Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Meski Pahit, Nelayan Setia dengan Pekerjaannya

Meski Pahit, Nelayan Setia dengan Pekerjaannya
Nelayah Jember, tetap melaut walau badai menerjang
Nelayah Jember, tetap melaut walau badai menerjang
Jember, NU Online
Bagi nelayan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, kecelakaan laut seperti tenggalamnya kapal Joko Berek karena ganasnya ombak di Pelawangan, Pantai Pancer, Puger belum lama ini, tak terlalu mengagetkan. 

Sebab itu dianggap sebagai resiko dari sebuah pekerjaan. Namun apa yang didapatkan nelayan kadang tidak imbang dengan resiko yang harus diterima. Pekerjaan nelayan di lautan bukan cuma mengadu untung tapi juga bertaruh nyawa.

"Mereka berangkat siang, pulang pagi. Kalau tak dapat ikan tentu rugi karena modalnya besar untuk beli solar," jelas Sekretaris PAC Ansor Puger, Sunaryono kepada NU Online di Puger, Kamis (26/7).

Yang agak memprihatinkan, mayoritas nelayan harus berinteraksi dengan "pengambek" untuk mendapatkan modal. Pengambek adalah orang yang memberi hutang kepada nelayan. 

Hasil tangkapan ikan harus dijual kepada pengambek dengan selisih Rp1.000/kilogram. Misalnya kalau harga ikan di pasar Rp30.000 maka pengambek membelinya dengan harga Rp.29.000/kilogram. "Pengambek juga masih dapat untung dari tengkulak Rp1.000,- perkilogramnya," ujar tokoh NU Puger, Ustadz Fadil.

Dengan sistem permodalan seperti itu, maka pendapatan nelayan cukup rendah. Selain "kehilangan" Rp1.000 perkilogramnya, nelayan masih harus membayar hutang kepada pengambek. Itupun kalau dapat ikan. Kalau tak ada ikan, ceritanya lebih susah lagi. "Itu sudah terjadi cukup lama dan sudah menjadi kebiasaan karena banyak nelayan yang tak punya modal," lanjut Ustadz Fadil.

Nasib nelayan memang tak seindah yang dibayangkan, lebih-lebih nelayan kecil dan buruh nelayan. Dari tahun ke tahun cerita buram nelayan tak pernah habis digali.

Namun, mencari ikan di lautan lepas tak pernah ditinggalkan. Kenapa? Karena itulah pekerjaan yang paling memungkinkan bagi orang-orang yang hidup di pinggir pantai. Sehingga meski terkadang pahit tapi mereka tetap setia dengan pekerjaannya
 untuk sebuah kehidupan. (Aryudi Abdul Razaq/Muiz
BNI Mobile