IMG-LOGO
Tokoh

Surat-surat Ajengan Fadil Sebelum NU Tasikmalaya Berdiri

Rabu 1 Agustus 2018 9:0 WIB
Bagikan:
Surat-surat Ajengan Fadil Sebelum NU Tasikmalaya Berdiri
Di dalam statuten NU, jika belum mendirikan cabang, tetapi memiliki keinginan terhubung dengan NU, seseorang atau sekelompok orang boleh melakukan korespondensi dengan cabang terdekatnya. Jika cabang terdekat belum ada, maka dibolehkan berkorespondensi dengan HBNO atau Pengurus Besar NU di Surabaya.

Sejak kapan cabang-cabang NU di Jawa Barat berdiri?

Sejarawan NU, Choirul Anam menyebutkan, pada tahun 1929, tepatnya di Muktamar NU Semarang, Jawa Barat telah memiliki 13 Cabang. Namun, sayang, ia tidak menyebutkan cabang mana saja. Jadi, bisa dipastikan, beberapa tahun sejak NU berdiri di Surabaya, beberapa cabang berdiri di Jawa Barat. 

Namun, demikian, sebelum tahun 1929, hubungan kiai di wilayah Jawa Barat dengan kiai pendiri NU di Jawa Timur melalui surat-surat dalam bentuk tanya jawab suatu persoalan. 

Ajengan Fadil dari Tasikmalaya berkirim surat ke redaksi Swara Nahdlatoel Oelama. Ia beberapa kali mengajukan pertanyaan. Paling tidak ada tiga kali. Pertama meminta penjelasan tentang awal Ramadhan. 

Berikut laporan dari Swara Nahdlatoel Oelama:

Saya (KH Wahab Hasbullah) mendapatkan surat dari saudara saya, almukarrom Kiai Fadil Tasikmalaya. Isi suratnya menjelaskan bahwa di Tasikmalaya mulai melaksanakan puasa pada hari Rabu. Bagaimana hukumnya orang yang melakukan puasa pada hari Kamis berdasarkan i’timad dari ahli hisab. Tetapi yang melakukan puasa pada hari Kamis itu sebagain setengah dari penduduk Tasikmalaya setelah melihat majalah NU nomor 6 dan juga di majalah NU Nomor 7 dari Riyadlah Atthalabah, di dalam majalah itu menerangkan bahwa permulaan puasa pada hari Kamis dan hari raya hari Jumat, maka puasa hanya dilakukan 29 hari. 
Apakah yang demikian itu wajib melakukan qadha atau tidak?
Pertanyaan saya ini semoga bisa segera dibalas. Jangan sampai tidak dibalas. Karena ada kiai yang mewajibkan melakukan qadha. Saya minta keterangan dari kitab, saya juga menjawab bahwa yang puasa sejak hari Kamis dan tidak wajib qadla. 
Ucapan kiai yang mewajibkan qadha sebab tidak menurut awalnya Ramadhan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah: ucapan saya tidak wajib qadha berawal dari tasdiq dari ahli hisab sehingga tadi bulan hanya 29 hari sedang tersebut dalam kitab-kitab orang yang tasdiq terhadap ahli hisab wajib atau boleh melakukan dan juga tersebut dalam kitab Bughyatul Musytarsyidin halaman 109 maka yang melakukan puasa mulai hari Kamis dengan beriktikad jazem terhadap kebenaran ahli hisab. 
Alhaqir Fadil Ibnu Ilyas Tasikmalaya 
Berikut ini Jawaban KH Wahab Hasbullah:


Saya Abdul Wahab berkata: menurut jawaban soal saudara Kiai Fadil yaitu sudah ada keterangan-keterangan di atas tadi. Akan tetapi, tidak menjadi persoalan saya tambahi lagi dengan keterangan sehingga Saudara Kiai Fadil pikiranya tuma’ninah/tenang di belakang, selamat tidak terjadi fitnah.
Tidak kuatir Kiai Fadhil keberadaan keterangan di beberap kitab seperti dalam kitab Safinatun Najah. Jadi, penting sekali bagi orang yang tasdiq terhadap hisab itu wajib melakukan apa itu keterangan hisab dzalikal hisab. Yang jelas ahli hisab sudah meyakinkan terhadap hasil hisabnya. Jadi, Ramadhan tahun 1346 H itu hanya 29 hari. Dan awal puasanya hari Kamis sudah jelas tidak ada kekurangan apa-apa: seumpamanya ingin mengqadla yaitu mengqadla hari yang yang bulan apa, orang yang sebulan Ramadhan dilakukan puasa semuanya. Keberadaan bulan yang hanya 29 hari itu sudah tetap dari dawuhipun (perkataan) rasulullah SAW (asyyahru hakadza hakadza) yakni 30 hari, sesekali tingkatan 29 hari dalam tingkatan yang lain. Pada masalah sebulan Rasulullah berkata (sesungghuhnya Ramadhan itu 29 hari) dan perkataan lagi ( bulan itu 29 malam) keterangan dalam hadits Bukhori dan lagi Rasulullah sudah berkata (Islam dibangun atas lima perkara) hingga perkataan (puasa romadhan) tidak menggunakan perkataan 30 hari. Jadi jawabanya sudah puasa sebulan Ramadhan sempurna sudah cukup sama dengan bulan (30 hari) atau (29 hari).

(Abdullah Alawi)

Tags:
Bagikan:
Selasa 31 Juli 2018 19:30 WIB
Silisilah Ajengan Unung, Tokoh NU Tasikmalaya, Terhubung dengan Hadratussyekh
Silisilah Ajengan Unung, Tokoh NU Tasikmalaya, Terhubung dengan Hadratussyekh

Di dalam buku A. E. Bunyamin Nahdlatul Ulama di Tengah-tengah Perjuangan Bangsa, NU ke Tasikmalaya diperkenalkan Ajengan Fadil sekitar 1928. Ia merupakan seorang kiai dari daerah Cikotok (sekarang masuk wilayah Kabupaten Ciamis) yang kemudian menetap di daerah Nagarawangi (Tasikmalaya). NU berdiri pun dimulai dari rapat di rumah Ajengan Fadil.

Di antara ajengan yang pertama kali turut menjadi penggurus NU adalah KH Ahmad Qulyubi atau disebut Ajengan Unung. Silsilah nasab leluluhur Ajengan Unung, di dalam buku Ringkasan Riwayat Hidup KH O. Qolyubi yang ditulis putranya KH Ahmad Thabibudin pada 27 November 1955, terhubung dengan pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Ays’ari.

Berikut silisilah Ajengan Unung:

Ajengan Unung bin Abdulghani (Asiam atau Icong), bin Natawijaya (Bapa Lijam) , bin Iskin bin Katam Jiwaraga (Aki Dukun) bin Kiai Raden Mas Narawulan (Bagus Jamri, putra Dalem Suniawenang Cineam, Tasik) bin Rd. Mas Sutanagara di Sukasindang, Setia Mulya bin Rd. Mas Wisonajaya bin Rd. Mas Prabu Singajiwakusumah, {kuburannya di Cipajaran, Tamanjaya (Gobras), Cibereum, Tasikrnalaya}. Rd. Mas Rangsang (Rd. Mas Cakrakusumah), Sultan Mataram anu gelarannana: Kanjeng Sultan Agung Senapati Ing Alaga Abdurrohman Sayyidin Panatagama. Rd. Mas Jolang (Panembahan Seda Krapyak), Sultan Mataram, bin Sutawijaya, Senapati Adiwijaya/Kepala Pasukan Pengawal Sultan Adiwijaya (Jakatingkir) di Pajang bin Kiai Ageng Pamanahan, Kepala daerah Mataram/Kepala Pasukan Pengawal Sultan Adiwijaya. 

Di dalam buku tersebut menyebutkan bahwa silsilah itu bisa dilanjutkan dengan menukil silisilah KH Abdul Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang. Kiai Ageng Ngluwihan Solo Kiai Ageng Sela Kiai Ageng Soba.

KH A. Qulyubi dilahirkan di kampung Madewangi, Tasikmalaya sekitar tahun 1891 M. Pernah menimba ilmu di Tanah Suci Makkah pada 1912 hingga 1916.

Terkait dengan NU, dalam catatan ringkas "Riwayat Ngadegna NU Cabang Tasikmalaya" yang ditulis KH Ahmad Thabibudin tahun 1955 dengan bahasa Sunda, diceritakan KH Fadil dan KH Unung menemui para kiai di Tasikmalaya. Untuk Kiai yang di kota hanya beberapa tempat, kecuali di Singaparna.

Saat NU akan ramai, kolonial Belanda menakuti-nakuti sampai banyak pengurus dan anggota NU menyerahkan kembali kartu NU. Termasuk di Kampung Madewangi (tempat KH Unung) dari 60 orang tinggal 35 orang. Namun, ketika Ketua NU dipegang "Juragan" Ahmad Dasuki, anggota NU kembali banyak. Dan lagi-lagi terus dihalangi Belanda, kemudian banyak yang keluar lagi. 
(Abdullah Alawi)

Selasa 17 Juli 2018 9:0 WIB
Kiai Masyhud, Ulama Keprabon Sang Pecinta Alfiah
Kiai Masyhud, Ulama Keprabon Sang Pecinta Alfiah
Salah satu murid Kiai Masyhud, KH Saifuddin Zuhri, menyebutkan gurunya tersebut sebagai seorang ulama yang ahli di bidang ilmu nahwu. Saking cintanya ia pada ilmu Nahwu khususnya kitab Alfiah, membuat orang menyebutnya sebagai “Kiai Alfiah”.

Kiai Masyhud putra dari Kiai Qosim lahir di Solo pada tahun 1876 M (beberapa sumber menyebutkan tempat lahir di Bonang Lasem Rembang). Ia merupakan anak pertama dari 4 bersaudara.

Nama kecilnya yakni Mustahal, yang kemudian berganti menjadi Masyhud saat ia pergi haji dan belajar di Makah. Nama Mustahal ini pula yang kelak kemudian juga diberikan kepada salah satu putranya, Mustahal Ahmad.

Setelah banyak menimba ilmu agama di beberapa pesantren, di antaranya ia pernah nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan, Masyhud kemudian berangkat ke Makah.

“Mbah Masjhud ini pergi ke Mekkah, ulama seangkatan beliau KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri. Satu perguruan. Kalau Mbah Masyhud ini lebih memilih Nahwu Shorof, sehingga disebut ulama spesialisasi nahwu,” terang sang cucu, Chalid Mawardi.

Rupanya, kecintaan Kiai Kholil Bangkalan terhadap ilmu nahwu, khususnya bait-bait dari kitab Alfiyah ibnu Maliki, juga ikut menurun kepada Masyhud.

Selepas menimba ilmu di Makah, ia pun kembali ke Tanah Air. Ada sebuah kisah yang dituturkan salah satu cucu Kiai Masyhud, Nasirul Umam, di mana ketika Kiai Masyhud pulang dari Makah ia sempat mampir ke Pesantren Sarang.

“Di Sarang, Mbah Masyhud ninggali kitab, yang kemudian menjadi koleksi perpustakaan di sana,” terang Nasirul Umam.

Mendirikan Pesantren

Kiai Masyhud menikah dengan seorang perempuan asli Kauman Solo, dan kemudian mendirikan rumah di daerah Keprabon. Rumah tersebut kelak populer disebut dengan nama Pesantren Al-Masyhudiah, merujuk pada nama sang pengasuh.

Pada tahun 1912, Kiai Masyhud dikaruniai anak pertama, seorang putri yang kelak akan menjadi tokoh srikandi NU, Mahmudah Mawardi. Di tahun-tahun berikutnya, menyusul kemudian lahir 4 anak, yang kesemuanya putri. Mereka adalah Mahwiyah, Mahsunah, Mahdumah, dan Mahmulah. Hingga akhirnya, dari istri yang pertama ini total mereka dikaruniai 5 putri.

Setelah sang istri meninggal, Kiai Masyhud menikah dengan Nyai Syuaibah, yang dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai satu-satunya putra yang diberi nama Mustahal Ahmad. Tercatat, dalam riwayat hidupnya, Kiai Masyhud pernah menikah sebanyak 4 kali dan dikaruniai 6 anak.

Rumah Kiai Masyhud terletak di sebelah timur langgar Keprabon Wetan. Langgar tersebut, pada masa itu juga menjadi tempat tinggal (kos) sekitar 25 santri, termasuk di antaranya Saifuddin Zuhri muda. Selain menjadi tempat tinggal, langgar tersebut berfungsi sebagai tempat belajar. Mereka belajar bersama, berdiskusi, memusyawarahkan berbagai kebutuhan organisasi pelajar ataupun kebutuhan pribadi.

Sedangkan untuk memperdalam ilmu agama, khususnya dalam pelajaran ilmu Nahwu, para santri tersebut belajar kepada Kiai Masyhud. Para santri yang belajar kepada Kiai Masyhud berasal dari dalam Kota Solo maupun di sekitarnya. Adapun kitab yang dipakai sebagai pedoman adalah Alfiah Ibnu Malik, hingga Kiai Masyhud kadang disebut sebagai “Kiai Alfiah”.

Pada zaman itu, para santri, konon mereka yang hendak khataman kitab Alfiyah, rasanya belum afdol apabila belum sowan dan ditashih oleh Kiai Masjhud. “Ilmu yang ia ajarkan mendapat jaminan mutu,” tulis mantan Menteri Agama RI ini, dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Santri yang pernah mengaji dengan beliau banyak yang kemudian menjadi tokoh, seperti KH Maimoen Zubaer, Mbah Liem, KH Mukhtar Rosjidi, dan lainnya.

Riwayat Perjuangan

Sejak kelahiran NU pada tahun 1926, beberapa ulama di Kota Solo menyatakan dukungannya kepada organisasi tersebut. Tak terkecuali Kiai Masyhud. Banyak faktor yang akhirnya membuat ia mantap memilih NU sebagai organisasi yang diikuti, selain tentunya ia merupakan murid Kiai Kholil Bangkalan serta sahabat karib Kiai Hasyim Asy’ari.

Sebagai seorang ulama, Kiai Masyhud dikenal memiliki pendirian yang tegas dan teguh terhadap agama. Tokoh NU yang juga mantan Ketua PP GP Ansor KH Chalid Mawardi, mengenang kakeknya sebagai pribadi yang memiliki sikap keras terhadap kaum penjajah.

“Cara pandang dia (Kiai Masyhud, pen) terhadap pemerintahan Belanda juga konservatif. Misalnya, ia melarang keturunannya untuk menjadi pegawai pemerintahan (Ambtenaar). Karena (Belanda) itu pemerintahan kafir, jadi sederhana sekali. Tidak mau tunduk kepada pemerintahan kafir,” tutur Chalid.

Sikap ini sejalan dengan kebijakan yang telah digariskan oleh organisasi yang ia ikuti, Nahdlatul Ulama (NU), yang kala itu mengambil sikap non-kooperatif terhadap Belanda.

Sikap antipati yang diperlihatkan NU ini dilakukan dalam bentuk simbolik, semisal mengharamkan anggotanya menyerupai (tasyabbuh) orang Belanda dalam hal berpakaian (memakai celana, dasi, topi, dan sepatu).

Pun ketika para kyai membentuk Barisan Kyai, yang ikut dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa, Kiai Masyhud pun turut di dalamnya. Sifat pejuang serta komitmennya bersama NU ini kemudian menurun kepada putra-putrinya.

Putrinya yang pertama, Nyai Mahmudah Mawardi menjadi salah satu idola kaum perempuan NU, di mana ia pernah menjadi ketua umum Muslimat NU selama delapan periode (1950-1979). Kemudian, putranya Mustahal Ahmad menjadi tokoh pendiri IPNU, PMII, dan bahkan juga ikut membidani berdirinya IPPNU.

Di Pesantren Al-Masyhudiah ini pula yang pernah menjadi saksi lahirnya salah satu badan otonom di kalangan pelajar putri NU. Beberapa santri putri yang ikut mengaji di tempat tersebut, antara lain, Umroh Machfudzoh, Atikah Murtadlo, Lathifah Hasyim, Romlah, dan Basyiroh Saimuri. Mereka inilah yang kelak menjadi para perintis berdirinya IPNU Puteri (sekarang bernama IPPNU).

Sayangnya, masa-masa kelahiran dan perkembangan IPPNU di Al-Masyhudiah pada tahun 1954 tersebut, tidak dapat disaksikan langsung oleh Kiai Masyhud, sebab sang kiai telah wafat empat tahun sebelumnya. Kiai Masyhud wafat pada tahun 1950 dan dimakamkan di Pemakaman Tipes Surakarta. (Ajie Najmuddin)

Sumber :
- Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, (Yogyakarta, LKiS, 2013)
- Wawancara dengan Nasirul Umam (cucu KH Masyhud/putra H Mustahal Ahmad) di Solo, 2014.
- Wawancara dengan KH Chalid Mawardi (cucu KH Masyhud/putra Nyai Hj Mahmudah Mawardi) di Jakarta, 2017.
Sabtu 14 Juli 2018 20:0 WIB
KH Abdul Halim Leuwimunding Pelopor Koperasi NU
KH Abdul Halim Leuwimunding Pelopor Koperasi NU
Para kiai pesantren sarungan itu, tidak melulu memikirkan akhirat di atas dunia. Begitu juga sebaliknya. Mereka berpijak kepada doa yang selalu dibaca selepas shalat, selamat dunia dan akhirat. 

Keseimbangan itu bisa misalnya terlihat pada awal abad 20. Mereka tidak hanya tinggal di pesantren dan mengajar kitab-kitab kuning, tapi sebagaimana anak bangsa lain, berupaya untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Karena trend masa itu adalah perjuangan melalui organisasi, para kiai pesantren pun mendirikannya. Mereka menamakannya Nahdlatul Ulama pada 1926. 

Setelah berdiri, organisasi itu mereka atur sesuai dengan ilmu administrasi modern. Berbagai mekanisme organisasi, pencatatan, hingga surat kabar mengiringi organisasi yang mereka jalankan. Pada tiap muktamar, uang masuk dan keluar dicatat dengan rinci dan dilaporkan ke khalayak. 

Tiga tahun berdiri, para ulama di organisasi tersebut memikirkan bagaimaba supaya anggotanya mandiri secara ekonomi. Pada 1929 mereka mendirikan Coperatie Kaoem Moeslimin (CKM).

Pelopor CKM adalah KH Abdul Halim, salah seorang pengurus Hofdbestuur (pengurus besar dalam istilah sekarang) NU asal Majalengka, Jawa Barat. 
Menurut Choirul Anam pada buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, barang-barang yang diperjualbelikan di CKM ketika itu berupa kebutuhan primer (kebutuhan sehari-han) seperti: beras, gula, kopi, rokok, pasta gigi, sabun, kacang, minyak dan sebagainya. 

Namun yang menarik, menurut Anam, dari usaha ini adalah peraturan dasar CKM yang, kala itu, sudah disahkan sebagai model koperasi NU di tempat-tempat lain. Ini pertanda langkah awal menuju sosial ekonomi sudah mulai telihat di tahun 1929 itu. 

Peraturan CKM mengenai pembagian keuntungan, misalnya, dibagi lima bagian: 40 persen untuk pegawai (penjual), 15 persen untuk pemilik modal, 25 persen untuk menambah kapital (berarti pemilik modal mendapat bagian 4O persen), 5 persen untuk juru komisi (iuru tulis) dan 15 persen untuk jam’iyyah Nahdlatul Ulama. 

“Apa yang terurai di atas, baik mengenai pendidikan, masalah sosial maupun dakwah, adalah sekedar contoh bagi usaha-usaha yang ditempuh NU di masa perintisannya. Dengan kata lain, pada awal sejarah pertumbuhannya, NU telah membuktikan pengabdiannya kepada agama dan masyarakat baik di bidang pendidikan, sosial maupun dakwah. Selain juga berhasil mengemban tugas sebagai pemeljhara kelestatian paham Ahlussunah wal jama’ah ‘ala mazhabil arba’ah,” tulis Anam dalam buku itu. 

Siapakah KH Abdul Halim Leuwimunding? 
Ia dilahirkan pada Juni 1898 dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Santamah. Para buyutnya adalah tokoh-tokoh setempat, yaitu Buyut Kreteg, Buyut Liuh, dan Buyut Kedung Kertagam. Setelah itu, Abdul Halim belajar mengaji di Pesantren Trajaya Majalengka, kemudian meneruskan ke Pesantren Kedungwuni, Majalengka, dan dilanjutkan di Pesantren Kempek, Cirebon.

Sebagaimana tokoh-tokoh di masanya yang berkelana sampai Makkah untuk menuntut ilmu, Abdul Halim juga menempuh hal yang sama. Ini dilakukan ketika ia baru berusia 16 tahun, yaitu pada sekitar tahun 1914.

Sebelumnya dua pamannya telah berada di sana, yaitu H. Ali dan H. Jen. Di Makkah Abdul Halim bertemu dan berkawan baik dengan K.H.Abdul Wahab Hasbullah. Ia kemudian pulang ke tanah asalnya pada 1917, dan satu tahun kemudian ia mencari ilmu di pesantren yang ada di Jawa Timur.

Abdul Halim memutuskan berangkat ke Tebuireng, Jombang, yang saat itu diasuh oleh kiai yang sangat dihormati di seluruh Jawa dan Madura yaitu K.H. Hasyim Asy'ari. Dengan demikian, sejak awal Abdul Halim sudah memiliki jaringan dengan pendiri NU, baik dengan K.H. Abdul Wahab maupun K.H. Hasyim Asy'ari. Abdul Halim kemudian menjadi salah satu peserta diskusi-diskusi dalam perbincangan pendirian NU, dan salah seorang yang hadir dalam pendirian NU pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H di Kertopaten, Surabaya. Ia sendiri kemudian mendapat kehormatan untuk menjabat sebagai Katib Tsani dalam kepengurusan NU awal itu.

Selama berguru kepada KH Wahab Hasbullah, Abdul Chalim telah mendarmabhaktikan hidupnya demi perkembangan ilmu di kalangan para santri. Di mana Nahdlatul Wathan merupakan tempat yang sangat baik bagi Abdul Chalim dalam berguru dan menularkan kemampuan ilmiahnya.

Pendekatan ilmiah terhadap masyarakat dengan interaksi sosial keagamaan dalam Nahdlatul Wathan merupakan salah satu sumbangsih KH Abdul halim. Bagi KH Abdul halim pendekatan sosial kepada masyarakat untuk menerapkan kaidah-kaidah keilmuan syariat bagi kehidupan masyarakat menumpakan sebuah terobosan yang sangat urgen dalam menyebarkan konsep-konsep keislaman yang membumi.

Abdul Halim juga memerintah dan mengembangkan NU di Jawa Barat, khususnya sekitar Majalengka, bersama kiai-kiai yang merintis NU di Jawa Barat, seperti K.H. Abbas dan keluarga Pesantren Buntet, K.H. Mas Abdurrahman dan masih banyak lagi yang lain.

Sebagai pendiri NU, Abdul Halim tidak memiliki pesantren, tetapi atas saran K.H. Wahab Hasbullah yang bertemu di Bandung pada 1954, kemudian Abdul Halim mendirikan pusat pendidikan. Baru pada tahu 1963 ia mendirikan dan mengembangkan Madrasah Ibtidaiyyah Nahdlatul Ulama (MI-NU) yang menjadi Madrsah Dinyah pertama di Majalengka. Pada perkembangan selanjutnya, pendidikan ini bertambah dengan Madrasah Tsanawiyah Leuwimunding di bawah payung Yayasan Sabilul Halim. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG