IMG-LOGO
Tokoh

Silisilah Ajengan Unung, Tokoh NU Tasikmalaya, Terhubung dengan Hadratussyekh

Selasa 31 Juli 2018 19:30 WIB
Bagikan:
Silisilah Ajengan Unung, Tokoh NU Tasikmalaya, Terhubung dengan Hadratussyekh

Di dalam buku A. E. Bunyamin Nahdlatul Ulama di Tengah-tengah Perjuangan Bangsa, NU ke Tasikmalaya diperkenalkan Ajengan Fadil sekitar 1928. Ia merupakan seorang kiai dari daerah Cikotok (sekarang masuk wilayah Kabupaten Ciamis) yang kemudian menetap di daerah Nagarawangi (Tasikmalaya). NU berdiri pun dimulai dari rapat di rumah Ajengan Fadil.

Di antara ajengan yang pertama kali turut menjadi penggurus NU adalah KH Ahmad Qulyubi atau disebut Ajengan Unung. Silsilah nasab leluluhur Ajengan Unung, di dalam buku Ringkasan Riwayat Hidup KH O. Qolyubi yang ditulis putranya KH Ahmad Thabibudin pada 27 November 1955, terhubung dengan pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Ays’ari.

Berikut silisilah Ajengan Unung:

Ajengan Unung bin Abdulghani (Asiam atau Icong), bin Natawijaya (Bapa Lijam) , bin Iskin bin Katam Jiwaraga (Aki Dukun) bin Kiai Raden Mas Narawulan (Bagus Jamri, putra Dalem Suniawenang Cineam, Tasik) bin Rd. Mas Sutanagara di Sukasindang, Setia Mulya bin Rd. Mas Wisonajaya bin Rd. Mas Prabu Singajiwakusumah, {kuburannya di Cipajaran, Tamanjaya (Gobras), Cibereum, Tasikrnalaya}. Rd. Mas Rangsang (Rd. Mas Cakrakusumah), Sultan Mataram anu gelarannana: Kanjeng Sultan Agung Senapati Ing Alaga Abdurrohman Sayyidin Panatagama. Rd. Mas Jolang (Panembahan Seda Krapyak), Sultan Mataram, bin Sutawijaya, Senapati Adiwijaya/Kepala Pasukan Pengawal Sultan Adiwijaya (Jakatingkir) di Pajang bin Kiai Ageng Pamanahan, Kepala daerah Mataram/Kepala Pasukan Pengawal Sultan Adiwijaya. 

Di dalam buku tersebut menyebutkan bahwa silsilah itu bisa dilanjutkan dengan menukil silisilah KH Abdul Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang. Kiai Ageng Ngluwihan Solo Kiai Ageng Sela Kiai Ageng Soba.

KH A. Qulyubi dilahirkan di kampung Madewangi, Tasikmalaya sekitar tahun 1891 M. Pernah menimba ilmu di Tanah Suci Makkah pada 1912 hingga 1916.

Terkait dengan NU, dalam catatan ringkas "Riwayat Ngadegna NU Cabang Tasikmalaya" yang ditulis KH Ahmad Thabibudin tahun 1955 dengan bahasa Sunda, diceritakan KH Fadil dan KH Unung menemui para kiai di Tasikmalaya. Untuk Kiai yang di kota hanya beberapa tempat, kecuali di Singaparna.

Saat NU akan ramai, kolonial Belanda menakuti-nakuti sampai banyak pengurus dan anggota NU menyerahkan kembali kartu NU. Termasuk di Kampung Madewangi (tempat KH Unung) dari 60 orang tinggal 35 orang. Namun, ketika Ketua NU dipegang "Juragan" Ahmad Dasuki, anggota NU kembali banyak. Dan lagi-lagi terus dihalangi Belanda, kemudian banyak yang keluar lagi. 
(Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Selasa 17 Juli 2018 9:0 WIB
Kiai Masyhud, Ulama Keprabon Sang Pecinta Alfiah
Kiai Masyhud, Ulama Keprabon Sang Pecinta Alfiah
Salah satu murid Kiai Masyhud, KH Saifuddin Zuhri, menyebutkan gurunya tersebut sebagai seorang ulama yang ahli di bidang ilmu nahwu. Saking cintanya ia pada ilmu Nahwu khususnya kitab Alfiah, membuat orang menyebutnya sebagai “Kiai Alfiah”.

Kiai Masyhud putra dari Kiai Qosim lahir di Solo pada tahun 1876 M (beberapa sumber menyebutkan tempat lahir di Bonang Lasem Rembang). Ia merupakan anak pertama dari 4 bersaudara.

Nama kecilnya yakni Mustahal, yang kemudian berganti menjadi Masyhud saat ia pergi haji dan belajar di Makah. Nama Mustahal ini pula yang kelak kemudian juga diberikan kepada salah satu putranya, Mustahal Ahmad.

Setelah banyak menimba ilmu agama di beberapa pesantren, di antaranya ia pernah nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan, Masyhud kemudian berangkat ke Makah.

“Mbah Masjhud ini pergi ke Mekkah, ulama seangkatan beliau KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri. Satu perguruan. Kalau Mbah Masyhud ini lebih memilih Nahwu Shorof, sehingga disebut ulama spesialisasi nahwu,” terang sang cucu, Chalid Mawardi.

Rupanya, kecintaan Kiai Kholil Bangkalan terhadap ilmu nahwu, khususnya bait-bait dari kitab Alfiyah ibnu Maliki, juga ikut menurun kepada Masyhud.

Selepas menimba ilmu di Makah, ia pun kembali ke Tanah Air. Ada sebuah kisah yang dituturkan salah satu cucu Kiai Masyhud, Nasirul Umam, di mana ketika Kiai Masyhud pulang dari Makah ia sempat mampir ke Pesantren Sarang.

“Di Sarang, Mbah Masyhud ninggali kitab, yang kemudian menjadi koleksi perpustakaan di sana,” terang Nasirul Umam.

Mendirikan Pesantren

Kiai Masyhud menikah dengan seorang perempuan asli Kauman Solo, dan kemudian mendirikan rumah di daerah Keprabon. Rumah tersebut kelak populer disebut dengan nama Pesantren Al-Masyhudiah, merujuk pada nama sang pengasuh.

Pada tahun 1912, Kiai Masyhud dikaruniai anak pertama, seorang putri yang kelak akan menjadi tokoh srikandi NU, Mahmudah Mawardi. Di tahun-tahun berikutnya, menyusul kemudian lahir 4 anak, yang kesemuanya putri. Mereka adalah Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah, dan Mahmulah. Hingga akhirnya, dari istri yang pertama ini total mereka dikaruniai 5 putri.

Setelah sang istri meninggal, Kiai Masyhud menikah dengan Nyai Syuaibah, yang dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai satu-satunya putra yang diberi nama Mustahal Ahmad. Tercatat, dalam riwayat hidupnya, Kiai Masyhud pernah menikah sebanyak 4 kali dan dikaruniai 6 anak.

Rumah Kiai Masyhud terletak di sebelah timur langgar Keprabon Wetan. Langgar tersebut, pada masa itu juga menjadi tempat tinggal (kos) sekitar 25 santri, termasuk di antaranya Saifuddin Zuhri muda. Selain menjadi tempat tinggal, langgar tersebut berfungsi sebagai tempat belajar. Mereka belajar bersama, berdiskusi, memusyawarahkan berbagai kebutuhan organisasi pelajar ataupun kebutuhan pribadi.

Sedangkan untuk memperdalam ilmu agama, khususnya dalam pelajaran ilmu Nahwu, para santri tersebut belajar kepada Kiai Masyhud. Para santri yang belajar kepada Kiai Masyhud berasal dari dalam Kota Solo maupun di sekitarnya. Adapun kitab yang dipakai sebagai pedoman adalah Alfiah Ibnu Malik, hingga Kiai Masyhud kadang disebut sebagai “Kiai Alfiah”.

Pada zaman itu, para santri, konon mereka yang hendak khataman kitab Alfiyah, rasanya belum afdol apabila belum sowan dan ditashih oleh Kiai Masjhud. “Ilmu yang ia ajarkan mendapat jaminan mutu,” tulis mantan Menteri Agama RI ini, dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Santri yang pernah mengaji dengan beliau banyak yang kemudian menjadi tokoh, seperti KH Maimoen Zubaer, Mbah Liem, KH Mukhtar Rosjidi, dan lainnya.

Riwayat Perjuangan

Sejak kelahiran NU pada tahun 1926, beberapa ulama di Kota Solo menyatakan dukungannya kepada organisasi tersebut. Tak terkecuali Kiai Masyhud. Banyak faktor yang akhirnya membuat ia mantap memilih NU sebagai organisasi yang diikuti, selain tentunya ia merupakan murid Kiai Kholil Bangkalan serta sahabat karib Kiai Hasyim Asy’ari.

Sebagai seorang ulama, Kiai Masyhud dikenal memiliki pendirian yang tegas dan teguh terhadap agama. Tokoh NU yang juga mantan Ketua PP GP Ansor KH Chalid Mawardi, mengenang kakeknya sebagai pribadi yang memiliki sikap keras terhadap kaum penjajah.

“Cara pandang dia (Kiai Masyhud, pen) terhadap pemerintahan Belanda juga konservatif. Misalnya, ia melarang keturunannya untuk menjadi pegawai pemerintahan (Ambtenaar). Karena (Belanda) itu pemerintahan kafir, jadi sederhana sekali. Tidak mau tunduk kepada pemerintahan kafir,” tutur Chalid.

Sikap ini sejalan dengan kebijakan yang telah digariskan oleh organisasi yang ia ikuti, Nahdlatul Ulama (NU), yang kala itu mengambil sikap non-kooperatif terhadap Belanda.

Sikap antipati yang diperlihatkan NU ini dilakukan dalam bentuk simbolik, semisal mengharamkan anggotanya menyerupai (tasyabbuh) orang Belanda dalam hal berpakaian (memakai celana, dasi, topi, dan sepatu).

Pun ketika para kyai membentuk Barisan Kyai, yang ikut dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa, Kiai Masyhud pun turut di dalamnya. Sifat pejuang serta komitmennya bersama NU ini kemudian menurun kepada putra-putrinya.

Putrinya yang pertama, Nyai Mahmudah Mawardi menjadi salah satu idola kaum perempuan NU, di mana ia pernah menjadi ketua umum Muslimat NU selama delapan periode (1950-1979). Kemudian, putranya Mustahal Ahmad menjadi tokoh pendiri IPNU, PMII, dan bahkan juga ikut membidani berdirinya IPPNU.

Di Pesantren Al-Masyhudiah ini pula yang pernah menjadi saksi lahirnya salah satu badan otonom di kalangan pelajar putri NU. Beberapa santri putri yang ikut mengaji di tempat tersebut, antara lain, Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Mereka inilah yang kelak menjadi para perintis berdirinya IPNU Puteri (sekarang bernama IPPNU).

Sayangnya, masa-masa kelahiran dan perkembangan IPPNU di Al-Masyhudiah pada tahun 1954 tersebut, tidak dapat disaksikan langsung oleh Kiai Masyhud, sebab sang kiai telah wafat empat tahun sebelumnya. Kiai Masyhud wafat pada tahun 1950 dan dimakamkan di Pemakaman Tipes Surakarta. (Ajie Najmuddin)

Sumber :
- Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, (Yogyakarta, LKiS, 2013)
- Wawancara dengan Nasirul Umam (cucu KH Masyhud/putra H Mustahal Ahmad) di Solo, 2014.
- Wawancara dengan KH Chalid Mawardi (cucu KH Masyhud/putra Nyai Hj Mahmudah Mawardi) di Jakarta, 2017.
Sabtu 14 Juli 2018 20:0 WIB
KH Abdul Halim Leuwimunding Pelopor Koperasi NU
KH Abdul Halim Leuwimunding Pelopor Koperasi NU
Para kiai pesantren sarungan itu, tidak melulu memikirkan akhirat di atas dunia. Begitu juga sebaliknya. Mereka berpijak kepada doa yang selalu dibaca selepas shalat, selamat dunia dan akhirat. 

Keseimbangan itu bisa misalnya terlihat pada awal abad 20. Mereka tidak hanya tinggal di pesantren dan mengajar kitab-kitab kuning, tapi sebagaimana anak bangsa lain, berupaya untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Karena trend masa itu adalah perjuangan melalui organisasi, para kiai pesantren pun mendirikannya. Mereka menamakannya Nahdlatul Ulama pada 1926. 

Setelah berdiri, organisasi itu mereka atur sesuai dengan ilmu administrasi modern. Berbagai mekanisme organisasi, pencatatan, hingga surat kabar mengiringi organisasi yang mereka jalankan. Pada tiap muktamar, uang masuk dan keluar dicatat dengan rinci dan dilaporkan ke khalayak. 

Tiga tahun berdiri, para ulama di organisasi tersebut memikirkan bagaimaba supaya anggotanya mandiri secara ekonomi. Pada 1929 mereka mendirikan Coperatie Kaoem Moeslimin (CKM).

Pelopor CKM adalah KH Abdul Halim, salah seorang pengurus Hofdbestuur (pengurus besar dalam istilah sekarang) NU asal Majalengka, Jawa Barat. 
Menurut Choirul Anam pada buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, barang-barang yang diperjualbelikan di CKM ketika itu berupa kebutuhan primer (kebutuhan sehari-han) seperti: beras, gula, kopi, rokok, pasta gigi, sabun, kacang, minyak dan sebagainya. 

Namun yang menarik, menurut Anam, dari usaha ini adalah peraturan dasar CKM yang, kala itu, sudah disahkan sebagai model koperasi NU di tempat-tempat lain. Ini pertanda langkah awal menuju sosial ekonomi sudah mulai telihat di tahun 1929 itu. 

Peraturan CKM mengenai pembagian keuntungan, misalnya, dibagi lima bagian: 40 persen untuk pegawai (penjual), 15 persen untuk pemilik modal, 25 persen untuk menambah kapital (berarti pemilik modal mendapat bagian 4O persen), 5 persen untuk juru komisi (iuru tulis) dan 15 persen untuk jam’iyyah Nahdlatul Ulama. 

“Apa yang terurai di atas, baik mengenai pendidikan, masalah sosial maupun dakwah, adalah sekedar contoh bagi usaha-usaha yang ditempuh NU di masa perintisannya. Dengan kata lain, pada awal sejarah pertumbuhannya, NU telah membuktikan pengabdiannya kepada agama dan masyarakat baik di bidang pendidikan, sosial maupun dakwah. Selain juga berhasil mengemban tugas sebagai pemeljhara kelestatian paham Ahlussunah wal jama’ah ‘ala mazhabil arba’ah,” tulis Anam dalam buku itu. 

Siapakah KH Abdul Halim Leuwimunding? 
Ia dilahirkan pada Juni 1898 dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Santamah. Para buyutnya adalah tokoh-tokoh setempat, yaitu Buyut Kreteg, Buyut Liuh, dan Buyut Kedung Kertagam. Setelah itu, Abdul Halim belajar mengaji di Pesantren Trajaya Majalengka, kemudian meneruskan ke Pesantren Kedungwuni, Majalengka, dan dilanjutkan di Pesantren Kempek, Cirebon.

Sebagaimana tokoh-tokoh di masanya yang berkelana sampai Makkah untuk menuntut ilmu, Abdul Halim juga menempuh hal yang sama. Ini dilakukan ketika ia baru berusia 16 tahun, yaitu pada sekitar tahun 1914.

Sebelumnya dua pamannya telah berada di sana, yaitu H. Ali dan H. Jen. Di Makkah Abdul Halim bertemu dan berkawan baik dengan K.H.Abdul Wahab Hasbullah. Ia kemudian pulang ke tanah asalnya pada 1917, dan satu tahun kemudian ia mencari ilmu di pesantren yang ada di Jawa Timur.

Abdul Halim memutuskan berangkat ke Tebuireng, Jombang, yang saat itu diasuh oleh kiai yang sangat dihormati di seluruh Jawa dan Madura yaitu K.H. Hasyim Asy'ari. Dengan demikian, sejak awal Abdul Halim sudah memiliki jaringan dengan pendiri NU, baik dengan K.H. Abdul Wahab maupun K.H. Hasyim Asy'ari. Abdul Halim kemudian menjadi salah satu peserta diskusi-diskusi dalam perbincangan pendirian NU, dan salah seorang yang hadir dalam pendirian NU pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H di Kertopaten, Surabaya. Ia sendiri kemudian mendapat kehormatan untuk menjabat sebagai Katib Tsani dalam kepengurusan NU awal itu.

Selama berguru kepada KH Wahab Hasbullah, Abdul Chalim telah mendarmabhaktikan hidupnya demi perkembangan ilmu di kalangan para santri. Di mana Nahdlatul Wathan merupakan tempat yang sangat baik bagi Abdul Chalim dalam berguru dan menularkan kemampuan ilmiahnya.

Pendekatan ilmiah terhadap masyarakat dengan interaksi sosial keagamaan dalam Nahdlatul Wathan merupakan salah satu sumbangsih KH Abdul halim. Bagi KH Abdul halim pendekatan sosial kepada masyarakat untuk menerapkan kaidah-kaidah keilmuan syariat bagi kehidupan masyarakat menumpakan sebuah terobosan yang sangat urgen dalam menyebarkan konsep-konsep keislaman yang membumi.

Abdul Halim juga memerintah dan mengembangkan NU di Jawa Barat, khususnya sekitar Majalengka, bersama kiai-kiai yang merintis NU di Jawa Barat, seperti K.H. Abbas dan keluarga Pesantren Buntet, K.H. Mas Abdurrahman dan masih banyak lagi yang lain.

Sebagai pendiri NU, Abdul Halim tidak memiliki pesantren, tetapi atas saran K.H. Wahab Hasbullah yang bertemu di Bandung pada 1954, kemudian Abdul Halim mendirikan pusat pendidikan. Baru pada tahu 1963 ia mendirikan dan mengembangkan Madrasah Ibtidaiyyah Nahdlatul Ulama (MI-NU) yang menjadi Madrsah Dinyah pertama di Majalengka. Pada perkembangan selanjutnya, pendidikan ini bertambah dengan Madrasah Tsanawiyah Leuwimunding di bawah payung Yayasan Sabilul Halim. (Abdullah Alawi)

Selasa 10 Juli 2018 21:30 WIB
KH Jawahir Dahlan, Pemilik Suara Nabi Daud
KH Jawahir Dahlan, Pemilik Suara Nabi Daud
KH Jawahir dan Nyai Aisyah
Suatu ketika, Pondok Buntet Pesantren dan pesantren yang diasuh oleh KH Tb Ma'mun Banten mengadakan pertukaran santri. Buntet Pesantren mengirimkan empat utusannya, yakni KH Muhammad Hasyim Manshur, Kiai Amari, Kiai Abdur Rouf, dan KH Jawahir Dahlan. Sementara itu, Banten mengirimkan beberapa utusannya, di antaranya KH Tb Shaleh Ma'mun dan KH Tb Manshur Ma'mun.

Utusan Banten takhassus ilmu tajwid kepada KH Abbas Abdul Jamil dengan mengaji kitab Hirzul Amani wa Wajhut Tahani atau yang dikenal dengan Matan Asy-Syatibiyah. Sementara itu, delegasi Buntet Pesantren memperdalam ilmu tilawatil Qur'an kepada KH Tb Ma'mun. Pasalnya, kiai yang akrab disapa Tubagus Ma'mun itu merupakan seorang yang memiliki suara yang sangat indah. Pernah suatu ketika ia diminta untuk memimpin shalat. Tetapi, suaranya itu membuat makmumnya terbuai sehingga ia dilarang untuk kembali mengimami.

"Beliau cuma satu kali mimpin salat. Setelah itu diharamkan sama raja karena saking indahnya suara beliau, jamaah itu jadi hilang konsentrasi," kata Tubagus Soleh Mahdi, cicit Tubagus Ma'mun, sebagaimana dilansir Radar Banten pada Jumat (25/5).

Tak ayal, sosok Jawahir muda mulai dikenal sebagai seorang qari yang mampu membuat pendengarnya meresapi ayat-ayat Al-Qur'an yang ia baca. Di usianya yang belum genap menginjak tiga puluh tahun, ia diundang oleh KH Abdul Wahid Hasyim yang saat itu menjabat sebagai menteri agama. Bersama para qari dan hafiz dari berbagai daerah, mereka merumuskan pendirian Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH). Jawahir muda tercatat menjadi salah satu anggota pengurus Pengurus Besar JQH periode 1951-1953. Setelah itu, rupanya ia lebih aktif untuk mengembangkan JQH di wilayah Jawa Barat.

Kepiawaiannya dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu mendorong pemerintah melalui Menteri Agama memberinya syahadah syarif bersama 14 qari lainnya. Bahkan, seorang bernama M Khoezai dari Taman, Pemalang, menyebut dirinya sebagai pemilik suara Nabi Daud, dalam pengantar suratnya yang ditulis pada tanggal 5 Shafar 1361 H.

 شَقِيْقُ رُوْحِيْ الْاَخُ الْاَعِزُّ اَحْمَدْ جَوَاهِرْ صَاحِبُ الصَّوْتِ الدَّاوُدِيْ الَّذِيْ سَكَنَتْ لَهُ الرِّيْحُ وَ الْبَوَادِيْ وَ دَافَعَتْ لِسِمَاعِهِ الْمِيَاهُ فِي الْوَادِيْ

Belahan jiwaku, saudara yang mulia, Ahmad Jawahir, pemilih suara Daud yang karenanya, angin dan padang pasir begitu tenang dan air yang di lembah pun melambat alirannya karena mendengarnya.

Pada tahun 1960, ia pernah diundang untuk menjadi pembaca Al-Qur'an di Istana Negara pada peringatan malam Nuzulul Qur'an. Hal ini berdasar surat dari Koordinator Urusan Agama Daerah Karesidenan Tjirebon itu melampirkan sebuah salinan interlocal dari Kementerian Agama Jakarta tertanggal 12 Maret 1960, pukul 10.00 pagi.

Berikut isi interlocal tersebut (telah disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia).

"Menteri Agama minta agar Sdr. K. Djawahir Dahlan di Pesantren Buntet Cirebon, supaya datang ke Jakarta, buat kepentingan membaca Al-Qur'an pada waktu perayaan Nuzulul Qur'an di Istana Negara, yang akan diselenggarakan pada malam Rabu tanggal 15 ke 16 Maret 1960, harus datang di Jakarta lebih dulu tertanggal 14 Maret 1960."

Selain melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, di kemudian hari ia juga diundang untuk berceramah. KH Masrur Ainun Najih, Wakil Ketua PP Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), mengaku kepada penulis (2015) pernah diajak untuk menemaninya ke Lampung. Di samping itu, salah seorang muridnya yang menjadi muazin Masjid Agung Buntet Pesantren, H Mursyid, juga menyatakan kepada penulis pada Jumat (15/6/2018) bahwa dirinya pernah diajak Kiai Jawahir berkeliling dari puncak dataran tinggi hingga ke pinggir laut selatan guna berceramah. H Mursyid tidak hanya menemaninya saja, tetapi diminta untuk melantunkan kasidah-kasidah.

Didi, seorang warga Ciamis, Jawa Barat, pada Senin (18/6/2018) bercerita kepada penulis bahwa ia pernah mendengar Kiai Jawahir berceramah sampai jam dua pagi. Menurutnya, ia tidak bosan mengikuti ceramahnya hingga selesai mengingat selain ceramah, Kiai Jawahir juga mengajak serta grup kasidahnya.

Abah Jawahir, sapaan akrab anak cucunya, juga pernah menolak undangan mengaji pada bulan Ramadhan. Hal ini tercatat pada surat yang ia tujukan kepada H Kosasih di Bandung. Surat yang tertulis pada tanggal 3 Maret 1961 itu berisi beberapa alasan penolakan dan tawaran penggantinya.

Ia menolak karena setiap Ramadhan tiba, ia menerima banyak orang yang sengaja datang untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'annya hanya pada bulan tersebut atau biasa disebut ngaji pasaran. Mayoritas dari mereka adalah ustadz yang mengajarkan Al-Qur'an di desanya masing-masing. Di samping itu, kesehatannya yang sedang menurun juga membuatnya mengurungkan niat untuk dapat memenuhi panggilan tersebut.

Meskipun demikian, ia mengutus putrinya Siti Zainab, muridnya Syihabuddin dari Sumedang, dan kakaknya Nyai Karimah. Kepada tiga orang yang mengundangnya, H Kosasih, H Memen, dan Kanda Yusuf, Kiai Jawahir meminta agar dapat memberi hadiah khusus untuk putrinya sebagai kebahagiaan menyambut Idul Fitri. Kelak, Siti Zainab dipersunting oleh KH Abdullah Abbas sebagai istrinya.

Jadi Juri MTQ

Kiai Jawahir juga pernah menjadi juri Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) yang pertama kali digelar. Hal ini tercatat pada Surat Keputusan bernomor 75/OC/KF/62/1/65. Saat itu, gelaran dilakukan oleh Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) yang dipimpin oleh KH Ahmad Syaichu bekerja sama dengan PP Jamiyyatul Qurra wal Huffazh.

Kiai kelahiran tahun 1921 itu kembali menjadi juri pada MTQ Nasional kedelapan di Palembang tahun 1975. Entah apakah ia tidak menjadi juri pada gelaran MTQN pertama di Sulawesi Selatan hingga MTQN ketujuhnya. Sebab, penulis hanya menemukan dokumentasi MTQN kedelapan tahun 1975 di rumahnya meliputi surat keputusan penetapannya sebagai juri, sertifikat penghargaan dari Menteri Agama Mukti Ali, peraturan, sampai kartu makannya.

Kiai Jawahir meninggal menjelang Subuh di rumahnya di sebelah barat Masjid Agung Buntet Pesantren. Sementara itu, untuk mengenang jasanya, nama KH Jawahir Dahlan dijadikan nama jalan yang menuju rumah peninggalan orang tuanya yang terletak di Desa Buntet di seberang pusat komplek Buntet Pesantren. (Syakir NF)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG