembus pasir-pasir yang panas, dia bisa tahan tidak minum berjam-jam, satu hari satu malam; kerongkongan bisa disuling air yang sudah masuk; makanya siapakah yang menciptakannya? Berarti yang menciptakan unta itu haruslah Zat Yang Maha Luar Biasa. Onta apakah bisa menciptakan dirinya sendiri? Tak bisa. Manusia apakah bisa menciptakan dirinya sendiri? Enggak bisa. Kita sendiri yang punya jantung tak mengerti jantung kita. Apa orang tua yang menciptakan? Bukan.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"

Kalau seandainya seseorang yang meneliti diri sendiri, meneliti tentang mata misalnya, akhirnya (mereka berkesimpulan), “oh hebat banget”. Berarti zat yang menciptakan mata itu jauh lebih hebat. Itu siapa? Allah. Kalau sampai kepada Allah, kalau sampai kepada Allah, berarti kita harus Allahu akbar. 

Begitu juga ulama yang meneliti ajaran agama Islam. Hebat banget ya, shalat lima waktu pada waktu terbit fajar, Allahu akbar, Allahu akbar; pada waktu matahari bergerser menuju ke barat terjadi pergeseran alam semesta, Allahu akbar, Allahu akbar; pada waktu bayangan melebihi benda itu sendiri, Allahu akbar, Allahu akbar; begitu malam datang, terbenamnya matahari, Allahu akbar, Allahu akbar; begitu mega merah datang, Allahu akbar, Allahu akbar. Hebat banget. Ada orang Barat yang meneliti siklus waktu azan yang dilakukan orang Islam mulai subuh, dzuhur, dia tersentak banget, Ini hebat banget, ajaran siapa sih? (Juga menepakuri dan menyingkap hikmah di balik ibadah) seperti zakat, ibadah haji.


يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرً
 

Allah memberikan hikmah. Hikmah itu memahami seluk-beluk rahasia ajaran agama. Siapa yang diberikan hikmah, mampu untuk memahami ajaran Islam, subtansinya itu, maka dia itu diberikan kebaikan yang sangat banyak sekali. 

Jadi, seorang ulama itu lebih banyak tafakurnya? 

Ya, itu dia.

 رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا

Kalau sampai pada ayat itu, berarti hebat itu. Al-Qur’an bukan ciptaan Nabi Muhammad.

Berarti umat Islam harus mengikuti ulama yang seperti itu, bukan yang berwatak lain? 

Ya, (ulama) adalah orang yang suka tadabur. Kalau seandainya dibacakan ayat Al-Qur’an dia termenung, tadabur, menangis, itu hatinya itu yang peka. Langsung tersungkur.

Masih ada watak ulama yang selain itu?

Jadi, orang-orang yang, kata Nabi, kata Al-Qur’an, laqad kaana lakum uswatun hasanah. Paling tidak itu.

Uswatun hasanah itu bagaimana?

Ya artinya panutan yang baik dari segi takwanya, dari segi akhlaknya, dari segi tutur katanya. Akhlaknya semuanya itu. Kalau tidak bisa mengikuti Nabi seratus persen, ya 50 persen. Kalau tidak bisa 50 persen, ya 10 persen saja. Pokoknya sesuai dengan kemampuannya. Orang yang memahami betul tentang ajaran agama Islam dan dia mempraktikannya. Itu dia yang patut diikuti, akhlaknya bagus, pengetahuannya luas. 

Kalau seorang ulama berkata buruk dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar bagaimana? 

Enggak, enggak. Enggak boleh menjelek-jelekkan orang, berarti mulutnya jelek. Janganlah berkata-kata kasar. Laisa bi fadin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Nabi itu tidak berkata kasar. 

Itu hadits Nabi? 

Itu dari kitab Taurat menyifati Nabi akhir zaman. Laisa bi fadin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Jadi, dalam kitab Taurat itu diterangkan sifat-sifat nabi akhir zaman. Ada itu. 

Artinya apa? 

Inna arsalnaka syahidan wa mubasyiran wa nadira wa hirjan lil ummiyina, samaitukal mutawakkil, laisa bi faddin wa la ghalidin wa la sakhatin fil aswaq. Ada itu. Haditsnya sahih. Jadi, di kuburan Danial ada lembaran-lembaran Taurat tentang sifatnya Nabi. 

Artinya apa? 

Kami telah mengutusmu pemberi kabar gembira dan memperingati, bagi orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, aku namakanmu mutawakkil, dia bukan orang yang berkata kasar, dan bukan yang berhati keras, dan bukan orang yang selalu berteriak-teriak di pasar. 

Itu Taurat yang dalam bahasa Arab? 

Iya, itu Taurat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Bagaimana sikap seorang ulama ketika ia menemui perbedaan dengan ulama yang lain? 

Jadi begini, perbedaan boleh, asal jangan bertengkar. Asal jangan bertengkar. Semuanya dalam rangka untuk mencari kebenaran. Kalau seandainya ini punya dalil, itu punya dalil, ya sudah, seperti Abu Hanifah yang tidak Qunut Subuh, Imam Syafi’i yang Qunut Subuh, ya sudah. Ini cara istinbatnya berbeda, ya sudah. Karena tidak ada teks yang, kalau di situ banyak ijtihad, berarti tidak ada teks yang qath’i terhadap itu, atau cara pemahamannya berbeda, atau misalnya yang satu sudah mendapatkan hadits, yang satu belum mendapatkannya, atau datang hadits, tapi cara pemahamannya berbeda. Itu cara-caranya yang demikian itu harus dipelajari. Jangan sampai orang menyalahkan orang lain wong caranya pandangnya berbeda, ya. Misalnya istihsan, Imam Syafi’i tidak menerima, sementara Abu Hanifah menerima. Banyaklah. Ini ada di dalam ushul fiqih. 

Perbedaan itu lantas tidak harus saling membenci dan mencurigai? 

Iya, jangan, jangan! 

Apa batasan perbedaan antara sesama ulama?  

Asal perbedaan itu tidak khilafun lahu wajhun minan nadlari, wa laisa kullu khilafin jaa mu’tabaran ila khilafun lahu wajhun minan nadlar. Tidak setiap perbedaan diterima semuanya, kecuali perbedaan yang bisa diterima, alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Contohnya seperti orang yang bersentuhan kulit orang dengan muhrimnya. Bersentuhan kulit, kata Imam Syafi’i batal, kalau Abu Hanifah enggak apa-apa. Kata Imam Malik, batal kalau ada syahwat, berbeda-beda. Dalilnya apa? Ya cara memahami. Abu Hanifah mengatakan, Nabi pernah mencium istrinya menuju shalat tanpa wudlu lagi, berbeda. Ya seperti itulah. 

Bagaiman sikap pengikutnya ketika mengetahui perbedaan sesama ulama ? 

Ya harus memahami seperti itu. Jadi, jangan semena-mena. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Apalagi mengkafirkan orang lain, apalagi memusyrikkan orang lain. Itulah yang menjadikan orang itu radikal. 

Rabu 25 Juli 2018 4:0 WIB
Alihkan Anak dari Gawai dengan Kegiatan Positif
Alihkan Anak dari Gawai dengan Kegiatan Positif
Komisioner KPAI, Susiana Affandy
Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli. Hari itu mengingatkan masyarakat akan berbagai problematika dunia anak yang menjadi keprihatinan mereka saat ini di tengah kemajuan teknologi dan kuatnya pengaruh globalisasi. Kontributor NU Online, Syakir NF mewawancarai komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susiana Affandy pada Selasa (24/7). Berikut wawancaranya.

Hari ini lagu anak-anak tidak terdengar lagi gaungnya. Bagaimana Ibu melihat hal ini?

KPAI prihatin dengan minimnya tontonan yang pas bagi tumbuh kembang anak. Salah satu tontonan yang memberi stimulasi bagi anak adalah melalui lagu anak-anak. Dulu kita banyak menyaksikan siaran lagu anak-anak dari televisi. Namun, saat ini sangat minim. Padahal melalui lagu, anak-anak dapat mengembangkan imjainasi, merasakan gembira ria, dan hal ini dalam UU 35/2014 disebut sebagai hak anak atas rekreasi dan menikmati waktu luang.

Saat ini, lagu orang dewasa dengan tampilan dan joget yang seronok sangat tidak tepat dengan perkembangan usia anak. Sangat banyaknya tontonan jenis ini dan seringnya diputar membuat anak-anak meniru tak hanya lirik nyanyian, namun juga gerakan si penyanyi. KPAI mengimbau kepada industri media dan musik untuk memproduksi lagu anak-anak yang selain bernilai seni, namun juga memuat edukasi anak.

Tak sedikit orang tua yang 'mengurung' anaknya dengan gawai (gadget). Bagaimana orang tua harus memperlakukan teknologi itu bagi buah hatinya?

Orang tua wajib mengawasi anaknya dalam mengkonsumsi gawai. Pengasuhan orang tua dan keluarga merupakan pilar utama dalam perlindungan anak. Orang tua dan keluarga harus membatasi penggunaan gawai bagi anak-anaknya, karena gawai ini memberikan layanan yang tidak berbatas usia dan tidak memfilter penggunanya berdasarkan usia.

Gawai berbasis daring menyediakan fitur-fitur yang berbahaya bagi tumbuh kembang anak, misalnya ajaran kekerasan melalui game daring, pornografi, dan pornoaksi. Tren kejahatan yang melibatkan anak juga banyak dilakukan melalui media sosial dalam genggaman anak. Misalnya, anak-anak yang dieksploitasi seksual di jalanan (anak jalanan) dan Kalibata City belum lama komunikasinya juga dilakukan melalui media sosial. Makanya, orang tua dan keluarga wajib mengawasi anak dalam menggunakan gawai

Seiring akrabnya anak dengam gawai, mereka jadi kian jauh dengan realitas sekitarnya. Apa yang harus dilakukan oleh orang tua untuk itu?

Agar anak menjauhi gawai, orang tua dan keluarga harus memberikan perhatian atau mengalihkan perhatian anak kepada kegiatan yang positif, seperti bermain bersama anak-anak lainnya di halaman rumah, menyediakan fasilitas permainan edukatif, dan kegiatan-kegiatan positif seperti olahraga, berorganisasi dan kegiatan yang memacu adrenalin anak untuk berprestasi akan membuat anak tidak fokus pada gawainya. Anak-anak yang mendapat bimbingan dan pengasuhan positif akan memiliki motivasi dalam dirinya untuk meraih prestasi dan cita-cita.

Apa peran lingkungan, khususnya pemangku kebijakan terdekat dalam membantu perkembangan anak ke arah yang positif?

KPAI meminta kepada Kementerian Pendidikan khususnya Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini untuk mengembangkan alat permaian edukatif, salah satunya adalah permainan tradisional bagi anak-anak. Permainan tradisional seperti main bekel, bola sodor, cublek suweng, egrang dan lain sebagainya terdapat pengajaran nilai-nilai kemandirian, kerja sama, teknik mengolah emosi dan kecerdasan sosial yang semua itu sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak. (Syakir NF)

Rabu 18 Juli 2018 21:30 WIB
Ikhtiar Membentuk Generasi Qur'ani
Ikhtiar Membentuk Generasi Qur'ani
Karawang, NU Online
Keberadaan teknologi kian hari semakin canggih. Ia tak lagi dapat dibendung. Hal ini banyak memengaruhi masyarakat saat ini, baik itu mengarah ke hal positif atau bahkan, naudzubillah, menjerumuskan ke hal negatif.
 
Kecanggihan teknologi itu dimanfaatkan betul oleh KH Fadhlan Zainuddin untuk membentuk generasi qurani. Enam putra-putrinya itu ia bentuk menjadi anak yang cinta Al-Qur'an. Mereka semua menjadi qari-qariah, termasuk putra bungsunya yang baru berusia 10 tahun.
 
Kontributor NU Online Syakir NF berkesempatan berbincang dengan qari asal Sumatera Utara itu di sela-sela kesibukannya menjadi salah satu dewan hakim pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Internasional kedua yang diselenggarakan oleh Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (18/7).
 

Apa yang Kiai lakukan dalam membentuk putra-putri Kiai menjadi qari?

Pertama sekali dengan niat apa yang ada sama kita. Yang baik itu harus kita tularkan ke dzuriyat (anak cucu/keturunan) kita dalam hal pembinaan quran bagi keluarga dan kanak-kanak yang berada di lingkungan keluarga kita. Ya, berawal dari niat itu dan membiasakan apa yang baik itu di hadapan mereka. Walaupun mereka pada waktu-waktu pertama itu belum bisa mengikuti, namun kita terus membuatkan, menirukan bacaan-bacaan Quran itu, sehingga (ketika) dia besar, kenangan-kenangan kita setiap hari itu dia terikut.
 
Kemudian ketika kita mengajar. Ya mungkin kalau kita mengajar langsung kepada anak-anak di rumah, mereka manja. Mereka mungkin tidak bisa serius dalam belajar. Tapi kita membawanya ke tempat mengajar. Kita mengajar di majelis qiraat di luar rumah di madrasah, di masjid, anak-anak kita bawa untuk melihat orang-orang yang belajar sama kita. Secara tidak disadari, mereka sendiri malah ikut dalam kumpulan-kumpulan para pelajar itu.
 
Jadi akhirnya, kalau dalam situasi mengajar di rumah, mereka segan bermanja-manja sama kita, sehingga mereka serius untuk mengikuti pembinaan-pembinaan di luar rumah. Akhirnya ketika berada di rumah, apa-apa yang tadinya kita setiap hari lakukan dan kita ajarkan di luar rumah, mereka akhirnya mengikut dan menirukan apa yang kita lakukan. Itulah dalam hal tilawah Al-Qur'an yang sebenarnya tidak secara langsung kita aplikasikan kepada mereka. Namun, ada hal-hal perantara yang menjadi sebab seperti yang ada di dunia maya, di Youtube, Instagram.
 
Sejak usia berapa Kiai mengajarkan putra-putri bertilawah?

Sejak dia lepas dari ibunya. Kalau dia sama ibunya biasanya usia-usia masih dipangku, disusui. Artinya, Sejak usia tiga tahun sudah bisa kita bawa, berlepas dari ibunya. Namun ketika mereka dalam pangkuan ibunya, lantunan yang ada dalam rekaman, baik di televisi ataupun di CD (compact disk) ataupun di handphone itu selalu diputar oleh ibunya juga. Jadi, akhirnya kita mengajar via kita sendiri. Ibunya mengajar via (alat) elektronik.
 
Anak-anak gemar bermain. Bagaimana Kiai menghadapi anak agar tetap bertilawah?

Kita memahami bahwa dunia kanak-kanak itu dunia bermain. Yang saya lakukan tidak langsung mencegahnya untuk bermain. Biarkan dia bermain, tapi tetap kita suarakan suara-suara Al-Qur'an di sela-sela permainannya itu, baik diputar melalui elektronik atau kita membaca sendiri. Jadi kita pun tidak bisa mencegah bermain karena memang dunia mereka dunia bermain. Jadi secara tidak langsung dalam permainannya itu suara-suara Al-Qur'an tetap didengar oleh mereka.
 
Apakah Kiai punya waktu khusus untuk melatih mereka?

Biasa kita lakukan itu pagi atau ketika selesai shalat Maghrib. Antara maghrib dengan isya waktunya untuk membaca Al-Qur'an dan mereka ikut dalam bacaan-bacaan Al-Quran.
 
Bagaimana tahapan Kiai mengajari mereka bertilawah?

Pertama, membiasakan dia mengikuti secara murottal. Setelah dia bisa mengikuti secara murattal, baru kita tirukan dengan tilawah yang mempunyai nagham yang lebih baik lagi. Begitu.
 
Apa pesan Kiai untuk masyarakat yang ingin dapat membentuk generasi yang gemar membaca Al-Qur'an?

Apa yang saya lakukan ini adalah salah satu yang mungkin bisa ditiru orang lain. Saya sendiri meniru apa yang dilakukan sahabat-sahabat yang selama ini selalu membagi teknik pembinaan generasi muda kepada saya, seperti dari Iran, Malaysia, dari berbagai macam negara yang membina anak-anak.
 
Marilah kita bersama mengiringi usia anak itu dengan pembinaan-pembinaan AL_Qur'an. Ktia tidak harus terpaku dengan pembinaan secara langsung, tetapi kita bisa membina secara media elektronik, via dunia maya. Akhirnya secara tidak langsung, kehidupan generasi muda yang ke manapun apakah dia bergerak, bermain, bersekolah, kita berhak iringi dia dengan lantunan Al-Qur'an.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG